
"Ada apa kak.?" Celina memasang wajah datar.
Kehadiran Dion sore itu, sama sekali tidak menghadirkan perasaan apapun dalam hati Celina.
Dia sudah terlanjur mengikhlaskan Dion untuk kembali pada masa lalunya. Rasa ikhlas itu yang membuat Celina tidak lagi menaruh hati dan perasaan pada laki - kaki yang hampir menjadi suaminya.
"Kita harus bicara." Kata Dion memohon. Tatapan mata Dion pada Celina terlihat masih sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini ada sedikit kekecewaan.
Celina mengangguk pelan, kemudian mempersilahkan Dion untuk masuk. Dia membiarkan pintu tetap terbuka meski di apartemen itu juga ada Ida.
"Kenapa tidak pernah menjawab pesan dan telfon ku.?"
Dion terlihat lesu. Sejak keluar dari rumah sakit sampai detik ini, Celina tidak pernah lagi muncul di hadapannya, bahkan sangat sulit hanya sekedar untuk menghubunginya.
Pesan dan panggilannya selalu di abaikan.
"Aku rasa kak Dion sudah tau jawabannya." Jawab Celina tenang.
"Apa yang ingin kak Dion bicarakan.?"
Sikap tenang Celina menarik perhatian Dion. Dia menatap lekat wajahnya. Sekalipun terlihat tenang, namun Dion bisa melihat jika Celina tidak lagi seceria biasanya. Sorot matanya tidak lagi lepas, terlihat banyak beban dan kesedihan didalamnya.
"Kenapa harus mengambil keputusan sendiri.?"
"Aku tidak pernah menyetujui untuk membatalkan pernikahan kita. Kehadiran Keyla tidak akan merubah apapun, kecuali Leo yang saat ini memang menjadi bagian dari diriku."
"Aku sudah membicarakan hal ini pada Papamu, beliau tidak keberatan jika kita tetap menikah."
"Pikirkan baik - baik keputusan mu, dia butuh ayah."
Dion sedang meyakinkan Celina untuk mau kembali padanya dan melanjutkan pernikahan yang seharusnya sudah terjadi 2 minggu lalu.
Kedatangan Dion yang meminta Celina untuk tetap melalutkan pernikahan, membuktikan bahwa dia serius menjalani hubungan dengan Celina meski Keyla kembali bersama anak mereka.
"Leo juga butuh Ayah dan Ibunya." Celina menjawab cepat. Lagi - lagi dia memikirkan perasaan anak laki - laki itu yang masih sangat membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya.
"Apa kamu keberatan untuk menjadi Ibunya.?" Dion bertanya serius namun dengan nada kecewa. Pertanyaan Dion begitu mengenai di hati Celina hingga membuatnya sulit untuk menjawab.
Tanpa sadar, Celina sudah membuat Dion kecewa padanya.
Dion dengan tulus mau menerima darah daging Vano sebagai anaknya, tapi Celina justru menjadikan Leo sebagai alasan untuk membatalkan pernikahan.
Dion mungkin kecewa karna berfikir jika Celina tidak bisa menerima Leo sebagai anaknya.
"Ini tidak seperti yang kak Dion pikirkan." Sanggah Celina setelah beberapa saat terdiam.
"Aku tidak merasa keberatan jika harus menganggap Leo sebagai anaku, tapi disini ada Ayah dan Ibunya yang lebih behak merawatnya bersama."
"Apa itu artinya kamu juga akan membuat anakmu dirawat bersama dengan Ayahnya.?" Tanya Dion penuh selidik. Celina tidak bisa berkutik, ucapannya jadi berbalik padanya.
"Tidak perlu menjawab, aku sudah tau jawabannya." Potong Dion cepat. Dia mencegah Celina yang baru saja akan bersuara.
"Aku tidak akan memaksa." Dion tersenyum kecut.
Bukan hanya Celina saja yang sempat kecewa dengan kejadian Keyla dan Leo. Dion juga kecewa karna Celina lebih memilih untuk membatalkan pernikahan hanya karna alasan yang dia buat sendiri.
Disini Dion tidak pernah mengatakan jika dia ingin kembali pada mantan istrinya. Celina sendiri yang berasumsi jika Dion ingin kembali, bahkan menyuruhnya untuk kembali.
"Maaf,,," Celina menundukan kepala. Dia tidak berani menatap Dion yang sudah berdiri diluar.
Dia sadar sudah mengecewakan Dion, tapi tidak ada niatan untuk kembali merencanakan pernikahan dengan Dion meskipun laki - laki itu benar - benar mencintainya.
"Tidak perlu merasa bersalah."
"Sekeras apapun usaha, sebesar apapun cinta, aku tidak bisa menentukan jodoh."
"Jadi bukan salahmu jika pernikahan kita harus batal."
Ucapan Dion membuat mata Celina berkaca - kaca. Dion sudah menyadarkan dirinya bahwa jodoh tidak di atur oleh manusia, namun ucapan itu justru membuat Celina rapuh karna seolah ikut merasakan kekecewaan Dion.
Entah karna memang tidak berjodoh, atau belum berjodoh dalam waktu dekat. Tapi kehadiran Keyla tetap saja membuat Celina harus berfikir puluhan kali untuk melanjutkan pernikahan dengan Dion.
Sekalipun Dion mengatakan tidak lagi mencintai Keyla, tidak menjamin jika kehidupan rumah tangannya besama Dion akan berjalan mulus begitu saja tanpa adanya permasalahan dengan masa lalunya.
Celina tidak bisa egois jika harus berbahagia bersama Dion sedangkan ada Leo, dan Keyla terlihat masih sangat mencintai Dion.
Masih begitu jelas saat Celina melihat sorot mata Keyla yang dipenuhi cinta saat menatap Dion.
Ada penyesalan besar dalam sorot matanya.
Lalu bagaimana bisa Celina menikah dengan Dion dengan mengabaikan perasaan mereka.
...*****...
Celina hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dia tidak tau lagi harus bersikap seperti apa setiap kali membukakan pintu untuk Vano.
Laki - laki itu terus menemuinya setiap hari, membuatnya jengah dan kehabisan kata - kata untuk melarangnya datang setiap hari.
"Sudah 1 bulan mengurung diri di sini, apa kamu tidak bosan.?" Vano bertanya sembari menyelonong masuk. Dia meletakan paper bag di atas meja kemudian duduk di sofa seperti biasa.
Celina menghela nafas, berjalan menyusul Vano dan duduk di hadapannya. Dia menatap paper bag, entah apa lagi yang dibawakan oleh Vano kali ini.
"Aku lebih bosan melihatmu." Jawab Celina. Meski telat menjawab, tapi membuat Vano terperangah kaget.
"Kenapa selalu membahas hal itu." Protes Celina kesal.
"Aku hanya mengenang karna terlalu indah." Vano menjawab santai.
"Indah.? Apanya yang indah.?!"
"Itu perbuatan buruk yang tidak ingin aku ingat dan ulangi lagi."
Celina merasa sangat rendah setiap kali mengingat masa lalunya. Meski dari masa lalu itu dia bisa mengambil banyak pelajaran untuk memulai hidup agar jauh lebih baik lagi.
"Kamu sangat menyesal.?"
Pertanyaan Vano langsung mendapat anggukan dari Celina.
"Aku justru bersyukur karna perbuatan kita, sesuatu yang berharga hadir di rahimmu." Ujar Vano dengan wajah berbinar.
Celina bungkam, dia tau bagaimana perasaan Vano pada darah dagingnya. Selama ini Vano begitu menyayanginya, sangat perhatian dan tidak melewatkan sediktupun untuk menanyakan kondisinya.
Sisi lain yang baru disadari oleh Celina akhir - akhir ini, kalau sebenarnya Vano tipe laki - laki baik yang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan maaf dan kesempatan darinya.
"Kenapa begitu sulit untuk memaafkan dan menerimaku.?"
Suara Vano yang terdengar putus asa, memecah keheningan di ruang tamu.
Celina menatap bingung. Dia mungkin sudah memaafkan Vano, tapi mengakui sulit untuk menerimanya.
Yang ada dipikiran Celinai saat ini adalah hanya ingin fokus memperbaiki diri, menata hati dan fokus pada kehamilannya.
"Anak itu butuh pengakuan, dia tidak bisa lahir tanpa seorang ayah."
"Jangan hanya pikirkan dirimu sendiri Celina. Tapi pikirkan anak kita, Naura dan juga aku."
"Apa kamu tidak kasihan padaku.?" Tanya Vano dengan wajah memelas.
"Sudah 3 bulan aku tersiksa setiap malam karna,,," Vano menggantunggkan ucapannya. Dia menikmati reaksi Celina yang menatapnya tajam. Celina seakan sudah tau kemana arah pembicaraannya.
"Karna ingat goyanganmu." Lanjutnya kemudian terkekeh kecil.
Bantal sofa langsung melayang di wajah tampannya. Mata Celina semakin melotot dengan tanduk yang sudah keluar setengah dari kelapanya.
"Menyebalkan.!" Geram Celina sembari beranjak dari duduknya.
"Tolong tutup pintunya kalau mau pulang, aku harus istirahat." Celina berlalu begitu saja dari ruang tamu. Tidak mau di tinggalkan, Vano ikut beranjak menyusul Celina setelah menutup pintu.
"Kau.! Kenapa mengikutiku.?" Celina mendelik kaget saat Vano ikut masuk kedalam kamarnya.
"Bukan cuma kamu, aku juga butuh istirahat."
"Kamu pikir tidak lelah untuk membujuk wanita.? Aku sudah frustasi." Tuturnya.
"Ayo tidur,," Bisik Vano sambil menutup pintu dan menguncinya. Dia mencabut kunci dan memasukannya kedalam saku celana bagian depan.
Ulah Vano memancing amarah Celina. Dia mendapat pukulan di bagian lengannya.
"Jangan gila.! Berikan kuncinya.!"
"Mba Ida akan pulang sebentar lagi. Jangan buat masalah.!" Pekik Celina. Dia sudah panik, tapi Vano terlihat santai dan justru berjalan ke arah ranjang.
Geram dengan kelancangan Vano, Celina langsung menyusul dan menarik baju Vano untuk menyuruhnya keluar.
"Ayolah Celina, hanya istirahat. Aku janji tidak akan macam - macam."
"Jangan khawatir tentang Ida. Dia sudah aku suruh untuk menjemput Naura." Vano mengulas senyum puas. Dia tidak sengaja bertemu Ida yang baru saja berbelanja. Dengan menggunakan nama Celina, Vano menyuruh Ida untuk menjemput Naura di rumah. Tak hanya itu, Vano juga menyuruh Ida untuk mengajak Naura pergi ke mall lebih dulu sebelum ke apartemen.
Sudah dipastikan kalau mereka membutuhkan waktu berjam - jam untuk datang ke apartemen.
"Kamu itu benar - benar,,,"
Vano langsung membungkam Celina dengan ciuman hingga membuat Celina tidak bisa meneruskan ucapannya.
Dia baru melepaskan ciumannya setelah merasakan sakit di bagian dada karna Celina terus memukulnya.
Nafas Celina terengah - engah. Wajahnya memerah karna kesal.
"Kenapa menyebalkan sekali.!" Teriak Celina geram.
Dia kembali memukul dada Vano, tapi kemudian menangis.
Dalam posisi kebingungan, Vano menarik Celina dalam dekapannya. Celina semakin terisak dnegam badan yang bergetar.
"Maaf aku tidak berniat menciummu, aku reflek melakukannya."
Vano terlihat cemas karna berfikir kalau Celina marah padanya setelah dicium.
"Aku lelah,," Ucap Celina sambil terisak.
"Aku hanya ingin tenang dan menata hati, kenapa tidak ada yang mau mengerti."
Celina mendorong pelan tubuh Vano agar melepaskan dekapannya.
Vano diam di tempat, menatap Celina yang naik ke atas ranjang dan berbaring membelakanginya.