Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 92


Celina masih terlihat panik sejak di bangunkan oleh Vano. Dia belum bisa tenang hingga detik ini. Berusaha menelfon sang Mama untuk meminta kejelasan, namun panggilan telfonnya tidak di jawab.


Vano sudah kebingungan untuk menenangkan Celina yang sejak tadi gusar di sebelahnya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara, setelah berhasil membujuk Naura agar tidak ikut dengan mereka.


Ya, tadi pagi sempat terjadi drama lantaran Naura merengek tidak mau di tinggal oleh Daddy dan Mommynya.


Untungnya Vano bisa membujuk Naura meski butuh waktu lama.


"Kenapa tidak di angkat.?" Keluh Celina sembari menatap layar ponselnya.


Dia sudah menghubungi Mamanya belasan kali, tapi tidak ada respon apapun. Perasaan Celina tentu saja semakin kalut. Mulai berfikir macam - macam mengenai kondisi Papa Adiguna.


Jika tidak terjadi sesuatu, harusnya sang Mama memberikan alasan kenapa menyuruh dia dan Vano untuk terbang ke Singapura saat ini juga.


Tapi Mama hanya menyuruh mereka untuk datang tanpa mengatakan apapun lagi.


"Kamu harus tenang. Coba berfikir positif agar semuanya baik - baik saja."


"Perjalanan ke Singapura tidak akan lama, jadi tidak perlu panik seperti ini karna bisa membahayakan kandungan kamu."


Berulang kali Vano berusaha menenangkan Celina.


Sebenarnya bukan hanya Celina saja yang panik, Vano pun merasakan hal yang sama meskipun Papa Adiguna hanya Papa mertuanya.


Vano juga tidak mau terjadi sesuatu pada Papa Adiguna. Karna jika sampai terjadi sesuatu pada Papa mertuanya, sudah dipastikan dia akan merasakan sakit melihat kehancuran Celina.


Vano belum siap melihat Celina hancur dalam keadaan sedang mengandung.


Takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


"Tapi aku takut,,," Suara Celina bergetar. Dia menghambur ke pelukan Vano kemudian tangisnya pecah.


Bagaimana dia bisa berfikir positif dalam keadaan seperti ini. Tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa Adiguna di sana.


"Tenanglah, aku yakin Papa akan baik - baik saja." Vano memeluk erat tubuh istrinya yang bergetar. Tangis Celina semakin pecah tanpa suara.


Tangis yang begitu memilukan dengan rasa sakit dan kehancuran yang dia rasakan saat ini.


Celina hanya bisa berharap kesembuhan untuk Papa tercintanya.


Laki-laki yang dulu sangat memanjakannya ketika dia masih kecil.


...****...


Sementara itu, Mama Alisha terus menangis. Dia terus mondar-mandir di depan ruang ICU. Ruang dimana sang suami tercintanya berbaring tak sadarkan diri paska menjalani operasi tadi malam.


Mereka hanya mengambil keputusan berdua, memutuskan untuk menjalankan operasi secepatnya dan tanpa memberitahukan Celina, Vano, maupun Dion.


Papa Adiguna enggan membuat mereka khawatir, dan memilih untuk diam - diam menjalani operasi.


Dia hanya ingin menghubungi mereka ketika sudah menjalani operasi.


"Aku mohon, bertahanlah demi aku dan anak kita." Air mata Mama Alisha terus mengalir. Membanjiri pipinya.


Dia berdiri di depan pintu, melihat suaminya dari kaca kecil yang ada di sana.


Selama bertahun-tahun menjalani masa tersulit dalam mengobati sakit yang di derita suaminya, hari ini adalah masa terberat dan sulit untuk dijalani.


Berharap semua ini hanya mimpi.


Papa Adiguna dinyatakan koma selang 3 jam setelah menjalani operasi.


Operasinya berjalan lancar, bahkan kondisi Papa Adiguna sudah membaik paska operasi. Tapi 3 jam kemudian, kondisinya menurun dan tidak sadarkan diri sampai di nyatakan koma sampai saat ini.


"Mah,,," Celina berjalan cepat menghampiri Mama Alisha.


Dia dan Vano buru - buru ke rumah sakit begitu sampai di Singapura.


"Sayang,,," Mama Alisha juga berjalan menghampiri putrinya.


Dari sorot mata Mama Alisha yang begitu hancur, Celina sudah bisa menebak jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Papa Adiguna.


Terlebih, Papa Adiguna sedang berada di ruang ICU.


Keduanya saling memeluk, tanpa mengatakan apapun. Hanya air mata yang bicara. Menjelaskan kehancuran dan kesedihan yang mereka rasakan.


Vano hanya bisa menatap keduanya dengan tarikan nafas dalam. Momen menyedihkan itu yang tidak ingin dia lihat. Hatinya seperti terisi melihat isak tangis istrinya.


Vano bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Celina saat ini, karna berulang kali mengalami hal yang sama. Bahkan 3 kali melihat orang yang dia cintai terbaring lemah tak sadarkan diri di ruang ICU dan berujung dengan perpisahan untuk selama - lamanya.


Setelah tangis keduanya mereda dan Mama Alisha juga terlihat lebih tenang, beliau mulai menceritakan apa yang terjadi dengan Papa Adiguna.


Penuturan Mama Alisha tentu saja seperti cambukan keras bagi Celina, karna bagaimana pun Celina yang sudah memaksa Papa Adiguna untuk melakukan operasi itu.


Alih-alih bisa sembuh dari sakitnya, Papa Adiguna justru dinyatakan koma.


Kecil kemungkinan untuk bisa bertahan dan bangun dari komanya.


Dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi dengan sang Papa.


"Tidak sayang, ini bukan salah kamu,,," Mama Alisha menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah menyalahkan putrinya atas apa yang terjadi dengan Papa Adiguna. Sekalipun Celina yang menginginkan Papa Adiguna untuk di operasi, tapi Mama Alisha juga mendukung hal itu. Sama halnya dengan Celina yang memiliki harapan dari operasi itu, Mama Alisha juga memiliki harapan yang sama untuk kesembuhan suami tercintanya.


"Kalau saja aku tidak memaksa Papa, mungkin saat ini Papa masih bisa memeluk kita,,"


"Maafkan Celin, Mah. Semua ini karna Celin."


Tangis Celina kembali pecah. Dia tetap menyalahkan diri sendiri.


"Jangan bicara seperti itu sayang, apa yang terjadi sudah menjadi takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri."


"Kamu harus yakin kalau Papa akan bangun. Papa pasti akan sembuh dan berkumpul dengan kita lagi."


Mama Alisha memeluk Celina. Mengusap punggungnya berulang kali untuk memberikan ketenangan.


"30 menit lagi boleh di besuk. Kamu bisa masuk ke dalam dan bicara dengan Papa."


"Bicaralah pada Papa, minta Papa untuk bangun."


"Papa pasti senang melihat kamu dan calon cucunya datang."


Celina mengangguk patuh. Sudah pasti dia akan melakukan hal itu. Sekalipun sang Papa dalam keadaan tidak sadarkan diri, Celina akan tetap bicara padanya, meminta sang Papa untuk membuka mata.


Vano berhenti di ambang pintu. Dia ragu-ragu membiarkan Celina masuk seorang diri. Vano khawatir jika nantinya Celina pingsan di dalam dan tidak ada yang menolongnya.


"Aku akan ikut masuk." Kata Vano sembari menuntun Celina kedalam.


Celina menggelengkan kepala.


"Tidak usah, aku ingin bicara berdua dengan Papa."


"Jangan khawatir, aku baik - baik saja dan masih bisa jalan."


Celina menatap dengan sorot mata memohon. Dia benar-benar ingin bicara 4 mata dengan sang Papa.


"Baiklah, tapi aku akan mengawasimu dari sini."


Vano membiarkan Celina masuk seorang diri.


"Kalau tidak kuat jangan dipaksakan sayang,," Pesan Mama Alisha sebelum Celina masuk kedalam.


Celina mengangguk paham, dia membiarkan Vano yang menutup pintu.


Ruang ICU itu begitu mencekam. Suasana hening seperti tidak ada kehidupan didalamnya.


Celina menatap Papa Adiguna yang berbaring tak berdaya dengan banyak selang yang menempel di dadanya.


Setiap langkahnya terasa berat. Semakin mendekat justru terasa mencekik, membuat Celina sulit untuk bernafas.


Dia tidak sanggup melihat kondisi sang Papa yang begitu mengiris hati.


Tubuh kekar sang Papa begitu tidak berdaya. Wajahnya pucat pasi.


Celina tau kalau Papa Adiguna sedang berjuang antara hidup dan mati.


Celina menutup mulut. Dia menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh sang Papa.


Hatinya hancur berkeping-keping melihat tubuh gagah sang Papa tak berdaya.


Setelah memenangkan diri, Celina baru berani mendekat dan berdiri di samping Papa Adiguna. Dia meraih tangan Papa Adiguna dan menggenggamnya.


"Pah, Celin dan cucu tampan Papa datang." Celina mengukir senyum getir di wajahnya. Dia tersenyum di saat hatinya sedang tercabik-cabik.


"Celin tau Papa kuat, Papa pasti akan berjuang untuk kita kan?. Untuk Celin, Mama dan Baby Boy."


"Papa harus melihat Baby Boy lahir, dia pasti bangga memiliki Opa yang tampan dan muda seperti Papa."


"Coba Papa pegang, Baby Boy sedang menendang."


Celina menempelkan tangan Papa Adiguna di perutnya.


Tiba-tiba saja merasakan gerakan ketika membicarakan anak yang ada dalam kandungannya.


"Papa bisa merasakan itu kan.?" Tanya Celina dengan mata berbinar. Baby boy kembali bergerak, seolah ikut memberikan semangat pada Opanya untuk bertahan.


"Baby Boy ingin Opanya bangun dan sehat kembali. Papa harus kuat, cepat bangun. Kami menunggu Papa,,"


Celina mencium punggung tangan Papa Adiguna. Air matanya menetes disana.


Saat ingin menghapus, tiba-tiba jari Papa Adiguna bergerak.


Celina langsung menatap wajah sang Papa, lalu kembali menatap tangan sang Papa yang masih bergerak.


"Papa,,,!" Seru Celina dengan air mata yang tumpah.


"Sayang,,,!! Mama,,,!!" Celina memangil Vano dan Mama Alisha yang sejak tadi mengawasinya dari balik pintu.