
Celina berjalan cepat menuju ruang kerja sang Papa. Perut besarnya semakin terlihat menonjol di usia kehamilan yang akan menginjak bulan ke 6.
Seisi rumah dibuat heboh karna salah satu pekerja rumah mendapati Papa Adiguna tergeletak di lantai.
Suara riuh itu yang akhirnya membuat Celina keluar dari kamarnya dan bergegas turun.
"Ada apa ini.? Papa kenapa.?"
Dengan raut wajah cemas bercampur bingung, Celina bertanya pada semua orang yang ada di sana. Termasuk Mama yang tengah menangis di samping Papa Adiguna.
"Papa pingsan sayang,," Isak Mama tersedu. Dia terus menggosok telapak tangan suaminya, berharap akan segera membuka mata.
"Kita harus membawa Papa ke rumah sakit Mah." Seru Celina. Dia juga mulai meneteskan air matanya karna sedih bercampur takut melihat kondisi sang Papa yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat.
Belum sempat di jawab, tiga pekerja laki - laki masuk kedalam.
"Cepat bawa ke mobil,," Seru Mama pada mereka.
Ketiga pekerja itu bergegas mengangkat Papa Adiguna.
Celina baru sadar kalau yang berada di ruang kerja itu adalah para pekerja perempuan yang tidak akan mungkin bisa untuk mengangkat Papa Adiguna.
"Celina ikut Mah,," Celina membuntuti sang Mama dari belakang.
"Tidak sayang, ini urgent. Sebaiknya kamu hubungi Vano, suruh dia pulang dan kamu bisa pergi ke rumah sakit dengan Vano." Ujar Mama dengan tegas. Dia tidak mau mengambil resiko dengan mengajak Celina yang sedang hamil untuk ikut satu mobil bersamanya.
Membawa seseorang yang sedang membutuhkan penanganan cepat, pasti akan tergesa-gesa melakukan mobilnya agar cepat sampai.
Hal itu yang di hindari oleh Mama. Takut jika mobil itu akan mengerem mendadak.
Tak hanya itu, Mama juga takut jika nanti penyakit Papa Adiguna terbongkar di depan Celina.
Entah seperti apa reaksi Celina kalau mengetahui sakit yang sudah lama di derita oleh sang Papa.
Paling tidak, dengan menyuruh Celina pergi ke rumah sakit bersama Vano, Mam bisa mengulur waktu agar bisa berbicara dengan dokter dan perawat di sana untuk menyembunyikan penyakit Papa Adiguna di depan Celina.
"Kasihan juga sama Naura, dia akan mencari kita kalau bangun nanti."
"Jangan khawatir, Papa pasti baik - baik saja. Dia hanya kelelahan."
"Mama pergi dulu,," Mama mengusap lembut bahu Celina sebelum mengusul keluar.
Celina terpaksa menurut karna tidak punya pilihan lagi. Dia langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Vano.
Baru pukul 2 siang, Vano pasti masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Halo,,," Ujar Celina begitu panggilan telfonnya tersambung.
"Ada apa sayang.? Aku masih diruang rapat,"
Suara Vano terdengar berbisik. Seolah enggan menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.
Celina diam sesaat. Mengetahui suaminya yang masih rapat, membuat Celina ragu untuk memberitahukan kabar buruk itu pada Vano.
"Celina.? Are you okay.?" Tanya Vano lirih, namun nada bicaranya tetap terdengar cemas.
"Bicara sesuatu." Ujarnya lagi.
Celina langsung tersadar.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, apa kamu bisa pulang sekarang.?"
Celina sengaja tidak langsung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak mau kabar itu membuat konsentrasi Vano terpecah dan pada akhirnya akan membuat Vano tidak fokus menyetir.
"Tentang apa sayang.?"
"Kamu bisa bicara di telfon 30 menit lagi, aku harus menyelesaikan rapat." Vano menolak halus secara tidak langsung. Dia tidak mungkin meninggalkan rapat saat itu juga.
"Aku akan segera menelfonmu lagi nanti."
Celina sedikit kesal mendengarnya.
"Jadi pekerjaan lebih penting dariku.?" Tanya Celina dengan nada ketus. Dia langsung mematikan ponselnya, enggan mendengarkan penjelasan Vano yang pastinya akan banyak berasalan.
Tak lama setelah mematikan sambungan telfonnya, ponsel Celina berdering. Vano balik menelfonnya, tapi Celina enggan menjawab dan hanya membiarkan ponsel itu terus berdering.
Hingga panggilan ke tiga, Celina tak mau mengangkatnya juga.
Setelah itu baru mendapatkan pesan dari Vano.
Jangan marah, aku pulang sekarang.
Celina bernafas lega membaca pesan dari Vano.
Sejujurnya Celina enggan melontarkan kalimat yang seharusnya tidak dia ucapkan pada Vano, tapi Celina tidak punya cara lain untuk membuat Vano menuruti perintahnya.
...*****...
Celina menunggu Vano di halaman rumah. Dia sudah menitipkan Naura pada Ida karna tidak bisa mengajaknya ke rumah sakit.
Vano turun dari mobil, menatap bingung pada Celina yang semakin mendekat dengan wajah sendu.
Rasa takut muncul saat Celina langsung memeluknya dan terdengar isak tangis.
"Sayang, ada apa.?" Vano membalas pelukan Celina, mengusap punggungnya dengan lembut untuk memberikan ketenangan.
"Papa,, Papa di rumah sakit sekarang." Ucap Celina terbata. Dia melepaskan pelukannya, menghapus paksa air matanya yang masih terus mengalir.
"Ayo ke rumah sakit,," Pintanya.
Vano sempat syok mendengarnya. Pikirannya seketika kacau, takut jika Celina tau penyakit Papa Adiguna yang sebenarnya.
"Jangan menangis, Papa pasti baik - baik saja."
Vano mencoba untuk membuat Celina tenang, meski dalam hatinya ikut cemas dan takut seperti yang di rasakan oleh Celina. Bahkan lebih takut dari itu karna Vano sudah tau kondisi Papa Adiguna yang sebenarnya.
Vano melakukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia hanya bisa diam, sesekali melirik Celina yang terus menangis tanpa suara.
Hanya melihat sang Papa tak sadarkan diri saja sudah membuat perasaannya begitu hancur.
Van seakan tidak sanggup untuk melihat Celina lebih hancur dari ini.
Bukan hanya Celina saja yang di cemaskan oleh Vano, tapi anak yang ada di kandungan Celina juga sangat dia cemaskan. Jika kondisi Celina memburuk, bisa saja akan memberikan dampak negatif pada kehamilannya.
"Sayang, pelan - pelan. Kamu sedang hamil,,"
Vano kembali menegur Celina untuk ketiga kalinya. Sejak sampai di rumah sakit, Celina berjalan cepat karna ingin segera sampai ke kamar dimana Papa Adiguna dirawat.
Celina seakan lupa dengan perut besarnya.
"Maaf, tapi aku ingin segara melihat Papa,," Ucap Celina lemah. Wajahnya sangat sedu, menunjukan kesedihan yang belum pernah dia tunjukan sebelumnya.
Vano bisa mengerti hal itu, karna dia juga pernah merasakan ada di posisi Celina. Melihat orang tua sakit, lalu harus di tinggal untuk selamanya.
"Mah,,," Celina langsung menghampiri Mama yang tengah duduk di depan ruangan dengan kepala tertunduk.
"Sayang,,," Mama mengulas senyum tipis yang terlihat jelas di paksakan. Dia juga segara menghapus air matanya.
"Bagaimana kondisi Papa.?" Celina tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Papa baik - baik saja, hanya kelahan."
"Tapi tidak boleh masuk kedalam karna Papa harus istirahat."
Mama merangkul pundak Celina, menarik putrinya dalam dekapan.
Hatinya tentu saja hancur melihat suaminya sedang menjalani sisa hidupnya yang tidak akan lama lagi.
Mama berusaha kuat di depan Celina, enggan menunjukkan kerapuhan hatinya yang akan di tinggalkan oleh suami tercintanya.
20 tahun membina rumah tangga bersama Adiguna, terlalu banyak hal - hal indah yang nantinya hanya akan menjadi kenangan.
"Tapi Papa tidak pernah seperti ini sebelumnya Mah."
Celina sulit untuk percaya apa yang di katakan oleh Mama. Selama ini, dia tidak pernah melihat sang Papa kelelahan sampai tak sadarkan diri.
"Kenapa tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.? Celin takut Papa,,,
"Sudah sayang, dokter disini sudah menangani Papamu dengan baik." Mama memotong ucapan Celina. Dia tentu saja tidak mau membuat Celina berfikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Papamu memang kelelahan, akhir - akhir ini juga sering tidur malam." Tuturnya lagi.
Seorang dokter menghampiri mereka, namun Mama langsung berdiri di depan dokter itu dengan membelakangi Celina agar Celina tidak melihat apa yang akan dia katakan pada dokter.
"Maaf dok, kita bicarakan di tempat lain saja.".Ujar Mama lirih.
Dokter itu seakan paham, karna sebelumnya sudah pernah di beritahu.
"Vano, Celina, Mama harus pergi sebentar. Tolong jaga Papa,," Pamitnya sebelum pergi.
Celina dan Vano mengangguk.
"Kenapa sikap Mama terlihat aneh.?" Gumam Celina pada Vano. Dia terus menatap kepergian sang Mama dengan dokter yang tadi mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Aneh kenapa.?" Vano duduk di samping Celina. Menatap lekat wajah istrinya dengan perasaan yang berkecambuk. Dia tidak tega menutupi penyakit Papa Adiguna pada Celina, namun tidak berani juga untuk memberitahu kebenarannya di tengah kondisi Celina yang sedang mengandung.
"Seperti ada yang di tutup - tutupi." Kata Celina.
Dia bisa merasakan gelagat aneh sang Mama.
Mama terus mengatakan jika Papa Adiguna baik - baik saja, tapi sorot matanya tidak bisa membohongi.
Kalau memang baik - baik saja, tidak mungkin sorot matanya begitu hancur.
"Itu hanya perasaan kamu saja."
"Kamu harus yakin kalau Papa baik - baik saja." Kata Vano. Padahal dia sendiri tidak yakin akan hal itu. Namun hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat Celina tenang.