
Vano baru sampai di rumah pukul 11 malam.
Dia baru saja melakukan perjalanan ke luar kota untuk meninjau proyek barunya.
Seharusnya masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di sana sampai besok.
Tapi karna tidak mau meninggalkan Celina walaupun hanya 2 hari, Vano memutuskan untuk pulang dan besok baru akan kembali ke sana lagi.
Kalau saja Celina tidak sedang di hadapkan dengan sakit yang di derita Papa Adiguna, mungkin Vano bisa tenang untuk pergi beberapa hari diluar dengan menitipkan Celine pada mertuanya.
Sayangnya, kondisi Celina saat ini masih sangat membutuhkan dirinya untuk selalu berada disampingnya.
Setidaknya bisa di jadikan tempat sandaran ketika Celina teringat hal itu lagi.
Vano berjalan cepat menuju kamarnya. Baru 16 jam tidak melihat istrinya secara langsung, sudah membuat rasa rindunya bertumpuk di dada.
Mungkin saat ini Celina sudah damai dengan tidurnya.
Karna Vano tidak memberi tau Celina kalau dirinya akan pulang hari ini juga.
Vano membuka pintu dengan hati - hati agar tidak menimbulkan suara yang mungkin akan menggangu tidur Celina.
Dahi Vano mengkerut saat melihat kondisi kamar yang masih terang. Itu artinya, Celina belum memejamkan mata.
Dan benar saja, begitu Vano masuk dan menutup pintu, Celina yang awalnya sedang berbaring di ranjang, kini bergegas turun dan menghampiri Vano.
"Kamu sudah pulang.?" Tanya Celina lirih
Dia meraih tangan Vano untuk mencium punggung tangannya. Kegiatan yang baru dilakukan oleh Celina sejak 3 hari yang lalu karna nasehat dari sang Mama.
"Aku pikir akan pulang besok,," Katanya dengan suara yang lebih pelan.
Vano tau kenapa Celina berbicara pelan. Celina tidak mau menimbulkan kebisingan yang bisa saja membangunkan Naura yang terlelap pulas di atas ranjang mereka.
Vano balik mencium punggung tangan Celina dan mendaratkan kecupan di keningnya dengan penuh cinta.
"Aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu, makanya aku pulang sekarang." Jawab Vano sambil mengulum senyum.
"Naura sudah pulas, kenapa kamu tidak ikut tidur.?"
Vano menatap cemas.
Selama ini Vano selalu menekankan pada Celina untuk tidur di bawah jam 10 malam dengan alasan kesehatan kandungannya.
"Lihat sudah jam berapa ini.?" Tanya Vano dengan nada mengingatkan sembari menyodorkan arloji di tangannya ke depan wajah Celina agar melihatnya.
"Aku tau,," Celina menurunkan pelan tangan Vano.
Dia mengerti kalau Vano tidak suka jika dirinya masih terjaga lewat dari jam 10 malam.
Namun, sesuatu hal sudah mengganjal pikirannya sampai membuatnya tidak bisa tertidur.
"Sebaiknya ganti bajumu dulu dan bersih - bersih." Celina mendorong pelan lengan
Vano agar bergegas ke kamar mandi.
"aku ingin bicara denganmu setelah ini."
Vano diam sesaat dengan raut wajah sendu. Celina tidak bisa tidur pasti karna memikirkan Papa Adiguna.
Kalau saja dia tidak pulang malam ini, mungkin Celina akan semakin kesulitan untuk tidur karna tidak bisa menceritakan apa yang sedang mengganjal pikirannya.
"Baiklah, tunggu aku di sofa." Pinta Vano sebelum dia beranjak ke kamar mandi.
Celina mengulas senyum tipis, menatap punggung Vano yang semakin menjauh.
Sejauh ini, telah banyak perubahan yang terjadi dalam diri Vano.
Vano yang Celina temui dulu dan Vano yang sekarang, bagaikan bumi dan langit.
Sikapnya berubah 180 derajat hingga membuat Celina kembali jatuh cinta padanya, setelah luka yang pernah dia torehkan.
"Kamu melamun lagi.?" Tegur Vano.
Celina tersentak, dia menoleh dan mendapati Vano sudah duduk disampingnya.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu tidak bisa tidur.?'
Vano mengangkat kedua bahu Celina, kemudian mengarahkan agar duduk di pangkuannya.
Celina menolak dengan gelengan kepala.
"Aku ingin mengecek berat badanmu bertambah atau tidak." Kata Vano.
"Terakhir 1 minggu yang lalu kamu duduk di pangkuanku. Kamu ingat malam itu kan.?" Vano mengedipkan sebelah matanya. Menggoda Celina untuk mengingatkan malam panas yang mereka lalui dimana mereka membuat posisi seperti itu.
"Kau ini.!" Ketus Celina kesal sembari mencubit dada Vano.
Disaat ingin bicara serius, Vano malah mengajaknya bercanda.
"Aww,,, kamu membuatnya mengeras." Vano terkekeh kecil.
Dia sengaja meledek Celina, berharap kekhawatiran di wajah Celina sedikit berkurang dengan candaannya.
Vano ingin membuat Celina rileks, tidak terlalu stres memikirkan Papa Adiguna.
"Ya ampun El Vano.!" Tegur Celina lirih.
"Isi otakmu ini hanya tentang hal - hal mesum saja."
Celina mencibir dengan menggelengkan kepalanya. Meski sangat paham kalau suaminya terlalu normal sebagai laki - laki dewasa, tapi terkadang Celina masih dibuat heran dengan kemesuman Vano tingkat dewa.
"Ada wanita cantik di sampingku dengan tubuh seksi seperti ini,," Vano menggerakkan bola matanya, menatap tubuh Celina dengan tatapan mesum dan berhenti tepat di dadanya yang terlihat semakin menonjol karna hormon kehamilan.
"Hanya laki - laki tidak normal yang tidak akan berfikir mesum."
Tanpa aba - aba, Vano langsung meraih bibir Celina dan melu matnya dengan gerakan lembut. Lalu segera melepaskannya setelah menciumnya dalam hitungan detik karna hanya ingin menggoda Celina.
"Kau,,,!" Celina kehabisan kata - kata untuk menegur tingkah mesum suaminya.
"Sudah, sini duduk." Vano kembali menarik Celina untuk duduk di pangkuannya. Kali ini Celina menurut dan langsung duduk di pangkuan Vano.
"Mau bicara apa.?" Tanya Vano lembut. Kali ini raut wajahnya berubah serius namun meneduhkan. Dia sudah siap mendengarkan keluh kesah istrinya.
Sikap yang ditunjukkan Vano saat ini, mampu mengurangi sedikit beban yang dia pikirkan meski belum menceritakannya pada Vano.
"Kondisi Papa sudah baik, tadinya aku ingin membujuk Papa untuk operasi tapi Papa malah mengajak kita liburan di Bali,,"
"Liburan.?" Tanya Vano.
"Tapi Papa tidak bilang apapun padaku."
"Papa baru bilang saat makan malam tadi."
"Tapi Papa sudah merencanakan liburan sejak jauh - jauh hari. Bahkan sudah menyiapkan tiket dan mengosongkan villa milik Papa."
Tutur Celina.
Awalnya dia ingin membujuk Papa Adiguna agar mau di operasi. Tapi belum sempat mengatakan hal itu, Papa Adiguna lebih dulu mengutarakan keinginannya utuk berlibur dengan keluarganya termasuk mengajak Dion.
"Bagaimana menurutmu.?" Celina meminta pendapat Vano.
Vano terlihat berfikir. Cukup lama suasana hening.
"Sebaiknya kita turuti saja keinginan Papa untuk berlibur."
"Mungkin Papa ingin menghabiskan waktu bersama kita. Setidaknya dengan berlibur bisa membuat Papa bahagia."
"Kita bisa membujuk Papa untuk operasi setelah liburan."
Vano memberikan pendapatnya dengan mempertimbangkan keadaan Papa Adiguna yang sudah di vonis akan menutup usia dalam waktu dekat.
Jika memang menjadi kenyataan, setidaknya Papa Adiguna sudah merasakan bahagia dengan berkumpul bersama keluarga.
Meski Vano juga meyakini jika operasi akan membuat Papa Adiguna bisa hidup lebih lama.
"Tapi bagaimana kalau kondisi Papa menurun setelah berlibur.?"
"Aku takut tidak ada kesempatan untuk melakukan operasi itu,," Celina menunduk sedih.
Dia dalam keadaan dilema. Bingung harus menentukan pilihan.
Meski kedua pilihan itu sama - sama beresiko.
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus yakin kalau Papa akan baik - baik saja."
"Jika dengan berlibur bisa membuat Papa bahagia, bukankah itu akan menaikan imunnya.?"
"Jadi kamu tidak perlu terlalu stres memikirkannya. Pikirkan saja hal - hal yang positif agar menjadi kenyataan."
Vano mengusap lembut pucuk kepala Celina. Membelai lembut rambut panjangnya yang terurai.
"Aku sudah berpikir positif, tapi selalu merasa cemas dan khawatir." Celina menunduk sedih.
Meski sudah berpikir positif, tapi tetap saja tidak bisa membuatnya tenang.
Selalu ada rasa takut yang menghantui. Takut tiba - tiba di tinggal pergi oleh Papa Adiguna dan dia belum siap untuk menerima semua itu.
"Aku tau, tentu saja kamu cemas karna dia orang tuamu."
"Tapi kamu juga harus memikirkan kesehatan Baby Boy,," Vano mengusap perut Celina.
Memberikan sentuhan lembut yang terasa hangat.
"Jangan terlalu stres, kasian dia."
Vano menunduk, dia mendaratkan kecupan di perut Celina.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur."
"Besok aku harus berangkat ke luar kota lagi."
Vano mengangkat tubuh Celina yang sejak tadi duduk di pangkuannya.
"Aku mau tidur sambil di peluk,," Pinta Celina setelah Vano membaringkannya di ranjang.
Vano langsung menoleh kesamping, menatap ranjang yang sudah di tempati oleh Naura.
"Sebentar, aku geser Naura dulu."
Vano naik ke atas ranjang, mengangkat pelan tubuh Naura dan di pindahkan ke sisi yang kosong.
"Apa tidak akan jatuh.?" Tanya Celina khawatir.
Posisi Naura berada di tepi ranjang.
"Tidak. Bukankah Naura jarang berubah posisi kalau tidur." Jawab Vano. Tapi dia tetap memberikan pengaman dengan meletakkan bantal di sisi ranjang untuk menahan tubuh Naura.
Vano mengusap kepala Naura, lalu mencium keningnya dengan penuh cinta.
Celina mengulas senyum melihat pemandangan manis itu.
"Ayo tidur." Kata Vano.
Dia berbaring di belakang Celina, lalu memeluknya dari belakang. Sedangkan tangan Celina memeluk tubuh mungil Naura.
...****...
"Eumm,,," Celina menggeliat pelan dengan mengeluarkan ******* tertahan.
Dia merasakan aset kembarnya di mainkan.
"Bangun sayang,,," Suara bisikan yang serak, terdengar jelas di telinganya.
Perlahan Celina membuka mata, dia terkejut mendapati kancing piyamanya sudah terbuka hingga memperlihatkan kedua asetnya yang memang tidak lagi di balut oleh B ra saat akan tidur.
"Ya ampun.!" Pekik Celina sembari menyingkirkan tangan Vano yang sedang asik mere mas salah satunya.
Celina langsung menarik piyamanya untuk menutupi dadanya. Dia takut di lihat oleh Naura yang saat ini masih terlelap.
"El Vano, kau benar-benar.!"
"Ada Naura disini,," Ucapnya lirih sembari berbalik badan.
Vano hanya terkekeh kecil.