Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 74


Tidak ada yang lebih berharga dari keluarga.


Tidak ada harapan yang lebih besar dari kebahagiaan keluarga.


Hal terindah adalah senyum dan canda tawa mereka.


Di usianya yang semakin menua, Papa Adiguna merasakan banyak kebahagiaan dan cinta dari keluarga.


Dia juga bahagia karna kehadiran banyak anggota keluarga baru di hidupnya.


Pernikahan putrinya, membuat Papa Adiguna bertambah 2 anggota keluarga baru sekaligus.


Vano sebagai menantu, dan Naura sebagai cucu.


Hadirnya Leo juga menambah daftar cucu untuk Papa Adiguna meski tidak ada ikatan darah dengannya.


Namun baik Vano dan Dion, kedua laki - laki itu sudah di anggap sebagai anak oleh Papa Adiguna.


Itu sebabnya, beliau menganggap Naura dan Leo seperti cucu kandungnya sendiri. Enggan membedakan mereka.


"Sayang sekali aku tidak bisa melihat kebahagiaan mereka lebih lama." Gumam Papa Adiguna dengan wajah datar namun tatap mata yang dalam penuh arti.


Beliau memperhatikan keluarga putrinya dan keluarga Dion yang sedang asik bermain di tepi pantai.


Mama langsung menoleh. Menatap Papa Adiguna yang duduk bersender di sampingnya.


Ucapan Papa Adiguna menggoreskan kepedihan di hatinya. Mama belum siap untuk kehilangan dan ditinggalkan untuk selama - lamanya oleh suami tercinta.


Beliau masih berharap ada keajaiban yang bisa membuat suaminya hidup lebih lama lagi.


"Kenapa bicara seperti itu.?" Protes Mama tak suka.


"Dokter hanya manusia, memvonis hidup dan mati seseorang bukan berarti hal itu menjadi sebuah kepastian."


"Hidup dan mati adalah rahasia Tuhan. Kita tidak pernah tau kapan itu akan terjadi."


"Lalu kenapa harus pasrah dan putus asa seperti ini.?"


"Apa kamu tidak mau melihat cucu ketiga kita lahir.? Apa kamu tidak ingin melihat wajah cantikku keriput karna menua.?"


Mama melontarkan banyak pertanyaan yang akhirnya membuat Papa Adiguna mengulum senyum tipis.


Dibalik senyuman itu, ada kekhawatiran dalam hatinya dengan segala perasaan yang berkecamuk.


Tidak mudah untuk menerima kenyataan jika usianya tidak akan lama lagi.


Setiap hari terus di hantui ketakutan. Takut karna harus pergi selama - lamanya dari keluarga yang amat dia cintai.


Takut meninggalkan sang istri yang sudah lebih dari 20 tahun mengisi hatinya.


"Tentu saja aku ingin melihat cucuku lahir." Jawab Papa Adiguna. Tangannya lantas mengulur, menyentuh pipi sang istri dan mengusapnya lembut.


"Aku juga ingin menemanimu sampai wajah cantik ini keriput."


"Menua bersama dan melihat mereka selalu bahagia." Papa Adiguna kembali menatap keluarga tercintanya dengan mata berbinar.


"Tapi aku tidak bisa berbuat apapun kalau memang sudah di takdirkan untuk pergi." Tuturnya dengan suara berat.


Mama langsung memeluk Papa Adiguna. Mendekap erat tubuh besar suaminya, kemudian menangis dalam diam dengan segala ketakutan yang dia rasakan.


Tidak bisa dibayangkan, bagaimana hidupnya tanpa orang yang selama ini dia cintai.


"Bertahanlah, demi aku, demi Celina, demi mereka semua."


"Jangan buat mereka hancur karna kepergianmu."


Pinta Mama memohon.


...*****...


Celina dan Keyla tengah duduk di tepi pantai. Memperhatikan Vano dan Dion yang sedang bermain pasir dengan anak mereka.


Sebuah istana yang dibuat menggunakan pasir, membuat Naura dan Leo terlihat senang.


Keduanya terlihat akur kali ini. Naura tidak lagi memaksa Leo seperti biasanya.


Mereka sama - sama kompak mencetak pasir dengan mainan yang di belikan oleh Vano sebelum sampai di pantai.


"Perutmu sudah besar sekali." Kata Keyla sembari menatap perut Celina yang terlihat menonjol dengan balutan dress yang pas di tubuhnya.


Celina tersenyum, tangannya reflek mengusap perutnya.


"Dia sangat aktif setiap malam." Tuturnya dengan mata berbinar.


"Apa dulu Leo juga seperti itu.?" Tanyanya.


Keyla langsung mengangguk cepat.


"Iya, sangat aktif dan gerakannya kencang."


"Mungkin karna laki - laki, jadi tenaganya besar."


Keyla menjawab dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya.


"Aku tidak sabar untuk melihatnya,," Ujar Celina lagi.


"Bagaimana proses persalinan Leo, apa sakit.?"


"Aku dengar, melahirkan itu sangat sakit."


Wajah Celina langsung berubah cemas. Dia juga ketakutan membayangkan ketika nanti melahirkan dan harus mempertaruhkan nyawa demi baby boy.


Keyla terdiam. Matanya langsung menerawang jauh, mengingat proses persalinan Leo yang menyakitkan dan masih membekas di hatinya.


Hari dimana dia melihat suaminya membawa wanita lain masuk kedalam kamar mereka dan melakukan pergulatan panas di sana.


Saat ini juga, dia mengalami kontraksi dan harus dilarikan ke rumah sakit oleh asisten rumah tangga dan supir.


Keyla terpaksa harus menjalani proses persalinan secara caesar karna kondisinya lemah dan kehabisan air ketuban.


Disaat masa terberat dan sulitnya, Keyla harus menjalaninya seorang diri.


Suaminya sama sekali tidak peduli karna enggan menerima Leo sejak awal.


"Kak.?" Tegur Celina lirih. Dia menepuk pundak Keyla hingga tersentak kaget.


"Eh,, iya kenapa.?" Tanya Keyla bingung.


"Aku menunggu jawabannya, tapi malah melamun."


Keluh Celina.


"Pasti sangat sakit ya.?" Tanya Celina lagi.


Keyla langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak sesakit yang orang lain katakan." Ucap Keyla cepat.


"Aku harus menjalani operasi caesar karna kehabisan air ketuban."


"Jangan berfikir yang macam - macam, kamu harus rileks, jangan sampai stres saat menjelang melahirkan. Karna justru itu yang lebih menakutkan."


"Pikirkan hal - hal yang positif, pasti semuanya akan berjalan lancar."


Tutur Keyla penuh perhatian. Dia sudah menganggap Celina seperti adiknya sendiri, karna kedua orang tua Celina juga memperlakukan dia dan Leo dengan baik meskipun belum lama di pertemukan.


Suara wanita yang terdengar ceria, menarik perhatian Celina dan Keyla.


Mata Celina langsung menyipit, menatap dengan seksama seorang wanita cantik dengan baju terbuka yang tidak asing baginya.


Wanita itu tengah berdiri di samping Dion dan menatapnya lekat.


Berbeda dengan Celina yang sedang mengingat wanita itu, Keyla justru langsung menundukkan kepalanya. Dia sudah bisa menebak jika wanita itu adalah orang yang di telfon oleh Dion dan mereka sudah berencana untuk bertemu di sini.


"Tolong titip Leo sebentar." Pinta Dion pada Vano.


Wajah Vano langsung berubah ketus.


"Apa kau bilang.?" Tanya Vano tak terima.


"Kau pikir aku petugas penitipan anak.?" Serunya sinis.


Dion langsung berdecak kesal, lalu menarik tangan wanita itu dan pergi menghampiri Keyla.


"Keyla.!" Panggil Dion.


Keyla mengangkat wajahnya perlahan. Menatap Dion dan wanita itu bersamaan.


Dadanya seketika sesak, saat melihat Dion menggenggam tangan wanita lain.


"Kamu harus sadar diri Keyla.! Kau itu menjijikkan, mana mungkin Dion bisa menerimamu kembali. Jadi biarkan saja dia bahagia dengan pilihannya."


"Kak.?" Lagi - lagi Celina harus menepuk pundak Keyla.


"A,,ada apa.?" Tanya Keyla pada Dion.


"Aku akan pergi sebentar, tolong jaga Leo." Katanya datar.


Keyla hanya mengangguk. Setelah itu, Dion langsung beranjak pergi dari sana. Terus menggandeng wanita yang terlihat sangat terobsesi pada Dion dilihat dari sorot matanya yang tak pernah beralih sedikitpun pada duda tampan itu.


"Jadi itu alasannya.?" Tanya Celina dengan nada kekesalan.


"Kak Dion bukan tidak bisa menerima kak keyla lagi, tapi lebih memilih wanita seperti itu.!" Celina terlihat geram.


Dia langsung tidak menyukai wanita yang menghampiri Dion.


"Aku sering melihat wanita itu, tapi entah dimana.?" Gumam Celina sambil berusaha untuk mengingatnya.


"Kenapa kak Keyla diam saja.? Kenapa tidak berusaha untuk merebut cinta kak Dion lagi.?"


Cecar Celina.


Justru Celina yang geram sendiri melihat Dion dengan wanita lain.


"Aku sudah merenggut kebahagiaannya, jadi aku tidak akan pernah menghalangi sesuatu yang membuatnya bahagia."


"Termasuk jika dia akan menikah dengan wanita lain."


"Karna bentuk cinta yang sesungguhnya adalah melihatnya bahagia meski tidak bersama kita."


Keyla tersenyum tipis, dia beranjak dari duduknya.


"Ayo temani mereka." Ajak Keyla.


"Kakak duluan saja."


Keyla mengangguk dan bergegas menghampiri putranya yang masih asik bermain pasir.


"Bagaimana bisa kak Keyla memiliki pemikiran seperti itu." Gumam Celina sembari menggelengkan kepalanya.


"Rela melihat orang yang dia cintai hidup bahagia dengan wanita lain, sedangkan dia harus menderita seperti itu."


"Aku tidak akan membiarkan kak Dion jatuh ke tangan wanita manapun. Mereka harus bersatu lagi demi Leo."


"Aku yakin kak Dion masih sangat mencintai kak Keyla."


...****...


"Berapa hari kamu disini.?" Tanya wanita itu antusias.


Kini dia yang bergelayut di tangan kekar Dion, padahal Dion sudah melepaskan tangannya sejak tadi.


"1 minggu." Jawab Dion datar.


"Wah, kalau begitu kita punya banyak waktu untuk bersama."


"Kamu tidak ingin tinggal di villa yang sama denganku.?"


"Aku harus gigit jari saat teman - temanku bersama dengan kekasihnya."


Tuturnya dengan raut wajah sendu.


"Tidak bisa. Aku datang dengan anak dan keluargaku, jadi tidak mungkin tinggal denganmu."


"Lain kali saja kita liburan berdua."


Kata Dion. Dia mengajak namun terlihat tidak berniat sama sekali karna hanya bicara asal.


"Baiklah,,"


"Tapi sekarang kamu harus temani aku makan siang." Pintanya.


Dion hanya mengangguk saja.


...*******...


...PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY...


Selamat untuk 5 orang pemenang yang keluar no undian & sudah follow 2 akun noveltoon punya othor.


Masing - masing dapat pulsa 20k, silahkan kirim DM ke Instagram r.wulland. Kirim No HP + screenshot akun noveltoon / mangatoon masing².


Nama Pemenang :



Pipit Agustus


Erna Igun


Annida


Agus ajja


Juniver Shidy Toad