
"Van,,, Naura dimana.?" Celina terkejut begitu keluar dari kamar mandi karna tidak mendapati Naura di tempat tidur.
Dia sampai masuk kembali ke kamar mandi untuk menanyakan pada Vano yang masih membersihkan diri.
"Bukannya tadi masih tidur.?" Vano terlihat santai sembari menggosok tubuhnya dibawah guyuran shower.
"Iya tapi sekarang tidak ada di ranjang. Bagaimana ini.? Apa Naura mendengar kita di kamar mandi.? Ta,,tapi kenapa tidak memanggil kita.?"
Celina dibuat panik, pasalnya dia sadar baru saja mengeluarkan suara mautnya akibat ulah Vano. Tidak bisa menahan diri untuk berteriak, di tambah lagi Vano juga melakukan hal yang sama.
Hal itu membuat gairahnya ikut menggebu sampai tidak bisa menahan suara.
"Kalau Naura dengar, pasti dia sudah memanggil kita."
"Sudah pakai baju dulu, setelah itu cari Naura." Vano masih saja santai. Dia sangat yakin kalau Naura tidak mendengar erangan kenik - matan itu.
Celina menurut, setelah memakai baju dan mengambilkan baju untuk Vano, dia bergegas keluar kamar untuk mencari Naura.
Tentu saja dia tidak bisa bersikap tenang seperti Vano. Pikiran tidak karuan, takut suaranya di dengar oleh Naura dan akan membuat Naura bertanya-tanya.
Suara bising di ruang keluarga langsung membuat Celina yakin kalau Naura ada di sana. Benar saja, begitu sampai di sana, dia langsung di sambut oleh Naura yang berlari ke arahnya sembari berteriak.
"Mommy,, Mommy tidak jadi di makan hantu.?!!" Seru Naura. Dia memeluk Celina yang seketika bingung mencerna ucapan Celina.
Dan semakin bingung lagi saat melihat Dion dan Keyla yang menundukkan pandangan. Seolah tidak berani untuk menatapnya.
"Ha,,hantu.? Ada apa ini.?" Tanya Celina bingung. Dia mengajukan pertanyaan yang entah untuk siapa. Dia menatap mereka bergantian.
"Mommy, tadi Naura dengar di kamar mandi ada suara hantu. Naura takut Daddy sama Mommy di makan hantu, soalnya Daddy sama Mommy tidak ada." Naura mendongakkan wajahnya. Ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.
"A,,,apa.?" Celina terbata. Dia syok mendengar pengakuan Naura. Dia sudah menduga Naura memang mendengar suaranya.
"Iya Mommy, ada hantu. Jadi Naura panggil Aunty Keyla dan Uncle Dion untuk tolongin Mommy, tapi kata Aunty itu bukan suara hantu."
Celina semakin tercengang. Kedua matanya membulat sempurna seolah akan keluar dari tempatnya. Kali ini pengakuan Naura membuatnya malu setengah mati, bahkan berharap bisa menghilang saat itu juga dari hadapan Dion dan Keyla.
Pantas saja Dion dan Keyla tidak berani menatap ke arahnya, sejak tadi menundukkan pandangan.
Ternyata bukan hanya Naura saja yang mendengar suara live mereka.
"A,,aku,,," Celina tersenyum kaku. Dia tidak tau harus bicara apa. Rasa malunya sudah sampai di ubun-ubun. Sudah pasti Dion dan Keyla membayangkan hal panas itu.
"Maaf kak,," Ucapnya kemudian.
Kini Dion mulai menatap ke arahnya, menatap dengan sorot mata datar.
"Lain kali harus tau waktu dan tempat. Kamu membuat Naura mendengar suara yang seharusnya tidak dia dengar." Tegur Dion.
Suana di ruang keluarga itu jadi canggu, hanya Naura dan Leo yang masih bersikap santai. Meski Naura mendengar suara itu, tapi dia belum mengerti.
"Ada apa.?" Vano datang dengan wajah santainya.
Dia melihat keanehan dari raut wajah mereka bertiga tapi tidak berfikir kalau mereka baru saja membahas hantu di kamar mandi.
"Ayo sarapan." Ajaknya kemudian.
"Aku sudah lapar." Vano merangkul Celina dan menggandeng Naura. Mengajak anak dan istrinya untuk pergi ke ruang makan.
"Bagaimana tidak lapar kalau pagi-pagi sudah olahraga berat." Sindir Dion, dia menatap sinis dan jengkel ke arah Vano.
Akibat ulah Vano, sampai sekarang terus terbayang suara itu hingga membuat kepalanya terasa berdenyut.
Vano diam sesaat, mencerna ucapan Dion yang seketika membuatnya sadar kalau Dion menyindir kegiatan panasnya.
"Dia tau.?" Bisik Vano pada Celina.
"Naura mendengar kita, dia memanggil mereka untuk minta tolong karna Naura pikir ada hantu di kamar mandi yang sedang memakan kita." Jawab Celina cepat. Ada nada kesal, tapi dia juga sadar dengan kesalahannya.
"Jadi kamu mendengarnya.?" Tanya Vano. Senyum mengejek mengembang di bibirnya.
"Lebih bagus lagi kalau kamu mendengar sampai selesai." Vano menahan tawa.
"Bagaimana suara konser kami.?" Vano mengangkat sebelah alisnya. Wajah tengilnya membuat Dion melotot tajam.
"Dasar sialan." Umpat Dion kesal.
Dia langsung beranjak dari duduknya, pamit pada Leo untuk pulang.
Seketika Vano tertawa renyah, dia bahagia membuat Dion kalang kabut. Sudah dipastikan Dion semakin tidak karuan saat ini, terlihat jelas dari raut wajahnya yang menahan sesuatu.
"Sayang.!" Celina mencubit pinggang Vano. Melotot tajam pada suaminya yang justru membeberkan terang - terangan.
"Biarkan saja dia pusing." Jawab Vano santai.
Dia membawa Celina dan Naura ke ruang makan. Keyla dan Leo menyusul setelah mengantarkan Dion sampai di halaman rumah.
...****...
1 bulan berlalu. Papa Adiguna dan Mama Alisha sudah pulang sejak 2 minggu yang lalu setelah kondisi Papa Adiguna benar-benar pulih.
Sejak 2 minggu lalu, suasana di rumah besar itu semakin ramai dan hangat. Kedekatan keluarga besar itu semakin intim. Begitu juga dengan Keyla dan Leo yang tidak lagi terlihat canggung. Mereka menyatu, layaknya saudara sedarah dengan keluarga Celina.
Mungkin karna Papa Adiguna dan Mama Alisha tidak pernah membedakan mereka dengan Celina. Memperlakukan mereka dengan adil dan penuh kasih sayang.
Setiap sabtu dan minggu, rumah akan penuh canda tawa seperti saat ini. Semuanya berkumpul di ruang keluarga tak terkecuali Dion yang sejak pagi sudah datang.
Hubungan dia dan Keyla juga terlihat semakin membaik meski terlihat masih menjaga jarak di depan semua orang. Tapi Celina selalu berfikir jika keduanya mulai mencoba untuk memulai hubungan baru. Karna benih-benih cinta mulai terlihat dari tatapan mata mereka.
"Mommy, kapan dede bayinya keluar.?" Tanya Naura. Dia yang duduk di samping Celina tiba-tiba mengusap perut Celina. Beberapa minggu lagi dia akan melahirkan, sudah banyak yang dia persiapkan untuk keperluan Baby Boy menjelang kelahirannya.
Yang lebih parah, Vano bahkan sudah membelikan banyak mainan mobil-mobilan dari yang kecil sampai yang paling besar.
"Kenapa.? Naura sudah tidak sabar melihat dede bayi.?" Celina mengusap rambut Naura.
"Iya Mommy, Naura juga mau main sama dede bayi."
Semua orang mengulum senyum melihat antusias Naura menyambut adik laki-lakinya lahir.
"Sebentar lagi Naura akan punya adik, kalian tidak punya niatan membuatkan adik untuk Leo.?" Tanya Vano. Dengan santainya menatap Keyla dan Dion yang duduk sebelahan.
Pertanyaan konyol Vano membuat mereka tersedak. Keduanya kompak mengambil air minum dan meneguknya.
"Sayang.! Kau itu yang benar saja." Tegur Celina. Mulut Vano memang terkadang perlu di ikat.
"Mereka harus menikah dulu sebelum membuatkan adik untuk Leo.!" Serunya lagi.
"Jangan seperti kita." Kali ini Celina berbisik pada Vano.
"Kalian mau menikah.?" Papa Adiguna bersuara. Dia memang sudah menganggap mereka seperti anak kandung sendiri, namun tidak mau mencampuri urusan pribadi mereka, apa lagi dengan latar belakang mereka yang dulu pernah menyandang status suami istri.
"Tidak." Jawab Keyla cepat. Berbeda dengan Dion yang memilih diam.
"Tidak apa kalau memang ada rencana seperti itu, Kami pasti akan mendukung."
"Papa yang akan mengurus keperluan kalian kalau kalian ingin menikah." Terang Papa Adiguna. Dia sangat mendukung kalau Dion dan Keyla kembali bersatu.
"Kami belum memikirkan hal itu Pah." Jawab Dion.
"Jangan terlalu lama berfikir kak, Ada kak Arkan yang siap menikung." Celuk Celina.
"Siapa cepat dia dapat." Sambung Vano dengan senyum mengejek. Dion langsung menatap tajam.