
Kehadirannya berasal dari sebuah kesalahan. Vano bahkan tidak pernah terfikir untuk mengakui darah dagingnya, dia selalu berprinsip tidak akan bertanggung jawab jika wanita bayarannya hamil karna benihnya.
Namun, keadaan merubah segalanya. Tidak ada yang bisa menolak atas segala sesuatu jika sang Pencipta sudah membolak - balikan hati hambanya.
Kehadiran anak itu seketika membuat Vano luluh. Ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan hingga akhirnya ingin memperjuangkan darah dagingnya yang sempat ia tolak karna yakin bukan berasal dari benihnya.
Perlahan, dia juga mulai menyadari akan perasaan cintanya terhadap ibu dari anaknya.
Perasaan itu yang membuat Vano terus berusaha dan berjuang untuk bisa mendapatkan keduanya.
Kini usahanya berbuah manis. Meski Celina belum mengatakan mau bersatu dengannya, tapi setidaknya Celina sudah memberikan kesempatan untuk memulai dari awal.
Vano memiliki harapan yang besar akan hubungan dengan Celina untuk bisa segera menikah.
Dia sudah tidak sabar untuk memliki keluarga yang lengkap bersama orang yang dia cintai.
"Janinnya sehat, tidak ada masalah apapun dengan perkembangannya." Tutur Dokter sambil terus menatap layar monitor.
"Bagaimana dengan jenis kelaminnya.?" Tanya Vano antusias. Entah sudah berapa kali dia mengajukan pertanyaan itu sejak dokter mulai menempelkan alat usg di perut Celina.
"Selamat, babynya jagoan." Perkataan dokter itu membuat Vano tidak bisa berkata - kata. Manik matanya seketika berkabut. Dia hampir saja meneteskan air matanya, namun perkataan Celina yang menggelitik, membuat Vano melongo.
"Laki - laki dok.?" Tanya Celina memastikan. Dokter itu mengangguk.
"Bagaimana caranya sifat dan wajahnya tidak mirip daddynya.?" Kata Celina sembari melirik kesal pada Vano.
Dokter dan suster di ruawangan itu menahan senyum melihat ekpresi Vano dan Celina yang seolah akan berkelahi. Saling menatap dengan mata yang membulat sempurna.
"Memangnya kenapa dengan wajahku.? Semua wanita bahkan memuja ketampanaku." Seru Vano tak terima. Dia begitu percaya diri bahwa wajah tampannya di kagumi oleh semua kaum hawa.
"Untuk apa tampan kalau menyebalkan." Sahut Celina.
"Bukan aku yang menyebalkan, tapi kamu yang terlalu sensitif karna hormon kehamilan."
"Bukan begitu Dok.?" Vano berusaha mencari pembelaan dengan meminta pendapat dokter.
"Kehamilan membuat istri terkadang benci pada suami dan tidak mau di sentuh." Tambahnya lagi.
Vano tidak memperdulikan Celina yang semakin melotot menatapnya. Tanduknya hampir keluar seluruhnya akibat mendengar omong kosong Vano.
Istri.? Suami.? Tidak mau disentuh.?. Kalimat itu berputar di kepala Celina.
Vano selalu saja bisa membuatnya tak habis pikir.
Aktingnya selalu diatas rata - rata. Bahkan sangat cocok jika beralih profesi menjadi seorang aktor.
"Ya, memang beberapa suami mengeluhkan hal itu. Tapi bukan karna hormon kehamilan, bisa saja karna memang suaminya menyebalkan."
Penjelasan sang dokter membuat Vano menyesal karna sudah meminta pendapat pada orang yang salah. Vano baru sadar kalau dokter itu juga seorang wanita dan seorang istri. Tentu saja dia akan berpihak pada wanita.
Sementara itu, Celina tertawa puas karna dokter yang memeriksanya memiliki pendapat yang sama dengan apa yang dirasakan olehnya.
"Benar sekali Dok, dia memang menyebalkan." Ujar Celina menambahi.
Vano menghela nafas. Dia pasrah saja dan hanya diam setelah dipojokkan oleh para wanita.
"Tidak usah pura - pura sedih, kamu memang menyebalkan." Kata Celina setelah keluar dari ruang pemeriksaan.
Vano mengukir senyum. Senyum yang sebenarnya mengandung kekhawatiran.
Dia mulai memikirkan ucapan Celina yang tiba - tiba menjadi beban untuknya.
Perkataan Celina memang benar. Kini Vano juga ikut berharap agar sifat anaknya tidak mirip sepertinya.
"Aku percaya kamu akan mendidiknya dengan baik agar dia tidak sepertiku." Vano mengusap lembut pucuk kepala Celina.
"Dia harus memiliki sifat sepertimu, baik dan pemberani." Puji Vano bangga.
Wanita yang dulu dia anggap rendah, rupanya memilki sisi positif yang jarang dimiliki orang lain.
Celina terlalu baik sampai mengorbankan perasaannya demi orang lain. Vano sudah tau alasan Celina memilih untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Dion.
Dan sekarang, Celina mau memberikan kesempatan pada Vano atas perbuatan buruk yang sudah dia dilakukan padanya.
Untuk wanita yang tidak berbesar hati, mungkin akan sulit untuk memaafkan orang yang sudah menginjak - injak harga dirinya dan menolak anak dalam rahimnya.
Tapi tidak dengan Celina yang justru memberikan kesempatan meski harus menahan rasa sakit hatinya demi kebaikan sang anak.
Lagi - lagi dia harus mengorbankan perasaan. Menolak lupa jika dia juga punya hati yang harus di jaga.
...*****...
Celina duduk di balkon kamar. Cuaca sore itu sedikit mendung dengan hembusan angin yang bertiup sejuk.
Dia membuka amplop dan mengeluarkan foto hasil usg tadi siang.
Celina sedikit mengangkatnya ke atas untuk melihatnya lebih jelas.
Setetes air mata perlahan tumpah dari pelupuk matanya. Terlihat tak seberapa namun ada banyak arti di dalamnya.
Kehadirannya begitu cepat merubah keadaan dan sifat yang menuntutnya untuk dewasa.
Hamil disaat belum genap berusia 19 tahun dan harus menghadapi berbagai persoalan yang menguras perasaan dan air mata.
Meski kehadirannya harus diiringi dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menghujam hatinya, Celina tetap bersyukur dan bahagia menyambut putranya. Tidak pernah menaruh kebencian sedikitpun atau menyalahkan atas semua sakit hati yang dia rasakan.
"Mommy bukan wanita yang baik, tapi mommy janji akan menjadi ibu terbaik untukmu." Celina tidak bisa membendung air matanya yang kini terus menetes.
"Kamu tau, sayang,,?" Katanya sambil menatap dan mengusap perut. Celina sedang berbicara dengan buah hatinya dari hati ke hati. Dia sangat yakin kalau putranya bisa mengerti apa yang dia ucapankan.
"orang baik bisa berubah, begitu juga dengan Mommy."
"Mommy harap, kamu tidak akan kecewa terlahir menjadi anak Mommy."
Celina mendekap lembaran di tangannya, memeluknya erat dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Celina selalu merasa cemas, takut putranya juga akan memiliki pandangan yang buruk padanya jika suatu saat tau masa lalunya.
Sudah cukup dia merasakan hinaan dari orang yang dia cintai. Mungkin tidak akan sanggup jika hinaan itu keluar dari darah dagingnya sendiri.
Hujan yang mengguyur kota sore itu, mampu menambah ketenangan dan kesejukan dalam hati.
Hujan itu turun setelah Celina mengusap air matanya.
Celina masih duduk di sana tanpa berniat untuk beranjak. Suasana sore itu membuat Celina merasakan kantuk dan perlahan memejamkan maaf sambil terus mendapat gambar wajah putranya.
"Sejak kapan ada di dalam.?!!" Tanya Vano cemas.
Ida menunduk takut.
"3 jam yang lalu." Jawabnya gugup.
"Astaga.!" Vano mengusap kasar wajahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan kepanikan yang dia rasakan.
"Kenapa baru menghubungiku sekarang.!!" Bentak Vano.
Dia langsung masuk kedalam apartemen, menghampiri pintu kamar Celina dan langsung menggedornya berulang kali.
Menurut penuturan Ida, Celina tak kunjung membukakan pintu meski sudah mengetuk dan memanggilnya hampir 30 menit.
Vano semakin panik karna tidak ada jawaban sama sekali. Dia tidak bisa membukanya dengan pintu cadangan karna Celina membiarkan kunci di dalam tetap menempel.
Takut terjadi sesuatu pada Celina, Vano memutuskan untuk mendobraknya.
Dia terus mendorong pintu itu berulang kali sampai benar - benar terbuka.
Hal yang pertama di lakukan Vano adalah berlari kedalam sambil memanggil Celina.
Dia panik tidak mendapati Celina di tempat tidur ataupun di kamar mandi. Walk In Closet juga kosong.
"Di situ Tuan." Ida menunjuk pintu balkon yang sedikit terbuka meski masih tertutup tirai.
Tanpa pikir panjang, Vano langsung pergi ke balkon.
"Celina.!!" Teriak Vano begitu keluar ke balkon.
Dia mengentikan langkahnya, kemudian mengatur nafasnya yang terasa hampir putus karna terlalu takut dan cemas.
Vano bisa bernafas lega setelah itu.
Perlahan dia berjalan menghampiri Celina dengan nafas yang mulai teratur.
"Kamu hampir membuatku gila." Gumamnya frustasi. Tapi sesaat kemudian Vano mengulas senyum. Dia mengambil lembaran yang ada di dekapan Celina, setelah itu melepaskan jaket untuk menyelimuti tubuh Celina.
Vano memilih duduk di samping Celina dan berusaha untuk tidak menimbulkan kebisingan.
Saat Ida datang, Vano langsung menyuruh Ida untuk keluar dengan menggerakkan tangannya.
Vano juga memberikan isyarat kalau Celina baik - baik saja.
Vano membereskan lembar gambar dan hasil pemeriksaan yang berada di atas meja.
Kini tatapan matanya beralih pada wajah cantik Celina yang terlelap.
Celina berhasil menguasai hatinya hingga menyisakan sedikit ruang untuk Jasmine.
Rasa cintanya kini lebih besar untuk wanita yang tengah mengandung anaknya.
Hal yang sebelumnya sangat mustahil bagi Vano untuk bisa mencintai wanita lain. Nyatanya, saat ini dia begitu mencintai Celina.
"Aku mencintaimu." Ucap Vano lirih. Dia mendaratkan kecupan di pucuk kepala Celina.
Hampir 30 menit Vano membiarkan Celina tetap tertidur di sana. Namun akhirnya mengangkat tubuh Celina karna tak kunjung membuka mata sedangkan langit semakin gelap.
Vano membaringkan Celina di ranjang. Pujaan hatinya itu tetap saja tidak terusik sedikitpun dan masih terpejam.
Vano ikut naik dan berbaring di samping Celina.