Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 36


4 Hari berlalu, seharusnya hari ini adalah acara pernikahan Vano dengan Intan. Tapi begitu Vano mengetahui Celina tengah mengandung anaknya, dia langsung membatalkan pernikahan hati itu juga setelah pulang dari rumah sakit.


Ya, hari itu Vano pulang setelah Dion masuk kedalam ruangan Celina. Meski sadar bahwa tidak punya harapan untuk bisa mendapatkan maaf dan hati Celina, Vano tetap membatalkan pernikahannya dengan Intan. Vano begitu berharap suatu saat akan ada kesempatan yang datang padanya untuk bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, Vano memanggil Intan ke ruang kerjanya. Ada janji yang tetap harus dia tepati meski pernikahannya dengan Intan di batalkan.


"Permisi,,," Intan membuka pintu dan menjulurkan kepalanya dari balik pintu yang baru di buka sedikit.


Pembatalan pernikahannya dengan Vano sempat membuat Intan kecewa. Dia memang tidak terlalu berharap, tapi Vano yang sudah memberikan harapan begitu besar padanya. Bagaimana Intan tidak kecewa, dia juga memikirkan perasaan kedua orang tuanya meski mereka terlihat tidak mempermasalahkan keputusan Vano.


"Masuk,," Suara maskulin Vano masih tetap sama di telinga Intan, selalu membuat jantungnya berdebar.


Intan melangkah masuk dan menutup pintu. Dia duduk didepan Vano dengan kepala yang tertunduk. Tak hanya kecewa, Intan juga merasa malu pada Vano. Sebelum Vano membatalkan pernikahan, hubungan mereka sempat bertambah dekat dan beberapa kali pergi berdua untuk membeli cincin pernikahan dan fitting baju. Kini Intan semakin merasa canggung saat harus berhadapan dengan Vano.


"Aku harus menepati janjiku, terima ini untuk keperluan kamu dan keluarga kamu." Vano menyodorkan kartu ATM di meja, tepat di depan Intan.


"Uang itu lebih dari cukup untuk biaya hidup kalian selama 2 tahun ke depan, setidaknya sampai kamu lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan." Jelas Vano rinci.


Dia memang sengaja tidak menanggung semua kebutuhan hidup keluarga Intan dalam kurun waktu yang panjang, karna Vano berfikir bantuannya akan menyinggung laki - laki yang nantinya akan menikah dengan Intan jika dalam waktu dekat Intan memutuskan untuk menikah.


Intan mendongak. Dia terlihat semakin kecewa pada Vano atas sikapnya. Meski niat Vano memang baik, tapi seakan sedang membayar kekecewaan yang dia rasakan atas perbuatan Vano yang sudah membatalkan pernikahan secara sepihak. Padahal, Vano juga yang menginginkan pernikahan itu segera di langsungkan.


"Terimakasih, aku tidak bisa menerimanya." Intan mendorong kartu ATM itu ke depan Vano.


"Anda tidak perlu melakukannya, tidak perlu juga menganggapnya sebagai janji yang harus di tepati. Itu hanya akan membuatku merasa semakin direndahkan,," Intan menolak halus. Dia memberanikan diri untuk berbicara seperti itu di depan Vano.


"Kalau begitu saya permisi, Naura sedang makan,," Intan beranjak dari duduknya dan pergi dari hadapan Vano. Tanpa bisa bicara apapun, Vano menatap kepergian Intan dengan perasaan bersalah. Kini dia sadar kalau dirinya baru saja menyakiti hati 2 wanita sekaligus.


Setelah bicara dengan Intan, Vano bergegas pergi ke kantor. Sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk pamit pada Naura. Lagi - lagi Naura selalu menanyakan keberadaan Celina. Anak kecil itu seperti memiliki firasat kalau Celina sedang mengandung adiknya. Dari cara bicara dan tatapan Naura saat menyebut nama Celina, seperti ada ikatan batin di sana hingga membuat Naura begitu ingin bertemu dengan Celina.


"Aunty cantik sedang sakit, Naura mau menjenguknya.?" Tawar Vano. Naura langsung mengangguk antusias.


"Mau Papa,, beli buah untuk aunty cantik," Seru Naura polos.


"Ok, tunggu Papa pulang ya. Nanti kita jenguk aunty cantiknya." Ujar Vano lembut. Dia mencium kening Naura sebelum akhirnya pergi ke kantor.


...****...


Hari ini Dion tidak bisa datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Celina. Dia sedang ada pekerjaan yang mengharuskan untuk pergi ke luar kota selama 2 hari. Tidak mau membiarkan Celina seorang diri tanpa pengawasan, Dion sengaja membayar suster untuk menemani Celina selama 24 jam penuh.


Meskipun tidak bisa datang ke rumah sakit, Dion tidak pergi tanpa kabar begitu saja. Hampir 2 jam sekali Dion menelfon Celina untuk menanyakan keadaannya.


"Ini sudah ke 6 kalinya kak Dion menelfon ku,," Ujar Celina dengan tawa kecil. Dia suka dengan perhatian Dion, namun sangat berlebih menurutnya hingga sudah menelfon 6 kali sejak tadi pagi.


"Apa kakak nggak bosen liat muka pucatku.?"


Pertanyaan Celina membuat senyum Dion merekah di seberang sana. Sore itu Dion sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah berada di hotel, wajahnya terlihat lebih berekspresi dibanding saat di sedang berada di luar.


"Kamu bahkan memakai lipstik, bagaimana bisa terlihat pucat.?" Jawab Dion cepat. Wajah Celina sampai merona dibuatnya, dia memang sengaja mengoleskan lipstik agar tidak terlalu pucat di layar ponsel. Pasalnya beberapa menerima telfon dari Dion, Celina bisa melihat betapa pucat wajahnya tanpa lipstick.


"Apa Mama dan Papa sering menanyakanku.?" Celina memilih mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.


"Tentu saja."


"Tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya agar mereka tidak curiga,,"


"Aku harus mandi. Dua jam lagi aku akan menelfonmu." Ujar Dion dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Celina mengangguk, tak lupa balik melempar senyum pada Dion.


"Terima kasih,,," Ucap Celina sebelum Dion mematikan telfonnya. Dahi Dion mengkerut.


"Untuk.?" Tanyanya bingung.


"Semuanya, terima kasih mau menerimaku dan anak ini, terima kasih untuk waktu dan perhatian kak Dion padaku." Celina meneteskan air mata. Air mata haru penuh kebahagiaan.


"Jangan menangis, kamu akan membuatku tidak tenang,," Pinta Dion. Celina mengangguk sembari menghapus air matanya.


"Sebaiknya kak Dion, aromanya tercium sampai ke kesini." Ledeknya sambil tertawa. Celina bahkan sampai menutup hidungnya. Dion hanya tersenyum tipis.


"Byeee,,," Celina melambaikan tangan dan mematikan sambungan telfonnya.


Dia tersipu menatap layar ponsel yang masih memperlihatkan profil milik Dion. Ada banyak obrolan di sana lewat chat, Celina jadi merasa sedang kembali ke masa saat dia berpacaran dengan cinta pertamanya.


Pada akhirnya Celina mulai merasakan bahwa perlahan hatinya sudah bisa menerima Dion.


Suara ketukan pintu membuat suster yang menemani Celina langsung beranjak dari duduknya. Dia menatap Celina, tatapan yang terlihat sedang menunggu perintah darinya.


"Tolong bukakan mba,," Pinta Celina sopan. Meski sejujurnya ada rasa takut di hati Celina karna tidak tau siapa yang akan datang menemuinya. Karna selama ini hanya Dion saja yang datang.


Suster itu mengangguk, lalu bergegas membukakan pintu. Celina yang sejak tadi menatap ke arah pintu, kini dibuat terkejut melihat dua orang yang datang menemuinya.


"Aunty cantik,,," Teriakan Naura langsung menggema di ruangan. Dia meminta turun dari gendongan Vano. Begitu Vano menurunkannya, Naura langsung berlari mendekati Celina dan memeluk Celina yang sedang berbaring.


"Naura kangen aunty cantik,," Ungkapnya sendu. Naura bahkan seperti menahan tangis.


Bingung dengan situasi yang ada di hadapannya, Celina hanya bisa diam. Dia belum memberikan sapaan pada Naura, namun membalas pelukannya.


Derap langkah Vano terdengar semakin dekat. Celina menengok ke arahnya tanpa ekspresi. Berbeda dengan Vano yang terlihat menahan kesedihan dari sorot matanya. Parcel buah yang dia bawa, di letakan di atas nakas. Vano menghampiri Naura yang merebahkan kepalanya di perut Celina.


"Jangan seperti ini sayang,,," Ujar Vano sambil membangunkan Naura agar tidak mendekap Celina pada bagian perut. Vano tentu saja merasa cemas, takut tekanan dari kepala Naura berpengaruh pada janin di perut Celina.


"Aunty kenapa.?" Tanya Naura. Dia terlihat sedih melihat keadaan Celina.


Tangan Celina terulur, dia mengusap lembut pipi Naura sambil melempar senyum padanya.


Rasa benci pada ayah Naura tidak membuat Celina ikut membenci Naura. Rasa sayangnya pada Naura masih tetap sama seperti dulu meski ayah Naura telah menghancurkan hatinya.


"Aunty baik - baik saja."


"Apa Papa yang mengajak Naura kesini.?" Tanya Celina. Dia melirik sinis pada Vano. Celina curiga Vano akan menjadikan Naura sebagai alat untuk mendekatinya lagi. Karna Vano pasti tau jika Celina tidak akan tega untuk mengusir Naura.


"Naura cari aunty cantik, Papa bilang aunty cantik sedang sakit."


"Naura mau ketemu aunty,," Jawab Naura Panjang lebar. Vano terlihat mengulas senyum tipis. Setidaknya jawaban Naura tidak membuatnya tersudut.


"Kenapa tidak pernah menjawab telfonku. Kamu tidak lelah memblokir setiap nomor baru yang masuk ke ponselmu.?" Tanya Vano. Meski ada nada kecewa dan kesal, namun Vano masih bisa mengontrol nada bicaranya agar tidak terdengar ketus.


"Aku tidak punya alasan untuk menjawab telfon darimu." Jawab Celina acuh.


"Jangan terlalu lama disini, aku tidak ingin melihatmu. Naura juga masih terlalu kecil untuk berlama - lama di rumah sakit." Ujarnya dingin. Celina benar - benar menunjukan ketidak sukaannya atas kehadiran Vano.


"Setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Pinta Vano memohon. Celina tersenyum kecut.


"Kamu sudah menolaknya sebelum aku memberikan kesempatan, jadi untuk apa meminta kesempatan." Celina menatap Vano dengan tatapan penuh kebencian.


"Lupakan anak ini, anggap saja kamu tidak pernah memilikinya. Aku dan Kak Dion akan segara menikah, kali ini jangan menghancurkan hidupku untuk kedua kalinya. Biarkan kami hidup tenang dan bahagia,,"


Pengakuan Celina begitu menusuk hati Vano. Bagaimana bisa dia melupakan darah dagingnya sendiri.


"Kamu mungkin tega memisahkan ku dengannya. Tapi aku yakin Dion tidak akan tega melalukan itu,," Sahut Vano.


"Aunty cantik harus istirahat, ayo pulang,,," Ajak Vano. Dia menggendong Naura namun tangis Naura langsung pecah.


"Naura mau disini,," Teriaknya. Melihat isak tangis Naura, Celina jadi tidak tega.


"Biarkan Naura disini, kamu bisa menunggu diluar dan bawa pulang Naura setelah 30 menit."


Permintaan Celina membuat Vano menarik nafas dalam. Rasa sakit karna ditolak kedatangannya membuat dadanya begitu sesak.


Vano membiarkan Naura berada disana, setelah itu bergegas keluar sesuai permintaan Celina.