
Di sini hanya ada kau dan aku...
Awalnya kau begitu menarik perhatianku saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di Jepang...
Kau membuatku selalu terbayang akan wajahmu yang manis...
Tak disangka kau pula yang akhirnya menolongku dari keterpurukan ku saat itu...
Aku tak pernah membayangkan akan bisa sejauh ini mengenalimu.. bisa berjalan berdua denganmu.. Menjagamu walau sebentar saja...
Apa yang sebenarnya ku rasakan?
"Apa perasaan ini?"
...***********...
"Jadi ikut berbelanja?" Kata si Cherry Blossom.
"ah"
Si serigala kecil tersadar akan lamunan nya.
Mereka pun berjalan kaki dengan rute yang tidak biasa mereka lewati ketika pulang ke rumah keluarga Sakura.
Syaoran sedikit terkaget ketika Sakura mengarahkan perjalanan mereka menuju jalan yang tidak asing baginya.
Ini jalan menuju sekolahnya Horikoshi gakuen.
"Tunggu dulu.. Ini kan jalan menuju ke sekolahku. Dan hari ini masih ada beberapa murid yang masih tertahan di sekolah karena armada shutlle bis nya sedang terbatas" gumam Syaoran dalam hati.
"GAWAT!!"
Sebelum ada yang mengenalinya dia buru buru mencari masker di dalam tas nya.
"Sepertinya aku menaruhnya di sini tapi kok tidak ada!"
Syaoran berhenti berjalan dan mencari cari senjata rahasianya itu.
"Ada apa Li? Kau mencari sesuatu?" Sakura bertanya tanya.
"Aku mencari maskerku".
"Masker?" Sakura keheranan.
"Sepertinya disini banyak polusi udara".Syaoran mencari alasan sambil menutupi hidung serta mulutnya.
Sakura menoleh ke arah kanan dan kiri celingukan, dia juga melihat ke sekeliling nya, dan dia hanya berkata di dalam hati "Padahal disini jalanan sepi, jarang sekali kendaraan yang lewat, emm oh mungkin dia alergi debu?".
"Kau bisa pakai punyaku, ini warna nya netral kok"
Tangan lembut itu mengulurkan sebuah masker berwarna hitam kepada si tuan muda.
"Arigatou..."
Syaoran lantas memakai masker itu agar teman temannya yang masih ada di sekolah tidak mengenalinya.
"waaa... waaa.. " suara berisik murid murid yang masih tertahan di Sekolah karena menunggu shutlle bis berikutnya.
Syaoran berusaha santai ketika melewati seberang gerbang sekolah nya sendiri,
"Kau kenapa Li?" tanya Sakura seperti merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Tidak apa apa kok, tenang saja"
Sekarang Syaoran tahu kenapa Sakura melewati sekolahnya waktu itu, yaitu pada saat dia akan pergi berbelanja.
Di satu sisi Sakura masih memandangi pemuda di Sebelahnya, dia mulai ingat ada seseorang yang sangat mirip dengan pemuda itu. "Li sangat mirip dengan cowok dari Horikoshi waktu itu" batinnya.
Namun dia menghilangkan prasangkanya itu karena Li bilang dia bersekolah di SMA Nasional dan bukan dari Horikoshi.
Setelahnya mereka melewati perempatan dan lurus saja, berjalan terus sampai mulai terdengar suara ramai orang orang di Pasar tradisional.
Sebuah Papan nama bertuliskan 'Pasar Tsukiji'.
"Kita sudah sampai Li"
Sakura memarkirkan sepeda miliknya di area parkir khusus sepeda.
"Ayo masuk" ajak Sakura.
Pov Syaoran
Tangan nya meraih tanganku, mengajakku memasuki dunia nya yang ringan tanpa beban, aku pun berpasrah merelakan genggaman tangan ini akan di bawa kemanapun dia pergi...
Dia membawaku ke sebuah kios penjual bahan bahan makanan yang aku sendiri tidak mengerti apa saja itu.
"こんにちは"
Kon'nichiwa(Selamat sore).
Ucap dengan Sopan gadis bersurai coklat sama sepertiku itu,
"Seperti biasa ya paman, tepung terigu protein tinggi, soda kue, garam, kemudian vital wheat gluten".
Gadis manis ini sedang menyebutkan daftar belanjaannya pada paman itu. Aku tak bisa melepaskan pengamatanku dari nya. Terbayang kelak saat aku sudah dewasa akupun ingin menemaninya seperti ini, seperti sepasang kekasih...
"Plukk!" Aku menepuk jidadku, karena tidak percaya anganku berkelana entah kemana mana.
Sakura menoleh ke arahku.
"?? Kau pusing Li?".
"Eh tidak kok"
Dia terlalu peka untuk meneliti setiap tingkahku, Apakah dia juga memperhatikan ku?
.......
受けてください。
"Ukete kudasai" (Silahkan diterima) belanjaannya"
Paman itu pun menyerahkan sebuah paperbag berisikan bahan bahan sembako belanjaan milik Sakura tadi.
Sakura tersenyum sembari berterimakasih. Namun paman yang kelihatan lebih tua daripada ayah Sakura itu masih memandangi kami berdua, apakah ada yang salah?
"Kalian pasangan yang serasi" kata paman itu.
Aku dan Sakura tersentak kaget dengan ucapannya,
"T-t-tidak paman, dia temanku, kami hanya berteman kok".
"Kalau hanya berteman mana mungkin dari tadi gandengan tangan itu tak dilepaskan, hm?"
Paman itu menunjuk ke arah genggaman tangan ku dan Sakura yang memang dari tadi masih lekat satu sama lain.
What???
Aku dan Sakura lantas melepaskan tangan kami masing masing, kami berdua sama sama malu dan tidak berani menatap ke arah paman itu.
"Arigatou"
Hanya itu yang terucap dari bibir Sakura.
Kami pun melanjutkan misi berbelanja kami ke kios Sayuran,
"Permisi Bibi, bisa tolong ambilkan aku wortel, daun bawang, biji wijen, nori, jamur hioko, jamur Shiitake, bawang putih, dan miso(pasta kedelai khas Jepang)."
Sakura menyebutkan daftar belanjaannya yang lain yang terdengar seperti jenis jenis Sayuran.
Di sebelah kios sayuran juga terdapat kios buah buahan yang sepertinya sangat segar, akupun berinisiatif ingin membelikan buah untuk orang tua Sakura karena mereka sudah baik padaku.
Kebetulan penjual kios buah itu adalah orang Chinese sama sepertiku,
"Halo pemuda tampan, Sedang mencari apa?" tanya Bibi penjual buah itu yang kelihatannya sangat ramah.
你好! 我要买水果。有葡萄吗?
"Nǐ hǎo! Wǒ yāomǎi shuǐguǒ. Yǒu pútáo ma?"
(Halo! Saya ingin membeli buah, Apakah ada buah anggur?)
"Waah.. Kau rupanya orang Tiongkok juga ya, jangan jangan kau ini artis ya wajahmu familiar sekali" tanya bibi itu.
"Saya bukan artis kok bibi" jawabku. Namun bibi itu masih saja memandangku dengan aneh.
Sakura mengikutiku ke kios sebelah tempatku membeli buah dan nampaknya dia sedikit kagum melihatku berbahasa mandarin, Yap ini kesempatanku untuk mencuri perhatiannya.
葡萄酒每磅1770日元
Pútáojiǔ měi bàng 1770 rì yuán.
"1770 yen per pon anggur"
Bibi Orang tiongkok itu menyebutkan harga anggur jualannya.
Aku kaget, kenapa harga anggur di Jepang mahal sekali. Uang saku ku saja tidak cukup untuk membeli buah ini, tapi aku ingin memberi sesuatu yang special untuk orang tua Sakura.
Aku harus mencari ide, Ibu hanya memberiku 1000 Yen. Ini masih kurang untuk membeli buah anggur itu.
(Uang saku Syaoran JPY 1000 +/- IDR 158.623,41 jauh daripada uang saku anak SMA Jepang pada umumnya sekitar 180-200 Yen saja).
那么贵。 可以算便宜一点吗?
Nàme guì. Kěyǐ suàn piányí yīdiǎn ma?
"Sangat mahal, Bisa lebih murah?" tawarku pada Bibi bermata sipit itu.
我们的葡萄是最好吃的。 你可以尝一尝。
Wǒmen de pútáo shì zuì hào chī de. Nǐ kěyǐ cháng yī cháng.
"Anggur kami yang terbaik. Kamu bisa mencobanya"
Aku pun menyuruh Sakura untuk mencoba nya
"Coba lah"
Dia menerima nya dan memasukan ke mulutnya,
.... " Manis sekali.... " katanya, sama seperti wajahnya pikirku.
Sakura kelihatan menyukai buah anggur itu. Aku harus tetap mendapatkannya!
Hey Bibi tadi bilang wajahku seperti artis kan, bagaimana jika aku bilang bahwa sebenarnya aku memang artis, haha berhasil tidak ya?
Aku mendekat ke bibi itu, dan Aku berbicara pelan pelan kepadanya.
"Bibi saya sebenarnya memang artis".
Bibi itu langsung mengambil Ponsel dari saku apparon nya lalu dia berkata "Benarkan bibi bilang apa tadi, ayok foto dulu!!".
"eitss tunggu sebentar"
"Aku akan memberikan foto gratisku pada bibi asalkan Anggur itu boleh untukku dengan harga 1000 yen saja, bagaimana?"
Aku mencoba (menjual tampangku) untuk pertama kali demi memberi hadiah untuk cewek di sebelah ku.
Aku hanya menatap mata si bibi itu dengan tatapanku yang paling mempesona.
"Setuju" Bibi itu menyetuji tawaranku.
Sakura hanya terdiam dan heran karena dia tidak mendengar pembicaraan ku dengan si Bibi penjual buah anggur tadi.
"Blitzz"
Satu foto bersamaku ditukar dengan 770 yen. Tidak masalah.
"Ini Untuk mu"
"Untukku? Arigatou".
Sakura menerima nya, namun dia sedikit heran kenapa Aku bisa mendapatkan Anggur yang mahal ini.
Tapi itu semua tidak penting, karena kebahagiaan gadis itu membawa ketenteraman bagiku..
Aku ingin terus melihatnya tersenyum...
Selalu tersenyum...
Pov Syaoran end
.........
Dua remaja itu telah selesai berbelanja. Mereka telah keluar dari dalam Pasar. Syaoran yang membawakan semua belanjaan itu, Sesekali Sakura mencoba meminta salah satu kantong itu untuk dia bawa sendiri agar Syaoran tidak keberatan, namun Syaoran menolaknya. Dia tidak ingin si Cherry Blossom itu merasakan kesusahan lagi, seperti yang biasa Sakura lakukan ketika harus berbelanja sendirian.
Bersambung...