Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 53


Celina duduk di walk in closet, dia menatap gaun pengantin yang akan dia kenakan besok pagi. Takdirnya telah melenceng jauh dari apa yang dia impikan selama ini.


Memang sempat terlintas untuk bisa mendapatkan Vano sebagai suaminya, tapi tidak pernah terfikir dengan cara seperti ini dia akan memiliki Vano.


Dengan begitu banyak permasalahan yang harus dia hadapi, yang menguras perasaan dan juga air mata.


...**...


"Ikuti kata hatimu, aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku."


Vano menghentikan Celina yang akan keluar dari mobilnya. Siapa yang tega melihat raut wajah Celina yang terlihat sedang menanggung beban besar.


Selama memilih dan mencoba gaun pernikahan, Celina lebih banyak diam tanpa ekspresi. Tidak seperti calon pengantin pada umumnya yang terlihat bahagia saat melakukan fitting gaun pernikahan.


"Kamu berhak bahagia dengan pilihanmu, tidak sepertiku yang pernah merampas kebahagiaanmu dengan menorehkan luka." Vano menundukkan pandangan. Hatinya selalu sakit setiap kali mengingat perlakuan buruknya pada Celina.


Dia baru menyadari jika selama ini telah menjadi laki - laki kejam. Memperlakukan wanita tanpa perasaan, seolah mereka tidak memiliki hati.


"Aku bisa apa kalau takdir yang memilihkan mu untukku."


"Sekeras apapun aku menolak, sejauh apapun menghindar, tidak akan bisa merubah apapun."


"Kebahagiaanku bukan hal penting yang harus di utamakan. Aku akan memiliki anak, kebahagiaannya jauh lebih berarti dariku."


Celina tersenyum getir. Dia turun dari mobil dengan membawa paper bag di tangannya.


Langkahnya terlihat seperti orang yang sedang putus asa.


Vano masih diam di tempat, menatap Celina sampai menghilang di balik pintu rumahnya.


...*****...


Celina menatap dirinya dalam pantulan cermin. Wajahnya semakin cantik dan sempurna dengan riasan make up. Di tambah gaun yang dia kenakan, melekat sempurna di tubuh tingginya. Rambut panjangnya di tata cantik, terlihat sangat elegan.


Tidak lama lagi, dia akan menyandang gelar sebagai seorang istri sekaligus ibu untuk Naura. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab besar sudah menunggu di depan mata.


Terlepas bagaimana perasaannya pada Vano, kedua hal itu tidak bisa di abaikan hanya karna egonya.


Celina akan semakin banyak mengalah dan mengesampingkan egonya agar kehidupan rumah tangganya bisa berjalan dengan semestinya.


"Apa yang kamu pikirkan.?"


Suara Mama membuyarkan lamunan Celina. Dia baru menyadari sang Mama sedang berdiri di belakangnya. Celina mengulas senyum senyum tipis pada Mamanya dari pantulan cermin.


"Tidak ada," Sahutnya bohong.


"Berusaha untuk menerima apa yang terjadi, ini jalan hidupmu." Mama memegang kedua bahu Celina dan mengusapnya pelan. Dia menatapnya intens, seolah sedang memberikan kekuatan pada putrinya.


"Mama akan terus berdoa untuk kebahagiaan kalian."


Celina tersenyum dengan menganggukkan kepala.


"Vano terlihat baik dan mencintai mu, dia pasti akan membahagiakan kalian." Ucapnya lagi.


Tidak ada tanggapan dari Celina. Dia hanya diam sambil tersenyum tipis.


...****...


Pernikahan Celina dan Vano di gelar sederhana dan tertutup. Bertempat dikediaman orang tuanya dengan menjadikan lantai 1 sebagai tempat acara sakral itu. Di hiasi dekorasi yang tidak berlebihan namun terlihat mewah dan elegan.


Area luas itu hanya di hadiri segelintir orang - orang penting dan keluarga.


Kakak sepupu Celina dan Istrinya juga turut hadir disana.


Naura terus menempel pada Vano. Dia terlihat sangat bahagia melihat Daddy dan Mommynya akan menikah. Meski tidak mengerti apa arti dari sebuah pernikahan, Naura hanya tau kalau Celina akan menjadi Mommynya dan akan tinggal bersama dengannya.


"Daddy,,, itu Mommy,,,"


Naura menunjuk Celina yang berjalan menuruni tangga dengan di dampingi oleh Mamanya.


Wajah cantik Celina menjadi pusat perhatian. Semua orang terlihat mengagumi kecantikannya termasuk Vano yang sampai saat ini belum mengedipkan mata sejak melihat kedatangan Celina.


Ini pernikahan keduanya. Tapi tetap dengan perasaan yang sama. Tidak bisa menepis rasa gugup dan groginya. Perasaan juga bercampur aduk dengan jantung yang terus berdebar tak teratur.


Untuk kedua kalinya, dia akan meminang seorang wanita cantik yang sama - sama memiliki tempat spesial di hatinya.


Bukan hanya sekedar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bukan pula untuk sekedar menuruti keinginan Naura. Vano tulus mencintai Celina dan sangat menginginkannya untuk menemani dia disisa hidupnya.


Celina meraih tangan Vano dan mencium punggung tangannya untuk pertama kali setelah berstatus sebagai istrinya. Vano membalas dengan mencium kening Celina.


Pernikahan mereka berjalan lancar dan sakral tanpa kendala apapun.


"Jika tidak ingin tersenyum padaku, setidaknya tersenyumlah untuk mereka dan kedua orang tuamu."


"Mereka ingin melihatmu bahagia." Bisik Vano lirih.


Celina tidak memberikan tanggapan, namun dia mengikuti saran dari Vano untuk tersenyum.


Suasana rumah semakin sepi setelah lewat jam makan siang. Beberapa dari mereka sudah meninggalkan kediaman Adiguna.


"Selamat atas kehamilan mu. Masih bau kencur sudah bisa menabung." Ucap Alex meledek. Dia memeluk adik sepupunya.


Celina nampak berdecak kesal. Sedikit mendorong bahu Alex untuk menjauh.


"Basi.!" Geram Celina kesal.


Axel terkekeh geli.


"Dimana kak Nadine.?"


Celina mencari keberadaan Nadine yang sejak tadi tidak terlihat.


Celina hanya mengangguk saja.


"Tolong jaga adikku. Dia memang sedikit sadis tapi sebenarnya baik." Kata Alex pada Vano.


"Tentu saja, itu tanggungjawab ku." Jawab Vano Cepat.


"Mommy, Naura mau tidur." Rengek Naura yang tiba - tiba bergelayut di tangan Celina. Mata Naura sudah terlihat sayu. Gadis kecil itu memang tidak pernah melewatkan tidur siangnya.


"Tolong temani Naura, kamu juga harus istirahat. Lagipula acaranya sudah hampir selesai." Bujuk Vano.


Celina hanya mengangguk dan menyuruh Ida untuk membantunya mengangkat gaun.


Celina membawa Naura ke kamarnya.


"Mau kemana sayang.?" Tanya Mama pada Celina.


"Naura ingin tidur Ma," Jawabnya sambil melirik Naura yang terlihat sudah tidak fokus.


"Ya sudah, kamu juga bisa istirahat dulu. Jangan terlalu lelah."


"Bawa saja Naura di kamar sebelah." Kata Mama. Celina mengangguk, lalu bergegas ke lantai atas.


"Kenapa tidak di kamar sebelas Cel.?" Tanya Ida. Dia merasa sayang melihat ranjang Celina yang sudah di hias cantik terpaksa harus di bersihkan sebelum digunakan oleh pengantin.


"Tidak apa, Naura akan tidur bersamaku."


Celina menyuruh Naura untuk duduk di sofa lebih dulu, sambil menunggu Ida membereskan ranjang. Sementara itu, Celina sedang berada di kamar mandi untuk mengganti baju.


Selesai membereskan ranjang, Ida langsung memindahkan Naura yang ternyata sudah terlelap di atas sofa. Dengan hati - hati meletakan Naura di ranjang, lalu pamit keluar dari kamar.


Celina ikut naik ke atas ranjang setelah mengganti baju dan membersihkan diri.


Hanya beberapa jam berdiri, membuat tubuhnya terasa lelah. Bahkan sedikit terasa sakit di perut bagian bawah.


Celina terlelap setelah beberapa saat menatap wajah Naura.


Vano membuka pintu kamar perlahan. Dia baru menyusul Celina 1 jam kemudian karna harus menemani Papa mertuanya untuk mengobrol dengan rekan bisnisnya.


Sudut bibirnya mengembang sempurna. Pemandangan menyejukkan itu membuat hatinya diselimuti kebahagiaan.


Kehadiran Celina bukan hanya berarti untuk dirinya, tapi juga untuk Naura.


Vano melepaskan jas dan dasi, meletakkannya di senderan sofa. Kemudian menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku dan membuka 3 kancing bagian atas kemejanya.


Seketika berbaring di sofa dan memejamkan mata.


Semalam Vano tidak bisa memejamkan mata hingga dini hari. Dia terus memikirkan pernikahannya sampai membuatnya kesulitan untuk tidur.


Sudah pasti dia sangat khawatir, takut tidak bisa membuat Celina bahagia setelah menikah.


...****...


"Bangun,," Celina mengguncang pelan lengan Vano. Sebenarnya tidak tega membangunkan Vano karna terlihat kelelahan. Namun Papa Adiguna minta Vano untuk menemuinya di ruang kerja.


"Bangun.!" Sekali lagi Celina membangunkan Vano dengan sedikit mengencangkan suaranya.


Vano mulai menggeliat dan perlahan membuka mata. Dia langsung tersenyum melihat wajah cantik Celina yang tepat di atas wajahnya.


"Cantik sekali,," Gumamnya. Vano terlihat belum sadar sepenuhnya.


"Apa kamu akan marah kalau aku memeluk mu seperti ini." Tiba - tiba Vano mengangkat kedua tangannya dan mendekap Celina hingga dia jatuh di atas tubuh Vano.


"Ya ampun, lepasin." Celina mencubit perut Vano hingga membuat Vano tersadar dan langsung melepaskan pelukannya. Dia langsung duduk sembari membantu Celina bangun.


"Kamu baik - baik saja.? Apa perut mu sakit.?" Vano reflek memegang perut Celina karna tadi posisi Celina tengkurap di atas tubuhnya.


"Tidak." Jawab Celina ketus.


"Cepat mandi, Papa menunggumu di ruang kerjanya." Celina memberikan baju ganti milik Vano yang baru di ambilkan pekerja rumah di dalam bagasi mobil Vano.


"Dimana Naura.?" Vano menatap ranjang yang sudah kosong.


"Dibawah, main dengan Omanya." Sahut Celina sembari berlalu.


Vano kembali tersenyum, kini Naura tak hanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, dia juga mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua Celina yang mau menerima Naura sebagai cucu mereka.


Vano langsung berdiri dan menyusul Celina yang hendak masuk ke walk in closet. Dia menghentikan langkah Celina dengan memeluknya dari belakang.


"Kamu juga belum mandi, ayo mandi bersama." Ajaknya Vano lembut. Celina langsung membulatkan matanya.


"Tidak mau," Tolaknya cepat.


"Sudah sana mandi,," Celina berbalik badan sembari mendorong dada Vano agar melepaskan pelukannya.


"Kamu menolak ajakan suamimu.?" Tanya Vano dengan pura - pura memasang wajah kecewa.


Celina nampak berfikir, sebelum akhirnya menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Tidak untuk saat ini." Katanya. Celina meninggalkan Vano yang mengulum senyum.


Tidak untuk saat ini, itu artinya besok dan seterusnya bisa mandi bersama.


...*****...


Ramein juga yuk akunnya keponakan othor. 😊


Mampir ke novel Jangan Rubah Takdirku.