Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 59


Vano sudah menerima kunci dari penjaga resort. Penjaga itu bergegas pergi setelah menyerahkan kunci.


Vano langsung mengajak Celina masuk ke dalam sembari menyeret k0loper miliknya ke kamar yang terletak di lantai bawah. Vano enggan membuat Celina naik turun tangga karna takut membuatnya kelelahan selama baby moon.


"Kita belum membeli bahan makanan." Ucap Celina sambil mengikuti Vano kedalam kamar.


Vano menaruh koper itu lebih dulu, kemudian menghampiri Celina yang baru saja duduk di ranjang sambil mengedarkan pandangan keseluruhan kamar.


"Memangnya apa yang ingin kamu buat.?"


Vano ikut duduk di samping Celina. Menatap wajah cantik istrinya dengan lekat.


"Apa saja asal bisa di makan."


"Bagaimana jika tengah malam aku kelaparan."


Ujarnya dengan suara yang sedikit meninggi.


"Kamu sedang bersamaku, kenapa harus takut kelaparan.?" Tanya Vano gemas. Dia sampai mencubit pelan pipi Celina.


Jangankan makanan, Vano bisa membeli apapun yang Celina mau.


"Kemari, ikut aku." Vano mengajak Celina keluar dari kamar. Celina terlihat bingung namun menurut saja dan mengikuti langkah Vano menuju dapur.


"Ada banyak makanan disini." Tuturnya memberi tau. Celina juga bisa melihat isi dapurnya di penuhi dengan bahan makanan.


"Lebih dari cukup kalau hanya 1 minggu disini."


Tiba-tiba Vano memeluk Celina dari belakang. Pelukan yang terasa manja, seakan sedang bergelayut pada Celina.


"Aku senang karna kamu sudah bisa memaafkan ku."


"Meskipun begitu, penyesalan ini tidak bisa hilang."


"Aku benar-benar minta maaf atas luka yang sudah aku goreskan di hatimu."


Vano semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu."


"Aku beruntung memilikimu,," Tuturnya bangga.


Tidak pernah terlintas akan memiliki pendamping seperti Celina.


Dibalik sisi kelam masa lalunya, ada banyak kesempurnaan dan kelebihan yang jarang di miliki orang lain.


Vano bisa merasakan jika Celina berbeda dengan kebanyakan wanita diluar sana.


"Beruntung kenapa.?" Tanya Celina. Dia melirik datar.


"Karna aku bisa membuatmu gila di atas ranjang.?" Katanya dengan nada mengejek dengan ekspresi menahan tawa.


Celina tidak berniat untuk menanggapi serius karna pengakuan Vano membuat jantungnya berdegup kencang. Setiap kata yang keluar dari mulut Vano, terdengar begitu indah di telinganya.


Tutur katanya sangat lembut dan terdengar hati - hati.


Celina hampir saja terbawa suasana, seakan di ajak terbang oleh Vano.


"Kau ini.!" Vano mencubit gemas pipi Celina.


"Bisa - bisanya kamu bercanda saat aku sedang serius."


Vano membenamkan wajah di ceruk leher Celina. Membalas kejahilan Celina dengan mendaratkan kecupan berkali - kali.


Tubuh Celina seketika menggeliat geli dalam dekapan Vano.


"Ya ampun,, geli,,,"


"Sana menyingkir,," Celina mendorong kepala Vano agar menjauh dari ceruk lehernya.


"Tidak akan.!" Jawab Vano cepat. Dia semakin berulah dengan memberikan his*pan kecil hingga membuat tubuh Celina meremang.


"Kau, El Vano..!! Hentikan,,," Teriak Celina. Dia masih berusaha melepaskan diri dari dekapan Vano yang memeluknya erat.


"Kenapa.? Bukannya kamu paling suka saat bibirku bekerja.?" Tanya Vano dengan menaikan sebelah alisnya. Ekspresi seperti itu membuat wajahnya terlihat berkali - kali lipat lebih tampan.


Pesonanya tak luntur sedikitpun sejak pertama kali bertemu.


Wajah tampannya selalu membuat wanita tergila-gila.


"Aku tidak pernah bilang begitu." Elak Celina tegas.


"Kamu memang tidak pernah bilang, tapi reaksi tubuh dan ******* kamu yang mengatakan kalau kamu menyukainya." Sahut Vano cepat.


Celina langsung terdiam. Kali ini dia tidak bisa mengelak.


"Lepas, aku mau minum." Celina melepaskan paksa kedua tangan Vano dari perutnya.


Dia berjalan cepat menuju lemari es dengan wajah yang menahan malu.


Vano tersenyum geli melihat istrinya yang salah tingkah.


"Ayo ke pantai, sebelum matahari semakin terik."


Ajak Vano. Dia menghampiri Celina yang baru selesai meneguk ari mineral.


Botol di tangan Celina di ambil paksa oleh Vano, kemudian ikut meneguknya sampai tak tersisa.


"Kaya ada manis - manisnya." Ucap Vano kemudian.


Celina terkekeh geli.


Suaminya seperti sedang mengiklankan air mineral.


"Salah brand.!" Kata Celina ketus.


Dia langsung beranjak dari hadapan Vano.


"Mungkin karna bekas bibirmu yang manis."


"Astaga,, berhenti membual.! Wajahmu tidak cocok untuk bicara omong kosong." Protes Celina tanpa berani menatap wajah Vano. .


Vano kembali membuat Celina malu dan salah tingkah.


Vano hanya terkekeh mendengarnya. Dia terlihat bahagia karna sudah membuat wajah Celina merona dengan gombalannya.


...****...


"Ramai sekali,,,"


Ucap Celina setelah melihat hamparan pasir di tepi pantai yang di penuhi pengunjung.


Kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda.


"Ini weekend, wajar kalau ramai."


Vano menarik Celina untuk duduk di tepi pantai dengan beralaskan pasir.


"Duduk disini, aku akan membeli topi untuk mu."


"Tetap disini, jangan kemana-mana." Pintanya.


Celina menurut, dia segara duduk di sana dan membiarkan Vano pergi.


Celina menarik nafas dalam. Menatap hamparan laut biru sepanjang mata memandang.


Sekalipun banyak orang disana, tapi Celina tidak menghiraukan hal itu. Pikirannya sudah melayang jauh.


Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, telah banyak hal yang dia lewati.


Perjalanan hidup telah membuatnya banyak belajar.


Hidupnya yang dulu hanya dia gunakan untuk mencari kesenangan semata, kini telah berubah 180 derajat.


Kehadiran janin dalam perutnya, juga kehadiran Vano dan Naura di hidupnya, mengharuskan Celina untuk tidak lagi memikirkan diri sendiri.


Karna hidupnya bukan lagi untuk dirinya sendiri.


"Lama tidak bertemu,," Suara yang begitu dia benci, membuyarkan lamunan.


Celina mendongak dengan sorot mata sinis.


Kebencian yang terpancar dari sorot mata Celina, masih sama seperti 3 tahun lalu saat laki - laki itu membuangnya seperti sampah.


Setelah merenggut kesuciannya dan menidurnya sesuka hati, dia mencampakkannya begitu saja dengan alasan tak lagi mencintainya.


"Kamu semakin cantik." Pujinya.


Celina tersenyum kecut mendengar pujian dari cinta pertamanya itu.


"Omong kosongmu membuatku merinding." Cibir Celina acuh.


"Jangan harap aku akan balik memujimu." Ketusnya.


Celina tentu saja masih ingat kalau Adrian sangat suka di puji. Laki - laki itu akan bangga setiap kali mendapatkan pujian.


Celina merutuki dirinya sendiri yang dulu selalu memuji ketampanan Adrian.


Adrian terkekeh. Dengan santainya dia duduk di sebelah Celina.


"Bagaimana kabarmu.?" Adrian menatap lekat wajah Celina.


Celina telah mengalami banyak perubahan. Wanita itu terlihat semakin dewasa dan semakin mempesona. Tidak lagi seperti abg yang dulu bisa dia kelabuhi.


"Sangat baik sejak kamu hilang di telan bumi." Sahut Celina.


"Kamu bisa pergi sekarang, jangan merusak pemandangan."


Celina terang - terangan mengusir Adrian.


Kehadiran laki - laki itu membuat pemandangan pantai yang indah jadi tercemar. Suasana hatinya juga seketika memburuk.


Kebenciannya terhadap Adrian tak berkurang sedikitpun, tapi bukan berarti masih memiliki perasaan.


Celina menyesali hubungannya dengan Adrian yang sudah di luar batas di saat usianya baru 16 tahun.


Di kencani oleh senior di sekolahnya seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi Celina saat itu.


Apa lagi Adrian termasuk salah satu senior tertampan di sekolah itu.


"Rupanya kamu masih membenciku." Ujar Adrian dengan seulas senyum.


"Apa ada alasan untuk tidak membenci laki - laki menjijikkan sepertimu." Celina menatap sinis.


Cibiran Celina membuat Adrian terdiam. Wanita di sampingnya tidak lagi lemah seperti dulu. Dia jadi berani untuk membalas perkataannya dengan ucapan sinis dan menohok.


"Siapa dia.?" Vano berdiri di depan Celina dan Adrian. Sorot matanya begitu tajam menatap laki - laki yang sejak tadi memandang wajah istrinya.


"Bukan siapa - siapa,," Celina mengulurkan tangan pada Vano. Meminta Vano untuk membantunya berdiri.


"Kita cari tempat lain saja,," Pinta Celina setelah beranjak dari duduknya.


Topi pantai yang di bawa oleh Vano, menarik perhatian Celina hingga langsung di ambil dari tangan Vano.


"Bagus sekali." Kata Celina. Dia langsung memakainya.


"Cantik." Pujian Adrian membuat bola mata Vano melotot tajam.


"Terimakasih, istri orang lain memang selalu terlihat cantik." Balas Celina dengan senyum lebar.


"Ayo pergi,," Celina menggandeng tangan Vano dan mengajaknya pergi dari sana.