
"Pikirkan baik - baik sayang, kandungan kamu semakin besar. Dia butuh ayah setelah terlahir ke dunia."
Mama sedang berusaha membujuk Celina agar mau menikah. Entah dengan Vano atau Dion. Mama menyerahkan semua keputusan pada putrinya asalkan dia tetap menikah.
Sebagai seorang ibu, dia tau bagaimana sulitnya saat mengandung. Perasaan lebih peka dan membuatnya sensitif, sangat butuh perhatian dan seseorang yang selalu ada di sampingnya.
Dia tidak tega melihat putrinya menjalani kehamilan seorang diri tanpa suami yang seharusnya bisa berada disisinya untuk menjaga dan melindungi.
"Celina belum siap untuk mencintai lagi Mah." Suara Celina tercekat. Air matanya bahkan menggenang di sudut mata.
Dia belum siap untuk mencintai karna trauma kecewa dan sakit hati.
Disaat hati sudah berlabuh, disaat harapan sudah digantungkan, tiba - tiba semuanya lenyap, tiba - tiba harus direlakan, tiba - tiba di kecewakan.
Celina menyadari kelemahannya yang mudah jatuh cinta, itu sebabnya kali ini dia sangat hati - hati untuk kembali mencintai. Masa lalu mengajarkannya untuk hati - hati dengan perasaan, agar tidak mudah mencintai dan mengharapkan seseorang.
Baik Dion maupun Vano, keduanya sama - sama tidak lagi memiliki ruang di hati Celina yang kini masih berusaha untuk dia tata.
Kedepan, mungkin hidup yang dia jalani akan lebih keras. Celina sedang menyiapkan hati agar bisa menghadapi segala persoalan yang akan dia hadapi.
Dia berusaha untuk menjadi wanita yang lebih kuat, tidak mudah mencintai hanya karna hal - hal kecil yang tidak berarti.
"Ini bukan soal cinta sayang. Tapi soal anak kamu yang butuh sosok seorang ayah."
"Menjadi orang tua tidak mudah, mama mengakui itu karna nyatanya Mama sudah gagal menjadi orang tua." Mama menunduk sedih. Dia sudah menyadari kesalahannya yang selama ini tidak pernah memperhatikan putrinya.
"Mama egois, lebih mementingkan apa yang menurut Mama baik tapi ternyata belum tentu baik untuk kamu."
"Mama terlalu mengejar materi, yang mama pikir bisa membuat kamu hidup dengan layak."
"Mama melupakan satu hal yang sangat penting bagi seorang anak, yaitu kasih sayang dan perhatian kami sebagai orang tua."
Mama meraih tangan Celina dan menggenggamnya. Dia memberikan tatapan untuk menguatkan hati putrinya.
"Penyesalan orang tua terhadap anak akan lebih menyakitkan dari pada penyesalan terhadap pasangan."
"Mama tidak menyuruh kamu untuk buru - buru mencintai, setidaknya biarkan anak kamu merasakan kasih sayang seorang ayah. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Apa lagi Mama tau jika Dion dan Vano sama - sama tulus."
...*****...
Celina menatap langit - langit kamar. Sudah hampir 2 minggu dia tidak memberikan akses pada Dion atau pun Vano untuk bertemu dengannya.
Celina sangat menikmati hari - harinya selama 2 minggu ini untuk fokus menyembuhkan luka yang tidak diketahui orang lain seberapa dalam luka yang dia rasakan itu.
Ucapan sang Mama, kini mulai berterbangan di pikirannya. Dia mulai mempertimbangkan nasehat itu demi sang anak yang kini semakin bertambah besar di dalam perutnya.
Beranjak dari ranjang, Celina masuk ke dalam kamar mandi. Siang ini dia akan pergi bersama Ida ke pusat perbelanjaan. Mungkin sudah cukup berdiam diri hampir selama 2 minggu di apartemen tanpa keluar kemanapun.
Celina memilih menggunakan taksi, dia tidak lagi berani untuk menyetir.
"Siapa mba.?".Tanya Celina pada Ida. Asisten rumah tangganya itu tampak kebingungan menatap layar ponselnya yang terus berdering.
"Vano lagi.?" Ujar Celina cepat. Ida langsung mengangguk.
Celina menghela nafas sebelum akhirnya meminta ponsel Ida.
Vano memang selalu menghubungi Ida sejak 2 minggu lalu karna ponsel Celina sengaja dimatikan sampai saat ini agar tidak ada yang menghubunginya.
"Berhenti menerornya, apa tidak cukup 1 kali menelfonnya.? Kenapa hampir setiap jam menelfon, aku baik - baik saja." Ujar Celina tak habis pikir.
"Aku khawatir, sampai kapan kamu akan melarangku datang.?" Suara Vano terdengar putus asa.
"Ayolah Celina, jangan menyiksaku seperti ini. Aku merindukan kalian." Vano memohon agar Celina mau mengijinkannya bertemu.
"Aku masih butuh waktu untuk berfikir, tolong mengerti." Pinta Celina dengan lirih.
Dia mematikan telfon dan memberikan ponsel itu pada Ida.
"Tuan Vano sangat perhatian, sepertinya sangat mencintai kamu." Ida mengulas senyum. Celina hanya menatap sekilas dan ikut tersenyum.
Bukan hanya Ida yang merasakan hal itu, Celina pun mulai bisa melihat bagaimana perasaan Vano padanya.
Sampainya di pusat perbelanjaan, Celina mengajak Ida untuk pergi ke restoran lebih dulu. Beberapa hari terakhir, Celina sedang menginginkan makan Jepang.
"Leo mau itu Papa,,," Suara teriakan anak kecil yang tak jauh dari sana, menarik perhatian Celina untuk menoleh. Dia sampai berhenti didepan restoran, menatap ke arah Dion yang sedang menggendong Leo dan jalan beriringan dengan Keyla.
Ketiganya sedang berjalan menuju kedai es krim.
Celina tersenyum samar, dia bahagia melihat kedekatan mereka, namun sedikit merasakan sesak.
Ternyata ikhlas untuk merelakan tidak semudah saat mengucapkan.
Celina bisa melihat raut bahagia yang terpancar dari wajah Leo dan Keyla. Mereka memang lebih pantas bersama Dion, dibanding dia yang harus bersama Dion.
Selesai makan dan menonton, Celina mengajak Ida untuk masuk ke supermarket.
"Kamu duduk saja, biar mba yang belanja." Ida mencegah Celina yang akan ikut masuk ke supermarket. Ida tidak tega membiarkan Celina ikut mengelilingi supermarket untuk membeli bahan makanan.
"Tidak apa mba, aku masih punya tenaga untuk berjalan."
Celina menolak dan ikut masuk kedalam.
Troli yang di dorong oleh Ida sudah terisi setengah dengan bahan makanan.
"Aku akan mengambil buah, Mba Ida disini saja." Celina membiarkan Ida memilih daging. Ida mengangguk patuh.
"Tidak lari Leo, berhenti,,," Celina sempat diam begitu mendengar suara yang berasal dari balik rak yang tinggi. Dia tau betul siapa pemilik suara itu.
Tapi kemudian, Celina kembali melangkahkan kaki.
"Leo awas,,,!!!"
Celina terkejut melihat Leo yang berlari cepat ke arahnya tanpa memperhatikan jalanan.
"Awas.!!" Pekik seseorang yang tiba - tiba menarik Celina dalam dekapannya. Dia bernafas lega karna tidak terlambat menarik Celina. Jika terlambat sedetik saja, Celina mungkin sudah terjatuh.
Celina membuka mata perlahan, dia sempat memejamkan mata begitu melihat Leo yang sudah berada didepannya.
Dion menatap cemas, dia menghampiri Leo yang akhirnya menabrak orang lain di belakang Celina.
"Maaf, maafkan anak saya." Dion membungkuk sopan pada orang yang baru saja di tabrak oleh Leo.
"Kamu baik - baik saja.?" Vano terlihat khawatir karna Celina hanya diam saja dan terlihat bingung.
Celina mengangguk pelan.
"Maafkan Leo,," Tiba - tiba Keyla menghampiri Celina dan meminta maaf atas nama putranya.
Bersamaan dengan itu, Dion juga datang sembari menggendong Leo.
Vano mengepalkan kedua tangannya, menatap Dion dan Keyla dengan sorot mata tajam.
"Kamu tidak papa.?" Tanya Dion cemas.
"Anakmu hampir membuat Celina celaka.! Bagaimana bisa kalian membiarkan dia berlarian di sini.!!" Geram Vano penuh amarah.
"Awasi baik - baik anak kalian.! Jangan sibuk mengobrol.!" Serunya penuh penekanan. Vano sempat melihat Dion dan Keyla berbicara sebelum akhirnya Leo berlari kencang.
"Kami minta maaf,," Sekali lagi Keyla meminta maaf pada Celina dengan penuh sesal.
"Tidak apa, aku baik - baik saja."
Celina tersenyum samar.
"Ayo pulang,," Vano merangkul pundak Celina dan mengajaknya pergi dari sana.
"Untung saja aku datang tepat waktu." Ujar Vano lega.
"Kenapa tidak bilang akan belanja.?"
"Untung saja Ida mengaktifkan jpsnya. Aku langsung kesini begitu tau kalian berada disini."
Celina hanya diam saja, ucapan Vano seakan hanya angin lalu yang tidak dia dengarkan sama sekali. Tatapan matanya terlihat menerawang jauh.
"Kenapa membatalkan pernikahan kalau kamu mencintainya." Vano melepaskan rangkulan tangannya dari pundak Celina.
Vano menahan sakit yang tiba - tiba menyeruak. Dia menyadari tatapan mata Celina yang terlihat cemburu melihat kedekatan Dion dan Keyla.
"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk menerimaku. Kamu bebas menentukan siapa yang pantas menjadi ayah sambung untuk anakku."
"Selagi kamu tidak melarangku bertemu dengannya, aku tidak keberatan jika kamu menikah dengan orang lain."
Vano menarik nafas dalam setelah mengatakan kalimat yang sebenarnya sangat menghancurkan perasaannya sendiri.
Celina langsung menatap Vano, cukup lama menatap wajah tampannya yang terlihat sangat kecewa.
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang,,"
"Tidak perlu mengantarku,," Tolak Celina halus. Dia mengulas senyum tipis dan pamit untuk menghampiri Ida.
...****...
Jangan lupa vote 🥰