
Gedung Li's Accompany, Hongkong.
.....
"Pyaarrr!!"
"Astaga!!! firasat apa ini!." gumam Yelan dalam hatinya. Cangkir Kopi itu tak sengaja dijatuhkan olehnya saat sedang rapat rutin bersama para bawahannya.
"Nyonya Li... Anda tidak apa-apa?."
"Nyonya Li.. "
Di tengah suasana meeting perusahaan, Nyonya Yelan li tampak gelisah dan tak fokus. Fikirannya sedang rumit tentang Syaoran yang saat ini tengah sakit dan juga belum menampakkan perkembangan mengenai kondisi kesehatannya. Dan juga tentang Fuutie yang belum memberikan respon apapun atas panggilan telepon nya sejak pagi tadi.
Dua orang bodyguard nya pun mendekat dan hendak membantu sang Nyonya besar untuk berdiri lalu kembali ke ruangannya.
"Saya rasa meeting untuk hari ini sampai disini dulu, Terima kasih."
Wanita setengah baya itu pun bangkit dari kursi utama dan kemudian membungkukkan badan, serta dibalas oleh para bawahannya sopan.
"Baik nyonya Yelan". Ucap para bawahannya.
Kemudian para bodyguard mengikuti dan menjaga Bos besar itu dari sekelilingnya.
Sesampainya di ruangan nya, "Kalian diluar saja, saya sudah tidak apa-apa." Perintahnya tegas dan berwibawa.
"Tapi Nyonya... " Salah satu pengawal merasa khawatir pada bosnya tersebut.
Wanita dingin itu kembali membuka mulutnya dan berkata, "Tolong jemput Shiefa dan bawa dia kemari." Titahnya kepada para ajudan.
"Baik Nyonya".
Kemudian setelah para bodyguard keluar dari ruangannya, Yelan masih berdiri bersandar di mejanya, dia meletakkan tangan kirinya di pinggangnya yang ramping lalu tangan kanan nya memegangi dahinya yang terasa berat. "Semoga langkah ini yang paling tepat." Ucapnya yakin.
"Ibu menyuruhku ke kantor pusat? untuk apa?. "
...Shiefa Li, Anak kedua Yelan Li....
Wanita berusia 33 tahun ini menjadi tangan kanan Yelan dalam me-manage bisnis Resto nya yang berada di Hongkong dan juga Tiongkok. Dia memiliki perawakan oriental yang kental, rambut pendek brown dan bermata amber yang sama dengan Syaoran sang adik bungsu, Sifatnya pun hampir sama yakni sedikit dingin, namun terlebih lagi Shiefa sudah dewasa dia semakin membangkang terhadap perintah dari orang lain tak terkecuali sang ibu Yelan.
....
Beberapa menit kemudian Shiefa pun datang dan mengetuk pintu dengan ruangan ber-papan nama 'Ruang CEO' tersebut.
"Ibu, ini aku Shiefa". Ucapnya dari balik pintu ruangan Yelan.
"Masuk." Perintah Yelan.
Kemudian Shiefa adik Fuutie li ini melenggang masuk ruangan itu dengan gaya nya yang elegan dan beraura sedikit lebih keras dibanding sang kakak.
"Ibu, Kenapa tiba-tiba ibu menyuruhku ke sini? apakah ada sesuatu yang urgent? " Shiefa menatap sepasang mata yang sama dingin nya dengan miliknya, bisa dipastikan bahwa Shiefa menuruni karakter keras ini dari sang ibu.
"Bersiap-siaplah, sore ini kau akan terbang ke Jepang." Jelas Yelan.
"Ke Jepang? " Shiefa sontak terkejut dengan perintah sang ibu.
"Kenapa tidak Ibu saja? " Sanggah nya.
"Kali ini saja Shiefa, menurut lah pada perintah ibu." Yelan sang ibu kembali menatap Shiefa dengan sedikit lembut.
"Hah... selalu saja Syaoran yang ibu fikirkan, apakah hanya dia anak Ibu sedangkan yang lain itu anak tiri? " Celetuk Shiefa dengan nada menyindir.
"Shiefa!. " Yelan membentak Sang anak dengan intonasi keras.
"Hm, baik Ibu". Jawab Shiefa pasrah pada sang ibu.
"Pastikan keadaan Syaoran membaik, baru kau boleh kembali ke Hongkong. Ibu sudah mengatur jadwal penerbanganmu dengan menggunakan Private Jet. "
...Yelan mengirim Shiefa ke Jepang secepatnya untuk memastikan kondisi si anak bungsu Syaoran....
.............
Dapur Mansion Fuutie, Jepang.
"Bukan apa? "
Syaoran menatap lurus ke arah Sakura.
"Ano... Mereka bilang bahwa aku...aku ini..." Sakura tak sanggup melanjutkan perkataannya dan malah canggung sampe wajahnya memerah.
Lantas Syaoran mendekat ke arah gadis bersurai cokelat keemasan itu. Langkahnya memang tak seperti biasanya, tentu saja karena sang serigala kecil tengah demam. Lalu Syaoran berhenti tepat di depan Sakura. "Apa yang mereka katakan? ". tanya nya lembut, namun Sakura hanya menunduk merasa malu jika menjelaskan apa yang mereka celetuk kan tentang diri nya.
"Hm.. baiklah, jika tidak ada yang bisa menjawab, aku akan menelpon kak Fuutie dan mengatakan bahwa pekerjaan kalian akan digantikan oleh orang lain besuk".
"Aduh, bagaimana ini? aku tidak mau dipecat? " para pelayan pun gaduh.
Nampak Syaoran mengernyitkan alisnya, kemudian sebelum dia benar-benar mengadukan tentang para pelayan kepada sang kakak, seorang pelayan yang berada di dekat Sakura menjawab.
"Tu-tuan muda.. Ketua bilang Nona ini adalah 'Calon Nona Li'.... " Ucapnya pelan dan sedikit ketakutan jika ketua pelayan tadi akan marah padanya. Namun daripada kehilangan pekerjaan di kota besar Tokyo dia lebih memilih untuk menjadi bulan-bulanan kemarahan si Ketua pelayan yang galak tadi. "Setelah ini ketua pasti akan memukulmu lagi". fikir nya.
"Dia calon Nona Li? " Syaoran mengulangi pernyataan itu dan menatap tajam ke arah Sakura.
Sakura pun memejamkan kedua matanya, ingin rasanya dia menghilang dari hadapan Syaoran saat ini.
"Tenanglah" Ucap Syaoran pada Sakura.
Kemudian Sakura mengangguk pelan dan masih dengan wajah blushing nya.
"Kalian berempat keluarlah". Titah Syaoran pada keempat pelayan senior yang lain termasuk Ketua pelayan yang telah mengatai Sakura sebagai 'calon Nona Li'.
"Ba-baik Tuan Muda" Keempatnya pun keluar dari ruangan dapur.
"Tunggu Ketua pelayan" Ucap Syaoran lagi.
"Deg!". Ketua pelayan itu pun gemetar dan membalikkan badan menghadap si tuan muda kecil.
"Ada perintah apa Tuan Muda?. " tanya nya.
"Aku tidak mengerti bagaimana kak Fuutie mengatur kalian, tetapi kebiasaanku di Hongkong Ibuku melarang para pelayan untuk bergosip yang tidak jelas, maka aku juga berharap agar semua pelayan kak Fuutie bisa menjaga ucapan mereka dengan baik agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mengerti kan? ". Syaoran memberikan peringatan sedikit keras kepada pelayan kakaknya.
"Haikkk, ampuni saya tuan muda" Jawab Ketua pelayan itu ketakutan pada Syaoran.
"Baiklah, pergilah lanjutkan perkerjaan kalian, biar pelayan baru itu yang membantu Sakura." perintah Syaoran dengan intonasi yang lebih pelan.
"Baik Tuan muda" Ucap nya lega.
"Li? " Sakura pun merasa tidak enak telah menciptakan suasana canggung dan tidak nyaman di dapur.
"Tidak! tidak! kau tidak boleh bergerak! " Ucap Sakura.
"Hm? " Syaoran pun bertanya-tanya.
Kemudian di dorong nya kedua bahu Syaoran, hingga Syaoran terduduk di kursi meja makan yang masih berada di area dapur bersih itu.
"Ingat, kau hanya perlu menunggu! karena saat ini kau adalah pasien ku!. " Ucap Sakura dengan senyumannya yang manis dan ramah.
"Ah.. baiklah Dokter Sakura, aku akan menuruti perintahmu. " jawab Syaoran sambil tersenyum lega.
Kemudian Sakura memulai menyiapkan sebuah menu yang cocok untuk Syaoran yang sedang demam.
"Bibi, tolong siapkan sayuran wortel, sawi dan brokoli" Pinta Sakura sopan.
"Baik nona" Jawab bibi pelayan itu patuh.
Kemudian Sakura mulai mencuci bersih bahan-bahan sayuran itu dan kemudian di potong-potong olehnya.
"Nona apa lagi yang bisa saya bantu?" tanya bibi itu.
"Tolong bibi masakkan nasi putih ya." pinta Sakura.
Kemudian bibi itu menuruti perintahnya untuk memasakkan nasi. Lalu Sakura merebus air sampai mendidih, lalu memasukkan wortel, setelah wortel agak matang, dia memasukkan sawi putih dan brokoli. dia memasak semua bahan tadi sampai matang dan agak empuk.
Sambil menunggu sayuran matang, Sakura meminta sesuatu pada si bibi.
Syaoran pun melihat setiap gerak gerik Sakura yang selalu menyita perhatiannya. "Apa yang sedang dia buat untukku? ."
"Taraaa.. "
Sakura menyuguhkan Susu madu untuk Syaoran.
"Minuman apa ini? " Tanya nya sambil meneliti.
"Pasien ku harus menurut padaku jika ingin cepat sembuh." kata Sakura.
Lalu Syaoran hanya menjawab nya dengan senyuman lalu diminumnya Segelas susu madu hangat itu.
"Bagaimana rasanya?" Tanya si Cherry blossom.
"Menghangatkan" Jawabnya lembut. "Seperti senyumanmu Sakura". batinnya.
Lalu mereka berdua pun saling bertatap-tatapan lembut. Hingga suara bibi pelayan memanggil Sakura, mengganggu moment intens mereka.
"Nona, sayurannya sudah matang" kata bibi itu.
"Haikk!" pekik Sakura dan kembali ke dapur.
Selanjutnya Sakura memasukkan semua bumbu seperti penyedap rasa Umami dan pasta miso, diaduknya hingga merata. Terakhir dia memasukkan telur dan didiamkan sampai telur agak matang, setelah itu dia mematikan kompor itu, dan meminta bibi untuk mengambilkan sebuah mangkuk saji, lalu Sakura pun menyajikan sup nya dengan taburan daun bawang.
...Sup miso hangat buatan Sakura untuk Syaoran yang sedang sakit....
"Wa laaa... silahkan Tuan Muda. " Sakura mempersilahkan Syaoran untuk segera makan.
"Hm.. aku tidak mau makan." Syaoran malah Tiba-tiba marah dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Lho kenapa? Sup miso amat cocok untukmu Li". Sakura pun membujuk Syaoran.
"Aku tidak mau dipanggil seperti itu oleh sahabatku!" Syaoran merajuk.
"A-apa? maafkan aku Li-kun" Sakura pun memasang. wajah menyesalnya.
"Aku akan memaafkan mu jika mulai sekarang kau memanggil namaku dengan nama kecilku. " Kata Syaoran.
"maksud mu..? Aku boleh memanggilmu 'Syaoran'?" Tanya Sakura dengan polosnya.
"Ah(ya)" Syaoran pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Sakura.
"Ba-baik lah.. Sekarang kau sudah memaafkanku kan, Syao...ran?. "
"Ah(ya) ".
Pov Sakura,
Bukankah dia telah memanggilku dengan nama kecilku saja 'Sakura', apa artinya dia telah menganggapku sebagai orang yang dekat dengannya?
Tapi dia..
Bagaimanapun juga dia dilihat dari sudut mana pun, dia bagaikan seorang pangeran...
Pov Sakura end,
...
"Tanganku masih gemetar, bisakah dokter Sakura membantuku untuk makan?. "
Seketika wajah Sakura memerah kembali.
"Syaoran.. " Sakura memelas.
"Hihi" Bibi pelayan yang membantu Sakura memasak pun tertawa melihat tingkah Syaoran. Begitupun Wey yang daritadi terlihat mengawasi tuan muda nya dari sudut pintu.
.
.
.
.
.
"Uwiww... Uwiww... "
Sayup-sayup terdengar suara raungan sirine mobil pemadam kebakaran.
Terlihat Yue bersimpuh tak jauh dari kobaran api dari ledakan mobil naas Fuutie, dia menyangga kepala Fuutie dipangkuannya,
"Fuutie... kau mendengarku!? " Yue berusaha menyadarkan kakak Syaoran itu.
...............
Bersambung,