
Suasana di ruang makan terasa ramai dengan bertambahnya anggota keluarga baru.
Malam itu, Papa Adiguna juga mengundang Dion untuk datang makan malam bersama.
Saat baru datang, Dion menyampaikan permintaan maafnya pada Papa Adiguna karna tidak bisa menghadiri acara pernikahan Celina.
Sejak 3 hari yang lalu, Leo mengalami demam. Hal itu membuat Dion tidak bisa meninggalkan Leo dan Keyla karna takut terjadi sesuatu.
Dion bahkan terpaksa mengajak Keyla untuk tinggal di apartemennya agar bisa menemani Leo selama 24 jam.
Jika biasanya Leo akan bergantian tinggal bersama mereka, kini Dion memberikan Leo kesempatan untuk merasakan tinggal bersama orang tuanya.
"Maaf tidak bisa datang ke pernikahan kalian. Leo baru saja sembuh tadi pagi." Tutur Dion.
Dia terlihat tidak enak hati pada Celina dan Vano.
"Keyla menitipkan ini untukmu." Dion menyodorkan paper bag pada Celina.
Paper bag itu di terima Celina dengan seulas senyum.
"Terima kasih kak." Ucap Celina tulus. Kini dia terlihat lebih santai berhadapan dengan Dion.
"Tidak apa. Leo jauh lebih membutuhkan kak Dion."
Ucapan Celina membuat Dion tersenyum kaku. Sekalipun Celina tidak memiliki maksud lain saat mengatakannya, namun Dion merasa sedikit tersinggung.
Berbeda dengan Celina yang terlihat biasa saja melihat kehadiran Dion, Vano justru memasang wajah ketus. Bibirnya mengatup rapat, sedikitpun tidak melempar senyum pada Dion.
Rasa cemburu dan kesal masih melekat di hatinya pada sosok laki-laki yang hampir saja menikahi Celina.
Dion juga akan terus berada dalam lingkaran hidup mereka karna Papa Adiguna telah memberikan sebagian sahamnya untuk di pegang oleh Dion.
"Sebaiknya makan dulu. Kita lanjutkan nanti setelah makan." Ajak Papa Adiguna pada mereka.
"Naura mau itu Oma,,," Naura langsung menunjuk makanan kesukaannya. Dia terlihat lengket dengan Oma nya sampai memilih duduk disebelahnya dan sekarang meminta untuk di ambilkan makanan.
"Oke anak cantik,," Mama dengan tulus mengambil makanan itu dan meletakkannya di piring Naura.
Kedekatan Mama mertuanya dengan Naura, menarik perhatian Vano hingga dia terus tersenyum menatap mereka.
Terlepas bagaimana pertemuan awalnya dengan Celina hingga ada konflik dan kabar kehamilan, Vano merasa bersyukur karna pada akhirnya bisa menikah dengan Celina dan keluarganya yang mau menerima Naura dengan baik.
Naura tak hanya mendapatkan ibu sambung, tapi dia mendapatkan keluarga yang utuh, lengkap dengan Oma, Opa dan adik yang akan segera hadir ke dunia.
Vano melirik Celina yang sedang meletakan makanan kedalam piring. Matanya langsung beralih pada Dion yang ternyata sedang menatap Celina juga.
Tak mau menyia - nyiakan kesempatan untuk menunjukan kemesraan di depan Dion, Vano langsung mendekatkan wajahnya di samping Celina.
"Aku juga mau itu sayang,," Bisik Vano sambil menunjuk makanan yang tadi di tunjuk oleh Naura.
Celina melirik Vano dengan tatapan ketus.
"Ambil sendiri.!" Sahutnya cepat. Tentu saja Celina tidak berani berbicara kencang karna takut di dengar oleh semua orang.
"Kamu sudah menolak Dion, setidaknya bersikap romantis padaku agar Dion berhenti berharap padamu,," Bisik Vano lagi.
Celina reflek melirik Dion. Hanya beberapa detik, kemudian langsung mengalihkan pandangan karna ternyata Dion terus menatapnya.
Sebelum bersandiwara, Celina menghela nafas lebih dulu. Rasanya masih malas untuk bersikap baik pada Vano. Meski sudah membuang kebenciannya terhadap Vano, tapi tetap saja luka yang diberikan Vano membuat perasaannya berubah.
Celina meletakkan makan kedalam piring Vano. Laki - laki itu sampai 3 kali menunjuk makanan yang berbeda. Meminta Celina untuk mengambilkannya.
Setiap kali Vano menunjuk, saat itu juga Celina akan tersenyum dengan mata yang melotot.
Vano hanya mengulum senyum setiap kali Celina menunjukan ekspresi geramnya.
"Terima kasih istriku yang baik dan lembut,," Puji Vano menyindir. Dia berbisik namun menekankan kalimatnya.
Kesal dengan ulah Vano, Celina langsung menginjak kaki Vano.
"Aww..!!" Pekik Vano. Semua orang langsung menatapnya dengan tatapan bingung.
Berbeda dengan Dion yang terlihat paham dengan situasi di depannya.
"Ada semut di kakiku,," Jelas Vano kikuk.
Mama dan Papa mertuanya hanya mengulum senyum sambil menggelengkan kepala.
"Berani sekali melakukan KDRT pada suamimu."
Vano merangkul pinggang Celina dan meremasnya untuk menggoda.
"Kamu harus membayarnya malam ini." Bisik Vano lagi.
Celina langsung memaku. Pikirannya sudah melayang kemana mana. Sepertinya Vano tidak akan mudah melepaskannya malam ini.
...*****...
Pembahasan soal perusahaan terus berlanjut setelah tadi makan malam bersama.
Lagi - lagi, Papa Adiguna membeberkan tanggung jawab yang harus di pegang oleh Vano dan juga Dion.
Papa Adiguna terlihat sudah pasrah dengan takdirnya. Dia sampai mengurus semuanya, mengubah nama kepemilikan asetnya atas nama Celina hingga menyerahkan semua tanggung jawabnya.
"Saya harap, kalian bisa bersikap dewasa untuk menjalankan amanah yang saya berikan."
"Jangan sekali - kali mencampur adukan urusan pribadi dengan tanggung jawab kalian masing - masing untuk perusahaan."
Papa Adiguna memberikan peringatan pada mereka, seolah dia bisa memahami situasi dan perasaan kedua laki - laki yang sama - sama mencintai putri semata wayangnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik." Jawab Vano cepat. Dion menganggukkan kepala sebagai jawaban bahwa dia juga akan mengupayakan yang terbaik atas tanggungjawab dan amanah itu.
Vano berjalan cepat begitu di perbolehkan keluar dari ruang kerja Papa mertuanya. Dia sudah tidak sabar untuk mendatangi wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Perdebatan sengit di meja makan tadi, akan di jadikan alasan oleh Vano untuk meminta haknya.
Vano menaiki tangga dengan buru - buru. Langkahnya langsung terhenti di depan pintu kamar Celina.
"Celina ada di kamar sebelah. Naura minta untuk di temani tidur."
Ucapan Mama mertuanya membuat Vano tersenyum kaku. Vano seketika bungkam karna malu. Mama mertuanya pasti melihatnya yang lari tergesa - gesa menuju kamar. Entah apa yang ada dipikiran Mama mertuanya saat ini. Hal itu membuat Vano sangat malu hingga ingin menghilang dari hadapannya.
"Ah, iya. Tidak apa."
"Permisi Mah, saya harus ke toilet sebentar." Pamit Vano.
Dia terpaksa berbohong untuk mengurangi rasa malunya yang sudah terlanjur mendarah daging. Meski alasannya terbilang masuk akal, namun Vano tidak yakin kalau Mama mertuanya akan percaya begitu saja.
"Mama akan menyuruh Celina kembali ke kamarnya nanti." Ujar Mama sambil berlalu ke kamar sebelah.
Vano langung masuk ke dalam kamar dan menghela nafas pelan. Tinggal satu rumah dengan mertuanya membuatnya harus lebih berhati - hati dalam bertindak. Alih - alih ingin meminta haknya, dia justru mendapatkan malu.
Mama mertuanya pasti akan berfikir kalau dia sudah tidak sabar untuk melewati malam pertama dengan Celina.
Vano terus mondar - mandir di depan pintu. Dia menunggu Celina masuk ke dalam kamar.
Mama mertuanya pasti kesulitan untuk membujuk Celina kembali ke kamar. Istrinya itu pasti sengaja untuk menghindar darinya.
"Kamu menghindar karna takut luluh lagi padaku." Gumam Vano sambil mengulum senyum.
Celina pasti sangat Menghindari melakukan kontak fisik dengannya, apa lagi kalau harus bergulat di atas ranjang.
Vano yakin, satu kali saja melakukan penyatuan, Celina pasti akan luluh padanya seperti awal pertemuannya dulu.
"Ya ampun.! Kenapa harus berdiri disini.?!" Pekik Celina begitu masuk kedalam kamar. Dia terkejut melihat Vano berdiri di depan pintu.
"Kemana saja kamu.?" Vano langsung mendekap tubuh Celina. Kakinya mendorong pintu hingga tertutup.
"Iisshh.! Lepasin." Celina memberontak.
"Nanti setelah dia berhasil masuk." Jawab Vano berbisik. Satu tangannya meraih kunci dan memutarnya.
"Jangan menghindar karna aku tidak akan melepaskanmu,,"
"Lebih baik pasrah dan menikmatinya."
Tangan Vano sudah menjalar kemana - mana. Kedua bola mata Celina membuat sempurna.
"Jangan maca,,, eummm,,,!!"
Mulut Celina terlanjur di bungkam oleh bibir Vano. Dia memberikan ******n lembut dan menyes*pnya dalam.
Vano tidak memberikan celah bagi Celina untuk melepaskan ciumannya.
Tidak peduli sekalipun Celina terus memukulnya, Vano terus melancarkan aksinya dan kini menggendong tubuh Celina ke ranjang.
"Ini malam pertama kita setelah menikah. Kita harus menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan." Bisik Vano setelah melepaskan ciumannya.
"Jadi jangan coba - coba memberontak, nikmati saja malam panjang kita."
Vano tersenyum menggoda. Celina hanya memaku di bawah kungkungan Vano.
Jantungnya tiba - tiba berdetak kencang. Lidahnya terasa kaku untuk memberikan penolakan lagi.
"Eummm,,," ******* tertahan keluar dari bibir Celina saat tangan Vano masuk kedalam bajunya.
Senyum lebar mengembang di bibir Vano. Dia sudah bisa menebak jika Celina tidak akan bisa berpaling dan menolak begitu merasakan sentuhannya.
...****...
Hareudangnya di skip, masih siang 🤣
Jangan lupa vote dulu, kali aja nnti malem othornya khilaf up lagi gara² liat votenya naik drastis🤣