
"Pagi aunty cantik,," Senyum ceria Naura langsung menyambut Celina yang baru saja membukakan pintu.
Dia diam sesaat, teringat akan ucapan Vano saat kemarin pamit pulang. Dan hari ini Vano benar - benar datang membawa Naura.
"Pagi,,," Celina tersenyum ramah pada Naura, meski sedang menahan kekesalan pada Vano.
Siapa yang tidak kesal, Vano seolah sedang menjadikan Naura sebagai umpan. Bisa ditebak dari raut wajah Vano, pasti seterusnya akan mengajak Naura datang ke apartemen dengan dalih Naura ingin bertemu.
"Naura kangen aunty,,," Naura melepaskan gandengan tangannya dengan Vano, lalu memeluk Celina.
"Dia sangat antusias ingin datang menemuimu dan adiknya." Ucapan Vano begitu mengagetkan Celina. Dia melotot, menggerakkan alisnya untuk meminta penjelasan lebih detail. Ucapan Vano jadi membuat Celina berfikir kalau kehamilannya di ketahui oleh Naura.
Melihat reaksi Celina yang hampir mengeluarkan tanduk, Vano pura - pura melihat arlojinya dan langsung pamit untuk pergi ke kantor.
"Aku akan jemput Naura untuk makan siang nanti." Ucapnya santai. Vano berjongkok, mensejajarkan diri dengan Naura. Anak dan ayah itu tengah berada di depan Celina.
"Papa berangkat dulu, Naura harus nurut sama aunty, jangan buat aunty cape." Naura langsung mengangguk patuh.
"Satu lagi, harus jaga aunty dan adik."
"Adik ada disini." Kata Vano dengan entengnya. Dia menunjuk perut Celina sambil tersenyum.
"Oke Papa, Naura mau jaga aunty sama adik." Naura menjawab polos.
Percakapan anak dan ayah itu berhasil membuat Celina geleng - geleng kepala.
"Naura duduk dulu ya di dalam,," Pinta Celina. Dia mengarahkan Naura untuk masuk dan duduk di sofa. Anak kecil itu langsung menurut, dia masuk setelah memeluk Vano dan mencium pipinya.
Sepeninggalan Naura, Vano tersenyum kikuk sambil menegapkan badan setelah berjongkok tadi.
"Kamu bilang pada Naura.?" Suara tegas Celina terdengar mengintimidasi.
Vano mengangguk cepat. Anggukan yang membuat Celina tak habis pikir. Entah apa yang ada di dalam pikiran Vano kenapa sampai memberitahukan kehamilan itu pada anak sekecil Naura. Bagaimana dengan tanggapan Naura nanti setelah dia tumbuh dewasa. Pasti akan menjadi memori yang tidak akan pernah hilang di ingatan Naura.
Seorang wanita tengah mengandung adiknya tanpa ada ikatan pernikahan dengan sang Papa.
"Bagaimana bisa kamu memberitahukan padanya.?" Tanya Celina cemas.
"Apa yang akan dia pikirkan setelah dewasa nanti.?!" Celina terlihat frustasi. Dia menoleh, melihat Naura yang duduk tenang di sofa sambil menatap ke arahnya dan tersenyum polos khas anak kecil.
"Dia akan berfikir kalau kita adalah keluarga. Kamu Mommynya, aku daddynya, dan ini adiknya." Vano mengusap sekilas perut Celina.
"Aku belum sempat menjelaskan padanya untuk memanggilmu Mommy. Tapi setidaknya aku sudah menjelaskan padanya kalau kita sudah menikah dan sebentar lagi dia akan punya adik."
Celina tertegun, ekspresi wajahnya terlihat syok. Dia tidak bisa lagi berkata - kata dengan kegilaan yang sudah di buat oleh Vano.
"Aku memang sedang mengandung anakmu, aku juga tidak melarang mu membawa Naura datang, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat semaumu."
"Jangan membuat cerita yang tidak benar pada Naura. Sama saja memberikan harapan palsu."
"Naura akan kecewa padamu jika harapannya tidak sesuai dengan apa yang kamu ceritakan."
Celina mengucapkan kata demi kata dengan raut wajah serius.
Apa yang diperbuat oleh Vano semakin membuatnya tidak bisa tenang menjalani hidup kedepan. Vano seolah sedang memikulkan beban berat dipundaknya.
"Tapi aku tidak akan membiarkan kalian hidup berdua. Kehadirannya karna kesalahan kita, jadi menikahlah denganku." Pintar Vano tulus.
"Kamu tidak akan membiarkan anak kita seperti Naura bukan.? Dia kehilangan figur seorang ibu, lalu adiknya harus kehilangan figur seorang ayah."
"Aku tau kamu mengijinkanku untuk ikut merawatnya, tapi rasanya akan tetap sama seperti Naura karna orang tuanya tidak tinggal bersama."
Vano meraih tangan Celina, sorot matanya sangat teduh dan terlihat memohon.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menikah secepatnya, tapi pada akhirnya kita harus tetap menikah demi mereka." Ucap Vano lirih.
"Aku sadar, meminta maaf dan menikahimu tidak akan bisa menebus kesalahan besar yang sudah aku berbuat padamu."
"Aku sudah membuat luka yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Tapi sejak hari itu, aku berjanji untuk tidak membuat luka baru walau hanya seujung kuku."
Vano melepaskan tangan Celina, dia tersenyum penuh cinta dengan memegangi sebelah pipi Celina.
"Tidak apa membenciku hari ini, esok dan nanti. Aku akan terus menunggu sampai kamu mencintaiku hari itu dan selamanya."
Vano kembali tersenyum, setelah itu beranjak dari hadapan Celina yang di buat bungkam.
Perkataan Vano bisa di artikan sebagai salah satu bentuk dari ketulusan cintanya terhadap Celina. Tidak peduli seberapa lama dia akan menunggu cintanya bersambut, dia akan terus menunggu sampai saat itu tiba.
Vano bahkan tidak mempermasalahkan kebencian dan sikap dingin Celina padanya. Karna dari situ, Vano bisa menyadari kesalahannya, kemudian berusaha untuk memperbaikinya.
Terkadang langsung memaafkan kesalahan seseorang tanpa ada usaha untuk mendapatkan maaf itu, bisa membuat seseorang dengan mudahnya melakukannya kesalahan yang sama karna tidak memiliki efek jera.
...*****...
Vano membungkuk hormat pada Papa Adiguna. Dia menutup pintu, dan berjalan menghampirinya.
Sebelum menjemput Naura untuk makan siang, Vano menyempatkan untuk datang ke kantor orang tua Celina.
Tatapan yang seolah ingin kembali melayangkan tinjuan seperti 2 minggu lalu.
Papa Adiguna terlalu kecewa dan marah atas apa yang diperbuat oleh putrinya.
"Saya sudah melakukan kesalahan besar, tapi akan lebih bersalah jika tidak bertanggung jawab."
"Celina membutuhkanku dalam masa kehamilannya, begitu juga anak kami. Dia membutuhkan kedua orang tuanya."
Vano bicara tenang, namun terlihat jelas bahwa dia serius.
"Saya yakin anda tidak akan tega memisahkan seorang anak dengan ayahnya. Terlepas benar atau salah, tidak ada yang berhak memisahkan seorang anak dan orang tua kandungnya."
"Saya sedang memperjuangkan apa yang seharusnya saya perjuangkan."
"Saya tulus mencintai Celina."
Papa Adiguna tersenyum sinis. Dia terus menatap tajam. Bahkan membiarkan Vano terus berdiri tanpa berniat untuk menyuruhnya duduk.
"Mencintai setelah tau bahwa di rahim putriku ada darah dagingmu.?" Nada sindiran itu jelas terdengar di telinga Vano. Dia memang merasa tersindir karna baru menyadari perasaannya terhadap Celina begitu tau bahwa anak itu adalah darah dagingnya.
"Jika kamu tidak mencampakkan putriku, dia tidak mungkin menerima perjodohan 2 bulan lalu."
"Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu benar - benar mencintai putriku tanpa melihat anak dalam rahimnya."
"Hingga detik ini, putriku tidak pernah memintaku untuk menerimamu sebagai calon suaminya."
"Saya tidak akan menikahkan putriku dengan orang yang tidak dia cintai." Ujarnya tegas dengan sorot mata penuh arti.
Vano tersenyum lega setelah mendengar kalimat terakhir.
"Saya akan berjuang untuk itu."
"Terimakasih sudah memberikan kesempatan berharga pada saya." Ucap Vano dengan senyum berbinar.
"Permisi,,,".Vano membungkuk hormat, kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.
Sepanjang perjalanan ke apartemen, Vano terus mengulas senyum. 1 rintangan sudah berhasil dilewati, saat ini hanya perlu fokus untuk mendapatkan hati Celina yang tanpa Vano tau bahwa hati itu pernah menginginkannya.
Jika sampai saat ini Celina masih mencintainya, mungkin Vano tidak akan pernah merasakan bagaimana susahnya berjuang.
Vano menekan bel, tak lama pintu di buka oleh Ida.
"Celina dan Naura sedang tidur." Katanya memberi tau. Vano hanya mengangguk, lalu masuk begitu saja.
Vano membuka pintu kamar Celina. Senyumnya terbit melihat dua wanita yang saat ini begitu berharga dalam hidupnya.
Setelah menutup pintu, Vano berjalan mendekat.
Keduanya tengah tertidur pulas, dengan posisi saling memeluk.
Vano bisa melihat bagaimana putrinya begitu nyaman tidur dalam dekapan Celina. Begitu juga Celina yang terlihat tulus memeluk Naura.
Vano menatap lekat wajah Celina. Mungkin dia akan menyesal seumur hidup karna sudah pernah menyakiti wanita sebaik dan setulus Celina.
Setelah melepaskan sepatu dan jasnya, Vano ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Celina. Dia ingin merasakan tidur bersama anak - anaknya dan orang yang dia cintai.
Dan inilah kebahagiaan yang selama ini dia rindukan. Bahagia saat bersama orang - orang yang dia cintai.
Vano melingkarkan tangan dipinggang Celina, kemudian ikut memejamkan mata.
"Ya ampun." Pekik Celina lirih. Dia kaget melihat tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Tapi sesaat tau kalau itu adalah Vano.
"Jangan berisik, nanti Naura bangun." Ucap Vano berbisik.
"Sejak kapan disini.? Cepat turun." Pinta Celina. Dia terus bicara setengah berbisik.
"Tidak mau, aku rindu padamu. Apa kamu tidak,, awww,,"
Pekik Vano sembari memegang perutnya yang disikut oleh Celina.
"Jangan bicara macam - macam, cepat turun." Celina kembali mengusir Vano dari ranjangnya.
"Hamil membuatmu kejam dan galak." Keluh Vano, tapi dia tidak mengindahkan perintah Celina dan memilih untuk tetap memeluknya.
"Jangan halangi usaha seorang ayah untuk bisa bersama anaknya. Biarkan aku memelukmu seperti ini, aku janji tidak akan macam - macam. Kecuali kalau kamu yang meminta." Bisik Vano menggoda.
"Jangan menyikutku, sakit." Ujar Vano sambil menahan tangan Celina yang sudah siap menyikut.
Celina menghela nafas. Dia tidak lagi memberikan perlawanan dan membiarkan Vano tetap memeluknya dari belakang.
"Kapan kamu akan memaafkanku.? Kita harus menikah sebelum dia lahir,," Tutur Vano lirih.
"Aku tidak mau membahas hal itu sekarang."
Ucapan Celina membuat Vano memilih untuk diam. Dia tidak mau terlalu memaksa Celina dan pada akhirnya hanya akan membuat Celina sulit untuk menerimanya.