Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 102


Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kali ini tidak bisa memberikan alasan pada Viona untuk tidak datang menemuinya. Ancaman yang diberikan Viona membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Sedangkan Dion tidak mau kehamilan Viona diketahui oleh banyak orang karna dia belum yakin 100 persen jika anak yang dikandung Viona adalah darah dagingnya.


Meski sadar hari itu telah menghabiskan malam panjang bersama Viona. Tapi Dion sedikit menaruh curiga lantaran bukan hanya dirinya saja yang pernah menghabiskan malam bersama Viona sebelum kejadian itu.


Mungkin saja benih didalam rahim Viona sudah ada lebih dulu sebelum dia meniduri Viona.


Tapi sampai saat ini Dion masih berusaha mencari untuk bukti.


Dia bisa saja menyeret Viona ke rumah sakit untuk memastikan langsung berapa usia kandung Viona. Karna sampai detik ini Dion hanya tau dari secarik kertas yang dibawa oleh Viona. Bisa saja Viona sudah memanipulasi hasil pemeriksaan dari rumah sakit.


Sayangnya pihak rumah sakit tidak mau membocorkan data pasien, apalagi Dion tidak memiliki keterikatan apapun dengan Viona.


Dion menekan bel dengan malas. Berdiri datar tanpa ekspresi di depan pintu apartemen Viona.


"Di,,, akhirnya kamu datang,," Begitu membuka pintu, Viona langsung memeluk erat tubuh Dion.


"Kami sangat merindukanmu." Ucapnya manja.


Dion tersenyum kecut. Dia langsung mendorong pelan bahu Viona agar melepaskan pelukannya.


"Ada apa lagi.?"


"Jangan mengancamku dengan hal-hal gila hanya untuk sesuatu yang tidak penting." Tegur Dion kesal.


Dia tidak habis pikir dengan Viona yang mengancam akan datang kei kantor dan memberitahukan kehamilannya.


"Kenapa kamu seperti ini.?"


"Apa salah kalau aku mengatakan pada semua orang saat ini sedang mengandung anak kamu.?" Viona meminta penjelasan dengan wajah sendu dan kecewa.


"Tentu saja salah. Karna kamu akan membuat citraku buruk di depan semua orang." Tegas Dion.


"Kamu hamil, sedangkan kita belum menikah." Dion memberikan tatapan tajam.


"Itu sebabnya aku harap kamu segera menikahi ku sebelum perut ini semakin membesar." Vion mengusap perutnya yang sedikit menyembul karna memakai dress ketat.


"Dia butuh pengakuan dan butuh ayahnya." Ucapnya lagi. Matanya terus menatap perut dengan ekspresi sedih.


"Bukannya aku sudah bilang padamu untuk menunggu 1 bulan lagi." Terang Dion.


"Jangan membuatku habis kesabaran dengan ulah konyol mu."


Viona langsung mengangkat wajah, terlihat takut dengan ucapan Dion.


"Maaf Di,, aku janji tidak akan mengulangi lagi."


"Aku dan anak kita hanya merindukanmu. Tidak ada cara lain untuk membuat kamu datang menemui kami." Vion kembali mendekat, dengan hati-hati kembali memeluk Dion.


"Aku akan menunggu hari itu tiba." Ucapnya.


Dion hanya diam saja, tidak memberikan respon apapun.


"Ayo masuk,,," Viona menggandeng tangan Dion setelah melepaskan pelukannya. Dia memaksa Dion untuk masuk ke dalam apartemen.


...****...


Suasana di meja makan sedikit riuh akibat ulah Naura dan Leo. Keyla sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang menguras kesabaran namun merasa lucu tingkah keduanya.


"Jangan berebut, biar Mama yang ambilkan untuk kalian." Keyla harus ekstra sabar menjaga dan mengurus dua orang anak yang sulit di ajak akur. Selalu saja ada yang diributkan meski sudah berulang kali diingatkan untuk tidak meributkan hal-hal kecil. Sifat Naura yang cerewet, selalu di tanggapi ketus dan cuek oleh Leo yang lebih suka diam.


Bisa di ibaratkan mereka berdua seperti ujung magnet yang sama, jika didekatkan akan saling menolak.


Naura terlihat cemberut. Kesal karna Leo tidak mau mengalah untuk memberikan kesempatan mengambil makanan lebih dulu.


"Sini dekatkan piring kalian." Pinta Keyla.


Kedua bocah itu menurut, mendorong piring bersamaan sedikit ke tengah.


Keyla yang duduk didepan mereka segera berdiri dan meletakkan makan yang tadi direbutkan oleh Naura dan Leo di piring mereka berdua secara bergantian.


"Kalian mau apa lagi.?" Tawar Keyla dengan suara lembut.


"Itu,,,!" Jawab Naura dan Leo bersamaan, namun menunjuk menu yang berbeda.


"Oke,,," Keyla mengulas senyum tipis.


Selesai mengambilkan makanan untuk mereka, Keyla mendorong kedua piring itu kedepan Leo dan Naura.


"Sekarang makan yang tenang, Mama tidak mau dengar kalian ribut lagi." Pintanya.


Kedua bocah itu mengangguk patuh dan mulai menyantap makan malam mereka.


Keyla mengulas senyum tipis. Meski terkadang menguras kesabarannya, namun Leo dan Naura selalu memberikan kebahagiaan dan energi tersendiri untuknya.


"Papa,,,," Leo tiba-tiba berteriak. Wajahnya berbinar menatap Dion yang masuk ke ruang makan.


Keyla menoleh kebelakang, sedikit terkejut melihat Dion datang kembali. Dia pikir Dion akan menghabiskan waktu dengan wanitanya. Tapi baru 3 jam sudah muncul lagi di hadapannya.


"Uncle,,, Sini makan sama kita." Naura ikut menyapa Dion. Bahkan menyuruh Dion untuk duduk disebelahnya dengan menepuk kursi kosong disisinya.


Setelah itu terjadi saling menatap tajam antara Leo dan Naura. Keduanya memperebutkan Dion.


Dion mengulas senyum tipis pada Leo dan Naura, dia berjalan mendekat ke meja makan.


"Bagaimana kalau Papa duduk di tengah-tengah." Ucap Dion sambil berdiri dibelakang Leo dan Naura dengan merangkul bahu mereka.


Kedua bocah itu kompak mengangguk setuju.


Dion memindahkan Leo ke kursi sebelah, lalu duduk di tengah-tengah mereka.


Keyla tersenyum melihat pemandangan didepannya. Ada kehangatan tersendiri dalam situasi indah seperti itu.


"Piringnya Di,,," Keyla menyodorkan piring kosong Pada Dion.


Dion mengambilnya tanpa mengatakan apapun.


Suasana makan malam terasa hangat meski hening karna sibuk menghabiskan makanan masing-masing.


Selesai makan, Dion mengajak Leo dan Naura bermain di ruang keluarga.


Keyla juga menyusul mereka setelah membantu membereskan meja makan.


Dia membawa minuman, cemilan dan buah yang sudah di potong, lalu meletakkannya di meja.


Kedatangan Keyla hanya dilirik sekilas oleh Dion, lalu sibuk kembali dengan Leo dan Naura.


Cukup lama berada di ruang keluarga, makanan yang berada di atas meja bahkan hampir habis.


Keyla lebih banyak diam, memperhatikan interaksi Dion dengan Leo dan Naura.


"Naura ngatuk uncle." Keluhnya pada Dion.


"Ayo tidur,, aunty antar Naura ke kamar." Keyla dengan sigap menghampiri Naura.


"No.! Naura mau tidur sama Uncle, Aunty dan Leo." Naura justru mengucapkan permintaan sulit yang membuat Dion dan Keyla saling pandang.


"Tidak boleh.!" Ketus Leo.


"Mama dan Papa harus tidur sama Leo saja." Leo menatap tajam pada Naura.


Naura langsung cemberut, bahkan terlihat akan menangis.


"Begini saja, Mama tidur sama Naura. Leo tidur sama Papa." Keyla membuat keputusan yang menurutnya adil. Tapi ternyata sulit untuk diterima oleh Leo dan Naura.


Mereka berdua bertahan dengan keinginannya masing-masing.


"Kita tidur bersama." Ucap Dion. Hal itu membuat Keyla terkejut. Tapi Dion hanya memasang wajah datar.


"Ayo bangun, Papa tidak mau dengar kalian protes."


Dion menggandeng tangan Leo dan Naura.


Kali ini mereka menurut. Meski Leo cemberut karna harus tidur dengan Naura juga.


Sementara itu, Keyla masih diam di tempat. Dia tidak tau harus mengikuti perkataan Dion atau memilih untuk tidur di kamar lain.


"Kenapa masih disitu.?" Tegur Dion. Dia hanya menoleh sekilas pada Keyla tapi menatap tajam.


"I,,iya sebentar. Aku bereskan ini dulu." Keyla memilih membereskan meja lebih dulu.


Saat masuk kedalam kamar, mereka bertiga sudah berbaring rapi di tempat tidur dengan posisi Dion berada di tengah-tengah. Menyisakan ruang kosong di samping Naura.


"Ayo aunty, tidur di sini." Naura terlihat antusias tidur bersama mereka.


Keyla mengangguk kikuk sembari menatap Dion.


Meski merasa xanggung dan malu pada Dion, namun Keyla tetap menuruti permintaan Naura.


Tempat tidur berukuran king size itu terlihat sempit di tempati oleh 4 orang. Suasana seketika hening setelah Naura dan Leo mulai memejamkan mata. Meninggalkan Dion dan Keyla yang tidak bisa memejamkan mata, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


...*****...


Jujur udah gak semangat lanjut. Capek dikecewain mulu. Komplain ke pihak NT juga gak ngaruh.


gak ada niatan buat benerin regulasi.


Kayak buat mainan, level di naik turunin sesuka hati. pinter nyari momennya, giliran lagi banyak yg baca tiba² diturunin. Wktu novel Nicholas juga begitu.


gak heran banyak author hebat yang angkat kaki dari lapak ini. Kalau karya mereka bisa dihargai di tempat lain, knpa hrus bertahan buat dikecewain berulang kali.


sakit tau gak sih🤣 admin NT/MT tolong baca ini🤪


...Edisi curhat, pengen marah tapi gak tau harus marah kesiapa....


Jangan lupa mampir ke novel baru yah. 🙏