Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 77


Keluarga besar Papa Adiguna sudah melewati liburan bersama selama 1 minggu di Bali.


Banyak kenangan yang di tinggalkan di tempat itu.


Mereka fokus pada kebahagiaan dan kenyamanan Papa Adiguna hingga harus mengesampingkan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Keyla dan Dion.


Paling tidak, sudah ada solusi untuk memperbaiki hubungan keduanya.


Setelah pulang dari Bali, Celina dan Mama akan membujuknya Papa Adiguna agar mau menjalani operasi.


Mereka memiliki harapan yang tinggi untuk kesembuhan Papa Adiguna.


Hanya dengan cara melakukan operasi terakhir ini, mereka berharap Papa Adiguna akan diberikan kesembuhan dan umur panjang.


Celina berdiri di balkon kamarnya. Menatap bulan yang bersinar terang malam ini.


Hidupnya sudah bahagia dengan kehadiran Vano dan Naura, serta baby boy yang akan lahir ke dunia 2 bulan lagi.


Namun, kesehatan Papa Adiguna sedikit merenggut kebahagiaan yang dia rasakan.


Hatinya tidak bisa tenang. Selalu gelisah setiap malam memikirkan nyawa orang tuanya.


Berharap setelah melakukan operasi, bisa menyempurnakan kebahagiaan yang dia rasakan dengan kesembuhan Papa Adiguna.


Vano menutup laptopnya. 1 minggu meninggalkan kantor, banyak pekerjaan menumpuk yang sudah menunggunya.


Meski selama 1 minggu sudah di handle oleh asistennya, tapi tetap saja ada pekerjaan yang hanya bisa di kerjakan oleh pemilik perusahaan.


Vano mencari keberadaan Celina yang dia tau sudah berbaring di ranjang sebelum dia pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tapi saat keluar dari ruang kerjanya, ranjang itu sudah tak berpenghuni.


"Sayang,,,!" Seru Vano. Dia mengitari kamar, masuk ke setiap ruangan yang ada di kamar untuk mencari keberadaan istrinya.


Tadi sebelum pergi ke ruang kerja, Celina sempat ingin membicarakan sesuatu padanya.


Namun, banyaknya pekerjaan terpaksa membuat Vano menolak permintaan Celina.


"Disini rupanya,," Kata Vano sembari berjalan mendekati Celina yang berdiri melamun di balkon.


Kedua tangan Vano langsung melingkar di perut Celina dan memeluknya penuh cinta.


Celina menoleh sekilas dengan senyum tipis di bibirnya. Kehadiran Vano sedikit menenangkan perasaannya yang gelisah.


"Sudah selesai pekerjaannya.?" Tanya Celina lembut. Dia membiarkan Vano mendekapnya dari belakang dan meletakan kepala di pundaknya.


"Belum, besok saja aku lanjutkan di kantor."


Vano menggerakkan tangannya, mengusap perut besar Celina dan merasakan gerakan kecil dari dalam.


"Dia bergerak," Ucap Vano dengan raut wajah yang bahagia.


Dia selalu antusias setiap kali bisa merasakan baby boy bergerak.


Meskipun dulu sudah pernah merasakannya, namun perasaan bahagia itu tetap sama.


Celina tersenyum, dia meletakkan tangannya tepat di atas tangan Vano.


"Aku harap baby boy bisa melihat opanya." Ucap Celina.


"Kamu memikirkan Papa.?"


Celina mengangguk cepat.


"Jangan khawatir, setelah kamu berhasil membujuk Papa, kita. bisa langsung membawanya ke luar negeri untuk melakukan operasi."


"Papa pasti akan sembuh." Ucap Vano yakin.


Dia melihat kondisi Papa mertuanya yang terlihat semakin membaik setiap harinya selama berlibur di Bali. Hal itu yang membuat Vano yakin jika Papa Adiguna bisa bertahan.


"Aku juga berharap begitu. Aku tau Papa kuat, tapi tepat saja aku khawatir padanya."


Sebagai seorang anak, rasa tidak mungkin jika bisa bersikap tenang disaat orang tuanya sedang sakit.


"Tapi jangan sampai kekhawatiran kamu mempengaruhi kesehatan kamu dan baby boy."


"Ayo masuk, sudah malam." Bisik Vano sembari membalikkan tubuh Celina agar berhadapan dengannya.


Celina tersenyum, kemudian mengangguk patuh dan mengikuti langkah Vano.


"Apa aku boleh menengok baby boy.?" Bisikan Vano saat akan naik ke atas ranjang.


Lagi - lagi Celina mengulas senyum. Kali ini dibuat heran oleh Vano yang tiba-tiba meminta ijin.


Biasanya Vano akan langsung memulai, bahkan terkadang memaksa.


Selama di Bali, Vano bahkan tidak pernah memintanya lagi meski baru 1 kali melakukannya.


"Kalau aku bilang tidak, apa kamu keberatan.?" Celina balik bertanya. Dia hanya ingin tau jawaban Vano, meski sebenarnya tidak akan tega untuk menolak permintaan suaminya.


"Kenapa harus keberatan.?" Ujar Vano cepat.


"Karna kalaupun kamu menjawab tidak, aku akan tetap melakukannya." Vano menyeringai licik. Dia langsung mengangkat tubuh Celina dan membaringkannya di ranjang.


"Kau itu.!" Celina memukul gemas dada bidang Vano. Seorang pemaksa tetap saja akan selalu menjadi pemaksa.


Vano hanya terkekeh kecil. Sesaat kemudian kedua tangannya sudah menjalar kemana - mana. Mencari tempat yang nyaman.


...*****...


Papa Adiguna mendekap erat tubuh istrinya.


Hanya itu yang bisa dia lakukan setiap malam.


Entah sudah berapa lama tidak bisa menyenangkan istrinya karna kondisi kesehatannya.


Terkadang saat ingin melakukannya, sang istri justru menolak karna lebih mementingkan kesehatannya.


"Apa kamu akan menikah lagi setelah aku pergi.?"


Pertanyaan Papa Adiguna langsung membuat Mama berbalik badan.


"Sayang.! Kamu itu bicara apa.!" Protesnya tak suka.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi."


"Apa kami lupa dengan janjimu saat akan menikahi ku.? Kamu tidak akan pernah meninggalkanku sekalian aku menjadi tua dan keriput."


Ada kesedihan sekaligus ketakutan yang terpancar dari sorot matanya.


Tentu saja kenyataan buruk itu selalu membuatnya takut.


"Alisha,,," Ucap Papa Adiguna dengan suara lembut. Dia memegangi dagu istrinya. Menatap lekat penuh cinta.


"Semua ini diluar kuasaku."


"Kamu tau betul bagaimana perasaanku, mana mungkin aku ingin meninggalkan kamu dan anak kita."


"Kalian sangat berharga untukku."


Mama menangis. Air matanya menetes begitu saja tanpa bisa di bendung. Dadanya terlalu sesak, hatinya begitu teriris.


Dia memejamkan mata, berharap semua kenyataan buruk ini hanya sebuah mimpi setelah dia membuka mata.


Namun, sebuah kecupan hangat membuatnya tidak ingin membuka mata.


Mama Alisha terlalu takut menerima kenyataan.


Dia membalas ciuman itu dengan lembut, semakin memejamkan mata dan mendekap erat tubuh besar suaminya.


...*****...


Keyla masuk kedalam kamar Leo. Dion masih ada di sana karna Leo menahannya pulang.


Leo masih saja terjaga dan kesulitan untuk tidur.


Dia merengek ingin di temani tidur oleh papanya.


"Pulang saja, biar aku yang membujuk Leo."


"Ini sudah malam, aku juga sudah mengantuk."


Keyla terang - terangan mengusir Dion. Dia tidak mau lagi membiarkan Dion menginap di apartemennya.


Jika biasanya dia akan membiarkan Dion tidur di kamar Leo, kali ini Keyla tidak bisa lagi melakukannya.


Ada hati wanita lain yang harus dia pikirkan. Wanita itu pasti akan terluka jika mengetahui Dion menginap di apartemen mantan istrinya sekalipun tidak tidur dikamar yang sama.


"Kalau mengantuk, tidur saja." Jawab Dion cuek.


Dia masih santai berbaring di samping Leo dengan memeluknya.


Keyla menarik nafas dalam.


"Pulanglah,, tidak perlu terlalu menuruti keinginan Leo. Dia tidak akan menangis kalaupun kamu pulang."


Keyla kembali menyuruh Dion untuk pergi dari apartemennya.


Sekalipun apartemen itu merupakan pemberian Dion.


"Apa kamu tidak bisa diam.?" Ujar Dion dengan mata yang masih terpejam.


Sekalipun suaranya pelan, tapi nadanya terdengar ketus.


"Leo, ayo tidur sama Mama,," Seru Keyla.


Dia mengencangkan suaranya.


Putranya itu langsung menyembulkan kepalanya dari balik badan Dion.


"Leo mau tidur sama Papa, mah,," Tolaknya halus.


"Papa kamu harus pulang."


"Ayo sama Mama," Bujuk Keyla.


"Besok Leo bisa ketemu lagi sama Papa, sekarang biarkan Papa pulang." Ujarnya lagi.


Dion langsung bangun. Duduk disisi ranjang dan menatap Keyla dengan tatapan yang sulit di artikan.


Leo juga ikut bangun, dia justru beranjak dari ranjang dan menghampiri Keyla.


"Anak pintar,,"


"Lain kali, Leo bisa tidur lagi sama Papa." Kata Keyla sembari memeluk Leo.


Kini tatapan Keyla beralih pada Dion. Laki - laki itu masih diam di tempat.


"Besok, kamu bisa ajak Leo menginap di apartemen mu." Ujar Keyla lirih.


"Cium tangan dulu sama Papa, Papa mau pulang." Pintanya pada Leo.


Anak itu menurut. Berjalan menghampiri Dion mencium tangannya. Kemudian memeluk Dion.


"Hati - hati di jalan Papa,," Seru Leo.


Dion mengecup pucuk kepala Leo, lalu beranjak dari duduknya.


"Papa pulang dulu, Leo harus tidur sekarang." Katanya. Leo mengangguk patuh.


Dion berjalan ke arah pintu keluar, Keyla bergeser untuk memberikan jalan.


Dia mengalihkan pandangannya sejak Dion berjalan ke arahnya.


Sedikitpun enggan menatap Dion dari jarak dekat.


Hatinya tidak akan sanggup untuk menatap laki - laki itu.


Dion melewati Keyla begitu saja. Sama halnya dengan Keyla, Dion juga tidak menatap mantan istrinya dan berjalan dengan pandangan mata lurus ke depan.


"Aku akan berusaha mendapatkan mu dengan cara yang semestinya."


"Jika usaha itu gagal, aku akan menerimanya dengan besar hati."


"Aku tidak banyak berharap, karna kamu berhak bahagia dengan pilihan mu."


...******...


...Luka Balas Dendam...