Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 58


Selama ini Celina memang tidak menaruh dendam pada Vano atas penghinaan dan tuduhannya 3 bulan lalu. Kemarahan yang dia tunjukkan pada Vano adalah bentuk kekecewaan hatinya yang telah di lukai. Luka itu di torehkan oleh orang yang dia cintai. Wajar jika butuh proses untuk menerimanya kembali.


Melalui sikap Vano yang berubah drastis, perlahan mampu mengetuk pintu hati Celina. Matanya kembali terbuka setelah sempat di tutup oleh kebencian.


Vano telah menunjukan perhatiannya yang begitu tulus. Menyadarkan Celina bahwa laki - laki itu memang sangat mencintainya.


Sejak pagi, suasana di rumah besar itu sangat hidup dengan canda tawa Naura dan kedua orang tua Celina.


Hari minggu mereka di habiskan dengan bercengkrama.


Naura memberikan warna tersendiri didalam rumah yang tadinya terasa kelabu bagi Celina.


Itu mengapa dia memutuskan tinggal di apartemen saat mulai kuliah.


Mama yang baru menuruni tangga, berjalan menghampiri Celina, Vano dan Papa Adiguna yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Naura sudah tidur Mah.?" Tanya Celina.


Dia masih saja terharu melihat Mamanya begitu menyayangi Naura. Bahkan sang Mama yang meminta untuk menidurkan Naura saat Naura merengek pada Celina karna mengantuk.


"Sudah. Mungkin Naura kelelahan, jadi begitu menempel pada tempat tidur, dia langsung tertidur." Jawab Mama. Dia bergabung dan duduk di samping Papa Adiguna.


"Kalian tidak mau pergi baby moon atau honeymoon.?" Tanya Mama kemudian. Vano dan Celina reflek saling pandang. Keduanya sama - sama berfikir kalau kedua momen itu tidak lagi penting bagi mereka.


Pernikahan mereka terjadi karna sebuah kesalahan meskipun sudah takdirnya.


Baik honeymoon maupun baby moon, rasanya sudah terlambat.


"Pergi saja, kalian pasti butuh waktu untuk berdua." Papa Adiguna ikut menimpali. Dia setuju dengan usulan istrinya.


Terlebih Papa Adiguna tau kalau hubungan putrinya dan Vano tidak baik - baik saja di awal pernikahan.


Dia tentu saja ingin melihat putrinya bisa menerima Vano dengan lapang dada tanpa ada perasaan kecewa lagi di dalam hatinya.


Dengan memberi kesempatan pada keduanya untuk menghabiskan waktu bersama, diharapkan bisa membuat Celina kuat karna ada Vano di sampingnya jika nanti Papa Adiguna harus meninggalkan dia untuk selamanya.


"Naura biar kami yang menjaga. Dia pasti tidak akan keberatan kalau kalian pergi berdua."


"Papa dan Mama juga ingin menikmati waktu di rumah dengan tidak memikirkan pekerjaan."


"Kalian bisa pergi tanpa harus mengkhawatirkan Naura."


"Kami akan berada di rumah 24 jam."


Penuturan Papa Adiguna sempat membuat Celina terkejut. Tidak biasa sang Papa mau rehat dari urusan bisnisnya meski hanya 1 hari. Tapi sekarang justru terlihat ingin menghabiskan banyak waktu di rumah.


"Baiklah, kami akan mempertimbangkannya." Sahut Vano. Dia langsung mendapatkan tatapan bingung dari Celina.


"Selagi ada waktu dan kesempatan, kenapa tidak." Ucapnya pada Celina. Dia tersenyum teduh, juga memberikan tatapan memohon agar Celina mau mempertimbangkannya.


Bukan tanpa alasan Vano menyetujui usulan kedua mertuanya. Vano bisa membaca kalau mertuanya seakan sengaja memberikan waktu padanya untuk bisa lebih dekat dengan Celina.


Mereka pasti tidak ingin membuat Celina hancur dan terpuruk saat waktu itu tiba.


Paling tidak, Celina bisa menjadikan Vano sebagai senderan dan tempat untuk meluapkan kesedihannya.


"Aku akan pikirkan nanti." Ucap Celina.


Mereka nampak senang mendengarnya.


...****...


"Ayo pikiran tempat yang bagus untuk honeymoon." Bisik Vano. Dia langsung memeluk Celina dari belakang setelah menutup pintu kamar.


Keduanya baru masuk ke kamar setelah mengobrol dengan Mama dan Papa Adiguna.


"Terserah kamu saja. Aku tidak punya rekomendasi tempat." Sahut Celina cepat. Dia memang jarang berlibur untuk sekedar menghabiskan waktu dia tempat wisata. Masa remajanya di sibukkan untuk mencari kebahagiaan di tempat terlarang.


Celina hanya tau tempat klub dan hotel saja.


"Asal bukan di luar negeri. Perutku tidak memungkinkan." Tambahnya lagi.


Usia kandungannya yang terbilang masih muda, mengharuskan Celina untuk selalu berhati - hati dan tidak berpergian jarak jauh.


"Aku tau. Lagipula pergi ke luar negeri terlalu menghabiskan banyak waktu."


"Papa dan Mama mu akan kerepotan kalau terlalu lama menjaga Naura."


Vano terus memeluk Celina dan menggiringnya ke tempat tidur.


Dia terlalu gemas dengan tubuh istrinya yang semakin berisi.


"Lepas, kenapa memelukku terus." Celina melepaskan diri begitu sampai di sisi ranjang.


"Tidak ada acara mendes*h malam ini."


Perkataan Celina membuat Vano melongo. Dia baru saja membayangkan adegan romantis dengan Celina namun sudah diberikan peringatan sebelum memulainya.


"Dokter bilang, tidak boleh sering - sering berc*nta karna riwayat kandunganku yang pernah bermasalah." Ujarnya lagi dengan ekspresi tenang.


Celina naik ke atas ranjang dan langsung merebahkan diri.


Vano terlihat menghela nafas. Sudah pasti dia kecewa. Baru 1 kali melakukannya, dia sudah mendapat peringatan.


Setelah ikut naik ke ranjang, Vano langsung memeluk Celina.


Wanita hamil itu seakan takut jika Vano kembali meminta haknya.


"Tapi aku tidak yakin,," Keluh Celina. Dia tau betul bagaimana gairah Vano yang selalu menggebu.


Saat masih menjalani kencan, Vano tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak melakukannya setiap kali bersentuhan.


"Aku akan menahannya demi kalian." Bisik Vano mesra. Dia mengeratkan pelukannya sampai membuat wajah Celina tenggelam di dada bidangnya.


"Kamu tidak pernah datang ke apartemen itu lagi.?" Tanya Vano. Celina mendongak.


Dia tau kalau Vano sedang membahas apartemen yang dulu diberikan padanya sebagai bayaran karna sudah memuaskan Vano selama 2 minggu melalui kencan gila yang mereka sepakati bersama.


"Tidak."


"Untuk apa aku datang ke sana." Celina menjawab ketus. Apartemen itu seakan menjadi tempat menakutkan untuknya. Meski Vano selalu berhasil membuatnya ketagihan, namun apartemen itu juga menyisakan kenangan buruk dalam ingatannya.


Vano hanya datang setiap kali ingin menikm*ti tubuhnya. Atau setiap kali membutuhkannya untuk menemani Naura.


"Tapi sepertinya kita perlu datang sesekali untuk mengingatkan kalau dulu kita sangat liar dan panas di atas ranjang."


"Mungkin setelah datang ke sana, kamu akan terus memintanya." Goda Vano dengan menahan senyum.


"Kamu semakin mesum." Cibir Celina acuh.


Dia membalas pelukan Vano, setelah itu memejamkan mata.


"Bukan hanya semakin mesum, tapi juga semakin cinta." Ujarnya merayu.


Vano terkekeh sendiri setelah mengatakannya. Dia sadar kalau dirinya selalu berlebihan setiap kali mencintai.


"Basi. Aku tidak mempan rayuan." Balas Celina.


"Aku tau kamu realistis. Hanya mempan dengan hujaman bertubi-tubi dari pada rayuan." Ucap Vano meledek. Celina langsung mendaratkan cubitan di lengan Vano.


...******...


Setelah memutuskan untuk pergi honeymoon sekaligus baby moon, Vano mengajak Celina pergi ke pantai dan akan menginap di resort selama 1 minggu.


Pagi ini mereka sedang bersiap. Pekerja rumah sudah membawakan koper mereka dan memasukannya kedalam mobil.


Vano dan Celina keluar dari kamar, keduanya menghampiri Naura dan Kedua orang tua Celina di ruang bermain Naura.


Oma dan Opanya secara khusus membuatkan tempat bermain untuk cucu - cucunya.


"Mommy, Daddy,,," Naura menghampiri keduanya begitu mereka masuk kedalam ruangan.


"Kata Oma, Mommy sama Daddy mau pergi. Naura mau disini sama Oma dan Opa."


Naura memeluk Celina.


"Iya, Mommy sama Daddy pergi dulu ya." Celina berlutut untuk mensejajarkan diri dengan Naura


Celina mencium kedua pipi Naura bergantian, kemudian mencium keningnya.


"Lain kali kita akan pergi bersama." Katanya menghibur. Naura langsung mengangguk.


"Baik - baik sama Oma dan Opa, jangan rewel. Oke.?" Kata Vano. Dia mengangkat Naura untuk menggendongnya.


"Oke Daddy."


Keduanya bergantian pamit pada Mama dan Papa Adiguna, kemudian bergegas pergi.


Perjalanan ke tempat tujuan tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 1 jam sudah sampai di tempat tujuan.


Vano langsung memarkirkan mobilnya di area resort yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Hati - hati." Kata Vano sambil membantu Celina turun dari mobil.


"Hanya turun dari mobil, aku bisa hati - hati." Celina membuat Vano melepaskan tangannya.


"Kamu ini,," Vano hanya bisa mengusap gemas kepala Celina.


"Kenapa sepi sekali.?" Celina mengedarkan pandangan ke area resort yang terdiri dari 3 bangunan. Masing - masing bangunan berlantai 2.


Celina tidak melihat 1 pun kendaraan yang terparkir di sana selain mobil Vano yang baru saja terparkir.


"Bukankah lebih enak kalau sepi. Kamu bisa bebas mengeluarkan desah*n nanti." Goda Vano sambil mengedipkan mata. Celina langsung melotot.


Kemesuman suaminya sudah mendarah daging. Selalu saja menjurus ke arah sana jika sedang mengobrol.


"Kenapa tidak mencari tempat lain yang ada pengunjungnya.?" Tanya Celina sembari mengikuti langkah Vano.


"Mungkin saja resort ini berhantu, jadi tidak ada yang mau tinggal disini." Celina masih saja memperhatikan resort. Dia mulai menduga - duga penyebab tempat itu tak berpenghuni.


Vano hanya mengulum senyum mendengar celotehan istrinya. Dia yang sengaja mengosongkan resort agar honeymoonnya lebih berkesan karna tidak akan mendengar suara bising jika sedang berada di dalam resort.


...******...


Ada yang belum baca novel My Sugar?


jangan lupa mampir buat yang belum baca🄰