
Kediaman Keluarga Akizuki,
"...Kenapa Nakuru daritadi hanya diam saja? ..."
Seperti biasa malam ini Touya kembali mengantarkan Nakuru pulang ke kediaman keluarga Akizuki. Setelah motor Touya berhenti didepan rumah Nakuru, lalu Nakuru turun dan menyerahkan helm itu kembali pada sang sahabat.
Terlihat wajah yang biasanya ceria itu berubah murung. Touya menyadarinya namun ia tak berani menanyakan perihal hati wanita yang susah ditebak suasananya itu. Nakuru pun berpamit untuk segera masuk ke dalam rumahnya. "Mata ne" , Ucapnya pelan.
Namun rasa penasaran Touya sangat tidak tertahankan. Sehingga seketika tangan Nakuru yang hendak melenggang berbalik dan membelakanginya pun di raih olehnya. Dia pun turun dari motor nya dan berdiri di hadapan gadis berpenampilan rapih dengan atasan berbalut blazer dan rok span itu.
"Kau kenapa?".
Touya menatap dalam mata Nakuru dengan gesture sedikit menundukkan wajah nya karena tentu saja tubuh Touya lebih tinggi 4 inchi daripada Nakuru.
" Tidak apa-apa, mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu lelah berkerja ... " jawab Nakuru masih bernada pelan dan enggan berekspresi.
Touya memperhatikan mimik wajah sayu itu, dia mampu membaca setiap jengkal kebohongan dari wajah gadis berkeahlian Judo tersebut. Kemudian dia mulai mendekat pada Nakuru. Nakuru pun tersentak kaget, dia berfikiran "apa yang akan Touya lakukan!."
Kemudian Touya memegang lembut kedua bahu Nakuru, wajahnya pun semakin condong dan mendekat ke wajah gadis itu, semakin mendekat dan dekat saja wajah pria itu, sehingga bibir Touya hampir mendarat di bibir merah Nakuru yang kebetulan hari ini memakai lipstick dengan warna ero*tis tersebut. bibir indah Nakuru yang terkesan glossy dan tampak plumpy itu tentu saja akan memikat hati siapapun yang dekat dengan dirinya, termasuk Touya tentunya.
"DEGH!. " Jantung Nakuru bagaikan ingin melompat dari dadanya lalu terbang ke awan."Apakah Touya akan melakukan hal yang pernah tertunda saat itu? tapi bagaimana jika Ayah melihat, semoga saja ayah belum pulang. "
"Kalau begitu segera beristirahatlah." bisik Touya di telinga Nakuru.
Wajah Nakuru telah memerah sempurna bak kepiting rebus. Namun yang terjadi tidak seperti yang dia fikirkan. Touya sukses secara tak sengaja membuat 'kecewa' gadis ini. Mereka memang bersahabat, namun lebih tepatnya hubungan mereka lebih dari sahabat.
Lalu Touya kembali memundurkan wajahnya menjauh dari wajah Nakuru, kemudian bertanya lagi, "Katakan padaku Nakuru, apa yang sebenarnya mengganggu fikiranmu?."
"Tidak ada yang mengganggu fikiranku kok Touya! kau tahu itu!. "
"Sungguh?"
Touya masih memandang wajah Nakuru yang masih menyembunyikan misteri. Lalu Nakuru memberanikan diri untuk menatap mata Touya yang tajam. "iya sudah lah.. kau pulang saja aku ingin segera beristirahat."
"Aku tidak akan pulang dengan perasaan tenang, sebelum sahabatku berterus terang." Touya malah terduduk kembali di atas jok motor nya.
"Touya.. kumohon pulang lah. "
"Aku bisa tidur di teras rumahmu, jika kau berkenan. "
Perasaan Nakuru semakin berkecamuk dan tak akan mungkin membiarkan Touya benar - benar malakukan hal konyol itu, namun akhirnya dia terpancing dan berterus terang,
"Ehm... Kau melihat Nona Shiefa adik Nona Fuutie sekaligus kakak kedua Li-san tadi, sepertinya dia begitu memerhatikanmu.. dan itu membuatku tidak nyaman." Nakuru menjelaskan dengan perasaan ragu dan gugup.
"Benar karena itu saja?" Touya memerhatikan Nakuru dengan lebih lekat dan serius.
"Lalu kau... kau sering menerima panggilan telepon dari seorang wanita! siapa dia Touya? . Aku memang bukan siapa - siapa bagimu.. tapi aku...! "
"Mwuah."
Sebuah kecupan kecil dan singkat mendarat di bibir Nakuru.
Gadis itu membeliakkan kedua mata nya, wajahnya merona luar biasa, kedua tangan nya pun memegang bibirnya yang baru saja dikecup oleh pemuda tampan dihadapannya. Dia sangat terkejut dengan ciuman itu. Walaupun hanya seper sekian detik saja, namun hal itu mampu membuat suasana hatinya luluh.
"Touya... kau.. "
"Apakah ciuman itu bisa menjawab keraguanmu tentang perasaanku, Nakuru?." Touya tersenyum lembut dan tergelitik melihat respon gadis yang baru saja dijumpainya kembali setelah 6 tahun berpisah itu.
Nakuru masih tak percaya dirinya mendapat ciuman dari Touya, apalagi dirinya juga masih ragu sebelum mendapat penjelasan dari Touya mengenai wanita yang kini sering menghubunginya nya via panggilan telepon itu.
"Hanya lah Nakuru wanita satu - satu nya dalam hidupku, hanya dirimu yang dari dulu mau menerimaku dengan tulus, hingga saat ini kau selalu mendukungku, kenapa aku harus mempedulikan wanita lain?".
Seketika raut wajah Nakuru mulai lembut kembali, Irish coklat itu pun mulai menggenangkan air mata mendengar pengakuan dari Touya.
"Sebenarnya wanita yang sering menghubungiku itu adalah..."
...............
Mounth Elizabeth Novena Hospital, Singapore.
.....
Tut,
.....
Tut,
(Bunyi alat Patient Monitor).
"Pernapasan? " Dokter bedah kembali memastikan kondisi pasien.
"Cek Stabil " Tegas dokter anestesi.
"Detak jantung? "
"Cek stabil"
"Tekanan da*rah? "
"Normal"
"Suhu tubuh? "
"Normal"
"Syukurlah.... Operasi berjalan lancar!!!" Seru salah seorang Dokter bedah, lalu disambut senyum lega oleh para dokter dan perawat juga staff yang standby di ruang operasi Fuutie li.
............
Dokter bedah utama keluar dari ruang operasi untuk pertama kalinya setelah 12 jam berjuang menyelamatkan nyawa pasien. (Kita semua tahu Tuhan yang menyelamatkan pasien, dokter hanya lah perantara nya saja).
"Dokter, dokter.... bagaimana keadaan Fuutie? "
Yue didampingi sekretaris nya sangat tidak sabar menunggu kabar baik dari hasil operasi Fuutie.
"Tenang tuan, syukurlah semua berjalan dengan baik, Pasien telah melewati masa kritisnya, dan untuk selanjutnya kami akan memindahkan pasien ke ruang transisi pasca operasi. " Terang dokter Specialist bedah tersebut.
"Terima kasih banyak dok" Ucap Yue.
Dokter itu pun menyambangi Terada yang juga berada di antara rombongan orang - orang kantor dan ajudan Fuutie. "terima kasih tuan Terada, berkat bantuan anda Pasien selamat." Dokter itu sejenak berbincang dengan Terada, dia merasa takjub "Ini sebuah keajaiban, dimana sebelumnya kondisi pasien begitu mengkhawatirkan namun setelah mendapat transfusi da*rah dari anda dalam sekejab kondisi pasien berubah drastis, sekali lagi terima kasih banyak." Lalu mereka pun saling berjabat tangan.
Terlihat Yue menatap Terada dengan tajam dan angkuh, nampak sekali dirinya tidak senang dan terpaksa menerima kenyataan bahwa Terada tiba - tiba datang jauh - jauh dari Jepang dalam waktu semalam hanya demi Fuutie. "Selidiki siapa dia sebenarnya ? " Titahnya kepada ajudan di samping nya.
"Baik tuan."jawab Ajudan.
Kemudian brankar Fuutie dikeluarkan dari ruang operasi diikuti oleh Yue dan yang lainnya.
Terada pun juga terkesiap dan segera menghampiri brankar yang membawa Fuutie yang masih dalam keadaan belum sadar pasca operasi.
Kedua pria itu ikut mengantar Fuutie ke kamar transisi. Yue barada di sebelah kiri Fuutie, sementara Terada berada di Sisi kanan nya. Yue menatap wajah Fuutie yang masih pucat dan berbalut perban di kepalanya tersebut. Begitupun sang Chef yang juga menatap wajah malang Fuutie bosnya sekaligus sahabat lama nya tersebut.
..."Fuutie.. apapun akan kuberikan demi keselamatanmu! kumohon segera sadar lah!" harap Terada dalam hatinya....
"Tuan - tuan hanya bisa menjenguk pasien satu per satu, silahkan anda berdiskusi terlebih dahulu siapa yang akan menjenguk lebih dulu". Salah satu suster menahan Yue dan Terada untuk ikut masuk ke ruangan Transisi Fuutie.
" Saya lebih dulu! " Yue pun menjawab tegas serta tanpa permisi pada Terada.
"Baiklah kau duluan yang menjenguk Fuutie, aku bisa nanti" Terada pun mengalah.
"Tentu saja, memang nya kau siapa! " Yue pun berseringai pada Terada.
Terada pun tetap tenang dan tidak menanggapi sikap Yue, dia hanya ingin fokus pada kondisi Fuutie. berharap tidak akan terjadi efek komplikasi setelah Fuutie sadar pasca Operasi nya.
.
.
.
.
.
Flash back on,
.............
..."Selamat atas pernikahan kalian, aku ikut berbahagia."...
Fuutie tengah berdiri di antara Terada dan seorang wanita yang telah berikrar untuk menjadi pasangan Terada sehidup dan semati.
"Terima kasih Fuutie. "
Ucap seorang wanita yang menjadi Ratu dalam sehari itu, wajahnya memang amat cantik dengan riasan nya yang megah serta balutan gaun pengantin dengan hiasan payet - payet serta mutiara kecil di sepanjang garis leher, gaun, hingga ekor gaunnya.
Seutas senyum tipis terlihat dari bibir Fuutie yang pada hari itu tampil tak kalah anggun nya. Penampilan nya tidak mencolok dia hanya mengenakan dress putih sepanjang lutut berlengan sepanjang siku dengan aksen renda lace sepanjang leher hingga atas dadanya yang berkerah strapless.
Terada tak bisa berkata apapun selain menyunggingkan senyum kakunya pada Fuutie.
..."Semoga di kehidupan yang akan datang kita lebih beruntung Fuutie" batinnya....
Lalu Fuutie pun meninggalkan gedung pesta itu. Sebelum dia mencapai pintu keluar, dia menoleh sekali pada Terada, Terada pun bagaikan menerima sinyal dari Fuutie dan dia pun juga menatap ke arah Fuutie.
"Kau berbahagia lah.. mungkin aku juga akan menemukan seseorang di luar sana. " batin Fuutie yang kemudian benar - benar meninggalkan Terada di pesta pernikahannya tanpa pamit.
"Ayo kita pulang ibu". Ajak Fuutie pada sang Ibu, Yelan yang tengah berbincang dengan para tamu undangan yang lain.
Mereka menuruni anak tangga selangkah demi selangkah, kemudian sesampainya di mobil para ajudan membukakan pintu untuk Nyonya besar Li dan tentu saja Nona muda Li itu.
"Ikhlaskan dia pergi, hidup terlalu keras Fuutie, kita sebagai wanita tidak boleh lemah! "
Yelan menyentuh dagu sang putri, dia mencoba menenangkan dan menguatkan hati anak sulungnya itu.
"Terima kasih ibu.. ".
Sang ibu mengangguk pelan, dia pun melanjutkan nasehatnya "Jangan ditahan jika ingin menangis lakukan lah, setelahnya hadapi semua dengan tenang kembali. "
Di dalam mobil itu, Fuutie menumpahkan air mata nya yang selama ini tertahan di dalam pelukan sang ibu...
Flash back off,
Di Ruang pasien Transisi,
"Fuutie maafkan kesalahanku, hingga menyebabkan kau terluka seperti ini, sadarlah Fuutie."
Yue tak henti - hentinya menciumi jemari Fuutie, tak lama respon pun mulai terlihat. Jari-jari Fuutie mulai bergerak refleks. Suster jaga pun ikut mengamati perkembangan Fuutie.
"Te.... ra.....da.... "
"Apa?! " Yue sontak kaget mendengar kata pertama yang keluar dari mulut Fuutie yang masih tertutup Ventilator tersebut.
.............
*Bersa**mbung*,