My Prince From Hongkong

My Prince From Hongkong
"Kejutan lagi?"


"Gubrakk!!"


Touya terjatuh di lantai ruang tamu. Dan Nakuru terbangun seketika dari posisinya tadi. Sudah jatuh kejedot meja pula, mungkin itulah karma untuk anak muda yang mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan.


"Aduh!" pekik pemuda bersurai legam tersebut sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol.


"Touya, apa yang sedang kau lakukan??"


Otousan dan Okaasan pun saling memandang dengan masih menenteng perabotan untuk jualan mereka dari Festival Hanami tadi.


"Mengejar tikus ayah!!" Touya pun mencari-cari alasan atas tingkahnya yang aneh.


"Tikus!?" Nadeshiko pun terhenyak kaget sampai-sampai menjatuhkan panci berisi peralatan dapur yang dibawanya dan langsung meminta gendong pada Fujitaka suaminya. Teriaknya lagi merasa insecure ketika tahu rumahnya kemasukan binatang pengerat menjijikan itu "Sayaaang!? cepat bantu Touya usir tikus itu!!."


Nakuru pun berdiri dan tergelitik melihat tingkah spontanitas yang konyol dari ibu Touya, Nadeshiko.


"Sayang, bagaimana aku bisa membantu Touya kalau kau saja minta digendong seperti ini?."


Nakuru pun terlihat semakin geli melihat situasi canggung namun menggelikan ini.


"Oh iya ya".Lalu sang istri turun dari gendongan suaminya sambil tersenyum "hehe!."


"Dimana tikus nya Touya?" Sang ayah pun dengan cekatan membawa gagang sapu dan hendak memukul tikus yang sedang dicari-cari Touya.


"Ano... Si-siapa gadis ini Touya?" Nadeshiko pun baru menyadari ada sesosok wanita berpenampilan agak tomboy namun tetap modis, yang memakai celana skinny jeans, inner t-shirt putih polos dan mengenakan blazer hitam beserta belt, tidak lupa highheels yang tidak terlalu tinggi melengkapi outfit nya yang membuat ibu Touya itu berdecak kagum sekaligus bertanya-tanya.


"Kau siapa??" Tanya Nadeshiko.


"Oiya ibu, ini temanku!" Touya pun menengahi ibu nya dan Nakuru.


"Aku minta maaf tidak ijin dulu membawa teman kerumah". Touya mendekati sang Ibu sambil merangkulnya, dimana tinggi sang ibu memang kalah jauh dibandingkan tinggi Touya.


"Kenalin temanku " Nakuru".


"Nakuru, kenalkan ini ibu ku."


Touya pun memperkenalkan Nakuru sahabatnya pada Nadeshiko sang ibu.


"Hajimemashite, watashi wa 'Akizuki Nakuru' to moushimasu. Yoroshiku onegaishimasu."


(Salam kenal, saya bernama Nakuru Akizuki Senang bertemu dengan anda.)


"Hajimemashite, watashi wa 'Nadeshiko Kinomoto' to moushimasu. Kochira koso, yoroshiku onegaishimasu."


(Salam kenal juga, saya bernama Nadeshiko Kinomoto. Senang berkenalan denganmu juga).


"Tidak ada Tikusnya Touya!" Kata sang Ayah dengan sedikit bernada tinggi.


"Duk..dukk..dukkk" Suara langkah kaki terdengar terburu-buru menuruni tangga.


"Ada apa Onii-chaan?".


Sakura penasaran ada ribut-ribut apa di lantai bawah rumahnya.


"Sakura-chan!" seru Fujitaka ayah mereka sembari tersenyum melihat anak gadisnya terlihat berbeda kali ini.


"Otousaan..Okaasan... Kalian sudah pulang!". Ucap Sakura ceria.


Lalu Sang ayah kembali menatap Touya dan beralih menatap gadis asing yang berada ditengah anggota keluarganya saat ini. Dia pun bertanya "Ini siapa?".


"Saya Nakuru Akizuki pak, saya teman Touya sewaktu bersekolah di Horikoshi." Jawab Nakuru bersemangat sembari membungkukkan badannya pada ayah Touya.


Fujitaka balas membungkuk pada Nakuru dan kembali bertanya, "Ooh... Jadi kamu sempat punya sahabat yang dekat ya Touya sewaktu di Horikoshi Gakuen?".


"Iya ayah temanku di sana ya cuma Nakuru ini." Ucap Touya lugas.


"Saya Fujitaka, ayah Touya. Silahkan dilanjutkan ngobrolnya ya Akizuki-san! Nah saya mau berberes beres peralatan dulu kalau begitu."Kata Fujitaka ramah.


"Haikk!". jawab Nakuru.


Lalu Sakura yang baru saja turun tanpa diminta seperti biasanya dia membantu ayah dan ibunya untuk membawa peralatan dapur yang kotor itu ke belakang untuk dicuci "Mari Ibu". Begitupun Touya yang langsung membantu membawa panci-panci besar bekas menaruh kaldu ramen.


"Sakura... Kau pasti lelah dan capek seharian bersekolah dan bekerja, biarkan ayah dan ibu yang membereskan ini, nak." Kata Nadeshiko halus.


Melihat pemandangan ini Nakuru pun hendak membantu juga, namun dilarang oleh Nadeshiko " Tidak usah Akizuki-san, silahkan duduk saja, kami sudah biasa melakukan ini kok." sambil tersenyum.


..."Keluarga ini ramah dan hangat sekali, pantas saja Li-san sangat tertarik pada Sakura dan juga keluarganya" batin Nakuru....


.....


Pagi harinya di Marina Bay sands,


"Hooooaaahhhm".


"Tidurku pulas sekali tadi malam".


"Kapan pelayan hotel di sini masuk kamarku!? Sungguh tidak sopan!" gerutunya.


Lalu ada yang menarik perhatiannya.


"Balon?"


Wanita lajang itupun bangun dari bed nya dan menghampiri meja Lounge yang penuh hidangan breakfast mewah berserta sebuah balon berwarna gold bertuliskan "Good morning great women"


"Yue kah?" Fuutie bertanya-tanya.


"Youuuu....youuuu" handphone Fuutie menerima panggilan masuk.


"Flip".


"Selamat pagi Nona Fuutie." Sapa Yue dari seberang telepon.


"Pa-pagi Yue-san... Kau mempersiapkan semua ini untukku?" Tanya Fuutie.


"Mempersiapkan apa?" Yue berbalik bertanya dengan santai.


"Breakfast! dan... balon?" Tanya Fuutie meminta penjelasan.


"Apakah anda suka?"Kata Yue.


"Emm ya.. saya suka, tapi sebuah balon apakah saya nampak kekanak-kanakan?


"Anda lihat sebuah jarum di sebuah cawan?". Tanya Yue lagi.


"Emm...jarum?" Fuutie pun mengambil jarum yang di maksud Yue "Ada, lalu?."


"Tusuk saja balon nya". Suruh Yue.


"Darr!!!"


"Plukk!!"


"Apa ini?" Fuutie pun mengecek ada sesuatu yang terjatuh dari dalam balon gas yang telah diletuskan tersebut.


Sebuah Box kacamata brand Italia yang masih tersegel dibuka oleh Fuutie.



Bvl*gary Flora Sunglass yang bertahtakan Berlian pada frame bagian atasnya itu dihadiahkan oleh Yue untuk Fuutie.


Seluruh bagian dari bingkai kacamata Bvl*gari Flora terbuat dari emas putih 18 karat. Tak hanya itu, bingkai semakin mewah berkat taburan berlian dan batu Safir biru. Menambah unsur elegan nan mewah dari kacamata ini. Harganya pun mencapai 69.771,19 Dolar Singapura. Jika dirupiahkan sekitar +/- Rp. 793.000.000, sebuah angka yang amat fanfastis untuk pemberian cuma - cuma dari seorang Klien biasa.


"I-ini untuk saya?" Fuutie merasa sangat terkejut dengan surprise dari Yue kali ini, dia pun merasa tidak enak dengan serangkaian hadiah-hadiah mewah dari Yue.


"Piiiippp" Panggilan telepon Yue meminta untuk dialihkan ke mode Video call.


"Kalau anda kurang suka, saya akan menukarnya dengan model yang lain."


Terlihat Yue sedang berada di ruangan Gym apartement nya dan sedang berlari di atas Treadmill dengan mengenakan singlet dryfit yang dipadukan dengan celana compression.


Fuutie li yang pagi ini bahkan belum mencuci wajahnya, melihat Yue yang sangat menggoda dengan posturnya yang maskulin, sejenak wajahnya menjadi merona dan sontak Wanita itupun menutupinya karena malu. Malu karena dirinya lebih lambat bangun pagi ketimbang Pria tampan di ujung panggilan telepon dan juga malu karena melihat Yue yang secara tak sengaja memamerkan otot-otot nya yang kekar dan sixpack.


"Bagaimana Nona Fuutie?". Tanya Yue lagi.


"Luar biasa" jawab Fuutie yang mengira Yue bertanya tentang penampilannya.


"Kacamata itu luar biasa??" Yue mengernyitkan alisnya.


"Bu- bukan... Eh Iya aku sangat menyukai ini thank you very much Yue-san". Fuutie pun senang.


"You're welcome, selamat menikmati pelayanan di Marina bay ya Nona Fuutie"Ucap Yue.


"Pelayanan maksud anda?"Fuutie bertanya lagi.


"Anda bilang semalam merasa jet lag kan, jadi saya sudah menghubungi pelayanan Spa dan salon untuk memberikan threatment special untuk anda" Kata Yue penuh perhatian.


"Awesome! I love Spa yo know!" Fuutie dengan wajah polos tanpa make up nya menebarkan senyum nya yang natural dan manis pada Yue.


"Enjoy it!" Yue pun tersenyum walau sambil berkeringat dan sedikit terengah-engah sehingga wanita manapun yang melihatnya pasti berpendapat sama bahwa 'dia sangat sexy'. Nampak dengan jelas semburat kemerahanpun juga kembali terlihat di pipi mulus Fuutie.


"Sampai jumpa Nona Fuutie" Tutup Yue.


"Sampai jumpa Yue-san".


...............


Bersambung,