
"Celina,," Dion menahan Celina yang akan masuk ke apartemen.
Celina menatap bingung, melihat Dion yang tiba - tiba mengikutinya seorang diri. Sedangkan tadi masih berada di pusat perbelanjaan bersama Leo dan Keyla.
"Ada apa.?" Celina berkata lirih.
Dia menoleh pada Ida, menyuruhnya untuk masuk lebih dulu agar meninggalkan dia dan Dion berdua.
Setelah Ida masuk, Dion langsung mendekat dan meraih tangan Celina.
Sementara itu, di tempat yang tak terlihat oleh mereka. Ada Vano yang mengurungkan niatnya untuk menghampiri Celina dan Dion. Dia memilih bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan percakapan mereka.
Vano ingin memastikan jika benar Celina menginginkan Dion, maka dia akan merelakan Celina saat itu juga.
"Kenapa harus membohongi hatimu.?"
Dion bicara sedikit keras. Dia merasa kecewa pada Celina yang memilih membatalkan pernikahan, sedangkan dari percakapan yang dia dengar antara Celina dan Vano, membuktikan jika Celina masih memiliki perasaan padanya.
Dion mengerti jika Celina lebih memikirkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri.
"Membohongi apa.? Aku tidak mengerti." Celina menarik perlahan tangannya dari genggaman Dion.
"Jangan pura - pura lagi Celina.! Aku tau perasaanmu seperti apa."
"Kenapa harus menyakiti perasaanmu sendiri.? Sedangkan aku sudah bilang berulang kali tidak akan kembali padanya."
Dion tak habis pikir, Celina merelakannya untuk kembali pada Keyla hanya karna kehadiran Leo.
Meski Keyla terpaksa meninggalkannya karna desakan keluarga, dan mengakui jika masih mencintainya, tak lantas membuat Dion berfikir untuk kembali.
Dia sudah terlanjur kecewa dengan Keyla yang tega membohonginya dan meninggalkannya dalam keadaan terpuruk.
"Siapa yang membohongi siapa.?" Seru Celina menyindir. Sorot matanya begitu tajam menatap Dion. Dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Dion setelah melihat kenyataan di depan mata kepalanya sendiri.
Jika tidak ingin kembali pada Keyla, kenapa bisa selalu menghabiskan waktu bersama dan saling tertawa.
Celina tersenyum kecut membayangkan saat Dion dan Keyla berinteraksi di pusat perbelanjaan tadi.
"Aku membohongi perasaanku.?" Tanya Dion heran.
"Harus berapa kali aku katakan padamu.? Aku,,,
"Mencintaiku, begitu.?" Ujar Celina dengan nada meledek. Dia terkekeh kecil.
"Aku tau kak Dion mencintaiku, tapi kak Dion masih mencintainya." Celina berucap tegas.
"Kak Dion tidak mau mengaku itu karna terlalu kecewa."
Perkataan Celina membuat Dion bungkam. Dia langsung berkutat dengan pikirannya sendiri. Mencoba untuk mencari kebenaran dari perkataan yang dilontarkan oleh Celina.
"Jika kak Dion ingin tau perasaanku yang sebenarnya,,"
Dion langsung menatap lekat wajah Celina.
"Aku memang pernah mencintai kak Dion, tapi sebelum hati ini hancur." Celina mengulas senyum miris. Saat ini dia tdak lagi merasakan cinta untuk siapapun, tidak mau kembali mencintai karna takut akan terluka lagi.
"Kedekatan kak Dion dan kak Keyla tidak berpengaruh apapun untukku, aku hanya merasa hidup ini tak pernah berpihak padaku." Celina menarik nafas dalam untuk menahan air mata yang hampir membasahi pipinya.
Berulang kali mencintai kemudian di sakiti, membuat Celina merasa hidup tak pernah adil untuknya.
Semua orang terlalu menggampangkan dirinya yang mudah mencintai. Berbuat seenaknya lalu tiba - tiba datang untuk meminta maaf tanpa tau seberapa besar kehancuran yang sudah mereka buat pada hatinya hingga meninggalkan trauma tersendiri.
"Aku harus menegaskan sekali lagi, keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan menikah dengan kak Dion." Celina berusaha tersenyum.
"Maaf jika mengecewakan kak Dion. Aku harap kak Dion bisa mengerti." Celina membungkuk sopan kemudian masuk kedalam apartemen.
Dion memaku di tempat. Perasaannya semakin berkecambuk. Dia sampai tidak mengerti dengan hatinya sendiri.
...*****...
"Kamu yakin.?" Tanya Papa Adiguna pada putrinya.
Dia ragu dengan keputusan yang sudah di ambil oleh Celina.
"Pikirkan baik - baik sayang, itu tidak akan mudah untuk kalian berdua." Mama nampak tidak setuju. Dia berusaha membujuk Celina untuk berfikir ulang dengan keputusannya.
"Aku sudah memikirkannya matang - matang. Mama dan Papa tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri dan menjaganya."
"Hanya 2 tahun, setelah itu aku akan kembali lagi."
Celina mencoba menyakinkan kedua orang tuanya agar mengijinkannya tinggal di luar negeri.
Dia ingin menjalani lembaran hidup baru dengan suasana yang berbeda tanpa ada bayang - bayang yang menyakitkan.
Ternyata tidak mudah menghilangkan trauma yang dia rasakan. Cinta memang membuatnya bahagia, tapi membuatnya hancur saat dicampakkan begitu saja.
Dia sadar jika dirinya bukan wanita yang baik, terlalu menjijikan dan buruk, tapi bukan berarti bisa diperlakukan seenaknya tanpa perasaan.
"Bagaimana dengan Vano.? Dia terus datang ke perusahaan akhir - akhir ini. Bahkan memohon pada Papa."
"Kamu tidak mau menerimanya.?"
Celina sedikit terkejut dengan penuturan sang Papa. Ucapannya seolah sudah memberikan lampu hijau pada Vano.
"Kenapa tiba - tiba Papa membahasnya.?" Tanya Celina heran.
"Apa Papa sudah berubah pikiran.?"
"Papa tidak tega melihat kamu menjalani kehamilan seorang diri. Papa rasa Vano benar - benar tulus dan menyesali perbuatannya."
"Apa yang Papamu bilang benar sayang."
"Mama tidak tau permasalahan apa yang terjadi di antara kalian, tapi coba pikirkan baik - baik demi anak kalian."
"Mah, aku,,,"
"Kamu akan memiliki anak, kamu harus belajar dari sekarang untuk tidak egois."
"Perasaan anak nomor satu, meski kita harus terluka."
"Jangan seperti Papa dan Mamamu ini yang sudah gagal menjadi orang tua."
"Lagi pula, Vano terlihat bertanggung jawab dan sangat mencintai kalian."
Celina kembali ke apartemen dengan wajah lesu. Rencananya untuk hidup di luar negeri sepertinya tidak akan di setujui oleh kedua orang tuanya.
Sekarang mereka lebih mendukungnya untuk menerima Vano.
Bunyi bel membuat Celina beranjak dari sofa.
Feelingnya sudah kuat kalau seseorang di balik pintu itu adalah Vano.
Entah kenapa Celina langsung berfikir jika Papanya yang sudah menyuruh Vano untuk datang ke apartemen.
"Ada apa.?" Celina menatap datar.
Feelingnya tidak meleset.
"Ingin melihat dan mengetahui kabar anakku." Kata Vano.
"Kamu bisa lihat sendiri, dia masih didalam perutku dan baik - baik saja." Jawab Celina datar.
Vano mengulas senyum tipis sambil membungkukan badan.
"Mommy mu jutek sekali sama daddy." Adu Vano sambil mengusap perut Celina, setelah itu mendaratkan kecupan di sana.
Celina hanya diam, membiarkan Vano melakukan hal itu tanpa melarangnya.
"Kamu belum memeriksakannya ke dokter bulan ini. Kamu lupa atau sengaja.?" Tanya Vano setelah menegapkan badannya kembali.
Raut wajah Celina yang terkejut membuat Vano tau Jawabannya.
"Ayo ke dokter sekarang. Aku ingin melihatnya,," Ajak Vano.
Vano mengulas senyum sembari melirik Celina yang duduk tenang di sebelahnya. Dia tidak menyangka kalau Celina akan menurut dan langsung menyetujui ajakannya untuk pergi ke dokter.
"Sudah masuk bulan ke 4 kan.?" Kata Vano antusias.
"Hmmm,,," Celina hanya berdehem. Sejak tadi membuang pandangan keluar jendela.
"Apa sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya.?"
Suara Vano semakin bertambah semangat. Celina langsung menoleh karna pertanyaan Vano seakan mengundangnya untuk bereaksi lebih.
"Aku baru pertama kali hamil."
"Kamu sudah berpengalaman dengan wanita hamil, harusnya bisa mengingat kapan jenis kelaminnya bisa diketahui." Jawabnya panjang lebar. Ada sedikit nada kekesalan namun membuat Vano ingin tertawa karna ekspresi wajah Celina yang sedang kesal.
"Sudah hampir 5 tahun yang lalu, sulit untuk mengingatnya."
"Terlebih akhir - akhir ini ingatanku dipenuhi oleh kamu dan anak kita."
"Ternyata merelakan tidak semudah yang aku bayangkan."
Vano tersenyum getir.
"Pantas saja kamu tidak bisa merelakan Dion." Kali ini Vano sedikit terkekeh kecil.
"Kapan kalian akan menikah.?"
Celina langsung berdecak kesal. Dia tau kalau Vano sudah tau semuanya dan sekarang sedang berpura - pura seolah tidak tau apapun.
"Tidak perlu pura - pura. Kamu lebih tau segala dariku." Ujar Celina sinis.
Kini Vano semakin terkekeh. Dia mengacak pelan pucuk kepala Celina.
"Mereka tidak keberatan kalau kita menikah." Vano bicara dengan wajah yang berbinar.
"Lalu bagaimana dengan keputusan mu.?" Tanyanya serius.
"Tergantung." Jawaban Celina membuat Vano mengerutkan dahi.
"Tergantung apa.?"
"Usahamu untuk menyembuhkan lukaku dan membuatku bisa mencintaimu lagi." Sahut Celina tegas.
Vano terkejut mendengarnya. Dua kalimat terakhir membuat Vano berfikir keras.
Lagi.? Kapan Celina pernah mencintainya.
"Mencintaiku lagi.?" Tanya Vano memastikan. Dia takut pendengarannya keliru. Namun Celina langsung menganggukan kepala.
"Jadi kamu,,,
Vano menggantungkan kalimatnya, pikirannya jadi kacau memikirkan hal yang mungkin akan menyakitkan untuknya.
"Ya, aku mencintaimu sebelum tau anak ini hadir."
"Apa kamu tau bagaimana rasanya dihina dan direndahkan oleh orang yang kita cintai. Aku mengandungnya anaknya, tapi dituduh mengandung anak orang lain."
"Aku bahkan tidak yakin masih memiliki hati setelah semua itu terjadi padaku."
Celina tersenyum getir mengingat hal buruk itu.
Vano langsung menepikan mobilnya. Dia menatap lekat wajah Celina yang masih bisa mengukir senyum setelah apa yang sudah dia lakukan padanya saat itu.
"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu." Kata Vano sambil menggenggam tangan Celina.
Kini dia mengerti kenapa Celina begitu membencinya dan sulit untuk memaafkannya. Kehancuran yang dirasakan oleh Celina, lebih besar dari yang dia kira.
"Kamu yakin akan melakukan apa yang aku katakan.?"
Vano langsung menganggukan kepalanya.
"Pergi.! Pergi dari kehidupan kami dan lupakan semuanya." Pinta Celina dengan tatapan tajam.
"Tidak." Vano menolak keras dan menggelengkan kepalanya.
"Aku justru akan membuatmu semakin terluka jika pergi dari kehidupan kalian."
"Aku akan terus berada di sampingmu untuk menebus semua kesalahanku." Ucap Vano yakin.
"Kalau sudah tau, kenapa harus bertanya.!" Pekik Celina kesal. Dia menarik tangannya dsn membuang pandangan keluar jendela.
Vano tersenyum bahagia dengan mata yang berbinar. Ucapan Celina sudah cukup jelas kalau dia memberikan kesempatan pada Vano.