Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 82


Pagi ini, Keyla dan Leo keluar dari apartemen yang sejak 5 bulan lalu di sewakan oleh Dion.


Meski Dion keberatan dengan keputusan Keyla yang akan tinggal di rumah Papa Adiguna, tapi pada akhirnya hanya bisa mengijinkan karna Keyla berulang kali mengatakan padanya tidak mau bergantung hidup padanya.


Dibantu oleh supir dan asisten rumah tangga, Keyla membawa barang - barang miliknya dan Leo kedalam rumah Papa Adiguna.


Sejujurnya dia tidak ingin menyusahkan orang lain seperti ini, namun tidak punya pilihan lain karna belum memiliki uang sendiri untuk menyewa tempat tinggal.


Keyla berencana tinggal bersama Celina sampai dia mendapatkan gaji pertamanya dan bisa menyewa tempat tinggal menggunakan uangnya sendiri.


Sedangkan uang yang setiap bulan dikirimkan oleh Dion, hanya akan digunakan untuk kebutuhan Leo dan sekolahnya kelak.


Keputusannya sudah bulat untuk berhenti mencintai Dion dan tidak lagi mengharapkannya.


Keyla hanya ingin fokus ke depan, menjalani hidup dengan baik demi Leo dan kebahagiaannya sendiri.


Memang sudah saatnya dia bahagia setelah bertahun-tahun menyiksa dirinya sendiri dengan menyakiti orang yang dia cintai.


"Kalian sudah datang,," Celina menyambut Keyla dan Leo dengan antusias.


Kehadiran mereka bisa mengantikan posisi sementara kedua orang tua Celina yang sedang berada di luar negeri.


Setidaknya, rumah itu tidak akan terlalu sepi.


"Maaf, aku jadi merepotkan mu." Keyla terlihat tak enak hati pada Celina.


"Jangan sungkan Kak, kita itu saudara,," Ujar Celina dengan senyum tulus.


"Sini biar aku antar kalian ke kamar."


Celina berjalan mendahului Keyla, dia menuju kamar yang terletak di lantai dasar.


Mereka sudah memilihkan kamar tamu yang paling luas untuk di tempati oleh Keyla dan Leo.


Kamar itu bahkan di isi dengan 2 ranjang yang terpisah.


"Kak Dion sudah tau kalau kakak pindah pagi ini.?"


Celina membuka pintu kamar dan mempersilahkan Keyla untuk masuk.


"Sudah, aku menghubunginya sebelum dia berangkat ke kantor."


Dibantu pekerja rumah, Keyla mulai menata baju - bajunya kedalam lemari.


Celina juga ikut membantu meski hanya sesekali karna dia sudah di peringatkan oleh Vano agar tidak melakukan pekerjaan yang membuatnya kelelahan.


Sementara itu, Leo di ajak pengasuhnya ke taman belakang untuk bermain dengan Naura.


Seperti biasa, dua bocah itu selalu saja menunjukan interaksi menggemaskan yang membuat orang dewasa terkekeh geli.


"Leo, ayo duduk disini."


Naura menarik tangan Leo. Mengajak bocah tampan itu untuk duduk di kursi putih yang ada di taman.


"Aku tidak mau, lepasin.!" Leo berusaha menarik tangannya dari genggaman Naura.


Dia terlihat kesal pada Naura karna mengajaknya duduk bersanding di kursi itu dan mengatakan jika mereka akan menikah.


"Kenapa tidak mau.? Aku itu cantik.!" Seru Naura. Bibirnya mencebik kesal lantaran Leo selalu menolak dirinya. Padahal ajakan menikah itu hanya sekedar permainan anak kecil.


"tidak.! Kamu itu menyebalkan." Ketus Leo.


"Awas, aku mau kasih makan ikan."


Leo melepaskan diri dari Naura, setelah itu bergegas menghampiri kolam ikan. Dia mengabaikan Naura yang saat ini menatapnya dengan sorot mata berkaca - kaca.


"Leo nakal.!!" Teriaknya kemudian merengek.


Ida segera menghampiri Naura dam menenangkannya.


Suara tangisan Naura bahkan tidak di pedulikan oleh Leo, bocah laki-laki itu sedang sibuk memberi makan ikan.


"Kak Keyla sudah siap bekerja.?"


"Aku harap semuanya berjalan lancar. Aku akan mendukung apapun yang terbaik untuk kalian."


Celina menatap Keyla dengan intens, takut ada sesuatu yang mengganjal di hati Keyla karna raut wajah Keyla terlihat penuh beban.


"Aku belum siap melihat reaksinya besok."


"Dia pasti akan terkejut dan semakin marah padaku."


Keyla menundukkan kepalanya.Keyla sangat yakin jika Dion akan semakin benci padanya kalau tau mulai besok dia akan menjadi sekretaris Dion.


Pasti akan semakin banyak lagi cap buruk yang diberikan Dion untuk Keyla.


"Bilang saja kalau Kakak tidak tau akan di rekrut menjadi sekretaris."


"Kalau kak Dion masih marah, bilang saja padaku."


...*****...


Vano buru - buru keluar dari ruang kerjanya setelah mendapat telfon dari sang istri.


Sebenarnya masih ada beberapa berkas yang harus di baca ulang untuk di tanda tangani, sekarang bahkan masih pukul 3 sore.


Tapi apa ada, tugas dari ibu negara jauh lebih penting dari pekerjaan kantor.


Saat baru keluar, Vano berpapasan dengan Arkan yang tadinya ingin masuk ke ruang kerja Vano.


"Beresin meja kerja gue.!" Titahnya pada Arkan.


"Beberapa berkas belum gue tanda tangani." Ujarnya memberi tau. Arkan reflek menarik nafas panjang.


Semenjak ada wanita cantik dalam hidup Vano yang menyandang status sebagai istri, Vano kerap meninggalkan kantor begitu saja. Selalu pulang semaunya.


Sangat jauh berbeda ketika dia masih sendiri. Pekerjaan nomor satu, urusan wanita nomor 2 tapi tidak pernah terlewatkan setiap minggunya.


"Yang istrinya lagi hamil besar, sibuk banget kayaknya." Ujar Arkan menyindir.


"Tenang aja, selama ada Arkan semuanya beres." Arkan tersenyum bangga.


Mendengar Arkan yang memuji dirinya sendiri, Vano langsung berdecak sinis.


"Efek kelamaan jomblo, jadi muji diri sendiri." Cibir Vano sambil berlalu begitu saja.


"Bos sialan.! Mentang - mentang udah punya istri." Serunya kesal.


Arkan langsung masuk ke ruang kerja Vano dan membereskan meja kerjanya sesuai instruksi dari bosnya itu.


Vano menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang memiliki halaman cukup luas dengan beberapa pohon mangga yang menjulang tinggi.


Vano menatap pohon mangga itu dengan perasaan yang tidak karuan.


Karna menginginkan mangga muda yang di petik langsung dari pohonnya, Celina sampai merengek pada Vano untuk membawakan mangga muda itu secepatnya.


Celina bahkan tidak mau tau dimana Vano akan mencari buah mangga sesuai permintaannya.


Setelah turun dari mobil, Vano segera menghampiri satpam yang sedang berjaga di rumah itu.


Dia meminta ijin pada satpam untuk memetik mangga dan menawarkan sejumlah uang pada satpam itu.


"Tentu saja boleh Pak, mari saya ambilkan." Satpam itu langsung antusias setelah Vano menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah padanya.


"Tidak perlu, saya yang akan mengambilnya."


"Tolong vidiokan saya saja,," Vano merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel.


Dia memberikan ponsel itu pada satpam agar merekamnya saat sedang naik ke atas pohon dan memetik mangga itu.


Celina benar - benar tidak bisa di bohongi. Otaknya terlalu cerdas, atau mungkin sudah punya feeling kalau Vano akan membohonginya.


Itu sebabnya Celina menyuruh Vano untuk merekam saat sedang memetik mangga. Karna Celina hanya ingin makan mangga yang dipetik langsung oleh Vano.


Satpam itu menurut, dia menjalankan perintah sesuai arahan Vano dan merekamnya sampai Vano berhasil turun ke bawah.


Butuh waktu lama untuk merekam kegiatan Vano yang sedang naik pohon mangga.


Durasi vidio itu bahkan hampir setengah jam.


"Bapak tidak apa - apa.?" Satpam itu terlihat cemas.


"Tidak.!" Jawab Vano,dengan raut wajah kesal.


Vano mengambil ponselnya kembali, dia memunguti 3 buah mangga yang berhasil dia petik.


"Makasih." Ucapnya datar, kemudian pergi begitu saja.


Sampainya di rumah, Vano langsung mencari keberadaan istrinya.


"Sayang,,,,!!" Teriak Vano. Dia terlihat tidak sabar untuk bertemu dengan Celina.


Vano mengerutkan kening begitu melihat Keyla keluar dari salah satu kamar tamu.


"Celina ada di taman belakang." Ujar Keyla memberi tau.


Vano tidak memberikan respon apapun, dia melewati Keyla begitu saja dan pergi ke taman belakang untuk menemui Celina.


"Mungkin Dion juga akan melakukan hal yang sama." Keyla tersenyum samar, menatap kepergian Vano yang membawa mangga muda di tangannya.


"Sayang kamu dapat mangga mudanya.?" Mata Celina berbinar melihat Vano datang dengan membawa mangga muda pesanannya.


Saking senangnya, Celina sampai memeluk Vano.


Wajah yang awalnya menahan kekesalan, kini perlahan teduh akibat pelukan dari sang istri.