
"Kenapa malah berdiri disini.? Cepat turun, Papa sudah menunggu." Celina menatap Vano dengan kesal. Bukannya langsung menemui Papa Adiguna setelah mandi, Vano justru berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Aku akan tunggu disini sampai kamu selesai mandi."
"Takut terjadi sesuatu padamu,," Ujar Vano. Celina dibuat melongo dengan reaksi Vano yang sangat berlebihan sampai mau menunggunya di luar kamar mandi.
"Ya ampun, jangan berlebih. Aku akan hati - hati." Celina mendorong Vano agar segera keluar kamar dan menemui orang tuanya.
"Cepat temui Papa, dia tidak suka dibiarkan menunggu lama." Katanya sedikit kesal.
"Iya,, iya,,!" Vano bergegas pergi dengan wajah masam. Sikap ketus Celina masih awet sampai sekarang sekalipun sudah sah menjadi istrinya.
Belum ada tanda - tanda kalau Celina akan luluh.
Apa lagi kondisi kehamilan Celina juga terlihat mempengaruhi moodnya. Sudah pasti Vano akan dibuat kewalahan untuk menaklukkan hati Celina.
...****...
"Maaf Pah, saya baru selesai mandi." Vano membungkuk sopan pada Papa Adiguna.
"Tidak apa. Duduklah,,," Perintahnya dengan tatapan datar.
Vano bisa melihat kemiripan Papa mertuanya dengan sang Istri. Sepertinya sifat Celina lebih dominan ke Papanya.
"Aku membiarkan kamu menikahi Celina bukan untuk menuntut pertanggungjawaban atas perbuatanmu." Suara datar itu terdengar dingin hingga membuat Vano diam memaku dan menatapnya serius.
"Aku masih sanggup untuk merawat dan menghidupi anak beserta cucu ku."
"Sebenarnya, ada tanggungjawab yang lebih besar dari itu."
"Aku menikahkan Celina agar ada yang menjaga dan melindunginya jika suatu saat aku tidak bisa lagi melakukannya."
Vano sedikit terkejut mendengarnya. Dia bisa menangkap gelagat yang tidak beres disini.
Ucapan dan ekspresi Papa Adiguna seolah mengisyaratkan jika dia tidak akan ada lagi di sisi putrinya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi.?" Tanya Vano hati - hati.
Papa Adiguna mengulas senyum tipis. Dia membuka laci dan mengeluarkan map dari dalam sana.
"Jawabannya ada di sini." Katanya sambil mendorong map itu ke depan Vano.
Vano sempat menelan ludah. Perasaannya tiba - tiba tidak tentang terlebih saat membaca tulisan yang tertera di depan map itu.
Vano sudah menebak kalau keadaannya sudah separah itu setelah mengaitkan ucapan Papa mertuanya dan map yang berasal dari salah satu rumah sakit besar di luar negeri.
Setelah membaca isi map itu, Vano langsung menatap Papa mertuanya dengan perasaan iba dan cemas. Dia tidak sanggup untuk berkata - kata setelah tau kondisi Papa mertuanya sangat buruk.
"Tidak perlu mencemaskanku." Papa Adiguna masih bisa mengukir senyum disaat dia tau jika usianya tidak akan lama lagi.
"Kita bisa pindah ke rumah sakit yang lebih besar. Mungkin saja diagnosa nya keliru." Kata Vano dengan perasaan yang kalut. Dia tidak bisa membayangkan sehancur apa perasaan Celina jika tau penyakit yang diderita oleh orang tuanya.
Lagi - lagi Papa Adiguna tersenyum. Dia terlihat sangat tenang sekalipun sorot matanya diselimuti kesedihan. Vano mengerti, Papa mertuanya pasti sangat sedih jika harus meninggalkan keluarganya untuk selama - lamanya.
"Sudah 2 tahun yang lalu, mereka sudah mengupayakan yang terbaik." Tuturnya menjelaskan.
"Mungkin memang sudah waktunya."
"Setidaknya dengan menikahkan putriku, aku bisa pergi dengan tenang."
Papa Adiguna beranjak dari duduknya. Dia berjalan menghampiri rak buku yang ada di sudut ruangan. Dia mengambil dokumen tebal dari sana dan kembali duduk di kursinya.
"Sebagian aset yang saya miliki, sudah di alihkan atas nama Celina."
"Dulu saya menyerahkan pada Dion untuk mengambil alih semua aset itu karna saya ingin menikahkannya dengan Celina."
"Rupanya takdir berkata lain. Putriku justru memilih mu."
"Sekarang aku menyerahkan seluruh tanggung jawabku padamu. Jaga apa yang aku berikan padamu demi Celina." Papa Adiguna menyerahkan dokumen penting itu pada Vano.
"Untuk Dion, biarkan dia tetap bekerja di perusahaan ku. Aku akan memberikan sebagian saham ku padanya karna selama ini Dion ikut andil dalam kesuksesan perusahaan."
Vano semakin kesulitan untuk berkata - kata. Papa mertuanya sudah terlihat pasrah sampai membicarakan hal sepenting ini padanya, padahal dia baru saja menjadi menantunya beberapa jam yang lalu.
"Bagaimana dengan Celina.?" Tanya Vano cemas. Dia tidak akan sanggup jika harus memberitahukan hal itu pada Celina.
"Rahasiakan ini darinya." Sahutnya cepat.
...****...
Vano keluar dari ruang kerja itu dengan langkah gontai. Pandangan matanya menerawang jauh. Tidak sanggup untuk melihat kesedihan Celina jika waktu itu tiba.
Terlebih kondisi Celina tengah mengandung.
Mungkin merahasiakan semua itu memang cara yang tepat agar tidak mempengaruhi kehamilan Celina yang masih rawan keguguran.
Suara bising dari taman belakang, menarik perhatian Vano hingga membuatnya berjalan ke sana.
Naura tampak bahagia bermain dengan Oma dan Mommynya.
Vano menghentikan langkah, memilih memandang mereka dari kejauhan.
Setidaknya, Celina akan merasa memiliki sandaran dan pengganti sang Papa di saat Papanya pergi.
"Ada suamimu. Cepat datang padanya, mungkin dia butuh sesuatu." Ujar Mama pada Celina. Rupanya dia melihat keberadaan Vano yang hanya menatap dari kejauhan.
"Dia akan datang kesini kalau butuh sesuatu." Sahut Celina acuh.
"Jangan sepeti itu sayang, kamu sudah setuju untuk menikah dengannya. Apapun masalah kalian, harus segera di selesaikan karna pernikahan itu bukan untuk sehari dua hari."
Tuturnya menasehati.
Dari kejauhan, Vano bisa melihat keduanya yang tampak berbicara sambil menatap ke arahnya.
Merasa tidak enak karna takut mengganggu, Vano segera beranjak pergi dan kembali ke kamar Celina.
Dia harus memikirkan banyak hal untuk kedepan.
Ucapan Papa mertuanya memang benar. Ada tanggungjawab yang jauh lebih besar dibanding menikahi Celina karna kehamilannya.
Tanggungjawab itu yang kini diserahkan oleh Papa Adiguna padanya.
Tak hanya menjaga dan melindungi Celina serta anaknya, Vano juga harus mengurus perusahaan dan memikirkan Mama mertuanya.
Vano menolah saat pintu kamar terbuka. Dia melihat Celina masuk dan berjalan ke arahnya.
Raut wajahnya masih tetap datar dan acuh seperti biasa.
"Kamu butuh sesuatu.?" Tanya Celina acuh. Wajahnya cemberut. Dia ikut duduk di hadapan Vano.
"Pertanyaan macam apa itu.?" Ujar Vano.
"Kemari.! Bicara yang baik dan benar pada suamimu." Vano menepuk sisi kosong di sebelah nya. Meminta Celina untuk duduk di sana.
Celina menghela nafas kesal, tapi dia beranjak dan pindah ke samping Vano dengan membuat jarak.
Vano mengulum senyum melihat jarak yang lumayan jauh.
"Disini, bukan disitu." Kata Vano sambil menarik tangan dan merangkul bahu Celina hingga membuat Celina menempel padanya.
"Iiisshh,,,! Jangan memanfaatkan situasi." Protes Celina. Dia mendorong dada Vano tapi tak kunjung menjauh, justru semakin mendekapnya.
"Ya ampun, aku justru tidak berfikir sejauh itu." Ujar Vano dengan tatapan mesum.
"Apa mereka masih lama bermain taman.?" Tanya Vano menghoda.
Celina langsung mendelik tajam.
"Dasar mesum.! Lepasin.!" Celina terlihat kesal dengan ulah Vano.
"Kamu yang membuatku mesum. Lagipula awalnya aku hanya memintamu untuk duduk di sebelahku, tapi kamu menuduhku memanfaatkan situasi."
"Bagaimana otakku tidak mesum mendengarnya." Ucap Vano beralasan. Dia tertawa dalam hati karna berhasil membuat Celina geram padanya.
"Rata - rata pasangan pengantin akan langsung melakukan ritual di kamar setelah acara selesai."
"Tapi lihat apa yang kita lakukan.? Sampai sekarang hanya adu mulut, kamu lebih memilih tidur sambil memeluk Naura dibanding tidur denganku."
Vano pura - pura cemberut.
"Apa kamu tidak rindu padaku.?"
"Maksudku, padanya,," Vano langsung menunduk untuk menatap benda saktinya yang dulu mampu membuat Celina melenguh panjang.
"Mesum.!" Pekik Celina sambil memukul dada Vano.
"Awww,,, sakit sayang." Rengeknya pura - pura.
"Dari pada memukulku, hanya membuang tenaga, lebih baik memijatnya." Vano menarik paksa tangan Celina dan meletakkannya di atas benda saktinya.
"Ya ampun El Vano.!!" Geram Celina sambil menarik tangannya. Wajahnya semakin cemberut saja karna kejahilan Vano.
Vano hanya tertawa geli. Dia melepaskan Celina dari dekapannya. Tangannya langsung mengusap lembut pucuk kepala Celina dan menatapnya dalam.
"Sebaiknya kita tinggal disini saja." Kata Vano. Ucapannya membuat dahi Celina berkerut. Dia tidak pernah berfikir kalau Vano akan meminta untuk tinggal di rumahnya.
"Disini ada orang tuamu, aku akan tenang jika meninggalkanmu ke kantor."
"Setidaknya Mamamu akan menjaga kalian."
"Lagipula, Naura juga terlihat nyaman dan senang berada disini. Dia akan bahagia kalau bisa tinggal bersama Oma dan Opanya."
Celina nampak setuju setelah mendengar alasan Vano. Dia juga merasa bahwa kehadiran Naura bisa membuat sang Mama merasa senang karna menjadi hiburan tersendiri.
"Terserah kamu saja." Ucap Celina kemudian.
Vano tersenyum lega. Setidaknya dengan membuat Celina tetap berada dirumah, Papa mertuanya bisa menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya sebelum menutup usia.
...****...
Jangan lupa vote😊