My Prince From Hongkong

My Prince From Hongkong
"Kepergian sang Ayah"


"Brushhh....."


Suara air dari arah kamar mandi.


"Syaoran-sama, anda baik baik saja?"


Seorang butler yang sudah seperti kakek bagi tuan muda ini sangat mengkhawatirkan pemuda yang berada di dalam kamar mandi itu.


Sesaat kemudian Syaoran keluar dari kamar mandi.


"Ini sudah yang ketiga kali nya Wey".


Syaoran sudah bolak balik ke kamar mandi hingga 3 kali, wajar saja mungkin karena perutnya tidak dapat menerima makanan pedas tadi. Dia masih memegangi perutnya yang tidak karuan rasanya.


"Kalau begitu akan saya ambilkan obat tuan"


Wey-san pun bergegas mengambilkan obat untuk tuan mudanya.


....


"Bruggh"


Syaoran berbaring di Tempat tidurnya. Dia berfikir apakah seeorang kakak akan sangat agresif jika melihat adiknya didekati oleh lawan jenis nya. Dia kemudian mengingat kakaknya Fuutie yang tidak pernah seperti itu, sebaliknya Fuutie malah mendukung adiknya jika dia memiliki perasaan suka pada lawan jenisnya.


"Hufft...."


Syaoran menghela nafas. Lalu Wey datang bersamaan dengan membawa nampan berisikan Air minum dan obat sakit perut untuk nya.


"Silahkan tuan muda".


Syaoran pun segera duduk dan meminum obat itu. Wey menatap anak muda itu dengan seksama.


"Apa kah Kegiatan sekolah tuan muda banyak sekali ya? sehingga tuan selalu pulang terlambat?"


Wey sebagai pelayan Syaoran sejak kecil itu tentu saja berhak tahu apa yang dikerjakan oleh tuan muda nya.


Syaoran hanya diam saja tanpa jawaban.


"Tuan muda, lakukanlah apapun yang anda sukai, namun jangan sampai menyulitkan diri anda sendiri" pinta Wey pada nya.


Syaoran tidak menjawab dan hanya melemparkan pandangannya lurus ke depan.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Wey?".


Syaoran mengerti bahwa Wey bermaksud menanyakan tentang hal pribadi, yang beberapa hari ini dari awal dia berada di Jepang Wey sudah mencurigainya.


"Saya hanya menjalankan tugas dari Nyonya Yelan untuk menjaga anda tuan".


Wey tak mau menanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi, karena dia sangat memahami Syaoran masih belum bisa mengontrol dirinya sendiri dengan baik. Anak muda ini masih dalam masa puber dia masih labil. Wey yakin bahwa cepat atau lambat Syaoran sendiri yang akan menceritakan hal itu padanya.


"Baiklah.. Sebaiknya setelah minum obat anda segera beristirahat, jika butuh apa apa silahkan panggil saya lagi Syaoran-sama".


Wey pun berbalik dan bergegas pergi.


"Wey".


"Apakah kau bisa menjaga rahasiaku?"


Syaoran memanggil pengasuhnya itu,


Wey berbalik badan menghadap tuan muda nya, dia tersenyum penuh kasih sayang serta berkharisma.


"Aku... "


Syaoran gugup ketika ingin mengatakannya.


"Nona yang bersekolah di SMA Hibiya?".


Perkataan Wey seketika membuat pemuda itu membelalakan matanya tersentak kaget sampai dia terbangun dan berdiri tepat di hadapan Wey.


"Kenapa kau bisa.."


"Syaoran-sama, mungkin saya telah berbuat kesalahan kepada Nyonya karena saya tidak mamatuhi nya, Namun saya memahami anda, saya mengerti apa yang sedang anda rasakan".


Wey memang seorang pelayan yang amat setia dan menyayangi Syaoran lebih dari dirinya sendiri.


Itu semua disebabkan oleh sebuah wasiat..


.


.


.


.


Fashback on


"Oeeee.... Oeeeee...."


"Selamat Tuan Li anak kelima anda adalah seorang Laki laki".


Seorang dokter pribadi mengucapkan selamat kepada seseorang yang gagah dan tampan. (Ayah Syaoran).


"Terima kasih dok"


Kemudian dokter itu pun pergi keluar ruangan, menyisakan sang ibu dengan seorang bayi berbobot 3,4kg yang di letakkan di dada nya.


"Dia begitu menawan sama sepertimu".


Ucap sang istri pada suaminya.


Sang suami memeluk mereka berdua dan mencium kening sang istri.


"Terima kasih kau telah berjuang sangat keras istriku".


Bagaimana tidak, Di usia Yelan Li yang kala itu sudah bukan usia ideal untuk melahirkan lagi, justru dia bersikeras ingin mempunyai 1 anak lagi, setelah memilik 4 anak wanita.


Tangisan si bayi laki laki itu pun membuat seisi mansion itu sangat bahagia.


Tak lama setelah bayi itu selesai dimandikan, ke empat kakak nya langsung berhambur masuk ke kamar sang ibu.


我的弟弟太可愛了


"Wǒ de dìdì tài kě'àile"


(Menggemaskan sekali adik laki laki ku).


Kata Fuutie li kakak pertama nya, yang sewaktu Syaoran lahir Fuutie masih berkuliah semester akhir.


"Dia juga adikku" sahut anak ke dua yaitu gadis bermata coklat Shiefa li.


"Adikku.."


"Bukan dia Adikku..."


Tidak ketinggalan dua putri Yelan lainnya yaitu Fanren li dan Feimei li juga saling berebut pengakuan menjadi kakak dari bayi mungil lucu itu.


"Sudahlah kalian ini selalu berebut untuk hal apapun".


Yelan mencium kening bayi mungil yang terlihat semakin menawan setelah badannya bersih setelah dimandikan.


"Ingat putri putri ayah harus selalu menjaga adik laki laki satu satunya ini ya". Kata Sang ayah.


"Baik ayaaah".


Keempat saudari itu menjawab serentak perintah ayah mereka.


Yelan pun tersenyum bahagia. Kebahagiaan yang sempurna, setelah sekian lama dinantikan kini anak kebanggaan keluarga itu telah lahir di dunia.


Sang ayah mennggendong bayi itu dan mengikrarkan nama sang anak.


"Dia akan kuberi nama "Xiaolang Li" (李小狼 Lǐ Xiǎoláng)"


Yang berarti "Serigala Kecil"


................


10 bulan kemudian,


"爸爸.....媽媽....."


Bàmā.....māmā.....


(Papa... Mama....)


Pertama kali bayi kecil bernama Syaoran memanggil ayah dan ibunya.


"Dia memanggilku ayah!!"


Sang ayah sangat bahagia mendengar bayi laki laki nya memanggil nya untuk pertama kali.


Dia memeluk sang istri Yelan li dengan penuh kasih sayang. Syaoran kecil yang sudah bisa belajar berjalan pun sedikit demi sedikit menepakkan kaki kecil nya mendekati kedua orang tua nya yang duduk tidak jauh darinya. Yelan pun tersenyum bahagia.


Mereka hanya bertiga saja di mansion sebesar itu dan dibantu beberapa pelayan, karena anak anak mereka yang lain yaitu Fuutie li dan adik adiknya sibuk dengan sekolah dan kuliah mereka masing masing


"Greep" sang ayah yang gemas melihat tingkah lucu Syaoran langsung meraihnya dan mengangkatnya ke atas dengan kedua tangannya.


"Serigala kecil kami... Suatu saat jadilah kuat, jadilah manusia hebat, Teruskanlah langkah Ayah dan ibumu nak".


"Bà....mā...."


Syaoran kecil memiringkan kepala nya tidak mengerti ucapan ayahnya namun tetap mencoba memahami expresi sang ayah.


"Degh degh degh degh!!"


Tiba tiba detak jantung Tuan Li berpacu kencang, kencang sekali sampai tangannya yang sedang menggendong Syaoran kecil tak kuasa mengangkat tubuh anak sekecil itu.


"Sayang!!!!" Yelan khawatir dan terkejut.


Kemudian diraihnya Syaoran kecil yang hampir terjatuh. Yelan panik dan berteriak kepada para pelayan.


"Cepat panggil dokter!!!".


Pelayan itu pun segera menghubungi dokter keluarga mereka.


Tuan Li memegang bagian dada sebelah kiri nya. Dia bernafas dengan tersengal sengal. Yelan pun semakin kacau.


"Sayang bertahanlah.... kamu kenapa? Apa yang terjadi?".


Yelan sangat panik kenapa suaminya tiba tiba mengalami hal ini. Dia menitipkan Syaoran kecil pada Wey san yang pada saat itu menjadi pengawal pribadi Tuan Li.


"Nyonya obat Tuan ada di dalam laci kerjanya".


Yelan kaget dan tak.percaya atas apa yang di katakan Wey saat itu.


"Obat?? Obat apa??" bathin nya.


Lalu Yelan masuk ke ruang kerja suami nya, dan mengikuti arahan Wey. Dia menemukan obat obatan yang tak pernah dia ketahui dikonsumsi oleh suaminya.


... "Ini adalah obat penyakit jantung!"... gumam Yelan dalam hati.


Namun tak ada waktu untuk menanyakan perihal ini, yang Yelan ketahui nyawa suaminya sedang terancam!


.


.


.


.


"Dokter, apa yang terjadi dengan suamiku".


Yelan sangat marah dan emosional dengan keadaan suaminya yang kini tengah terbaring koma di kamar utama mansion itu.


"Tuan Li sebenarnya sudah lama mengidap penyakit ini Nyonya, Namun Tuan melarang saya untuk memberitahukan kepada anda".


"Lalu adakah tindakan operasi yang bisa menyembuhkan nya?" tanya Yelan.


"Saya tidak menyarankan nya nyonya, karena kondisi jantung Tuan sudah sangat lemah, jika kita terlalu memaksa maka saya tidak bisa menjamin keselamatan Tuan".


"Baik. pergilah".


Setelah berjanji akan mengecek kondisi Tuan Li setiap 6 jam sekali dan siap jika sewaktu waktu dipanggil, maka dokter keluarga tersebut berlalu dan pergi.


"Huwaaa... huwaaa" Syaoran kecil menangis.


"Nyonya, tuan muda merengek terus".


Wey menyerahkan tubuh kecil Syaoran pada sang ibu.


"Wey, Apakah Tuan juga menyuruhmu untuk merahasiakan hal ini?".


""Huwaa... ".Syaoran kecil masih menangis.


"....." Wey diam dan menunduk tidak berani memberi jawaban.


Yelan li sudah tidak fokus lagi dalam mengurus Syaoran kecil, ikatan bathin nya dengan sang anak sedikit dilupakannya, dia tidak terima dengan keadaan suaminya yang tak pernah menceritakan tentang penyakitnya itu.


"Maafkan saya Nyonya"


Wey sangat menyesal atas tindakannya.


"Kau tidak kasian padaku, Dokter itu tidak kasian padaku, bahkan Suamiku tidak kasian kepadaku!!!"


Yelan emosional hingga tidak mempedulikan Syaoran yang merengek meminta untuk menyusu. Dia jatuh terduduk dengan Syaoran yang meraih raih tangannya.


Wey pun ikut terduduk di posisi nya masih berada di ambang pintu masuk kamar itu.


"Nyonya sebenarnya Tuan sudah lama mengidap penyakit ini. Dia tidak ingin anda mengetahui nya, itu bukan karena tuan Li tidak kasian pada anda, justru beliau sangat menyayangi anda, dia tidak ingin menghilangkan senyuman dan kebahagian anda dalam keluarga ini".


Wey sangat menyesal, Namun Wang Wey adalah satu satunya orang yang paling bisa dipercayai oleh Tuan Li.


.


.


6 jam kemudian,


".... Tut... tut....tut"


Layar bedsite monitor memperlihatkan pergerakan, pertanda masa koma Tuan Li telah usai.


"Nyonya.... nyonya.... tuan telah sadar"


Dokter tergesa gesa memanggil Yelan untuk segera melihat kondisi suaminya yang siuman dari koma nya.


Di kamar utama,


"Sayang... Bagaimana bagaimana? Kau sudah sadar, kau sudah lebih baik kan?".


Yelan kembali tersenyum setelah dia kehilangan senyumannya beberapa saat lalu.


Namun senyuman itu tidak lah berlangsung lama..


"Istriku.. Kuserahkan semua yang kumiliki di dunia ini padamu...dan rawatlah anak anak kita....deng.. an baik..."


Ucap lirih sambil terbata bata Tuan Li pada istrinya.


"Maksudmu...? Firasat apa ini? "


Yelan merasa suaminya telah mengatakan kata kata perpisahan. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Dimana...Syaoran..." Tanya tuan Li lagi.


"Pelayan bawa Syaoran kemari! dan suruh anak anakku pulang sekarang juga!!!" suruh Yelan pada pelayan yang berada diluar pintu.


"B-baik nyonya" seru pelayan yang juga merasakan ada yang hal yang tak biasa.


.......


Kamar itu telah menjadi saksi bisu kepergian seseorang yang paling berharga dalam keluarga itu.


"Anak anakku... Maafkan ayah... "


Tuan Li dengan susah payah mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya yang kelu. Isak tangis pun memecah berderu dari seorang ibu dan keempat anak perempuannya. Kesedihan yang amat dalam juga terlihat dari wajah Wey ajudannya yang sedang menggendong Syaoran kecil di pelukannya.


Tuan Li mengulurkan tangan kanan nya pada pria yang sewaktu itu masih agak muda. Kemudian Wey mendekat memperlihatkan Syaoran yang tertidur amat manis dan pulas.


"We..y... ber jan ji lah..untuk men... ja...ga....Serigala kecilku"


"Tapi Tuan..."


Wey tidak sempat mengatakan apa yang ingin dikatakannya, karena Mata tuan Li nya itu seketika terpejam, dan tangan yang tadinya ingin membelai Pipi Syaoran kecil tiba tiba terkulai lemas, lemah, dan dingin.....


Yelan masih tidak bisa menerima kenyataan pahit ini,


Dia berteriak sekencang kencangnya....


"Tidaakkkkkk!!!"


Keempat putri nya memeluknya seerat eratnya...


Tuan Li telah berpulang di usia nya yang masih terbilang muda.


.


.


.


10 tahun kemudian,


"Wang wey"


"iya Nyonya".


"Sampai mana perkembangan ilmu dasar beladiri Syaoran?".


Yelan li memantau keahlian Syaoran dalam ilmu bela dirinya. Kebetulan Wang wey sendiri lah yang menjadi guru beladiri untuk anak laki laki Nyonya Li itu.


Syaoran sedang mempelajari Ilmu beladiri China Tai Chi, ilmu ini memiliki karakteristik serangan yang mengakumulasi kekuatan, menaklukkan kekakuan dengan fleksibilitas, dan mengalahkan aksi dengan tidak bertindak. Tai Chi juga banyak digemari oleh banyak orang karena dapat meningkatkan keseimbangan dan mengurangi stres.


"Aduh!"


Syaoran kecil tidak fokus saat sedang berdiri dengan satu kakinya diatas sebuah pijakan, sehingga terjatuh.


Yelan dan Wey mendekatinya, kemudian Yelan mengulurkan tangannya.


"Cukup untuk hari ini Syaoran".


Ucap ibunda Syaoran tersebut.


"Baik ibu" sahutnya.


Kemudian Syaoran berdiri tegap dan membungkukkan badan nya kepada Wey guru nya sekaligus pengasuhnya.


Waktu berganti waktu, hari berganti hari, Li kecil pun belajar dan belajar, apapun yang di mandatkan oleh sang ibu maka dia akan mematuhinya.


Sampai saat ini......


Flash back off


...............


Syaoran memeluk Wey sebagaimana pelukan seorang anak kepada sang Ayah.


Kemudian Wey menyentuh punggung Syaoran mengusap nya bberapa kali, Dan melepaskan pelukan anak itu, sambil memegang kedua lengannya kuat kuat.


"Jadilah Serigala yang baik Syaoran-sama, Penuhilah wasiat Ayahanda... Tuan Li..."


Bersambung,