Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 68


Vano menatap Leo dengan kedua mata yang membulat sempurna. Entah kenapa setiap melihat wajah Leo selalu saja membuatnya kesal karna seperti melihat Dion dalam diri Leo.


Bocah kecil tak berdosa itu harus terkena imbas dari kecemburuan Vano terhadap Dion.


Saking kesalnya pada orang tua Leo, Vano akhirnya memasukan nama Leo sebagai nama yang akan dia blacklist dari daftar calon menantunya.


Dia tidak mau untuk berbesanan dengan Dion.


Vano juga tidak rela jika suatu saat putrinya berjodoh dengan Leo, seperti yang pernah di katakan oleh Mama mertuanya.


Di tambah lagi, Leo baru saja menertawakan dirinya. Tentu saja hal itu semakin menambah kekesalan yang dirasakan oleh Vano.


"Dasar bocah ingusan.! Anak dan Papa sama saja.!" Geram Vano lirih.


Sayangnya ucapan Vano di dengar oleh Celina yang berdiri di sampingnya.


Celina menatap heran suaminya yang terlihat menaruh kekesalan pada anak sekecil Leo.


Rasanya tidak masuk akal kalau Vano kesal pada Leo hanya karna Leo menertawakannya.


"Kamu kesal pada Leo.?" Tanya Celina lirih.


"Bukankah dia sama menyebalkannya dengan Dion."


"Jangan sampai Naura berjodoh dengan anak itu."


Kata Vano sinis.


Ternyata memang rasa cemburu bisa melebar kemana - mana. Padahal Leo tidak bersalah, tapi tetap terlihat menyebalkan dimata Vano sampai enggan memiliki menantu seperti Leo hanya krna Leo anak dari Dion.


"Kamu itu bicara apa.!" Celina menegur Vano dengan menyikut lengannya.


Ucapan lirih Vano memang tidak akan di dengar oleh Keyla, tetapi kurang etis untuk di ucapkan.


Sebagaimana yang telah di imani oleh banyak orang, bahwa jodoh sudah menjadi ketentuan Tuhan. Kita tidak bisa memilih jodoh, kecuali atas ketentuannya.


"Jangan bersikap seperti itu pada Leo, dia anak kecil."


"Kamu juga memiliki anak, bahkan anak keduamu akan segera lahir."


"Bagaimana kalau suatu saat mereka di benci orang hanya karna mereka kesal pada orang tuanya."


"Berapa banyak yang akan membenci Naura dan Baby boy kita atas perilaku burukmu dulu.!"


Celina menekankan kalimatnya, memberikan tamparan yang langsung membuat Vano flashback pada saat bermain dengan banyak wanita.


Vano tidak bisa mengelak, karna apa yang di ucapkan Celina memang sesuai fakta.


Entah berapa banyak wanita yang dia permainkan hanya untuk di jadikan pemuas semata.


Mungkin saja di antara mereka masih ada yang menaruh kebencian padanya.


"Kamu memang bisa membuatku tidak bisa berkutik."


Vano memilih diam setelahnya. Tidak berani berbicara lebih banyak lagi pada Celina karna akan selalu tertampar dengan celetukan Celina.


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka.


Dion dan Mama keluar bersamaan.


Celina langsung menatap keduanya. Memperhatikan raut wajah mereka seperti biasa.


Dia kembali ingin memastikan jika sang Mama dan Dion memang menyembunyikan hal besar darinya.


"Kalian pulang saja, biar Mama yang menemani Papa disini."


"Tidak ada masalah yang serius, besok juga sudah di perbolehkan pulang."


Permintaan Mama yang menyuruh semua orang untuk meninggalkan rumah sakit, sepertinya tidak di setujui oleh Celina yang terlihat memasang ekspresi penuh tanya.


Yang ada di pikiran Celina, kalaupun memang kondisi Papa Adiguna baik - baik, memang apa salahnya kalau mereka tetap berada di rumah sakit untuk menemaninya.


Mungkin dugaan Celina tentang penyakit yang diderita Papa Adiguna bukan karna Celina tidak bisa dikelabui, ataupun terlalu pintar membaca pikiran orang. Melainkan karna ucapan dan gerak gerik mereka yang terlihat jelas sangat mencurigakan.


"Memangnya kenapa kita harus pulang sekarang.?" Celina bertanya penuh selidik.


"Aku tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku.!" Tegas Celina.


Dia menatap Mama, Vano dan Dion bergantian.


Memberikan tatapan yang membuat ketiganya seolah sedang tertangkap basah sudah membohongi Celina.


"Aku bukan anak kecil yang tidak tau cara menerima kenyataan." Mata Celina berkaca - kaca.


Dia merasa tidak di berikan kepercayaan oleh mereka untuk mengetahui sakit yang di derita Papa Adiguna.


Mereka seolah menganggap dirinya tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan, sampai memilih untuk menyembunyikan semua itu darinya.


"Kalau kalian pikir aku mudah hancur, mungkin aku sudah tidak bernyawa lebih dari 2 tahun yang lalu."


Celina mengucapkan kata demi kata penuh penekan. Dia ingin memberitahukan jika dirinya tidak selemah yang mereka pikirkan.


Dulu di usianya yang masih terlalu muda dan labil, Celina hampir di buat gila oleh Adrian yang telah mengambil kesuciannya, menidurinya sesuka hati kapanpun saat Adrian menginginkannya. Dan berakhir di campakkan begitu saja.


Nyatanya, Celina masih sanggup menjalani hidupnya yang dibuat hancur oleh Adrian, meski pada akhirnya tetap melewati jalan yang salah.


Mereka bertiga terlihat saling pandang. Sedangkan Keyla sudah menjauh dari sana agar Leo tidak melihat dan mendengarkan obrolan mereka.


Dulu dia dan Papa Adiguna menyembunyikan semua itu karna berfikir jika Celina masih terlalu muda. Takut kabar itu akan menggangu pikirannya dan pada akhirnya akan kesulitan untuk belajar dan kesulitan untuk merasakan kebahagiaan.


"Sayang,,," Vano langsung merangkul pundak Celina.


Dia mengajak Celina untuk duduk.


"Kamu juga sama saja.!" Celina menepis tangan Vano dari pundaknya.


Dia kecewa pada Vano. Meski mereka belum mengakui persekongkolan itu, tapi Celina Sudah yakin 100 persen kalau suaminya juga terlibat membohonginya.


"Celina,! Maman tidak pernah mengajarkan kamu bersikap seperti itu pada suamimu." Tegur Mama tegas.


"Itu bukan keinginan Vano, Papa dan Mama yang menyuruh mereka untuk tidak memberi tau mu."


Tutur Mama.


Pada akhirnya mengakui hal itu karna Celina sudah terlanjur mencurigainya.


Celina tersenyum kecut. Saat ini dia merasa sangat bodoh di depan mereka bertiga karna hanya dia yang tidak tau apapun.


"Kamu sedang hamil. Kami khawatir akan membuat kehamilan mu bermasalah jika mengetahuinya."


"Itu sebabnya Papa tidak mau kamu tau."


"Mama minta maaf,,," Ucap Mama tulus.


Dia berjalan menghampiri Celina dan memeluknya erat.


"Mama bukan tidak percaya padamu."


"Mama tau kalau putri Mama sangat kuat. Kamu bahkan bisa bertahan dengan kehamilan ini dengan awal yang tidak mudah."


Berulang kali Mama mengusap punggung Celina untuk memberikannya ketenangan.


Mereka duduk saling berhadapan.


Kini Celina sudah tau semuanya. Dia tau sang Papa sedang berjuang melawan sakit yang mematikan.


Melewati masa tersulit di sisa hidupnya.


Celina terus terdiam. Cukup lama membiarkan tatapan matanya kosong dengan pikiran yang menerawang jauh.


Memikirkan kondisi Papanya yang begitu memilukan. Tapi selama ini masih bersikap seolah dia baik - baik saja.


"Sebaiknya kamu ajal Celina pulang,,"


Pinta Mama pada Vano.


Vano langsung mengangguk. Dia memang ingin mengajak Celina pulang agar bisa menenangkan pikirannya yang terlihat sangat kacau.


"Aku ingin bicara dengan Papa,,"


Tiba - tiba Celina beranjak dari duduknya sebelum Vano mengajaknya pulang.


Celina berjalan gontai menuju pintu.


Mereka bertiga hanya bisa diam, menatap Celina sampai menghilang di balik pintu. Ketiganya tidak berani melarang keinginan Celina.


Sekitar 15 menit menunggu dengan perasaan cemas, akhirnya Celina keluar kembali dari ruangan.


Matanya terlihat berkaca - kaca.


Sesaat kemudian, buliran bening mengalir deras dari peluk matanya, bersamaan menutup pintu dengan tangan yang terlihat lemah.


Vano langsung bergerak cepat menghampiri Celina. Saat itu juga Celina langsung menghambur ke pelukan Vano. Menangis terisak tanpa suara dengan tubuh yang bergetar.


Meluapkan rasa sesak dan sakit yang dia rasakan akibat kenyataan pahit itu.


Selama 15 menit berada di dalam, Celina berusaha untuk menahan tangisnya. Dia terus mengukir senyum lebar pada Papa Adiguna sembari menceritakan hal - hal bahagia tentang kehidupan rumah tangganya bersama Vano dan tentang kehamilannya.


Celina baru mengerti kenapa semua orang ingin menyembunyikan kenyataan buruk itu darinya.


Ternyata, kehancuran yang dirasakan akibat seseorang karna sebuah cinta, tidak sebanding dengan kehancuran yang di rasakan ketika mendengar kabar buruk tentang orang tua.


Vano mendekap erat tubuh Celina. Dia hanya bisa diam. Membiarkan Celina menangis agar beban yang dia rasakan sedikit berkurang.


Vano paham betul seperti apa perasaan Celina saat ini. Bagaimana hancurnya Celina.


Karna dia pernah merasakan hal yang sama.


Dan saat ini Celina hanya butuh pelukan, butuh tempat untuk bersandar dan menangis.


"Orang bilang, menangis bisa mengurangi beban yang sedang kita rasakan."


"Seperti halnya dengan pikiran yang positif, pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif juga."


"Kamu harus yakin kalau Papa bisa bertahan,,"


"Papa tidak mungkin membiarkan Baby Boy lahir tanpa Opanya."


Ucap Vano lembut.


Perlahan tangis Celina mulai melemah. Tubuhnya tidak lagi bergetar. Dia mengangguk pelan dalam dekapan Vano.