Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 71


Dan disinilah sepasang suami istri itu berada.


Di dalam kamar mandi yang sudah di kunci agar tidak mendapatkan gangguan.


Vano memaksa Celina agar mau melakukannya di kamar mandi setelah berhasil membangunkan Celina dengan cara mesum.


Baju yang semalam melekat si tubuh mereka, kini berserakan di lantai kamar mandi.


Vano mendudukkan Celina di wastafel, membuat tubuh polos itu tidak bisa diam karna diberikan rangsangan pada semua titik sensitifnya.


Bibir dan kedua tangan Vano bergerak kompak, menghadirkan sensasi menggelitik yang membuat tubuh Celina panas.


Meski awalnya sempat menolak karna takut Naura terbangun dan berteriak mencari keberadaannya. Celina akhirnya menuruti permintaan Vano karna tidak tega melihat rengekan suaminya itu.


"Sudah,," Celina menghentikan aksi Vano yang sedang lahap meng hi sap aset kembarnya.


Dia mendorong dada Vano agar menjauh.


"Jangan lama - lama, nanti Naura keburu bangun."


Tuturnya dengan raut wajah was was.


Kalau Naura bangun dan berteriak, maka Mama dan Papanya akan tau apa yang sedang dia lakukan bersama Vano.


"Ya ampun, kenapa jadi seperti sepasang kekasih yang sedang mesum dan takut ketahuan warga."


Keluh Vano kesal. Dia belum puas menikm*ti keindahan tubuh Celina, tapi diburu - buru untuk melakukan penyatuan.


"Tidak usah protes, dari pada sudah on seperti ini tapi akhirnya gagal karna Naura keburu bangun."


Ucapan Celina membuat Vano langsung tancap gas. Tentu saja dia tidak mau hal itu sampai terjadi.


Bisa - bisa akan membuatnya pusing seharian karna tidak bisa menuntaskan hasr*tnya.


"Mommy,,,!!"


Teriakan Naura membuat Vano bernafas lega, setidaknya dia sudah melakukan pelepasan meski pemanasannya kurang lama dari biasanya.


Ternyata teguran Celina sudah menyelamatkan dirinya dari frustasi menahan gair*h.


"Untung sudah selesai,," Gumam Vano dengan mengulum senyum tipis penuh kepuasan.


Celina langsung melirik kesal karna Vano sempat mendorong miliknya terlalu kencang.


"Mommy di kamar mandi sayang, sebentar.!" Sahut Celina berteriak.


Dia membersihkan diri lebih dulu, kemudian menyambar handuk kimono.


"Aku mandi dulu sebentar." Kata Vano sebelum Celina keluar dari kamar mandi.


Celina mengangguk, lalu bergegas keluar untuk menghampiri Naura.


Kegiatan panas mereka tidak bisa leluasa dan rileks setiap kali ada Naura dikamar mereka.


Mereka harus mencuri - curi waktu dan menggunakan tempat yang sebenarnya kurang nyaman untuk ibu hamil.


Tapi tidak ada pilihan lain dari pada harus bermain di ranjang dan pada akhirnya tertangkap basah oleh Naura karna ranjang yang bergoyang bisa membuat Naura terbangun.


...*****...


Seminggu berlalu.


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama sebelum besok berangkat ke Bali untuk liburan.


Vano yang melihat kedatangan Dion beserta Leo dan Keyla, hanya bisa melongo.


Dia tidak menyangka kalau Papa Adiguna juga akan mengajak Dion.


Meski tidak setuju, tapi Vano tidak bisa berbuat apapun. Jangankan tidak mengijinkan Dion ikut, untuk sekedar bertanya kenapa Dion di ajak pun, Vano tidak berani.


Karna pertanyaan itu pasti akan membuat semua orang bertanya - tanya.


"Ayo Leo,,," Naura menarik tangan Leo agar mengikutinya.


"Duduk disini." Pintanya sedikit memaksa. Tapi itu bagi Naura. Sedangkan bagi mereka yang melihat dan Leo yang merasakannya, Naura memang memaksa Leo, bukan sekedar sedikit memaksa.


Tangan Leo bahkan di tarik kencang oleh gadis kecil itu. Sedangkan Leo berusaha menahan dengan berdiri di tempat dan terjadilah tarik menarik tangan.


"Aku tidak mau." Tolak Leo datar.


Keributan keduanya sudah di perhatikan oleh semua orang sejak tadi, namun mereka memilih membiarkannya karna merasa gemas dengan tingkah mereka.


Berbeda dengan Vano yang memiliki respon lebih pada apa yang tengah di lakukan oleh putrinya.


Vano ingin menegur Naura agar tidak menarik tangan Leo, namun terpaksa duduk kembali karna Celina menahannya.


"Biarkan saja, mereka itu sangat lucu sayang,," Bisik Celina sambil menahan tawa karna sengaja menggoda Vano. Celina tau pemandangan itu sudah membuat suaminya kesal karna tidak menyukai Leo, lebih tepatnya karna membenci Dion.


Vano terlihat kaget mendengar bisikan dari istrinya.


Pertama kaget karna Celina malah mendukung aksi Naura, dan yang kedua kaget karna Celina memanggilnya dengan sebutan sayang.


Panggilan yang sebelumnya tidak pernah terucap dari bibir manis Celina.


"Kamu bilang apa tadi.?" Vano bertanya dengan berbisik. Celina langsung menatap dengan dahi berkerut. Dia baru ingat kalau dirinya baru saja memanggil Vano dengan panggilan manis.


"Apa.?" Celina pura - pura tidak tau.


"Aku hanya bilang mereka lucu, jadi biarkan saja."


Tuturnya datar.


"Bukan itu, tapi kata terakhir." Cecar Vano dengan raut wajahnya yang berbinar. Berharap Celina akan mengulangi ucapan itu.


"Lihat anak kita,," Celina langsung menunjuk Naura, mengalihkan pembicaraan agar Vano tidak lagi membahasnya.


"Astaga." Pekik Vano. Dia langsung beranjak dari duduknya untuk melerai Naura, seperti yang tengah di lakukan kedua mertuanya dan kedua orang tua Leo.


Naura terus menarik tangan Leo dan tidak mau melepaskannya.


"Naura, tidak boleh seperti itu." Tegur Vano.


"Tidak mau.!" Tolaknya dengan wajah yang cemberut.


"Sini sama Oma saja. Leo juga sama Oma,," Pada akhirnya Mama menggandeng dua bocah itu yang sudah dia anggap seperti cucu kandungnya sendiri.


"Nanti Oma belikan mainan untuk kalian, tapi harus janji tidak boleh ribut lagi."


Mama berbicara dengan tutur kata yang lembut. Juga menatap keduanya dengan penuh kasih sayang.


"Leo tidak ribut Oma, Naura yang,,,


"Aku hanya menyuruh kamu untuk duduk, bukan ribut." Sela Naura cepat.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa tepuk jidat. Naura si pemaksa dan tidak mau salah atau di salahkan.


Setelah terjadi kegaduhan yang dibuat oleh Naura, akhirnya mereka bisa makan malam dengan tenang.


Naura dan Leo duduk di samping Omanya.


Oma seperti menjadi pagar pembatas untuk kedua cucunya agar tidak terjadi keributan lagi.


...*****...


"Anakmu itu kenapa tidak bisa mengalahkan sama perempuan." Cibir Vano ketus.


Dion yang sedang duduk santai di halaman belakang, langsung menatap Vano dengan tatapan bingung.


Padahal jelas - jelas Naura selalu mencari gara - gara dengan putranya, tapi Vano malah menyalahkan Leo.


"Tapi putrimu yang terus mendekati putraku dan mencari masalah." Dion menanggapinya dengan datar dan tenang.


"Apa kau bilang.!" Geram Vano tak terima. Dia berjalan mendekat dan berdiri di depan Dion.


"Putriku tidak mendekati putramu.! Dia hanya ingin bermain dan berteman, putramu saja yang tidak bisa di ajak berteman."


"Terlalu dingin pada putriku.!"


Tutur Vano tak mau kalah. Dia terus memojokkan Dion untuk menunjukkan kalau disini Leo lah yang tidak bisa di ajak kompromi hingga selalu terjadi keributan di antara dua bocah itu.


Menurut Vano, kalau Leo mau mengikuti keinginan Naura, pasti tidak akan terjadi keributan.


...***...


"Bagaimana hubungan kalian.?" Celina bertanya dengan hati - hati.


Dia harap pertanyaannya tidak akan membuat Keyla tersinggung.


"Aku dan Dion.?" Tanya Keyla menegaskan.


Celina mengangguk cepat. Dia penasaran dengan hubungan mereka. Dan berharap keduanya bisa memulai hubungan dari awal demi Leo.


Keyla menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum tipis.


Senyum yang terlihat dipaksakan dengan gurat kesedihan.


"Hubungan kami layaknya orang tua pada umumnya. Fokus merawat dan membesarkan Leo bersama - sama." Jawabnya dengan senyum yang semakin lebar, namun ada nada kekecewaan dari ucapannya.


Keyla menengadahkan kepalanya, menatap gelapnya langit dari balkon.


Celina menatap lekat wajah Keyla. Dia pikir hubungan Keyla dan Dion sudah berada di tahap untuk kembali memulai hidup sebagai suami istri.


Padahal selama ini Celina bisa melihat kedekatan mereka cukup intens dan kompak dalam merawat Leo. Keduanya selalu pergi bersama untuk mengajak Leo bermain dan jalan - jalan.


"Maaf, apa kalian tidak bisa memulai hubungan baru agar bisa tinggal bersama untuk membesarkan Leo.?"


"Leo pasti akan bahagia melihat orang tuanya bersama."


Lagi - lagi Keyla hanya mengukir senyum.


"Aku sudah menghancurkan semuanya, memberikan luka dan kekecewaan yang sulit di hapuskan meski dia telah memaafkanku."


"Mungkin ini hukuman yang harus aku terima karna meninggalkannya disaat dia sedang membutuhkan aku di sampingnya."


"Aku meninggalkannya demi laki - laki yang tidak aku cintai karna uang." Keyla tersenyum getir.


Dia merasa menjijikkan saat itu.


"Uang yang aku harapkan bisa membuat Papa sembuh dari sakitnya dan membuatnya bertahan hidup. Tapi Papa tetap pergi untuk selama - lamanya."


Keyla mengusap air matanya yang baru saja menetes. Jelas sekali jika saat ini hatinya sangat hancur.


...******...


..."GIVE AWAY ke 5"...


Hadiah untuk 5 orang pemenang, masing - masing mendapatkan pulsa 20K.


Wajib ikuti syarat & ketentuan di bawah👇


Syarat & Ketentuan :



Yang mau ikut wajib follow akun noveltoon "Clarissa Icha dan akun Ratna Wullandarrie" (Tidak follow otomatis diskualifikasi kalau keluar nomor undiannya.)


Komen di bab ini (komen apa aja terserah)


Cukup komen 1 kali


Tiap komentar akan diberi nomor urut untuk di undi nanti.


Hanya komentar 250 orang pertama yang akan mendapatkan nomor undian.


pengumuman akhir bulan.


Yang sudah dapat di give away sebelumnya, tidak bisa ikut lagi. (Biar yang lain kebagian) ☺



Jangan di nilai dari hadiahnya, ☺ buat seru - seruan aja.