
"Oh God,, bagaimana bisa aku membiarkan putriku menjadi menantu si brengsek itu.!"
Vano mengumpat dalam hati setelah berdoa agar Naura dan Leo tidak berjodoh.
Dia tidak bisa membayangkan jika putrinya dan putra Dion menikah. Pasti sumur hidupnya akan terus berurusan dengan Dion karna mereka menjadi keluarga.
Vano berdecak pelan.
Jangankan untuk menjadi keluarga, melihatnya saja sudah membuatnya kesal hingga ingin menendangnya pergi agar jauh - jauh dari Celina.
Cemburu membuat seorang El Vano tidak bisa bersikap tenang setiap kali melihat Dion.
Rasa - rasanya ingin menghilangkan Dion dari kehidupan dia dan Celina. Tapi sayangnya Papa Adiguna sangat mempercayakan Dion sampai memberikan beberapa sahamnya Pada Dion dan menyuruh Dion untuk ikut mengelola perusahaan jika nantinya Papa Adiguna sudah tiada.
"Papa, Leo mau pulang,"
Tiba - tiba Leo menghampiri Dion dan merengek meminta pulang. Wajahnya terlihat kesal, sekilas melirik Naura yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa sayang.?" Tanya Dion bingung.
Entah apa yang membuat wajah Leo berubah masam dan merengek untuk pulang.
"Leo penakut.!" Teriak Naura dengan wajah cemberut. Dia berkacak pinggang sambil melengos ke arah Vano dan menempel padanya.
"Kalian kenapa.?" Mama terlihat kebingungan menatap dua bocah yang sudah beberapa kali bertengkar kecil, tapi setelah itu akan bermain bersama. Begitu seterusnya sampai membuat Mama dam Papa Adiguna terheran-heran.
Vano yang baru beberapa saat bergabung, hanya bisa tersenyum kikuk melihat tingkah putrinya.
"Leo tidak mau berenang Oma,,," Seru Naura mengadu.
"katanya takut tenggelam, padahal kolam renangnya tidak dalam," Tuturnya kesal.
Asisten rumah tangga yang tadi di minta untuk mengawasi Naura dan Leo, kini datang ke ruang tamu.
"Itu Nyonya, Non Naura memaksa Den Leo untuk masuk ke kolam renang."
"Den Leo jadi ketakutan karna Non Naura ingin menceburkannya ke kolam."
Tuturnya menjelaskan.
Kedua bocah kecil itu berlari ke halaman belakang. Naura yang memang suka berenang, langsung antusias menarik tangan Leo untuk menceburkan diri kedalam kolam renang yang dangkal.
Leo tiba - tiba ketakutan saat melihat kolam renang, dia langsung menarik tangannya dari gandengan Naura dan bergegas lari.
Penjelasan ART itu membuat semua orang melongo. Mereka saling pandang karna bingung.
Disisi lain bingung pada sikap Naura yang terlihat sangat agresif dan lebih dominan.
Sudah beberapa kali Leo dibuat kesal oleh Naura.
"Leo trauma dengan kolam renang, 1 tahun yang lalu pernah tenggelam." Ucap Dion.
Dion bahkan baru tau 1 minggu yang lalu saat membawa Leo dan Keyla berlibur. Saat itu Dion mengajak Leo untuk berenang, tapi Keyla langsung memberitahunya kalau Leo mengalami trauma.
Dia takut setiap kali melihat kolam renang.
"Ya ampun,," Pekik Mama kaget. Dia merasa sedih mendengar pengalaman buruk Leo.
"Mama minta maaf Dion, Naura tidak tau hal itu."
Ucapnya.
"Tidak apa Mah,," Balas Dion sopan.
"Ya sudah, sebaiknya kamu bawa pulang Leo agar tenang." Kata Papa.
Dion mengangguk patuh.
"Jangan lupa bawa berkasnya,," Papa mendorong map hitam yanga ada di atas meja, ke depan Dion.
"Iya Pah,," Katanya sambil mengambil map itu.
"Terimakasih Pah, Mah, kami pulang dulu." Dia membungkuk sopan setelah berdiri dari duduknya.
"Hemm,, hati - hati di jalan." Ucap Papa.
"Salam untuk Keyla. Lain kali ajak main ke rumah,," Ujar Mama dengan senyum tulus.
"Saya akan mengajaknya lain kali." Jawab Dion. Bibirnya mengulas senyum tipis.
"Permisi,," Ucapnya pada Vano.
Vano hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih sibuk memangku Naura agar tidak berulah lagi.
Karna sejak tadi terus memelototi Leo di saat mertuanya dan Dion sedang mengobrol.
"Naura, Daddy tidak suka kamu seperti itu pada Leo." Vano langsung menegur Naura begitu Dion keluar. Putrinya itu langsung menunduk takut.
"Lain kali jangan memaksanya."
"Bukankah Daddy sudah sering bilang, Naura harus jadi anak yang baik."
"Tidak boleh memaksa seperti tadi,,"
"Naura mengerti.?" Tanya Vano lembut.
"Iya Daddy, Naura minta maaf." Ucap Naura lirih.
"Sudah Van, Naura kan tidak tau kalau Leo takut dengan kolam renang." Sela Papa Adiguna. Dia justru tidak tega melihat Naura menunduk ketakutan.
"Sini sama Opa,," Papa mengulurkan tangan, Naura langsung turun dari pangkuan Vano dan berpindah ke Papa Adiguna.
"Sudah sampai di rumah, kenapa tidak membangunkan ku.?" Protes Celina.
Dia datang dengan wajah bantalnya. Rambut panjangnya hanya di rapikan dengan tangan.
Dia langsung duduk di sebelah Papa Adiguna.
"Aku sudah membangunkanmu, kamu saja yang terlalu pulas." Jawab Vano. Celina hanya melirik datar.
"Anak Mommy,,," Celina langsung memeluk Naura yang berada di pangkuan Papa Adiguna.
"Naura kangen Mommy," Naura jadi berpindah ke pangkuan Celina. Mengalungkan kedua tangannya erat.
"Pelan - pelan Naura,," Tegur Vano lembut. Gerakan Naura yang langsung berpindah ke pangkuan Celina, cukup mengerikan karna kakinya hampir mengenai perut Celina.
"Tidak apa." Celina justru terlihat cuek karna tidak merasa membahayakan perutnya.
"Bagaimana liburan kalian.?" Tanya Mama antusias.
Seperti Papa Adiguna yang mengharapkan hubungan Celina dan Vano semakin erat, Mama pun mengharapkan hal yang sama.
Dia berharap putri dan menantunya bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia,
"Biasa saja." Sahut Celina cepat.
"Sepertinya lebih seru kalau kita pergi bersama."
"Bukankah Papa dan Mama sudah punya banyak waktu luang.?"
"Bagaimana kalau kita liburan bersama.?" Usul Celina.
Sudah lama dia tidak pergi berlibur bersama mereka. Jangankan berlibur, bercengkrama seperti ini saja baru bisa di lakukan setelah menikah dengan Vano.
Tiba - tiba kedua orang tuanya lebih sering berada di rumah.
"Rencana yang bagus, Papa setuju." Jawab Papa. Senyum di wajahnya mengembangkan sempurna. Celina menatap lekat wajah Papanya yang tengah tersenyum, hatinya tiba - tiba merasa risau.
Senyumnya terlihat sangat berbeda meski memancarkan kebahagiaan.
...****...
"Naura mau tidur sama Mommy dan Daddy."
Seru Naura saat Oma nya mengajak Naura untuk tidur.
"Memangnya tidak mau tidur dengan Oma.?" Bujuk Mama. Naura langsung menggelengkan kepala.
Sepertinya dia sangat merindukan Mommy dan Daddynya setelah 1 minggu di tinggal.
"Tidak apa Mah, biar Naura tidur di kamarku."
"Mungkin dia rindu Mommy dan Daddynya."
Celina beranjak dari duduknya, menghampiri Naura yang masih berada dalam gendongan Mama.
"Ayo sama Mommy." Celina mengulurkan kedua tangan, bermaksud untuk menggendong Naura.
"Kamu sedang hamil, biar aku saja yang menggendong Naura." Kata Vano sambil menghampiri Mama mertuanya.
Mereka pamit pergi ke kamar.
"Yeayy,, tidur sama Mommy."
Naura langsung antusias begitu masuk ke dalam kamar Celina.
"Semoga saja Naura tidak keterusan minta tidur bersama kita." Ucap Vano lirih.
Celina yang berjalan di samping Vano, langsung melirik bingung.
"Aku tidak bisa memanjakanmu kalau Naura terus tidur bersama kita." Vano berbisik. Dia seolah mengerti dengan tatapan mata Celina yang tidak tidak paham.
"Kau ini.!" Pekik Celina sembari mencubit pinggang Vano.
"Apa tidak terbalik.?" Ucapnya menyindir.
Vano hanya terkekeh kecil. Dia berjalan begitu saja ke kamar mandi. Sementara Naura di bawa ke ranjang oleh Celina.
"Ok, sekarang kita tidur." Kata Celina setelah membaringkan Naura tepat di tengah - tengah kasur.
Dia ikut berbaring di sisi kanan Naura dan menyisakan ruang kosong untuk Vano di sisi kiri.
"Naura mau dengerin dongeng, Mommy,," Pintanya dengan wajah yang mendongak menatap Celina.
Naura tidur menyamping sambil memeluk Mommynya.
"Dongeng.?" Celina mengulangi perkataan Naura. Dia sedikit syok mendengar Naura meminta dirinya untuk mendongeng.
Seumur - umur tidak pernah mendongeng.
"Eum,, Mommy,,," Celina tersenyum kikuk, dia tidak tau harus bagaimana mengatakan pada Naura kalau dia tidak bisa mendongeng.
"Biar Daddy saja yang mendongeng." Kata Vano sembari naik ke atas ranjang.
Naura langsung antusias, dia berbalik ke arah Vano sambil berteriak senang.
Celina langsung terdiam, dia sedikit ragu kalau Vano bisa melakukannya.
"Aku sudah biasa membacakan dongeng untuk Naura." Tutur Vano.
Celina tersenyum tipis.
Dibalik sikap Vano yang dulu sangat angkuh dan dingin, ternyata ada banyak kelebihan yang dia miliki. Kelebihan yang hanya di perlihatkan di depan orang - orang yang dia cintai.
Vano bisa dibilang sebagai ayah dan suami yang baik. Celina mengakui itu.
Suami tampannya pasti melewati banyak kesulitan saat masih menjadi single parent.
Harus merangkap menjadi ayah sekaligus ibu untuk Naura.
Celina ikut mendengar Vano yang sedang mendongeng, tanpa sadar ikut hanyut, terbawa suara Vano yang terdengar sangat menenangkan.
Perlahan kedua matanya menutup sempurna, menyusul Naura yang lebih dulu tertidur.
Vano mengulum senyum melihat kedua wanita cantik di hadapannya tengah terlelap setelah mendengar dongeng darinya.
"Tidak ada yang lebih berharga dari kalian." Ucapnya.