
.....
"Apa maksudmu Li?"
Akiho terduduk di atas tempat tidurnya, berselimutkan lagak sok polosnya itu.
Syaoran masih berdiri di sisi tempat tidur Akiho di sebelah kanan nya, Dia mulai menginterogasinya tentang aksi 'mata-mata' gadis perak itu tadi.
"Sejauh mana kau mendengar pembicaraanku dengan kak Nakuru?" tanya Syaoran.
"Kau ini bicara apa Li... Aku tidak mengerti?".
Akiho masih mengelak dan malah mengulurkan tangannya ke arah tangan Syaoran, dia memegang tangan pemuda itu.
"Bukankah kau kesini untuk menjengukku yang sedang sakit ini?"
Mata akiho berbinar dan menyiratkan banyak kerinduan, dia berharap Syaoran suatu saat dapat membalas perasaan nya itu.
"Berhentilah bersandiwara seperti ini Shinomoto!".
Syaoran melepaskan genggaman tangan Akiho dan menghempaskan nya. Selama ini Syaoran selalu menahan diri nya untuk tidak bersikap kasar pada gadis ini, dia masih bisa bersabar, namun kali ini dia sendiri tidak mengerti apa yang harus dia lakukan untuk menangani gadis ini. Dan akhirnya Akiho pun menyerah, dia mengakui bahwa dia telah mendengarkan semuanya.
"Hahaha.. Sekarang aku tahu siapa gadis incaranmu itu .... Li Syaoran!"
Akiho terbangun dari tempat tidurnya dan mendekat ke arah Syaoran berdiri. Matanya yang indah dan berwarna abu abu itu menatap mata amber milik Syaoran dengan tajam, dia tidak menemukan cinta untuk nya di dalamnya, seluruh nya di penuhi oleh nama gadis itu.. Sakura.. Sakura.. dan Sakura..
"Apa kah kau sudah tidak waras Li kun!! Kau menolakku hanya demi mendekati gadis biasa dan rendahan seperti itu!!!" Akiho semakin maju dan mendekat ke arah pemuda itu, namun Syaoran menjaga jarak dengan gadis yang sedang emosional itu, Syaoran melangkah mundur hingga dia terjebak di tembok kamar itu.
Kemudian akiho menyentuh dagu Syaoran dengan jari jarinya yang manis, "Kau ini benar benar bo*doh!!!" Umpat nya pada Syaoran.
"Aku tidak peduli apapun yang kau katakan kepadaku, Tapi asal kau tahu dia bukan gadis rendahan" Syaoran menghentikan tangan Akiho yang masih memegangi dagunya. Kemudian Syaoran menyingkir dari hadapan Akiho dan membelakanginya hendak pergi keluar dari kamar itu.
"Perasaan yang ada dalam hati kita juga tidak bisa dipaksakan Shinomoto!".
Akiho pun berkaca kaca mendengar perkataan Syaoran.
"Jangan pernah menyentuh gadis itu, Jika kau melakukannya aku tidak akan tinggal diam , mengerti!" tambah Syaoran penuh penekanan.
Seketika air mata Akiho mengering dia tidak bisa menerima keadaan ini, di mana Syaoran begitu melindungi gadis biasa itu, dan secara terang terangan menolak perasaannya. Sebelum Syaoran melewati pintu kamarnya, Akiho berkata padanya,
"Bagaimana kalau kak Fuutie tahu ya ? Pasti akan seru!!".
Kemudian Syaoran menghentikan langkah kakinya, Dia sempat merasa terancam dengan perkataan Akiho, Namun di dalam fikirannya dia menyadari bahwa cepat atau lambat kakaknya Fuutie pasti juga akan tahu tentang hal ini, Lalu dia hanya berkata "Aku tidak peduli!" dan meninggalkan Akiho sendirian.
"Menarik sekali, sejauh mana kau akan mengejar gadis murahan itu Li, Kau akan menyesal!!" Ancam Akiho didalam hatinya.
...------------...
Di rumah Sakura,
"Tidak terasa Sekolah ku di kelas 1 SMA sudah berjalan 1 minggu, itu artinya mulai besuk senin aku harus mulai mendaftar klub extrakulikuler"
Malam itu Sakura sedang mengemas peralatan sekolahnya ke dalam tas punggungnya. Dia sedang bingung memikirkan mau masuk klub apa di SMA nya ini.
"Hufft... Aku tidak berbakat dalam bidang Akademis maupun seni musik, semoga saja di Klub Olahraga aku bisa memilih Ekskull Cheerleadeers, sama seperti sewaktu SD dan SMP" Sakura bergumam sendiri di kamarnya.
"Tapi kegiatan ini juga ada biaya nya, aku tidak tega meminta uang saku lebih pada ayah dan ibu, apa sebaiknya aku bekerja paruh waktu saja ya seperti kak Touya" pikirnya.
"Sakura ayo kita makan malam dulu nak!".
"Haiiik" jawab Sakura.
Suara Nadeshiko sang ibu terdengar dari balik pintu kamar Sakura. Kemudian Sakura membuka pintu kamarnya untuk sang ibu.
"Ibu sudah memasakanmu Gyoza kesukaanmu sayang"
Terlihat seorang ibu yang berdiri di depan pintu dengan senyumannya yang hangat.
"Terima kasih ibu, Aku akan segera turun ke bawah".
Sakura membalas senyuman sang ibu. Kemudian dia kembali memasukan buku buku sekolah nya kedalam tasnya. Sang ibu pun menanyai nya,
"Tidak usah ibu, aku sudah hampir selesai kok".
Nadeshiko memandangi wajah sang putri dengan penuh perhatian, Sakura adalah seorang anak gadis yang polos dan baik hati, dia juga sangat peyayang pada kedua orang tua dan kakak nya Touya.
Nadeshiko dan Fujitaka suaminya selalu bekerja keras demi keluarga dan anak anak mereka, sebelumnya ketika Sakura dan Touya duduk di bangku SD dan SMP mereka masih mendapatkan subsidi pendidikan dari pemerintah, namun pemerintah Jepang hanya menggeratiskan biaya pendidikan selama 9 tahun saja, selebihnya ketika anak anak mereka mulai masuk ke 'Sekolah Menengah Atas' maka mereka sudah harus mempersiapkan dana pendidikan mereka secara mandiri.
Pada masa pemerintahan Perdana Menteri X setiap kepala mendapatkan tunjangan sebesar 12,000 yen (bagi yang single) dan bertambah besar bagi keluarga yang memiliki anak. Sumbangan tersebut juga dikelompokkan dalam kategori seikastsu sien atau kosodate sien (bantuan hidup dan pendidikan anak). Sumbangan ini tidak hanya diterima oleh kelompok miskin, tetapi diterima secara merata oleh semua warga Jepang.
Oleh sebab itu Touya rela berkuliah sambil bekerja paruh waktu untuk membantu meringankan beban kedua orang tua nya. Namun dia memang sudah melakukan nya sejak duduk di bangku SMA, tidak menutup kemungkinan Sakura pun juga berkeinginan untuk mengikuti jejak sang kakak untuk mulai merencanakan kerja paruh waktunya.
"Sudah selesai bersiap siapnya?" Tanya Nadeshiko.
"Sudah bu, ayo kita turun" Ajak Sakura.
............
Di ruang makan keluarga Sakura,
"Sakura, buah anggur ini manis sekali dan ukurannya besar-besar, tidak seperti biasanya, Kau membelinya di lapak bibi penjual buah biasanya kan?"
Seorang Laki laki paruh baya sedang mencuci buah anggur di wastafel. Kemudian dia membilasnya dan meletakkannya di atas piring buah. Sakura dan Ibunya pun lantas mendudukan dirinya di kursi ruang makan mereka. Menunggu sang ayah selesai mencuci buah anggur itu.
Malam itu mereka hanya makan malam bertiga saja, karena si sulung Touya sedang bekerja paruh waktu, sehingga tidak bisa ikut makan malam bersama dengan mereka.
"Anggur itu kan Li yang membelinya sewaktu ikut berbelanja denganku, Dia berkata 'berikan ini pada ibu dan ayahmu, semoga mereka suka".
Sakura menjelaskan pada kedua orang tuanya.
"??Li??" Ibu Sakura bertanya tanya.
Kemudian Pak Fujitaka memeriksa buah anggur itu, dan dia kembali bertanya pada sang anak,
"Berapa harga nya?"
"Aku dengar waktu itu bibi penjual buah menyebutkan harga 1.770 yen" jawab Sakura.
"Apa!??" Fujitaka dan Nadeshiko tersentak kaget mendengar penjelasan anak gadisnya itu.
"Iya, dan Li ternyata pintar berbahasa Mandarin sama seperti bibi penjual buah itu yang aslinya memang orang Tiongkok, saat itu mereka berbisik bisik dan Li akhirnya hanya membayar seharga 1000 yen saja, katanya itu uang sakunya".
Sakura menceritakan tentang kejadian sebelumnya ketika dirinya dan Syaoran berbelanja di Pasar Tsukiji beberapa hari yang lalu.
"Apa!!???" Kedua orang tua Sakura tercengang kembali.
Ibu dan ayah Sakura saling memandang satu sama lain, Mereka memikirkan hal yang sama.
Namun kenaifan anak gadis itu memang di luar batas.
"Uang saku 1000 yen untuk sehari saja, itu adalah uang saku-mu untuk satu minggu Sakura, Kau dalam sehari diberi uang saku oleh ayah hanya sebesar 150 yen saja karena kau masih duduk di bangku kelas 1, pengeluaranmu belum sebanyak untuk siswa kelas 2 dan kelas 3 SMA." pungkas Fujitaka.
"Apa ya pekerjaan orang tua Li sampai memberi uang saku sebanyak itu?" tambah Nadeshiko.
"Mungkin Li mengumpulkan uang sakunya untuk membeli anggur itu, mana mungkin seorang pelajar biasa membawa uang saku sebanyak itu dalam sehari" Kata Fujitaka.
"Kau benar juga sayang" Balas Nadeshiko.
"Baiklah... Katakan terimakasih pada Li ya sayang" Suruh Fujitaka pada putrinya.
"Haiik" Sakura pun tersenyum, dibalik senyumannya itu dia sedang memikirkan sesuatu, Namun Sakura butuh saran dari seseorang yang dia percayai.
............
"Drrrttt...." Ponsel Syaoran bergetar.
"Li, apakah kau ada info pekerjaan parttime?"
Syaoran yang masih berada di dalam mobil bersama Wey hanya tersenyum setelah membaca pesan dari seorang gadis. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu....
Bersambung,