
Insiden memalukan tadi pagi membuat Celina terus merenungi kesalahannya.
Berulang kali menyesali tindakannya yang terlalu gegabah tanpa mencari tau lebih dulu kebenarannya.
Rasa takut akan pengkhianatan memang membuat logika seseorang tertutup amarah dan cemburu.
Terlebih Celina tau masa lalu kelam suaminya yang dulu tak pernah lepas dari wanita malam.
Jika sudah seperti itu, lantas bagaimana Celina masih bisa berfikir positif saat melihat tingkah Vano yang mencurigakan dan melihat langsung mendatangi rumah wanita.
Bukan salah Celina kalau keributan tadi pagi terjadi. Tapi keadaan lah yang menciptakan kekacauan itu.
Celina beranjak dari ranjang ketika pintu kamar di buka.
Sudut bibirnya langsung terangkat begitu sosok yang ia rindukan sejak pagi muncul di balik pintu.
Meski telah berada di luar sejak pagi dan kembali larut malam, nyatanya penampilan serta ketampanan sang pujaan hati masih membuat hati meleleh.
Ketidak mampuan Celina saat ini adalah mendefinisikan kesempurnaan Vano dengan kata-kata.
Terlalu sempurna dimatanya sampai tidak bisa di jangkau dengan lisan.
Celina berjalan cepat menghampiri Vano, dia menghambur ke pelukan suaminya tanpa memperdulikan kondisi tubuh Vano yang telah terpapar udara luar seharian penuh.
Wanita hamil itu terlalu rindu pada suaminya. Entah sejak kapan perasaan cintanya pada Vano terasa semakin menggebu.
Semakin takut kehilangan dan tidak bisa jauh darinya.
"Kenapa lama sekali pulangnya.?" Protes Celina. Dia merengek dan semakin memeluk erat tubuh Vano.
"Kalau pulang cepat, besok harus ke sana lagi."
"Lebih baik aku selesaikan hari ini juga." Jawab Vano lembut.
Dia juga terpaksa pulang larut malam. Menyelesaikan pekerjaannya agar besok tidak perlu pergi ke Bandung lagi.
Sehari meninggalkan Celina keluar kota, sudah cukup membuat Vano tidak tenang.
Sekalipun banyak pekerja di rumah ini, tetap saja sebagai suami akan merasa cemas meninggalkan istri yang tengah hamil besar.
Apa lagi Celina pernah memiliki riwayat kandungan lemah sampai harus di rawat.
"Aku belum mandi sayang,," Vano melepaskan paksa pelukan Celina. Dia enggan menyebarkan kuman ke tubuh istri dan anak mereka.
"Ganti baju kamu, aku mau mandi dulu." Ujar Vano lagi.
Meski sempat kesal karna sesi melepas rindunya harus berakhir, tapi Celina menuruti perintah Vano.
Dia pergi mengganti baju setelah Vano masuk kedalam kamar mandi.
Celina tersenyum penuh arti begitu membuka lemari.
Dia menatap lingerie warna marah yang terlihat paling mencolok.
Lingerie yang Celina tau menjadi favorit Vano.
Jika tadi pagi gagal menjalankan tugas negaranya, malam ini dipastikan akan sukses karna Naura tidur di kamar sendiri dan tidak akan bangun tengah malam seperti ini.
Selesai mengganti baju dinas, Celina kembali ke ranjang. Dia berbaring dan membalut tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.
Vano tidak akan tau kalau Celina sudah menjelma menjadi sosok yang menggiurkan di balik selimut tebal itu.
"Apa Naura rewel tadi pagi.?" Suara serak Vano langsung mengalirkan gelayar di tubuh Celina.
Vano hanya bertanya tentang Naura, tapi sudah membuat tubuh Celina tidak karuan.
Entah dia ingin memenuhi kebutuhan Vano, atau sebenarnya dia sendiri yang menginginkan hal itu.
"Sayang,,!" Tegur Vano. Dia menggerakkan tangannya ke arah Celina yang diam membisu sambil menatap ke arahnya.
"Hah,,,?? Ti,,tidak, Naura tidak rewel."
Celina langsung gugup dan salah tingkah.
Vano mengukir senyum tipis. Dia melanjutkan mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Berjalan mendekati meja rias Celina dan berdiri di sana untuk bercermin.
Dada bidang dan perut roti sobeknya tercetak sempurna. Vano hanya berbalut celana pendek.
Pemandangan indah itu bisa dilihat oleh Celina dari pantulan cermin.
"Bagaimana keadaan Leo.? Apa anak itu sudah pulang.?"
Vano berbalik badan setelah meletakkan handuk kecil di tempatnya. Dia berjalan mendekati ranjang.
"Kenapa senyum - senyum.?" Dahi Vano mengkerut. Bingung melihat Celina senyum - senyum padanya.
"Apa sudah tidak kesal lagi pada Leo.?"
"Sekarang sudah sadar dan peduli.?" Cecar Celina.
"Memang seharusnya seperti itu, karna Leo hanya anak kecil yang tidak tau apapun."
"Jangan tiba-tiba membencinya hanya karna dia anak kak Dion." Ucapnya meledek.
Wajah Vano langsung berubah datar. Dia malah disadarkan oleh ucapan Celina.
Harusnya tidak peduli dengan keadaan Leo karna kesal padanya, tapi tiba-tiba ingin tau kondisinya.
Dia naik ke atas ranjang, berbaring di samping Celina kemudian mendekap perut besarnya.
"Jagoan kita sedang apa.?" Vano menatap perut Celina dengan mata berbinar.
Moodnya langsung membaik ketika sudah menyentuh perut besar Celina.
"Sudah berapa kali bergerak malam ini.?" Tanya Vano lagi. Dia menyusuri perut Celina dengan memberikan usapan lembut.
"Katanya akan semakin sering bergerak kalau sudah semakin besar."
"Malam ini tidak terlalu sering, mungkin karna sejak pagi tidak di sentuh daddynya." Sahut Celina asal.
Hari ini memang jarang merasakan pergerakan baby boy di dalam perut, tapi tidak tau alasan pastinya.
"Leo sudah pulang tadi siang, tapi Leo ingin sama Papanya. Jadi dia pulang ke apartemen kak Dion."
Celina tetap memberikan jawaban meski Vano meminta mengalihkan pembicaraan.
"Kak Keyla juga tidak pulang. Katanya akan menginap juga di sana karna Leo tidak mau di tinggal."
"Mantan suami istri tinggal bersama, apa,,,
Celina berhenti bicara karna Vano langsung menegurnya
"Kamu sedang hamil, jangan memikirkan hal - hal buruk." Ucapnya tak suka.
Celina langsung mencebikan bibir.
"Siapa yang memikirkan hal buruk.?!" Protesnya tak terima.
"Aku cuma mau bilang apa mereka tidak merasakan sakit karna teringat masa - masa indah saat masih bersama.!" Celina menaikan nada bicaranya.
Vano langsung tersenyum kikuk.
"Makanya kalau ada orang bicara jangan di potong sebelum selesai."
Celina mendelik kesal, di langsung membelakangi Vano. Seketika lupa dengan niatnya yang ingin menjalankan tugas negara.
Namun gerakan Celina saat berbalik badan, membuat selimutnya sedikit tersingkap hingga memperlihatkan bahu mulus Celina dengan hiasan tali spaghetti warna merah.
Kedua mata Vano seketika membuat sempurna.
Sesuatu di bawah sana mulai menerima reaksi.
"Maaf,," Ucap Vano dengan berbisik. Dia sengaja bicara di dekat telinga Celina untuk memancingnya.
Vano tidak tau kalau Celina sudah siap bertempur dengannya malam ini. Tapi dia sudah terlanjur membuat mood Celina buruk.
Kalau tidak memberikan rang sangan lebih dulu, pasti malam ini hanya akan di lewati dengan menatap punggung Celina.
"Aku tidak bermaksud menuduh mu berfikir buruk," Vano memeluk Celina dari belakang. Dia mengeratkan pelukannya karna tidak mendapat penolakan dari Celina.
"Hanya saja aku tidak mau kamu berfikir macam - macam,,"
"Daripada memikirkan mereka, lebih baik memikirkan ku saja." Kali ini Vano menempelkan wajahnya di ceruk leher Celina.
Celina langsung menggeliat geli. Mencoba menyingkirkan Vano agar menjauh tapi semakin erat memeluknya.
"Biarkan aku memelukmu. Aku rindu,,," Bisiknya lagi.
Nyatanya bukan hanya sekedar memeluk.
Vano mulai melancarkan keinginannya yang tiba-tiba muncul setelah melihat bahu mulus istrinya tanpa kain.
Apalagi dia tau kalau Celina sengaja memakai lingerie. Sudah pasti kalau Celina memang akan menjalankan kewajibannya.
"El Vano,,,!" Tegur Celina dengan desa han tertahan.
Celina melotot ketika Vano mere mas salah satu bukitnya di balik selimut.
"Katakan lagi, aku menyukainya,," Bisik Vano.
Dia semakin tidak bisa menahan diri.
Tangannya terus bergerak liar, memberikan rang sangan meski Celina berusaha menolak.
"Euhh,, El Vano berhenti,!" Tubuh Celina menggeliat kesana kemari. Gerakan tangan Vano di bawah sana membuat pertahanannya runtuh.
Dengan usaha yang tidak mudah, akhirnya Vano berhasil membuat malam ini penuh dengan desa han dan erangan, disertai keringat yang bercucuran.
Keduanya baru memejamkan mata pukul 2 malam.
...****...
"Bangun sayang,, Mama menyuruh kita pergi ke Singapura." Ujar Vano sembari menggoncang pelan bahu Celina.
"Hemm,, apa.?" Celina mulai membuka matanya. Dia tidak mendengar jelas apa yang diucapkan Vano.
"Kita harus ke Singapura sekarang."
Kali ini Celina benar-benar membuka matanya.
"Singapura.?" Ujarnya.
"Apa Papa sudah bisa di operasi.?"
Vano menggeleng tidak tau. Dia hanya mendapat telfon dari Mama mertuanya. Menyuruh dia dan Celina untuk datang kesana.