Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 67


Melihat kondisi sang Papa yang harus di pasang infus dan oksigen, Bagaimana Celina bisa percaya kalau Papa Adiguna baik - baik saja.


Usia Celina sudah hampir 19 tahun, dia bukan lagi anak kecil yang bisa di Kelabuhi hanya dengan sebuah omongan tanpa bisa menilai apa yang dia lihat.


Celina pura - pura mengulas senyum. Bersikap seolah tidak mencurigai apapun di depan semua orang, terutama sang Mama yang terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Papa mau makan sesuatu.?"


Tawar Celina lembut. Sejak tadi dia enggan melepaskan tangan Papa Adiguna. Terus menggenggamnya dan memberikan usapan kecil.


"Tidak nak,," Tolaknya halus.


Kondisinya terlihat lemah. Celina sampai menahan air matanya agar tidak tumpah.


Ini pertama kalinya dia melihat Papa Adiguna berbaring lemah di rumah sakit.


"Papa harus banyak istirahat, jangan sampai kelelahan seperti ini."


"Sebentar lagi cucu laki-laki Papa akan lahir, bagaimana kalau nanti Papa tidak punya tenaga untuk menggendongnya."


"Tangan Papa lemas sekali,," Celina menggerakan pelan tangan Papa Adiguna. Sama sekali tidak ada tenaga di dalamnya.


Papa hanya tersenyum, meski dalam hati memikirkan banyak hal. Termasuk ketakutan dirinya yang mungkin tidak akan bisa melihat cucunya lahir ke dunia.


Cucu yang akan menjadi pewaris generasi kedua setelah Celina.


"Sudah berapa kali Mama bilang, Papa tidak boleh tidur larut malam, tapi mengabaikan ucapan Mama,,"


Papa Adiguna melirik istrinya yang memasang wajah cemberut. Di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, sang istri masih saja terlihat cantik.


Tidak terlalu menunjukan tanda - tanda penuaan yang berarti.


"Ya, lain kali Papa akan dengarkan ucapan Mama."


Papa Adiguna mengedipkan sebelah matanya, sengaja menggoda istrinya agar tersenyum.


Dia sadar usianya tidak akan lama lagi. Di sisa hidupnya, hanya ingin melihat istri dan anaknya tersenyum bahagia.


"Pah.!" Tegur Mama dengan wajah yang merona. Dia malu pada menantunya yang sedang menahan tawa karna melihat kelakukan Papa mertuanya.


"Ya ampun, Papa masih saja genit dalam keadaan seperti ini." Ucap Celina tak habis pikir.


Dia memang sudah biasa melihat kelakuan sang Papanya yang terlalu bucin. Tapi itu dulu, sekitar 3 tahun yang lalu.


Dan setelah itu jarang melihat mereka bermesraan di depannya, karna semakin sibuk dengan pekerjaan hingga jarang berada di rumah.


"Perempuan kalau sedang cemberut memang harus di goda seperti itu." Papa Adiguna mengulas senyum tipis.


Mama memalingkan wajahnya, semakin malu dengan tingkah suaminya yang tidak tau tempat.


Kalau di ruangan itu tidak ada Vano, mungkin tidak akan masalah.


"Iisshh,,," Desis Celina kesal.


"Sebaiknya kita keluar saja, Papa sedang ingin di manja," Cibir Celina meledek.


Celina menggandeng tangan Vano dan mengajaknya keluar dari sana.


Vano sempat pamit pada kedua mertuanya dengan membungkuk sopan dan mengulas senyum.


"Kamu lihat, putri dan menantu kita jadi tidak betah disini." Protes Mama setelah Celina dan Vano keluar.


Papa Adiguna tersenyum tipis, dia berusaha meraih tangan istrinya dengan susah payah.


Tenaganya belum stabil, masih sulit untuk menggerakkan anggota tubuh.


Mama langsung menggenggam tangan Papa Adiguna karna melihat suaminya itu kesulitan untuk meraih tangannya.


"Umurku tidak lama lagi, kalau tidak melihatmu tersenyum sekarang, lalu kapan lagi.?"


Ucapan Papa Adiguna membuat Mama tertegun.


Rasa sesak memenuhi dada, begitu menghimpit hati dan tenggorokannya hingga kesulitan untuk bernafas.


Akan kehilangan suami.? Bagaimana mungkin dia masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini.


Di saat hatinya semakin rapuh, untuk menerima kenyataan pahit itu.


Mama tentu saja tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya yang akan hancur tanpa Papa Adiguna.


20 tahun hidup bersama, begitu banyak kebahagiaan dan cinta yang dia rasakan dari suaminya.


Lalu jika waktu itu tiba, semuanya akan berhenti saat itu juga. Tidak akan ada lagi kebahagiaan dan cinta yang di curahkan oleh Papa Adiguna padanya.


"Kenapa harus bicara seperti itu.!"


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi.!" Ujar Mama tegas.


Dia menahan tangis yang terasa begitu menyiksa.


"Bagaimana aku bisa bermain kedua cucuku tanpa kamu."


"Dan mungkin Celina berencana memiliki banyak anak."


"Apa kamu tidak ingin melihat dan bermain dengan mereka.?" Tanyanya dengan mata berkaca - kaca.


Dia meletakan satu tangannya di pipi suaminya. Menatap lekat wajah tampannya yang sejak dulu tidak pernah pudar di makan usia.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Kali ini saja, berjuanglah untuk kesembuhanmu."


"Untukku, untuk putri mu dan cucu mu."


Air matanya menetes tanpa bisa di bendung lagi. Pura - pura kuat nyatanya tidak semudah yang dia pikirkan.


...*****...


"Kenapa.?" Vano mengusap pelan pundak Celina.


Sejak keluar dari ruangan Papa Adiguna dan duduk di kursi, Celina terus diam melamun.


"Apa menurutmu Papa baik - baik saja.?" Tanya Celina meminta pendapat.


Dia menatap Vano dengan wajah serius untuk mendengarkan jawabannya.


"Bukankah Mama mu bilang seperti itu.?"


"Kelihatannya memang baik - baik saja. Hanya kelelahan." Jawab Vano cepat.


Dia tidak mau membuat Celina curiga, meski sebenarnya tidak tega untuk menyembunyikan semua ini terlalu lama.


Bagaimanapun, Celina memang berhak tau kalau umur Papanya tidak akan lama lagi.


Memberikan kebahagiaan dan kenangan indah sebelum sang Papa tutup usia.


"Tapi aku rasa Mama sudah menyembunyikan sesuatu dariku."


"Kalau memang Papa hanya kelelahan, kenapa kondisinya sangat lemah. Kenapa harus menggunakan oksigen.?"


"Apa separah itu orang kelelahan.?"


Cecar Celina dengan fakta yang dia lihat sendiri.


"Raut wajah Mama juga terlihat cemas dan takut. Bagaimana itu bisa terjadi kalau tidak ada sesuatu yang serius.?"


Tambahnya lagi.


Vano langsung terdiam. Dia tidak mengira kalau Celina akan sedetail itu memperhatikan kondisi Papa Adiguna, juga membaca raut wajah sang Mama.


Vano menarik nafas dalam. Mencoba berpikir jernih untuk mencari alasan yang bisa di terima oleh Celina.


Meski ingin jujur pada Celina, tapi Vano belum siap melihat Celina terluka.


"Celina.! Bagaimana kondisi Papa.?"


Suara panik Dion membuat keduanya langsung menatap ke sumber suara.


Tatapan mata Vano yang awalnya teduh, kini berubah berapi karna melihat Dion.


Namun kehadiran Keyla dan Leo di belakang Dion, sedikit mengurangi amarah Vano.


"Kak,," Ucap Celina.


Dia menatap lekat wajah Dion yang sama panik dan takutnya dengan Mama. Hal itu semakin menambah kecurigaan Celina.


Dia semakin merasa kalau mereka memang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Masuk saja, Papa dan Mama ada di dalam."


Kata Celina sambil menatap pintu ruangan itu.


"Tunggu di sini, aku akan masuk sebentar." Kata Dion pada Keyla.


Dion bergegas masuk dengan buru - buru.


"Siapa lagi yang sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Celina tegas. Dia melirik Vano dengan tatapan tajamnya.


Jika Dion tau keadaan Papa Adiguna yang sebenarnya, rasanya tidak mungkin kalau Vano tidak tau. Vano menantunya, laki - laki yang telah dipercaya oleh Papa Adiguna untuk menjaga putrinya. Dan Dion orang kepercayaan yang sudah di anggap seperti anaknya.


Pasti keduanya akan mendapatkan informasi yang sama jika ada sesuatu.


"Kenapa menatapku seperti itu.?" Tanya Vano lembut. Dia sudah gugup, bingung harus berbuat apa.


Mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahu Celina tentang hal ini.


Bahkan Papa Adiguna sudah menyembunyikannya dari Celina sejak beberapa tahun yang lalu.


"Ingat ini baik - baik."


"Kalau kamu ikut terlibat membohongiku, jangan harap aku mau memaafkanmu." Celina memberikan ancaman yang membuat Vano menelan kasar salivanya.


"Detik itu juga, pernikahan kita akan ber,,,


"Sayang,,,!" Potong Vano cepat.


"Jangan bicara sembarangan,,"


Ancaman Celina sama sekali tidak lucu. Dia sampai mempertaruhkan hubungan pernikahan mereka.


Posisi Vano jadi serba salah. Dia tidak di perbolehkan memberi tau Celina, tapi hubungannya dengan Celina bisa berantakan kalau Celina tau.


"Kalau begitu cepat beri tau aku.!"


"Jangan sampai aku tau sendiri dan kamu terlibat di dalamnya."


"Kamu lihat ini.?"


Celina mengepalkan satu tangannya. Mengangkatnya di depan wajah Vano. Memberikan gerakan menonjok.


"Aku akan membuat wajah tampanmu babak belur. Lebih parah dari yang pernah Papa lakukan padamu."


Celina bicara serius dengan suara dingin.


Vano hanya bisa melongo. Tidak mengira kalau istrinya bisa berubah seperti preman.


"Sayang, jangan bercanda." Vano tersenyum takut. Dia memegang tangan Celina dan menurunkannya.


Sepertinya tinjuan Celina bisa membuat wajah tampannya hancur kalau meninjunya dalam keadaan emosi.


"Kamu sendiri yang akan malu kalau wajah suamimu babak belur."


Vano merangkul pundak Celina, berusaha untuk menurunkan emosi istrinya.


"Ibu hamil tidak boleh marah - marah, harus selalu berfikir positif dan tersenyum ramah."


Vano menarik kedua pipi Celina untuk membentuk senyum di bibirnya.


"El Vano.!!!" Geram Celina kesal. Dia menepis kedua tangan Vano dari pipinya.


Tanduk di kepala Celina sudah muncul seluruhnya, kedua tangannya mengepal.


Vano langsung beranjak dari kursi untuk menghindari amukan istrinya.


"Kau, jangan lari.!" Seru Celina. Dia bergegas untuk mengejar Vano.


"Hahahaha,,,, Om dan Tante berantem Mah,,,"


Suara tawa Leo yang pecah, membuat Vano dan Celina berhenti.


Keduanya kompak menoleh ke belakang, menatap Leo yang langsung di bungkam mulutnya oleh Keyla.


"Ma,,maaf." Ucap Keyla dengan senyum kaku. Dia tidak enak pada pasangan suami istri itu yang sedang bertengkar layaknya tikus dan kucing.


...******...


Pendukung Vano jangan sampe oleng ke Papa Adiguna. 🤣


Umur 45 tahun, udah opa opa 😝