
Marina Bay Streat Circuit,
Dikenal sebagai Singapore Street Circuit merupakan sirkuit jalan raya di sekitar Marina Bay , Singapura. Circuit balap ini mencakup area perencanaan Downtown Core (Belokan 4 hingga 19) dan Kallang (Belokan 1 hingga 3).
Serunya mengendarai Ferrari, apalagi dengan merasakan pengalaman tak ternilai beradu kecepatan bersama wanita yang tengah dia buru 'Fuutie li' membuat Yue semakin menggila dalam meng-akselerasi tenaga mesin mobil yang dikendarainya di trek balap. Tak sampai disitu Fuutie yang berkali-kali meliriknya dari spion samping kanan,kiri dan juga belakangnya juga tengah memamerkan kelincahan handling si Lamborghini tunggangannya disaat menikung tajam. Dua insan Hedon itu seperti merasa dunia berada dalam genggaman mereka saat ini.
Dari kursi setirnya yang tampil eksotis Fuutie sembari mengangkat kacamata pemberian Yue hingga diletakkan diatas dahi nya dia berteriak , "Jika aku menang apa yang akan kudapatkan?" sambil melontarkan senyuman menantang dan lirikan nya yang sangat tajam.
Kemudian disambut dari sisi kanan Supercar berlogo 'Banteng mengamuk' itu, pria pengendara 'Kuda Jingkrak' dengan gayanya yang tak tertandingi menjawab hadiah untuk Fuutie jika menjadi pemenang trek.
"Jika kau menang mobil dengan series yang sama dengan yang kau kendarai saat ini akan kukirim ke Mansion mu." Yue menjanjikan hadiah yang kembali membikin sang Bisniswomen itu tercengang.
"Supercar yang seperti ini untukku?" batinnya.
Wanita berusia matang itu terdiam sejenak, namun dia kembali melirik Pria yang berwajah dingin di samping nya dan mengatakan,"Very interesting!!!"
"Lalu, jika Kau yang menang apa yang kau inginkan Yue-san??". Teriak Fuutie lagi.
"Sekembalinya kita ke Jepang Kau adalah "kekasihku', setuju?".Ucap Yue tanpa menatap Fuutie dan berpandangan lurus pada jalur treknya.
"Ckiiiiiiiiiiiiiiittttt!!!".
Fuutie mengerem mendadak Supercar berdaya 774 tenaga kuda itu, hingga roda mobil nya hampir saja nge-lock.
.
.
.
.
..."Menjadi Kekasih.... Mu? "...
......................
SMA Hibiya,
"Lalalalalala...." Ponsel Sakura berdering.
"Moshi-moshi, Sakura-desu."
Sakura yang sudah siap untuk pulang sekolah dan berencana untuk menengok Syaoran ketika pulang bekerja part time dan diantar oleh Touya kakaknya pun berubah fikiran, dan sangat gelisah dan amat panik mendengar panggilan telepon dari Nakuru yang memberitahunya tentang kondisi Syaoran yang memburuk.
"Sakura-chan, Aku baru saja menerima telepon dari Wey-san kata beliau Li-san suhu tubuhnya naik lagi dan juga keadaannya semakin buruk, dia mengingau tidak jelas..." Nakuru menjelaskan dengan gugup.
"Chiharu- chan hari ini jadwalku piket kebersihan....bisa kah kau menggantikan-?."
Sebelum Sakura menyelesaikan permintaan tolongnya pada Chiharu, gadis yang memiliki rambut ikal berkuncir dua itu memahami kondisi Sakura saat ini." Pergilah.. Temui dia Sakura.." Chiharu pun mengangguk pelan hendak meyakinkan Sakura.
"Arigatou Chiharu-chan....." Kemudian Sakura memeluk erat sahabatnya itu .
Tak lama Sakura pun berlari terburu-buru menuruni tangga sekolahnya, dimana kelas nya berada di lantai 4, sehingga dirinya mempercepat langkah kakinya dan beberapa kali secara tidak sengaja menyenggol beberapa murid yang yang berpapasan dengannya di tangga.
"Gomen nasai!!" Berkali-kali dia meminta maaf pada teman-temannya.
Sesampainya di lantai bawah, Sakura pun langsung berlari ke parkiran sepeda.
"Blesss...."
Terdengar seperti suara roda sepeda yang kempes tapi tetap dipaksa di dorong.
"Astaga?? Ban sepeda ku kenapa bisa kempes?" gumamnya heran.
"Sakura, dia sangat membutuhkan mu saat ini!" salah satu kalimat yang di ucapkan Nakurupun terngiang-ngiang di fikirannya.
"Baiklah! aku punya kaki, aku bisa berlari kesana!" Ucap Sakura yakin sembari mengepalkan sebelah tangannya seolah menyemangati dirinya sendiri.
"Bapak Security, saya titipkan sepeda saya ya" Sakura pun meminta ijin pada Satpam Sekolah untuk menitipkan sepeda berwarna Pink soft nya untuk ditinggalkan di tempat parkir khusus sepeda di Sekolah.
"Haikkk" Ucap tegas bapak penjaga sekolah yang belum begitu tua itu.
"Arigatou" Ucap Sakura sopan.
"Distrik 2 / Blok 28 / Rumah nomor 8."dibaca nya oleh Sakura alamat Mansion Fuutie li, Kakak Syaoran yang dikirimkan lewat pesan oleh Nakuru.
Alamat ini tidak terlalu jauh, tapi apakah boleh orang luar masuk ke blok perumahan Elite ini ya?. Gumam Sakura pelan.
"Tidak boleh! Aku tidak boleh menyerah dulu, aku harus segera sampai ke rumah Li untuk melihat keadaannya!." Sakura pun kembali yakin.
Dia mulai berlari dari depan gerbang sekolahnya, tak ingin terlambat untuk segera memastikan kondisi Syaoran.
"Hosh.. hosh.. hoshh.." Nafasnya terengah-engah namun teratur dan kuat.
"Aku yakin Li akan baik-baik saja." katanya dalam hati
Sesampainya di perempatan jalan Shinjuku gadis Cherry blossom itu berhenti karena lampu traffic light untuk penyeberang jalan masih berwarna merah.
"Kenapa jalanan Shinjuku sore ini ramai sekali.."Keluh Sakura getir.
"Bagaimana aku bisa cepat sampai ke seberang menuju rumah Li, kalau kendaraan-kendaraan ini tidak ada yang mau mengalah dan mendahulukan pejalan kaki untuk menyeberang." Wajahnya semakin cemas.
"Hiks.. Aku hampir sampai Li... bertahan lah.." Sakura menangis di tepian Traffic light.
"Hey nona kenapa kau menangis?". Seseorang bapak-bapak setengah baya yang mengantri di belakang Sakura menanyai gadis polos itu.
"Aku ingin buru-buru menyeberang jalan, tapi jalanannya ramai sekali paman." Jawab Sakura sambil terisak
"Astaga kau sudah berapa lama tinggal Perfektur Tokyo ha? Setiap hari memang seramai ini". Sanggah paman itu.
"Tapi kali ini berbeda...aku hendak menengok sahabat ku yang sedang sakit... Aku harus segera datang." Sakura menjelaskan dengan lirih dan pedih.
"Kau ini, sudah bersabarlah... Jangan kekanakan seperti itu!!". Paman itu malah memarahi Sakura.
"Eh kau dasar lelaki tidak punya sopan santun! Seharusnya ada gadis yang sedang bersedih kau bantu dia, bukannya malah di maki-maki!."
Sakura yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya pun menghentikan tangisannya ketika mendengar suara seorang Nenek yang tak asing baginya,
Lalu di tatapnya wajah nenek itu,
..."Nenek yang di bus waktu itu?"...
"Kau nona kecil yang waktu itu memberikan tempat duduknya padaku ya?" Tanya si nenek yang agak lupa.
"I-iya nek..." Ucap Sakura lembut.
Lalu si nenek pun mendekati Sakura,
"Ternyata benar kau ya?." Tanya di nenek lagi menyakinkan.
"Memangnya nenek dan gadis ini saling mengenal ya?" tanya si paman.
"Kau tidak perlu tahu!" Sahut si nenek.
"O begitu.. sahabatmu yang tampan itu sedang sakit ya?" Tanya si Nenek pada Sakura.
"I-iya nek, dia sedang kritis, dan aku harus segera datang menjenguknya.. Hiks" Sakura menjelaskan dengan racau.
Si nenek pun menghapus air mata di pipi Sakura, Lalu dia pun berjalan tanpa mempedulikan rambu yang masih merah.
"Nenek...!" Sakura pun mengkhawatirkan si nenek yang tiba-tiba saja berjalan ke jalan raya.
"Tidak apa-apa, tenang saja gadis kecil". Ucap Nenek itu.
"Tiiiiiiiinnnnn!!!!" Heyy siapapun tolong suruh nenek ini minggir, dia sudah tidak sayang nyawanya ya!!".
Pengguna jalan yang mengendarai mobil itu memarahi sang Nenek dan menyuruh orang-orang disekitarnya untuk mengajaknya kembali ke bahu jalan.
"Aku rasa nenek ini benar kita harus mengambil tindakan, kita selalu tertahan di traffic light ini dan menghabiskan waktu berharga kita hingga setengah sampai 1 jam." Sahut penyeberang jalan yang juga mengantri di belakang Sakura.
"Iya ayo kita bantu nenek itu!". Imbuh yang lainnya.
Kemudian mereka tanpa menunggu lagi segera melenggangkan kaki nya menuju ke arah nenek dan memegang tangan nenek , kemudian mereka saling berpegangan tangan berjajar menghalangi kendaraan yang hendak melintas dan tidak mau mengalah pada para pejalan kaki tersebut. Hal ini merupakan sebuah bentuk protes dari para warga pada pemerintah yang mengatur undang-undang aturan pejalan kaki dan pengguna kendaraan di jalan raya.
"Gadis kecil, cepatlah menyeberang! Kami membuka jalan untukmu". Perintah si Nenek yang telah membantu Sakura mempercepat perjalanannya menuju ke rumah Syaoran.
"Astaga semua orang membantuku...." ucap Sakura berdecak kagum.
"Cepatlah! Kau jalan duluan lalu kami akan mengikuti!" Ucap sang Nenek lagi.
"Haikkkk! Arigatou Obachan!" Sakura kembali membungkukkan badannya pada Nenek yang telah membantunya.
Seketika setelah Sakura dibantu untuk segera menyeberang oleh orang-orang yang menahan laju kendaraan yang padat, mereka yang membantu nenek yang berjajar tadi pun ikut menyeberang ke sisi jalan.
Sakura pun segera membungkuk mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan mereka semua terutama si nenek.
"Semoga sahabatmu itu segera sembuh ya!" Ucap Sang nenek.
Lalu Sakura pun kembali yakin dan berpamit pada si nenek untuk segera melanjutkan perjalannya menuju rumah Li.
Sesaat setelah dia meninggalkan si nenek , dia menoleh ke belakang kembali , namun si Nenek yang tadi ternyata telah menghilang dari pandangannya. Sakura pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Namun tidak pula di temukannya ke beradaan si nenek, " Dimana nenek yang tadi ya? Cepat sekali menghilangnya...? Tapi aku harus bergegas"dia nampak heran, namun tak ada waktu lagi, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali dan berlari...berlari secepat yang dia bisa...
.
.
.
.
..."Berlari menuju orang yang paling dia sayangi"...
...............
Bersambung,