Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 89


Dion baru saja selesai menyuapi Leo.


Tadi sempat keluar rumah sakit untuk membeli makanan sesuai permintaan putranya.


Ketelatenan Dion dalam mengurus Leo, mampu menyayat hati.


Tatapan matanya penuh dengan cinta dan kasih sayang yang tidak pernah diberikan oleh Dion pada siapapun.


Perasaan itu yang mungkin membuat Dion lepas kendali hingga mencibir Keyla. Menyebut mantan istrinya tidak bisa menjaga Leo dengan baik.


Saat ini hanya Leo yang Dion miliki. Satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Disaat semua pergi tanpa sisa, meninggalkan kehancuran dalam hatinya selama bertahun-tahun. Hanya Leo lah yang mampu menyembuhkan kehancuran yang dirasakan oleh Dion.


"Papa harus kerja,," Ucap Dion pada Leo.


Dia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Jarak dari rumah sakit ke kantor lumayan memakan waktu, di tambah jam kerja yang sudah pasti akan macet. Sedangkan pagi ini ia harus mimpin rapat.


"Leo mau pulang, mau ikut Papa." Leo merengek sembari menarik tangan Dion.


Seharian penuh di rumah sakit membuat Leo jadi tidak betah.


"Leo belum boleh pulang."


"Nanti kalau dokter sudah ngijinin Leo pulang, pasti Papa akan ajak Leo pulang."


Dion coba membujuk meski tidak yakin akan berhasil. Karna sejak tadi Leo sudah mengatakan bosan berada di sana.


"Tapi maunya pulang sekarang Papa,," Leo kembali merengek, kali ini terlihat memohon.


Keyla langsung menghampiri mereka untuk turun tangan membujuk Leo.


Jika sudah seperti itu, pasti akan susah membuat Dion berangkat ke kantor.


"Sayang,, tidak boleh seperti itu." Tutur Keyla lembut. Dia melepaskan tangan Dion yang sedang di tahan oleh Leo.


"Papa mau kerja dulu, nanti kesini lagi buat jemput Leo pulang."


Keyla terus membujuk Leo sampai akhirnya Leo mau mengijinkan Dion berangkat ke kantor.


"Hubungi aku kalau Leo sudah di perbolehkan pulang, aku akan membawa Leo menginap di apartemen ku malam ini."


Pinta Dion sebelum keluar dari ruangan Leo. Keyla mengangguk. Dia mengijinkan Dion membawa Leo untuk bermalam bersamanya karna bagaimanapun Dion punya hak atas Leo.


...****...


"Daddy kenapa diam saja.?" Naura menatap Vano dengan dahi berkerut.


Daddynya tidak banyak bicara seperti biasanya.


Tadi hanya menyapa, mengucapkan selamat pagi dan mencium kening serta pipinya. Setelah itu memilih diam seribu bahasa.


Celina juga terus di diamkan sejak meminta Vano untuk menyudahi permainan.


"Sudah biarkan saja. Mungkin Daddy sedang sakit gigi." Sahut Celina dengan nada meledek.


Celina bersikap santai. Sibuk memasukkan potongan buah kedalam mulutnya yang ingin terus di isi.


"No Mommy.!" Naura langsung menolak keras pendapat Celina. Anak sambungannya itu sampai menggerakkan jari telunjuk di depan wajah.


"Daddy tidak sakit gigi, tapi,,,," Ucapan Naura berhenti lantaran Vano langsung bicara.


"Daddy sudah terlambat ke kantor." Vano beranjak dari duduknya begitu sarapannya habis.


Dia mencium pucuk kepala Naura, kemudian beralih pada Celina dan berakhir di perut buncit Celina.


"Are you okay.?" Tanya Celina dengan tatapan khawatir. Memegang lengan Vano dan menatapnya menelisik.


Celina mulai curiga, rasanya terlalu berlebihan jika diamnya Vano akibat permainan panasnya yang tertunda.


Kejadian seperti itu sudah pernah terjadi sebelumnya, tapi sikap Vano tidak sampai seburuk ini. Dia bisa menerima gangguan dari Naura meski awalnya kesal. Tapi tidak dengan saat ini. Vano memilih diam dan bicara seperlunya saja.


"I'm fine,,," Vano mengulas senyum tipis untuk menyakinkan Celina.


"Jangan lupa minum susu dan vitaminnya." Pesannya sebelum beranjak dari ruang makan.


"Daddy berangkat dulu,,"


Vano berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Membiarkan Celina tidak tenang dengan rasa penasaran yang semakin bertambah besar.


"Ada apa.?" Gumam Celina lirih.


Tiba-tiba pikiran buruk terlintas dalam benaknya.


Ingat ketika Vano masih berstatus duda yang setiap malam bisa menarik wanita ke atas ranjangnya.


Celina jadi berfikir jika Vano akan melakukan hal serupa saat ini lantaran hasratnya tidak terpenuhi.


"El Vano.! Awas saja kalau kamu berani tidur dengan wanita lain.!" Geram Celina lirih.


Dia langsung memanggil Ida untuk menemani Naura makan. Setelah itu bergegas pergi untuk mengikuti Vano.


"Cepat buruan Pak.!!" Seru Celina tak sabaran.


Dia meminta supir untuk cepat - cepat mengejar mobil Vano yang sudah lumayan jauh.


Supir pribadi Celina bahkan tidak yakin bisa mengejar mobil Vano.


"I,,iya Nona,,"


Celina membuat sang supir jadi gugup mengendarai mobil.


Tidak peduli dengan kondisi perutnya yang sudah besar. Siapapun yang berani mengambil dekati suaminya, Celina akan memastikan wanita itu tidak akan berani kembali lagi.


Mata Celina membulat sempurna ketika mobil yang dikendarai Vano berbelok ke kawasan perumahan elit.


Pikirannya dibuat kacau. Semua dugaan buruk itu kembali muncul dalam benak Celina. Dia semakin yakin kalau Vano akan menemui wanita untuk melampiaskan has ratnya yang tertunda.


Jika semua itu benar, sudah dipastikan akan terjadi peperangan besar di perumahan elit tersebut.


Vano dan wanita itu pasti akan habis di tangan Celina.


"Stop Pak.!" Seru Celina. Dia buru-buru keluar dan menghampiri mobil Vano yang berhenti di salah satu rumah.


Baru saja sampai di belakang mobil Vano, seorang wanita membuka pagar rumahnya yang menjulang tinggi.


Celina dibuat meradang. Kedua tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah.


"El Vano kau,,,!!!" Teriak Celina penuh amarah. Vano dan wanita itu tersentak kaget. Mereka menoleh bersamaan ke arah Celina yang tidak diketahui kapan datangnya. Tiba-tiba sudah berada di samping mereka dan menatap tajam seolah ingin memangsa mereka hidup-hidup.


"Sayang,, kenapa kamu,,,,


"Apa.?!!!" Potong Celina cepat. Dia menghampiri Vano.


"Berani sekali membohongi ku dan bertemu pela kor ini.!!" Celina menunjuk wanita itu.


"Istrimu sedang hamil besar, bisa - bisanya menemui wanita penggoda.!" Celina memberikan lirikan sinis.


"Sayang kamu salah paham,,,"


Vano berusaha menenangkan Celina dengan merangkul pundaknya. Tapi tangannya langsung di tepis kasar.


"Dasar laki-laki buaya.!!" Cibir Celina. Dia memukul lengan Vano beruang kali untuk melupakan kekesalannya.


"Dan kau.!!" Celina mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah wanita itu.


"Apa tidak ada laki-laki single yang mau denganmu sampai harus menempel dengan suami orang.?!!"


"Kalau saja perutku tidak sebesar ini, aku pasti sudah menghajar kalian berdua.!"


"Setelah aku melahirkan, aku pastikan akan membuat kalian berdua babak belur.!" Ancam nya tanpa rasa takut sedikitpun.


Wanita itu hanya diam saja. Memasang wajah bingung sekaligus kesal.


Begitu juga dengan Vano. Dia kebingungan untuk menghadapi Celina yang terus bicara tanpa henti. Tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan yang sebenarnya.


"Maaf, sepertinya Ibu salah paham. Saya,,,


"Ibu.?!! Kamu pikir aku Ibu mu.?! Wajahmu saja lebih tua dariku." Potong Celina sinis.


Wajah wanita itu berubah kesal. Tidak terima di bilang tua.


"Sudah Celina, kamu itu keterlaluan,," Vano merangkul Celina dan akan membawanya masuk ke dalam mobil, tapi Celina menolak.


"Dia itu staff ku, kita akan ke Bandung untuk meninjau proyek baru."


"Harusnya Arkan yang menjemputnya, tapi dia terlambat karna harus menjemput sekretaris ku juga."


Nyali Celina langsung ciut setelah mendengar penjelasan dari Vano. Wajah harimau galak berubah menjadi kucing oren. Celina berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum pada karyawan Vano.


Senyum yang bercampur antara malu, takut dan merasa bersalah.


"Ma,,maaf aku tidak tau." Ujar Celina kikuk.


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang dari tadi.?"


Tanyanya pada Vano.


"Bukannya kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara.?" Nada bicara Vano sedikit meninggi.


"Dimana mobilmu.?" Vano mengedarkan pandangan, mencari kendaraan yang telah membawa istrinya sampai ke tempat ini sampai terjadi drama rumah tangga.


"Itu,,," Celina menunjuk mobil miliknya.


Vano langsung menggandeng tangan Celina dan mengajaknya pergi dari sana.


"Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi Celina." Keluh Vano lesu.


"Untung saja dia karyawanku, tidak akan berani marah atau melawanmu."


"Bagaimana kalau rekan bisnisku.? Bukan hanya kamu yang akan bermasalah, nama baikku dan perusahaan juga dipertaruhkan."


Vano menghela nafas berat.


"Maaf,, aku pikir kamu akan menemui wanita lain karna tadi belum selesai,,," Celina menunduk sedih.


"Astaga Celina,,," Vano menggeleng tak habis pikir. Dia tidak mengerti dengan pikiran buruk Celina tentangnya.


"Aku tidak segila itu sampai melampiaskan pada wanita lain."


"Mana mungkin aku mengkhianati istri sebaik dan secantik dirimu."


Vano mengusap lembut pipi Celina. Menatap Celina dengan tatapan teduh.


"Maaf,,,"


Celina langsung menghambur ke pelukan Vano.


Dia tau kalau Vano tidak akan macam - macam di belakangnya, tapi tiba - tiba saja pikiran buruk itu muncul di kepalanya sampai membuat kegaduhan disana.


...****...


...BELUM TAMAT...