
Hari ini Celina sudah di perbolehkan pulang. Dia bisa pulang 4 hari lebih cepat dari waktu yang di sarankan oleh dokter. Kondisi Celina yang sudah membaik dan janinnya yang sehat, membuat dokter memperbolehkan Celina pulang lebih awal.
Celina terlihat tidak sabar untuk meninggalkan kamar yang sudah 10 hari dia tempati. Meski fasilitas didalamnya sudah seperti kamar hotel bintang 5, Celina tetap saja tidak betah berlama-lama di sana.
Saat ini, Dion sedang mengemasi barang - barang milik Celina. Dia mengumpulkannya satu persatu dan memasukannya kedalam tas tanpa ada yang tertinggal satupun.
Di sisi ranjang, Celina tengah duduk memperhatikan Dion yang begitu telaten membantu dan mengurus semua keperluannya untuk pulang.
Celina mengukir senyum. Ada perasaan haru dan bahagia yang bercampur jadi satu.
Seiring berjalannya waktu, kehadiran Dion mampu menghapus rasa sakit hati yang di torehkan oleh Vano. Dion mampu mengubur dalam kekecewaan yang dirasakan oleh Celina. Perlahan rasa cinta yang dia miliki untuk Dion terasa begitu nyata.
Setiap kali menatap Dion, setiap kali berada di sampingnya, getaran dihatinya semakin terasa.
Mudah jatuh cinta membuat Celina juga mudah untuk menghapus rasa sakit dan menghapus semua kenangan masa lalu. Kini, tidak ada lagi nama Vano yang terukir di hatinya. Nama itu hilang begitu saja ketika Vano membawa luka yang mendalam dihatinya.
"Apa Mama dan Papa sudah tau rencana pernikahan kita.?" Celina bertanya disela - sela aktifitas Dion yang masih membereskan barang miliknya. Dion hanya menoleh dan melempar senyum. Dia tidak langsung menjawab, melainkan menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai.
Dion memasukan barang terakhir, menutup tas kemudian Menghampiri Celina.
"Kita akan bicarakan besok."
"Aku bisa saja mengatakan pada mereka jauh - jauh hari, tapi bagaimana kalau mereka menyuruh kamu untuk pulang ke rumah sedangkan kamu masih berada disini." Dion menjelaskan dengan suara dan tatapan yang menenangkan. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada kaki - laki sebaik dan selembut Dion. Terlebih bagi Celina yang mudah jatuh cinta, Vano yang sikapnya berbanding terbalik dengan Dion saja bisa dia cintai. Tapi pada dasarnya kita memang tidak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta. Tidak memandang baik atau buruk, jika cinta itu sudah hadir, maka tidak akan terlihat berbeda.
"Pelan - pelan." Ucap Dion cemas. Dia membantu Celina turun dari mobil. Sebenarnya Dion bisa saja membeli kursi roda dari rumah sakit, tapi Celina menolak menggunakan kursi roda.
"Pegang pinggang ku,," Pinta Dion seraya menarik tangan Cina untuk berpegangan pada pinggangnya. Sedangkan tangan Dion merangkul pundak Celina dan satu tangan lagi membawa tas milik Celina.
Celina terkekeh geli, meski merasa kekhawatiran Dion berlebihan, tapi Celina tetap mematuhi apa yang di katakan oleh Dion.
"Kenapa tertawa.?" Dion bertanya dengan raut wajah datar. Celina langsung mengatupkan rapat bibirnya, takut membuat Dion tersinggung.
"Kakiku normal kak, aku masih bisa jalan dengan baik." Tutur Celina.
"Bukan masalah normal atau tidak, kamu baru keluar dari rumah sakit, selama disana tidak banyak melakukannya aktifitas, apa lagi jalan jauh seperti ini. Jangan sampai kamu kehilangan keseimbangan dan jatuh." Jawab Dion panjang lebar. Jawaban itu membuat Celina bungkam. Apa yang Dion katakan memang benar. Dion begitu detail memikirkan resiko yang mungkin akan terjadi pada Celina, pada Celina saja tidak berfikir sejauh itu.
Dion membawa Celina ke kamar dan mendudukannya di tepi ranjang.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, aku akan keluar sebentar,," Kata Dion sambil beranjak dari hadapan Celina. Dia meletakan tas milik Celina di atas meja.
"Mau kemana.?" Celina menatap dengan dahi berkerut.
"Beli bahan makanan untuk makan malam. Tetap disini,,," Pintanya sembari mengusap lembut pucuk kepala Celina. Perlakuan Dion membuat Celina memejamkan mata, dia bisa merasakan ketulusan dan perhatian Dion begitu besar padanya. Celina semakin yakin untuk menikah dengan Dion dalam waktu dekat. Anak Vano yang masih ada dalam kandungannya tidak akan menjadi penghalang untuk tetap mendapatkan cinta dari Dion.
Celina terus menatap Dion hingga laki - laki itu keluar dan menutup pintu. Dia hanya bisa berharap pernikahannya dengan Dion akan berjalan lancar tanpa ada yang menghalangi. Sejujurnya ada kecemasan di hati Celina, takut jika nantinya Vano akan datang memberitahu kehamilannya pada kedua orang tuanya. Sejauh yang Celina rasakan, Vano seperti enggan membiarkannya pergi dengan membawa darah dagingnya.
Suara bel memaksa Celina harus keluar dari kamar. Dia sudah bisa menebak bukan Dion yang kembali, pasalnya akses card apartemen itu sudah pasti di bawa Dion untuk mengunci pintu.
"Apa mama dan papa.?" Gumamnya sembari mendekati pintu. 1 jam yang lalu Celina baru saja mendapat pesan dari orang tuanya. Mereka memang terus menanyakannya sejak 1 minggu yang lalu. Pasalnya sejak pulang berlibur dari Bali, Celina belum pernah pulang ke rumah.
"Kamu,,!" Pekik Celina. Dia kembali menutup pintu setelah melihat Vano berada disana. Tapi sebelum pintu itu terkunci, Vano berhasil mendorongnya pelan hingga terbuka kembali. Kondisi Celina yang masih lemah, membuatnya tidak mampu menahan pintu.
"Jangan menghindar lagi,," Vano memohon.
Sejak tau fakta bahwa janin yang ada di kandungan Celina adalah darah dagingnya, Vano tidak pernah lagi memasang wajah angkuh dan sombong yang selama ini dia perlihatkan di depan Celina.
Kini raut wajahnya selalu terlihat sendu setiap kali menatap Celina.
"Haris berapa kali aku bilang.! Aku tidak mau melihatmu lagi." Celina berusaha mendorong tubuh Vano, namun laki - laki itu tak kunjung bergeser sedikitpun.
"Aku minta maaf, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah aku rusak. Kamu tega memisahkanku dengannya.?" Raut wajah Vano begitu serius. Dia menatap lekat wajah Celina, berharap wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu mau memaafkannya dan menerimanya untuk bertanggung jawab.
"Kamu lupa dengan surat perjanjian yang sudah aku tanda tangani.?! Ruang tamu ini bahkan menjadi saksi saat kamu menuduh ku mengandung anak dari laki - laki lain. Kamu sendiri yang memintaku untuk tidak datang meminta pertanggung jawaban."
"Aku sudah mengabulkan keinginanmu. Apa aku masih kurang baik padamu.?!!" Celina meneteskan air mata. Sekuat apapun dia, rasanya hati tetap sakit jika harus berhadapan dengan Vano.
"Kamu ingin anak ini.?" Tanya Celina sinis. Dia menatap Vano sembari menunjuk perutnya sendiri.
"Ambil.!! Ambil sekarang juga dan bawa pergi bersamamu.!!" Teriaknya. Kali ini Celina memukul perutnya sendiri. Dia begitu frustasi dengan keadaan, hidupnya terasa tidak tenang setiap kali Vano muncul di hadapannya.
"Hentikan Celina.!" Vano memegangi kedua tangan Celina agar tidak lagi memukul perut.
Melihat betapa frustasinya Celina, seharusnya Vano bisa menyadari kalau sebenarnya Celina juga tidak ingin mengandung anaknya.
"Aku mohon jangan kembali lagi, biarkan aku hidup bahagia dengannya."
"Kalau kamu ingin anak, kamu bisa mencari wanita lain untuk mengandung anakmu lagi. Biarkan anak ini tetap bersamaku." Kali ini Celina benar - benar tulus memohon pada Vano.
"Celina.! Ini bukan hanya tentang anak yang ada di dalam kandungan kamu." Ujar Vano kecewa.
"Aku mencintaimu."
"Bagaimana aku bisa melepaskan 2 orang yang sangat berharga dalam waktu bersamaan."
Vano melepaskan tangan Celina kemudian berlutut didepannya. Vano menyingkirkan ego, dia berlutut memohon di hadapan wanita untuk pertama kalinya dalam hidup. Vano benar - benar menginginkan Celina dan anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan.? Katakan aku harus bagaimana agar kamu memaafkanku." Suara Vano begitu tercekat. Kehancurannya bukan hanya pada saat Jasmine meninggalkannya untuk k selama - lamanya. Saat ini Vano kembali merasakan kehancuran itu untuk kedua kalinya.
"Pergi.!" Sahut Celina tegas.
"Aku akan memaafkanmu jika kamu pergi dan tidak lagi menemuiku."
"Aku ingin tenang menjalani kehamilanku. Jangan membahayakan kandunganku dengan terus datang padaku seperti ini."
"Bangun, aku tidak akan luluh sekalipun kamu terus berlutut padaku.!"
Celina menatap datar. Cinta yang dia rasakan untuk Vano benar - benar sudah lenyap tanpa sisa.
Vano beranjak. Dia sudah kehabisan cara untuk mendapatkan maaf dari Celina.
"Apa aku perlu mendatangi kedua orang tuamu dan mengatakan semuanya.?" Ujar Vano sedikit mengancam.
"Bukankah mereka akan langsung menikahkan kita.?"
Celina tersenyum sinis.
"Lakukan saja, aku pastikan mereka tidak akan memberimu kesempatan untuk melihat anak ini."
"Sekarang pergi.! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan jika tidak ingin melihatnya seumur hidupmu."
Celina mendorong Vano, kali ini Vano begitu pasrah di usir oleh Celina meski terlihat jelas dia sangat kecewa.