Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 75


Vano menggendong Naura yang tertidur setelah makan siang di restoran.


Celina mengikuti langkah suaminya menuju kamar.


Sementara itu, Papa Adiguna dan Mama langsung ke halaman belakang villa.


Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan berdua. Serta menghabiskan waktu bersama.


Keyla juga membawa Leo ke kamar untuk istirahat.


Sejak Dion pergi bersama wanita yang datang ke pantai, Dion tidak lagi muncul di hadapannya sampai detik ini.


Bagaimana dengan Keyla.? Bersikap biasa saja dan tidak memperdulikannya.?


Tentu saja tidak bisa.


Karna sejak Dion menggandeng tangan wanita itu tepat di depan matanya dan pergi begitu saja, pikiran Keyla terus tertuju pada Dion yang entah dimana saat ini.


Sejak memutuskan untuk meninggalkan Dion, hingga detik ini perasaannya masih sama seperti dulu.


Cintanya pada Dion tak pernah pudar, namun cinta itu yang sekarang membuat dirinya tersiksa karna harus menerima kenyataan bahwa Dion tak akan mungkin kembali padanya.


"Sayang,,," Rengek Celina sembari mendekap lengan besar Vano.


Dia menarik Vano untuk menjauh dari ranjang agar tidak menganggu tidur Naura


"Pasti ada maunya kan.?" Tanya Vano penuh selidik. Dia mencurigai sikap aneh istrinya.


Jika sudah menunjukan sikap manja dan suara lembut seperti itu, sudah dipastikan ada hal yang di inginkan oleh istrinya.


"Ya ampun, kamu itu.!" Celina mencubit pelan dada bidang Vano sambil mencebikan bibirnya.


Memang benar dugaan Vano, tapi suaminya itu langsung to the point tanpa basa basi lebih dulu.


"Kenapa tidak ada romantis romantisnya.?"


Protes Celina. Dia langsung melepaskan lengan Vano dan duduk di sofa.


Vano hanya menahan senyum, kemudian mengikuti Celina dengan duduk di sampingnya.


"Karna aku ini El Vano, bukan air mineral." Sahut Vano.


Celina menoleh dengan mata membulat sempurna.


"Romantis El Vano.! Bukan Ada manis manisnya.!"


Seru Celina tepat di telinga Vano.


Saat di ajak bicara serius, Vano justru menanggapinya dengan candaan.


"Oh, berarti aku salah.?" Tanya Vano dengan santainya.


Wajah cemberut Celina justru jadi hiburan tersendiri untuknya. Gemas - gemas memabukkan di matanya.


"Dasar menyebalkan.!"


Celina mencibir sembari beranjak dari duduknya.


Kalau terus menanggapi Vano, bisa - bisa dia akan melahirkan dini.


"Mau kemana sayang.?" Vano menahan tangan Celina. Dia mengedipkan sebelah matanya, yang langsung membuat Celina melongo dengan tingkah konyol Vano.


"Lepas.!" Pinta Celina.


"Bisa - bisa aku kontraksi kalau meladeni ulahmu."


Tuturnya kesal.


"Kamu itu sensi sekali. Tidak bisa di ajak bercanda."


Vano terkekeh kecil.


"Sini duduk, ada apa hemm.?"


Tarikan tangan Vano membuat Celina jatuh ke pangkuannya.


Raut wajah Vano kini berubah serius, juga memberikan tatapan teduh yang siap mendengarkan keluh kesah istrinya.


Celina mengulum senyum. Dia tidak mau menyia nyiakan kesempatan untuk meminta bantuan dari Vano.


"Kenapa kamu terlihat semakin tampan,," Puji Celina sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Vano.


"Apa kamu ingin membeli sebuah pulau sampai harus merayuku seperti ini.?" Tanya Vano menggoda.


Karna tidak biasanya Celina akan memuji dirinya seperti itu, apalagi sampai bergelayut manja padanya.


"Tidak sayang, aku bukan ingin menghambur hamburkan uangmu." Celina menjawab dengan senyum penuh arti.


"Tapi aku ingin kamu membantuku untuk menyatukan kak Dion dan kak Keyla." Ujarnya dengan tatapan memohon.


Vano langsung menggeleng cepat. Melihat Dion saja sudah membuatnya kesal, apalagi kalau sampai harus mengurusi masalah pribadinya.


"Aku bukan biro jodoh atau penghulu.!" Tolak Vano kesal.


"Ya ampun, kenapa suamiku ini sangat pendendam." Celina menangkup gemas kedua pipi Vano, kemudian mengecup singkat bibirnya.


Vano hanya bisa melongo karna mendapat perlakuan manis dari istrinya.


"Bukankah kamu cemburu pada kak Dion karna dia hampir menikah denganku.?"


"Aku juga kasihan pada Leo yang ikut jadi sasaran kekesalan kamu hanya karna Leo anak kak Dion."


Vano yang awalnya serius menyimak penjelasan Celina, kini mulai mengukir senyum di bibirnya.


Dia tidak berfikir sejauh itu dengan membuat Dion menikah agar tidak lagi memiliki perasaan pada Celina.


"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan.?"


"Apa aku harus menjebak mereka di dalam satu ruangan dan mencampurkan obat dalam minuman Dion.?" Tanya Vano dengan antusias.


Celina membelalakan matanya. Dia syok mendengar rencana gila yang akan dibuat oleh Vano.


"Astaga,, aku pernah membaca cara licik seperti ini di novel - novel." Kata Celina dengan gelengan kepala.


"Tidak semudah itu untuk menyatukan mereka setelah apa yang terjadi."


"Aku ingin semuanya berjalan natural untuk membuat kak Dion kembali mencintai kak Keyla."


"Bagaimana kalau mempekerjakan kak Keyla sebagai sekretaris kak Dion.?"


Usul Celina. Dia yakin cara itu akan membangun kedekatan Dion dan Keyla dari nol sampai akhirnya akan tumbuh cinta di hati Dion.


"Apa kamu bercanda.? Lalu bagaimana dengan bocah itu.?"


"Siapa yang akan menjaganya kalau Kedua orang tuanya bekerja. Aku rasa, Dion juga tidak akan mengijinkan Keyla untuk bekerja."


Apa yang dikatakan Vano memang cukup beralasan.


Rasanya tidak akan mungkin Dion membiarkan Keyla bekerja dan meninggalkan Leo sekalipun ada pengasuh.


Apalagi, Dion sudah menjamin kebutuhan Keyla dan Leo setiap bulannya.


"Jangan khawatirkan soal itu, aku sudah punya rencana untuk membuat kak Keyla di ijinkan bekerja oleh kak Dion."


"Dan untuk Leo, dia bisa tinggal di rumah ini bersama kak Keyla."


"Aku yakin jika Leo tinggal di rumah ini, kak Dion bisa mengijinkan kak Keyla bekerja."


"Mama dan Papa juga pasti akan senang jika Leo tinggal bersama kita."


"Apa lagi,,,,"


Celina sengaja menggantungkan ucapannya. Dia menahan senyum penuh arti.


"Apa.?" Tanya Vano penasaran.


"Apa lagi putri kita, dia pasti akan senang bisa melihat Leo setiap hari." Ujar Celina sambil terkekeh kecil. Dia langsung turun dari pangkuan Vano sebelum mendapatkan amukan. Karna Vano tidak pernah suka jika Naura dekat dengan Leo.


"Sial.!" Umpat Vano frustasi. Dia hanya bisa menerima keadaan jika nantinya harus melihat kedekatan Naura dan Leo di rumah ini.


...*****...


Keyla mengecup kening Leo setelah putra tampannya itu terlelap.


Sudut bibirnya terangkat. Memandangi wajah Leo yang sangat mirip dengan Dion.


Lalu bagaimana bisa rasa cintanya pada Dion pudar sedangkan selama ini hidup bersama bayang - bayang Dion.


"Apa kita harus menjauh.? Setidaknya tinggal di kota terpisah dengan Papa mu." Gumam Keyla lirih.


Semakin hari hanya sakit yang dia rasakan karna berdekatan dengan orang yang sangat dia cintai tapi tidak bisa menggapainya.


Semua itu hanya menyiksa perasaannya.


"Maafkan Mama, kamu pasti kesulitan untuk memahami apa yang terjadi." Suara Keyla tercekat. Rasa sesak tiba - tiba bersarang dalam hatinya. Membuat mata indahnya berkabut dan siap untuk menumpahkan buliran bening.


"Apa kamu akan marah jika Mama kembali membawamu pergi jauh dari Papamu.?"


Keyla menangis. Dia tidak mampu lagi menahan air matanya.


Sakit di dadanya begitu menusuk.


Dia merasa sudah mengambil keputusan yang salah karna muncul di hadapan Dion setelah apa yang terjadi.


Keyla beranjak dari ranjang. Dia tidak mau mengganggu tidur Leo dengan suara isak tangisnya.


Setelah mencuci muka, Keyla keluar dari kamar untuk mencari udara segar agar dadanya tidak lagi merasa sesak.


"Dimana Leo.?" Suara berat itu membuat langkah Keyla terhenti.


Dia mengurungkan niat saat akan menuruni tangga.


Suara Dion berasal dari arah kamar yang di tempati oleh laki - laki itu.


"Sedang tidur di kamar." Jawabnya singkat.


Keyla menjawab tanpa menengok ke belakang.


Mulai detik ini, dia ingin membiasakan diri untuk tidak terlalu sering melihat Dion.


Keyla berharap rasa cintanya pada Dion akan pudar seiring berjalannya waktu.


Terlebih saat ini sudah ada wanita yang berhasil memiliki hati Dion.


Keyla sadar diri, dia hanya masa lalu bagi Dion dan tidak berarti apapun setelah luka yang dia torehkan pada laki - laki baik itu.


Keyla berlalu dari sana, berjalan cepat menuruni tangga untuk menghindari Dion agar tidak terlalu lama berkomunikasi dengannya.