
Celina menghampiri Vano yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kak Keyla bilang ada seseorang yang mencarimu."
"Aku menyuruhnya untuk menunggu."
Vano menghentikan langkah. Dalam keadaan bertelanjang dada dan mengeringkan rambutnya dengan handuk, laki - laki itu terlihat seksi di mata istrinya.
Celina bahkan mengulum senyum tanpa sadar.
"Siapa.?" Tanya Vano. Nada bicara sudah terdengar lebih bersahabat, tidak lagi terdengar ketus seperti tadi.
Celina mengangkat kedua bahunya.
"Tidak tau, katanya laki - laki. Aku belum turun ke bawah."
"Hemm,,," Vano hanya berdehem, kemudian kembali melangkah ke walk in closet. Celina membuntutinya di belakang.
Celina membuka lemari, memilihkan baju untuk di pakai Vano.
"Jangan marah, aku janji tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi." Kata Celina sembari menyodorkan satu setel pakaian pada Vano.
Vano mengulas senyum tipis. Setelah mengambil baju dari tangan Celina, dia mengusap lembut kepala istrinya itu.
"Kamu boleh meminta apapun, asal tidak menyuruhku untuk memanjat pohon."
"Aku bahkan lupa kapan terakhir kali memanjat pohon, untung saja aku masih hidup setelah jatuh dari pohon mangga itu." Terang Vano.
Dia masih sedikit kesal lantaran jatuh dari pohon. Itu pertama kali dalam hidupnya jatuh dari pohon yang lumayan tinggi. Rasa sakitnya bahkan belum hilang di bagian punggung dan lengan sebelah kanan karna bagian itu lebih dulu membentur tanah.
"Jangan bilang seperti itu.!" Tegur Celina tak suka.
Dia merasa takut saat Vano membahas tentang usia.
"Cepat pakai bajunya dan turun ke bawah. Orang itu sudah terlalu lama menunggu."
...****...
Vano dan Celina sudah keluar dari kamar, keduanya beranjak ke ruang tamu.
Vano berdecak kesal melihat asistennya sedang duduk santai dan bersender di sofa.
1 cangkir teh juga sudah tersaji di sana beserta cemilannya yang memang selalu ada di atas meja mewah itu.
"Ngapain lu kesini.?" Ketus Vano.
"Gue nyuruh lu buat lembur, ini baru jam setengah 5." Ujarnya sambil menatap arloji di pergelangan tangan.
Celina menatap tak suka pada sikap Vano yang terbilang ketus pada asisten pribadinya.
Meskipun Vano yang memiliki kuasa, tapi Celina sangat menyayangkan sikap buruk suaminya pada orang yang ikut andil dan berjasa dalam mengembangkan perusahaannya.
Sekalipun hubungan keduanya sudah seperti keluarga atau sahabat, tetap saja sikap Vano tidak bisa dibenarkan.
"Sayang, jangan seperti itu." Tegur Celina lirih.
Dia tidak mau suaminya terlalu merasa bahwa dirinya berkuasa dan bebas berbicara dan melakukan apapun para karyawannya.
"Bicara dan bersikap yang baik sekalipun pada bawahan." Celina berbisik.
Vano terlihat menarik nafas, lalu duduk di hadapan Arkan yang sejak tadi terlihat tidak sabar untuk menjawab pertanyaan Vano.
"Lu nyuruh gue lembur, tapi lu sendiri yang bikin gue dateng kesini." Arkan mulai bersuara.
Dia menyodorkan map hitam yang berisi dokumen penting. Dokumen yang seharusnya di tanda tangani oleh Vano hari itu juga karna akan dibawa keluar kota.
"Nih.! Dokumen yang harusnya malam ini bawa ke luar kota, belum lu tanda tangani." Nada bicara Arkan sedikit meninggi.
"Mana gue tau.! Lagian kenapa nggak bilang dari awal kalau dibalik tumpukan dokumen itu ada yang akan dibawa keluar kota."
Vano tak mau kalah, dia kembali bicara dengan nada tinggi setelah mendengar nada bicara Arkan meninggi.
Awalnya Vano ingin bicara santai karna baru saja mendapat teguran dan nasehat dari Celina, tapi emosinya mudah tersulut.
"Astaga,, kenapa malah saling menyalahkan.?"
"Tanda tangani saja sayang, biar semua beres."
"Kalau terus berdebat seperti ini, dijamin dokumen itu tidak bisa dibawa sore ini juga."
Celina terpaksa turun tangan untuk mengakhiri perdebatan yang sepertinya tidak akan ada habisnya.
Dia baru mengerti, rupanya bukan hanya Vano sana yang bersikap buruk, asisten Vano pun sama saja.
"Berikan padaku.!" Vano mengambil dokumen itu dan langsung menandatanganinya.
"Selesai.!" Ujar Vano begitu selesai menandatangani beberapa lembar kertas di dalam map itu.
"Udah sana pulang.!" Usirnya.
Map itu kembali di sodorkan pada Arkan.
"Wah gila lu yah.!".Cibir Arkan tak habis pikir. Vano tidak pernah berubah, selalu menyebalkan sejak dulu.
" Paling nggak, biarin gue santai sejenak. Lu pikir gue nggak cape dateng jauh - jauh kemari." Arkan melengos kesal, dia menyambar cangkir dan meminum teh miliknya dengan santai.
"Sudah sayang,," Tegur Celina. Dia menutup mulut Vano yang tadi hampir membalas ucapan Arkan.
"Minum dulu saja kak, habiskan tehnya." Ujarnya pada Arkan.
Merasa mendapat pembelaan dari istri Vano, Arkan langsung bersorak senang dalam hati. Kapan lagi dia bisa melihat Vano yang tidak bisa berkutik karna istrinya.
"Celina tolong...!!!" Suara teriakan Keyla yang Panik terdengar menggema di ruang tamu yang luas.
Tak lama, disusul dengan suara tangisan Naura yang pecah.
Vano dan Celina reflek berdiri dan melihat ke sumber suara karna panik. Keduanya sudah berfikir macam - macam, mengira kalau terlah terjadi sesuatu pada Naura.
Namun kenyataannya keliru. Naura baik - baik saja dalam gendongan Ida.
Sedangkan Keyla dengan wajah paniknya, menggendong Leo yang tampak tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang basah.
"Ya ampun kak.! Leo kenapa.?" Celina mendekat, dia juga ikut panik melihat keadaan Leo.
"Tenggelam di kolam renang, tolong antar aku ke rumah sakit." Seru Keyla tercekat. Air matanya sudah menggenang. Perasaannya hancur melihat Leo tidak sadarkan diri lantaran tenggelam di kolam renang saat berusaha mengambilkan mainan milik Naura yang masuk kedalam kolam renang.
"Arkan.!! Cepetan lu anterin Keyla. Gue nyusul ntar.!".Titah Vano tegas.
Suasana di ruang tamu sangat tegang karna semua orang dibuat panik.
Meski bingung karna belum bisa membaca situasi yang ada, namun Arkan tetap menjalankan perintah Vano. Dia beranjak dari duduknya, dengan sigap mengambil Leo dari gendongan Keyla.
"Ayo ke rumah sakit sekarang.!" Seru Arkan. Dia berjalan cepat mendahului Keyla.
"Aku akan menyusul kak.!" Teriak Celina.
Dalam keadaan panik, Keyla tentu saja tidak mendengar ucapan Celina karna fokusnya hanya pada Leo.
"Sayang, tenangkan Naura dulu. Suruh Ida mengambilkan baju ganti Leo."
"Aku akan mengambil kunci mobil dan dompet."
Vano bergegas pergi ke lantai dua untuk mengambil kunci dan dompet miliknya di dalam kamar.
Sesuai arahan Vano, Celina langsung mengurus Naura lebih dulu. Menangkan putri sambungnya yang terlihat syok berat.
"Mba Ida, cepat ambilkan baju Leo."
Ida langsung pergi ke kamar Keyla dan mengambil beberapa setel baju milik Leo secara acak karna terlalu panik.
"Buka pintunya, kamu masuk dulu." Seru Arkan.
Keyla membuka pintu mobil milik Arkan. Dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi, Keyla masuk kedalam mobil. Setelah itu, Arkan memasukan Leo dan membaringkannya di pangkuan Keyla.
Arkan masuk kedalam mobil, melajukan mobilnya dan bergegas ke rumah sakit.
Suara tangisan Keyla mulai pecah. Dia terus menyebut nama Leo dan memintanya untuk bangun.
Arkan melihat kekacauan di jok belakang dari kaca spion. Dia langsung menatap iba pada Keyla yang terus menangis.
"Tenanglah, semuanya akan baik - baik saja."
"Berhenti menangis karna aku tidak bisa konsentrasi menyetir. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kita."
Peringatan Arkan membuat Keyla langsung menghilangkan suara tangisnya. Namun tidak bisa menahan air matanya untuk tidak tumpah.
Sepanjang perjalanan, Keyla terus mengeluarkan air mata. Lain halnya dengan Arkan yang merasakan dadanya sesak karna dihadapkan dengan situasi menyedihkan itu.
Meski ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya tentang siapa sosok Keyla dan siapa anak kecil yang terus ditangisi oleh Keyla.
...****...
...Sekilas Info...
Minta Votenya boleh.? 😚
Kalau tembus 1000 vote, othor usahakan lanjut ceritanya.
2 minggu ke depan bakalan sibuk. Kalau banyak yang mau lanjut, nanti di usahain lanjut walaupun nggak bisa up tiap hari kaya biasanya.