
"Celina,,"
Vano menahan tangan Celina ketika baru beranjak dari meja makan.
1 piring nasi goreng di lahap habis oleh Celina meskipun moodnya sedang buruk.
Rasa lapar membuatnya bersikap masa bodo. Terus menyantap makanannya di samping Vano yang sesekali mencoba untuk membujuknya.
"Aku benar-benar lupa menggantinya,," Tuturnya dengan kecemasan yang tidak bisa dia sembunyikan.
Sedari tadi dia fokus untuk mengembalikan mood Celina agar kembali membaik, sampai melupakan makan malamnya.
Celina menarik nafas berat. Sedikit sulit untuk mempercayai alasan Vano yang terdengar tidak masuk akal.
Bagaimana bisa lupa sampai selama itu untuk mengganti wallpaper di ponsel, sedangkan setiap hari ponsel itu selalu digunakan.
Wallpaper itu pasti akan dia lihat setiap kali membuka ponsel.
Rasanya sangat lucu jika menggunakan alasan lupa. Bisa jadi malas menggantinya karna masih sangat penting dalam hidupnya.
"Aku tidak mau membahasnya." Celina menarik tangannya dari genggaman Vano, lalu beranjak ke kamar.
Dia lelah untuk berdebat. Baginya hanya membuang energi dan pada akhirnya membuat perasaannya semakin memburuk.
Vano mengusap kasar wajahnya. Dia terlihat frustasi karna tidak berhasil membujuk Celina untuk memaafkannya.
Celina memang terlihat sangat kecewa saat menatapnya sebelum pergi.
Tatapan itu membuat Vano sadar jika kesalahannya terlalu menyakitkan bagi Celina.
Vano bergegas menyusul Celina. Dia masih berharap bisa membicarakannya baik - baik dan menyelesaikan permasalahannya malam ini juga.
Vano menutup pintu dengan hati - hati setelah masuk kedalam kamar. Celina nampak baru keluar dari kamar mandi dan sedang berjalan ke arah ranjang.
Kehadiran Vano terlihat tak berarti apapun untuknya. Celina enggan menoleh, ataupun meliriknya.
Dia terlalu kecewa karna merasa tak berarti bagi Vano, sedangkan selama ini Vano terlihat berjuang keras untuk mendapatkannya. Entah untuk apa perjuangan yang selama ini dia lakukan untuk menjadikannya sebagai istri.
Celina seketika terdiam di tempat saat akan naik ke atas ranjang. Tiba - tiba hatinya berdenyut nyeri.
Begitu melihat ranjang, terlintas dalam benak Celina jika Vano berjuang untuk mendapatkannya hanya untuk menjadi penghangat di ranjangnya.
Celina menoleh, menatap Vano dengan sorot mata tajam.
Rasa kecewanya semakin besar karna terus memikirkan alasan Vano yang bersikeras menikahinya, namun mendiang sang istri seakan tak bisa tergantikan oleh siapapun.
"Raganya sudah tiada, tapi jiwanya masih menempati seluruh hati dan pikiranmu." Celina menekankan kalimatnya.
"Menikahiku bukan karna cinta dan tanggungjawab, melainkan sekedar untuk menjadikan ku patner di atas ranjangmu." Celina menatap kecewa. Vano kembali menghancurkan hatinya yang baru berhasil dia tata setelah berjuang untuk menyembuhkannya.
"Seharusnya tidak perlu repot - repot menikahiku kalau sekedar ingin mendapatkan kepuasan di atas ranjang."
"Kamu bisa membayar wanita malam, seperti kamu membayarku waktu itu."
Celina bergegas naik ke atas ranjang.
Rasa sakit semakin menggerogoti hatinya.
Merasa tidak di hargai membuatnya sangat kecewa.
Sementara itu, Vano dibuat tercengang dengan pandangan buruk Celina terhadapnya.
Apa yang di pikirkan oleh Celina sama sekali tidak benar.
Cinta yang sudah membuatnya berjuang untuk bisa menjadikan Celina sebagai istrinya.
Terlepas dengan wallpaper ponselnya yang belum dirubah, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaannya terhadap Celina.
Cintanya terhadap Celina bukan kepalsuan semata.
"Aku memang salah karna masih menggunakan fotonya. Tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu."
"Aku benar-benar lupa menggantinya. Tidak sengaja membiarkan foto itu terus terpasang di ponselku."
"Aku tau konsekuensinya jika membuatmu kecewa.
Mana mungkin aku sengaja untuk membuatmu kecewa sedangkan aku akan sangat tersiksa setelahnya."
Kejadian beberapa bulan lalu saat membuat Celina kecewa hingga Celina membencinya, sudah cukup membuat Vano jera karna menyiksa dirinya sendiri.
Dia benci, di jauhkan dan di acuhkan oleh Celina, hanya membuatnya tidak tenang menjalani hari - harinya.
Celina tidak memberikan reaksi apapun, dia justru berbalik badan untuk membelakangi Vano yang berdiri tak jauh dari ranjang.
Hatinya sudah terlanjur kecewa.
Berulang kali mengatakan cinta, tapi tidak bisa menjaga dan menghargai perasaannya.
Mungkin saja dia hanya dijadikan bayang - bayang masa lalunya yang enggan untuk di lupakan.
"Kita akan pulang besok." Ujar Vano. Celina hanya tersenyum kecut mendengarnya, meski tidak memperlihatkannya pada Vano.
"Aku mengajakmu berlibur untuk membuat hubungan kita semakin membaik, tapi yang ada malah semakin memburuk." Vano menghela nafas berat.
Dia tidak tau lagi harus bagaimana untuk meyakinkan Celina. Penjelasannya seakan tidak ada artinya.
"Selamat tidur,," Ucap Vano sebelum keluar dari kamar.
Dia sengaja membiarkan Celina sendiri agar bisa menangkan diri.
Karna kehadirannya hanya akan membuat Celina terus merasa kesal padanya.
...****...
"Celina,," Vano mengusap - usap lengan Celina untuk membangunkannya.
Vano bahkan sudah keluar masuk kamar 4 kali untuk melihat Celina sudah terbangun atau belum.
Awalnya membiarkan Celina tetap tidur karna tidak tega membangunkannya. Tapi hari semakin siang dan Celina tidak boleh melewatkan sarapannya.
"Celina, bangun sayang,,,"
Kali ini Vano meninggikan suaranya. Celina nampak menggeliat.
Dia terdiam setelah membuka mata dan melihat Vano yang duduk di sisi ranjang, menatapnya dengan satu tangan berada di lengannya.
"Sudah jam 8, kamu harus sarapan,,,"
Vano membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian pipi Celina.
Dia mengulas senyum tipis meskipun Celina tidak bereaksi apapun dan masih menatapnya datar.
"Ayo makan, aku sudah membuatkan sandwich unukmu dan susu untuk anak kita." Katanya lembut.
Vano bersikap seolah - olah tidak pernah terjadi apapun tadi malam.
Dia memperlakukan Celina dengan lembut seperti biasanya. Tidak peduli bagaimana reaksi Celina nantinya.
Vano sedang berusaha untuk mendapatkan maaf dari Celina.
"Bangun, setelah itu mandi dan pergi ke meja makan. Aku tunggu disana."
"Jangan biarkan dia kelaparan,," Vano mengusap sekilas perut Celina, kemudian beranjak pergi.
Celina masih diam di tempat. Semalam dia tidak bisa tidur karna terus memikirkan permasalahannya dengan Vano sampai membuat Vano mengalah dengan tidur di kamar lain.
Vano memang salah karna membiarkan foto mendiang istri pertamanya sebagai wallpaper, di saat dia mengaku mencintai Celina dan berjuang untuk menikahinya.
Tapi perlahan Celina mulai menyadari kalau diri juga telah melakukan kesalahan.
Dia sudah menghakimi Vano dengan prasangka buruknya. Mendiamkan dan mengacuhkan Vano.
Kalau saja dia bisa bersikap tenang, tidak menggunakan perasaannya yang sedang sensitif, dan bicara baik - baik pada Vano untuk mengubah wallpapernya. Pasti tidak akan ada perdebatan yang saling mengusik pikiran masing - masing.
Celina keluar dari kamar setelah setelah selesai mandi.
Dia menghampiri Vano yang duduk tenang di depan meja makan.
"Sini,," Vano tersenyum menatap Celina, dia menarik kursi di setelahnya dan meminta Celina untuk duduk di sana.
Celina tidak memberikan penolakan, dia langsung duduk di sebelah Vano.
Sandwich, susu dan beberapa buah sudah tersaji rapi di atas meja. Vitamin milik Celina juga ada disana.
"Aku minta maaf,," Ucap Celina tulus.
Dia mengakui kesalahannya meskipun apa yang terjadi semalam tak lepas dari kecerobohan Vano.
Permintaan Maaf Celina membuat Vano menatap heran.
"Beberapa bulan lalu, kamu berjuang untuk mendapatkan maaf dariku, juga memintaku untuk menikah denganmu dengan alasan mencintaiku."
"Aku tidak keberatan kalau kamu masih memikirkan dan mengenangnya, tapi tidak dengan mengabaikan posisiku saat ini yang sudah menjadi istrimu."
"Aku hanya ingin kamu menghargai keberadaanku, sekalipun hatimu tidak sepenuhnya padaku."
"Menyimpan fotonya, bahkan masih menjadikannya sebagai wallpaper di ponselmu, seakan menegaskan kalau aku tidak berarti untuk hidup mu."
"Lalu bagaimana aku bisa percaya kalau kamu tulus padaku." Tutur Celina.
Vano meraih tangan Celina. Menggenggamnya dengan kedua tangan. Sorot matanya begitu dalam. Ada gurat kebahagiaan di wajahnya.
"Jangan meragukanku, aku benar-benar mencintaimu."
"Aku janji akan lebih hati - hati lagi dan memahami perasaanmu." Ucap Vano sungguh-sungguh.
"Jangan pernah berfikir kalau aku tidak mencintaimu." Vano menarik Celina dalam dekapannya. Mendaratka-n kecupan berkali - kali di keningnya.
Seandainya Celina tau, kejadian tadi malam membuat Vano sangat frustasi. Pagi ini dia pura - pura bersikap tenang untuk menutupi perasaannya yang kacau.
...*****...
Mereka tidak jadi pulang setelah menyelesaikan permasalahan tadi pagi.
Keduanya sudah bersikap seperti biasa, meskipun sikap cuek Celina padanya tak berkurang.
"Mau jalan - jalan.?" Tawar Vano.
Mereka baru saja selesai mandi sore setelah seharian menghabiskan waktu bersama di resort.
"Hu'um. Aku ingin melihat sunset,," Ujar Celina.
Dia berdiri setelah mengerikan rambutnya.
"Aku akan mengambil jaket untukmu. Udara malam di pantai bisa membuat kalian kedinginan." Vano beranjak ke walk in closet untuk mengambil jaketnya.
Celina mengangguk patuh, diam di tempat hingga Vano kembali.
"Biar aku pakaikan,," Vano memakaikan jaket itu 0di tubuh Celina, membiarkan bagian depannya tetap terbuka.
"Aku mencintaimu,," Ucapnya lembut. Dia mencium sekilas bibir Celina dan menggandengnya keluar kamar.
...*****...
Maaf baru sempat up, kehabisan ide😂. Sepertinya harus cepet² di selesaikan dan buat novel baru.
Jangan lupa vote yah🥰