My Prince From Hongkong

My Prince From Hongkong
"Apakah kau benar-benar tulus?"


"Ckiiiitttt.....!! "


Supercar yang dinaiki Yue pun juga berhenti, sang pengendara yang hanya berjarak beberapa meter dari pesaing nya di sebelahnya itu pun mengamati wanita di samping nya dengan tatapan nya yang menusuk.


"Anda Serius dengan ucapan anda itu?" Fuutie melepas kacamata nya yang berhiaskan logam mulia itu, Kemudian ditatapnya sepasang irish safir yang mendinginkan hati tersebut.


"Kelihatannya apakah saya bercanda?."


Yue dengan lirikan di sudut mata nya yang tajam itupun sanggup menelisik pendirian Fuutie. Wanita lajang itu tidak bisa berfikir rasional saat ini. Dia pun nampak diam sejenak, lalu berkata dalam hati " Baiklah.. kau fikir Fuutie seorang wanita materialistis Tuan Yue yang sempurna!."


"Aku terima tantanganmu!!" katanya lantang.


"Brumm!!" kedua nya melepaskan handle rem masing-masing dan kembali ke jalur trek.


Fuutie melaju dengan begitu yakin dan saat ini posisinya beriringan dengan pemilik rambut silver panjang terikat itu. Mobil Yue tak sanggup menyaingi mobil Fuutie saat belokan, sehingga wanita itu sangat berkesempatan untuk memenangkan balap. Namun tak kalah mencengangkan akselerasi mesin mobil Yue saat berada di jalan lurus, tentu saja tak terkalahkan untuk kelas Supercar.



Yue pun mencuri start terlebih dahulu. Ambisi nya sangat menggebu untuk memenangkan trek ini agar bisa memenangkan hati wanita berdarah Hongkong ini.


Fuutie berdoa dalam hati, "Aku harus mengalahkan Yue!." Kemudian diinjak nya pedal gas sampai kecepatan mobil itu mencapai 200km/jam, bagaikan hanya satu kedipan mata saat mobil itu melintas.


"Bruummm....brummmm"


Keduanya perlu melewati satu belokan akhir dan akan tiba di garis Finish.


"Swoshhh!!!."


Pada saat bersamaan langit yang tadinya cerah dan awan yang ramah tiba-tiba memuntahkan segala isinya, begitulah cuaca di Negara Kota Singapura intensitas hujannya lumayan sering dan juga tidak dapat dipresdiksi, dapat sewaktu-waktu turun di musim apapun. Di tengah derasnya guyuran hujan Fuutie dengan kecepatan maximal mobil dalam kendalinya itu menyalakan Single wiper agar pandangan nya ke depan tetap jelas.


Yue pun tetap tidak mau kalah, dia mengiringi mobil Fuutie dari samping kanan.


"Swoshhhhhhh!!!..."


Hujan pun turun semakin deras daripada sebelumnya. Lalu sebelum melewati belokan terakhir Yue menyadari "Ini tidak akan bagus berkendara dengan kecepatan tinggi dalam derasnya hujan". Kemudian Yue memperlambat laju kendaraannya, Lalu membunyikan klakson si Ferrari-nya untuk memperingatkan Fuutie di sampingnya.


"Tiiiiin...Tiiiin!!!" Klakson Mobil Yue memekik kencang, Lalu pengendara Ferrari itu berteriak, "Fuutie hujan semakin deras kita lanjutkan besuk saja!! "


"Apa maksudmu!! kau menakut-nakuti ku agar aku kalah kan Yue!!"


Namun Fuutie tak mengindahkan peringatan Yue. Dia tetap mengemudikan kendaraan itu tak ubahnya seorang pembalap mobil professional. Pasalnya kondisi jalan yang licin dapat membuat atraksi ban ke aspal berkurang karena jalanan yang basah dan beresiko membuat mobil Lamborghini menjadi selip. Bila tetap nekat memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi saat turun hujan seperti ini dapat mengakibatkan sesuatu yang tak diinginkan.


"Bruuummmmm!!!."


Benar saja, saat sampai di belokan itu ban mobil Fuutie tiba-tiba selip.


"Ckiiiiiiiitttt"


Rem pada ban mobil itu tak mampu meng-handle laju kendaraan nya, sehingga mobil Fuutie terpelanting memutar dan menghantam separator jalan dengan keras. "Duaaakkk! "


Suara keras menghujam telinga, menghancurkan setiap ketenangan orang yang mendengarnya, termasuk Yue dibelakangnya.


"Wanita itu celaka!" batinnya.



..."Kabooom!!" Mobil yang dikendarai Fuutie li terbakar....


.


.


.


.


.


"Ibu.. Syaoran.. maafkan aku.. "


................


"Uhukk".


"Li.. tubuhmu sangat panas".


Sakura melepaskan pelukan Syaoran yang melemah, kemudian menyandarkan nya di sandaran Bed nya dan melapisinya dengan sebuah bantal.


"Apakah kau sudah makan?"


Sakura menatap kedua Irish amber itu dengan dalam dan penuh perhatian.


"Aku tidak ingin makan, kau ada di sini saja itu sudah cukup." Kata Syaoran dengan lemah dan sambil tersenyum pada gadis di depannya itu.


Syaoran pun hanya tersenyum pasrah dan lebih tenang.


"Pak Wey, Syaoran sudah makan apa seharian?."Sakura bertanya pada Butller pemuda yang tengah berbaring setengah duduk di bed nya itu.


" Mm... " Wey pun berfikir keras.


"Mm? apa?. " Sakura kembali bertanya.


"ya.. " Wey pun menjawab tidak jelas karena tidak. yakin.


"Ya... apa maksudnya? " Sakura memiringkan kepalanya dan meneliti wajah bapak tua itu.


"Belum makan apa-apa.. " jawab Wey sambil tersenyum.


"Apa? pantas saja suhunya panas sekali!! Baiklah.. Pak Wey pinjam dapurnya boleh? " Sakura sontak terkejut karena baru mengetahui kalau Syaoran belum mau makan apapun seharian.


Syaoran yang memandang ke arah Sakura dan Wey-san pun dengan seksama melihat pembicaraan mereka, dan Wey menyadarinya maka dia pun menjadi gugup dengan permintaan Sakura untuk pergi ke dapur, namun Syaoran menganggukkan kepala pelan ke arah Wey, dan pria tua itu pun menjawab "Te-tentu No-nona..boleh saja ".


Tak lama Wey dan Sakura pamit untuk pergi ke dapur. Letak dapur bersih berada di lantai paling bawah di dalam mansion Fuutie, jadi mereka tetap harus melewati lift terlebih dahulu. Dan setibanya dilantai bawah Sakura langsung diarahkan oleh Wey menuju area dapur bersih.


"Silahkan nona Sakura"Wey pun mempersilahkan.


"Arigatou Wey-san" jawab Sakura lembut.


Kemudian Sakura tiba di dapur yang amat luas dan mengkilap dengan gaya klasik modern.



...Dapur Mansion Fuutie....


"Plok.. plok.. "


Wey menepuk kedua tangannya, mencari perhatian para pelayan agar berkumpul. Kemudian 5 pelayan berkumpul di hadapan pria tua itu "Mohon perhatiannya ya semua! " titahnya.


"Haikk.... " kelima nya pun menganggukan kepala.


"Tolong bantu nona Sakura memasak untuk Tuan Muda. " Wey pun memberi perintah.


"Baik!!! "Jawab mereka berlima serempak.


"Ti-tidak perlu dibantu juga tidak apa-apa kok! saya.. saya... " Sakura gugup dengan perlakuan Wey-san dan kelima pelayan yang berada di depannya yang telah bersiap untuk membantunya memasak.


"Baiklah saya tinggal dulu, silahkan jangan sungkan-sungkan nona Sakura, mereka akan membantu anda ya" Wey pun pamit dan kemudian hendak pergi dari area dapur.


" Ba-baik Wey-san, arigatou"


Wey pun tersenyum kembali.


Kemudian salah seorang pelayan berusia hampir sama dengan ibu Sakura pun menghampiri nya dan mengulurkan sebuah Apparon, pelayan itu berperawakan lembut dan ramah. dia pun berkata "Silahkan apparon nya nona.".


"Hey Pakaikan lah, masa kau menyuruh 'calon nona Li' untuk memakai apparon nya sendiri!! " Tandas seorang pelayan lain yang berbadan sedikit berisi dan dengan perawakan agak sedikit kasar, dan juga terlihat sok mengatur.


"Ca- calon.... calon apa? mereka ini sungguh keterlaluan membicarakan ku! ". Batin Sakura sedikit kesal, namun tak dapat dipungkiri wajah nya memerah.


Kemudian wanita galak itu mendekati Sakura dan pelayan yang memberikan apparon tadi.


"Maafkan saya ketua, lain waktu saya akan mengingatnya" Ucap pelayan yang ditegur olehnya.


"Dasar pelayan baru dari desa, kalau bekerja saja tidak fokus bagaimana bos Fuutie akan mempertahankanmu! ." pelayan yang lebih dominan itu menyindir pelayan yang sedang memakaikan apparonya pada Sakura.


"Maafkan saya ketua, jangan adukan pada Nona besar" pelayan itu pun memohon.


"Ya sudah cepat bantu 'calon Nona Li' ini! "


"Baik" jawab pelayan baru.


Sakura pun semakin nge -blush dan berkata dengan kencang hendak memberitahu mereka bahwa dugaan mereka itu salah "Tu-tunggu dulu!!! ma-maaf sebelumnya, biar saya jelaskan bahwa Sa-saya bukan... "


Semua pelayan menatap ke arah Sakura,


....


"Bukan apa?". Suara lain pun datang dari sudut pintu masuk dapur,


Para pelayan termasuk Sakura pun mengalihkan pandangan ke arah pemilik suara tegas itu,


.............


Bersambung,