Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 51


Celina sedikit terkejut begitu membuka mata dan mendapati tangan besar melingkar di perutnya. Dia hampir saja berteriak namun segera menoleh dan melihat Vano tengah tertidur pulas.


Awalnya akan membangunkan Vano, tapi mengurungkan niat. Celina malah melamun, memikirkan kenapa dia bisa berada di ranjang bersama Vano.


Beberapa menit mencoba mengingatnya. Dia hanya ingat terakhir kali sedang duduk di balkon pukul 4 sore.


Celina reflek melihat jam weker di atas nakas. Bola matanya membulat sempurna melihat jam yang sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Selama itu aku tidur.?" Dia bergumam sendiri karna heran. Bahkan kini sudah berpindah di ranjang dan tidak sadar sama sekali saat di pindahkan.


Celina memindahkan tangan Vano perlahan sembari bergeser untuk turun.


Sekalipun kesal pada duda anak satu itu, Celina masih punya rasa belas kasihan hingga tidak tega membangunkannya.


Dia membuka pintu dan menutupnya kembali, membiarkan Vano tidur nyaman di ranjangnya.


Mungkin jika keadaan belum seburuk ini, dia akan sangat bahagia bisa kembali satu ranjang besama Vano.


Sayangnya, rasa sakit telah mengubah keadaan menjadi berbalik.


Dia tidak lagi merasakan apapun saat melihat Vano, bahkan saat tadi melihatnya berada diranjang yang sama.


Celina pergi ke dapur, dia membuka kulkas dan mengambil salad buah yang selalu tersedia di sana.


Celina sudah melewatkan makan malam yang sebelumnya tidak pernah dia lewatkan sejak dinyatakan hamil.


Celina menyadari jika nafsu makannya kian bertambah. Dia merasa bersyukur tidak mengalami mual atau gejala lain yang umum di rasakan oleh wanita hamil. Sediktnya hari - hari yang dia lewati tidak terlalu berat, seberat permasalan yang dia hadapi hingga harus mengubur rasa sakit hatinya demi sang anak.


"Kamu lapar.? Kenapa tidak membangunkanku."


Vano datang dan duduk di depan Celina. Kehadirannya hanya mendapat lirikan datar dari Celina. Wanita itu kemudian kembali fokus pada makanannya.


"Sudah malam, Naura pasti mencarimu." Celina mengusir Vano secara halus. Sayangnya yang di usir tidak merasa tersinggung, dia justru mengulas senyum tipis pada Celina meski tau tidak dilihat karna Celina terus menunduk.


"Naura sudah tidur. Anakku yang disini juga sedang mencari ku." Balas Vano dengan senyum yang semakin mengembang.


Perkataannya berhasil menarik perhatian Celina hingga mendapat tatapan tajam.


"Lalu dimana lagi anakmu yang lain.? Kamu tidak mengunjunginya.?" Nada bicara Celina memang santai dan pelan, tapi nada sinisnya sangat kental.


"Jika ada, aku harap mereka tidak bernasib sama seperti ku." Lanjutnya dengan senyum tipis.


Vano hanya tersenyum tenang tanpa berniat menanggapi sindiran Celina. Dia memilih untuk memaklumi kondisi Celina yang tengah hamil hingga perasaannya jauh lebih sensitif.


"Aku akan membuatkan susu untukmu." Vano beranjak dari meja makan.


Celina terdengar menghela nafas namun tidak berkata apapun.


"Makan buah saja tidak akan membuat perutmu kenyang. Kamu juga butuh karbohidrat." Kata Vano sambil meletakan susu coklat didepan Celina.


"Bagaimana dengan sandwich.? Kamu mau.?" Tanya Vano menawarkan. Celina tidak bereaksi apapun. Diamnya Celina di anggap Vano sebagai tanda setuju.


Vano kembali beranjak ke dapur dan mulai mengeluarkan bahan yang dia perlukan.


Vano membawa 2 piring berisi sandwich yang dia buat. Dia meletakannya di atas meja dan kembali bergabung besama Celina.


Kali ini Vano memilih duduk di samping Celina.


"Makan dan habiskan,," Kata Vano sambil mendorong sandwich itu tepat di depan Celina.


Celina menoleh, melirik Vano yang sudah menyantap sandwich lebih dulu dengan lahap.


Hal itu membuat Celina tersenyum mengejek.


Alih - alih terlihat perhatian dan romantis karna membuatkan sandwich, rupanya si pembuat yang terlihat lebih kelaparan.


"Siapa yang kelaparan, siapa yang dijadikan alasan." Sindir Celina datar.


Vano terkekeh kecil. Dia mengusap gemas pucuk kepala Celina.


"Mulutmu pedas sekali. Apa sedang balas dendam.?" Tebak Vano sedikit menggoda.


"Kamu akan gila kalau aku balas dendam." Sahut Celina cepat.


Vano langsung terdiam. Ucapan Celina seolah menggambarkan jika kata - kata pedasnya tidak sebanding jika digunakan untuk membalas dendam atas perbuatan buruk Vano pada Celina selama ini.


Akibat terlalu buruk sikap Vano, Celina sampai menggambarkan kalau Vano akan gila jika dia membalas dendam.


"Kalau begitu jangan lakukan itu." Pinta Vano setelah diam beberapa saat.


"Aku tidak bisa mencintai dan menjaga kalian jika aku gila." Vano menatap lekat wajah Celina. Menatapnya dengan segala perasaan yang bercampur menjadi satu.


Celina tersenyum getir dengan sorot mata tenang.


Dia menyadari kalau Vano sudah berubah dan benar - benar menyesali perbuatannya. Tapi kehancuran yang dirasakan oleh Celina, membuatnya langsung membentengi hati untuk tidak menerima begitu saja seseorang masuk kedalam kehidupannya.


Dia tidak bisa lagi mempercayakan hatinya pada siapapun kecuali dirinya sendiri. Dia hanya percaya pada dirinya sendiri karna tidak mungkin bisa menghancurkan hatinya sendiri.


...****...


"Kenapa mengikutiku.?" Protes Celina dengan wajah cemberut. Dia menghentikan langkah di depan pintu kamarnya karna Vano membuntutinya.


"Aku mau melanjutkan tidur, bukan mengikutimu." Sahut Vano acuh. Dengan santainya dia membuka pintu kamar Celina dan menyelonong kedalam.


Pemiliki kamar langsung menganga melihatnya.


"Tuan Elvano yang terhormat, berhenti membuatku kesal." Geram Celina sambil menyusul Vano dan menarik baju bagian belakangnya.


"Kalau tidak mau pulang, setidaknya jangan tidur disini. Ada sofa di ruang tamu, tidur saja disana."


"Nyonya Elvano, kenapa sadis sekali pada calon suamimu." Vano memegang tangan Celina agar melepaskan ujung bajunya yang sedang di tarik.


"Jangan seperti ini padaku, aku itu daddynya." Ujarnya sambil mengusap perut Celina.


Dengan sekali tarikan, Vano berhasil membawa Celina dalam dekapannya. Wajah keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat tipis.


"Berhenti marah marah padaku. Aku tidak tahan kalau seperti ini." Kata Vano dengan wajah serius.


"Kamu jadi semakin menggemaskan dan menggoda." Bisik Vano tepat di telinga Celina. Bibirnya bahkan bersentuhan dengan telinga Celina.


"Otak mesum.!" Cibir Celina sembari mendorong dada Vano. Dia beranjak ke kamar mandi setelah lepas dari dekapan Vano.


...****...


Pagi harinya, Vano bangun lebih dulu. Dia terus tersenyum sembari memeluk Celina dari belakang.


Semalam terjadi perdebatan sengit, Celina terus mengusir Vano berulang kali. Tapi pada akhirnya Celina menyerah karna Vano bersikeras tak mau pulang.


"Lepas, aku susah bernafas." Tiba - tiba Celina mendorong Vano dengan sikunya. Vano terlalu erat memeluknya sampai membuatnya bangun karna sesak.


"Maaf,,," Ucap Vano. Dia tersenyum lebar begitu wajah Celina menghadap ke arahnya.


"Sudah siang, ayo bangun."


"Aku ingin mengajakmu bertemu Naura. Dia sangat merindukan kamu."


"Aku tidak ingin pergi. Bawa saja Naura ke sini."


Celina turun dari ranjang. Wajahnya masih saja tidak bersahabat meski sikapnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,


Vano menunggu saat dimana Celina akan setuju untuk menikah dengannya, meski tidak tau kapan itu akan terjadi.


"Ayolah,, ikut dengan ku kali ini." Bujuk Vano memohon. Dia mengikuti Celina sampai di depan pintu kamar mandi.


"Naura akan senang kalau kamu datang."


Celina berbalik badan, dia menahan dada Vano dengan satu tangannya agar tidak ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Oke.! Tapi keluar dulu dari kamarku." Ujarnya. Celina bergegas masuk dan menutup pintu kamar mandi.


"Jangan lama - lama sayang,,,!!" Teriak Vano sambil menahan senyum.


Yang di panggil sayang hanya menghela nafas pelan.


...****...


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu.?" Tawar Vano.


Sejak tadi Celina hanya diam, membuang pandangan ke luar jendela.


Celina menggeleng pelan.


"Kamu tidak menginginkan apapun selama hamil.?" Tanya Vano dengan dahi yang berkerut.


Sesuai pengalamannya dulu saat Jasmine mengandung Naura, ada saja permintaan Jasmine yang aneh hingga membuatnya menggelengkan kepala.


"Tidak." Jawab Celina cepat.


"Dia tau kalau mommy sudah cukup tersiksa selama ini, jadi tidak mau semakin menyiksa."


Celina hanya tersenyum tipis. Dia bersyukur tidak merasakan atau menginginkan apapun selama hamil.


"Mommy,,,,," Celina langsung bengong melihat Naura berlari ke arahnya sembari memanggilnya Mommy.


"Naura kangen Mommy,," Rengeknya sambil memeluk Celina.


"Perut Mommy besar,," Ucap Naura setelah beberapa saat diam sambil memeluk Celina.


"Adik Naura ada didalam, dia sudah besar."


Kata Vano yang datang menghampiri keduanya. Vano langsung menggendong Naura, kemudian menggandeng tangan Celina untuk membawanya masuk ke rumah.


"Naura mau lihat adik, Daddy,," Katanya polos.


"Kita akan melihatnya nanti.".Jawab Vano.


"Daddy, Mommy.?" Gumam Celina pada Vano.


"Kamu,,??" Celina tidak meneruskan ucapannya saat Vano tersenyum jahil padanya.


"Naura harus terbiasa memanggil kita seperti itu." Ujar Vano.


"Naura,,," Intan muncul dari arah dapur sambil membawakan susu. Dia langsung berhenti dan membungkuk sopan pada Celina dan Vano.


"Naura susu,," Seru Naura sambil mengulurkan tangannya. Intan hanya diam saja, tiba - tiba perut besar Celina menarik perhatiannya.


"Naura meminta susunya." Ucap Celina sambil mendekat.


"Kamu baik - baik saja.?" Tanyanya cemas.


Intan sedikit tersentak, dia bergegas memberikan susu pada Naura.


"Sa,,saya baik - baik saja." Jawab Intan sambil tersenyum.


"Permisi,," Pamitnya sopan. Intan bergegas pergi ke belakang.


Naura selalu bercerita kalau dia akan memiliki mama dan adik. Kini dia tau kenapa Vano tiba - tiba membatalkan pernikahan tanpa memberikan alasan yang sebenarnya.


...****...


Votenya merosot drastis. Kubu dion gak mau bagi vote kah.? 😁


Baru 300 yang vote, di tunggu 700 vote lagi🥰