My Prince From Hongkong

My Prince From Hongkong
"Tuan muda yang kembali dingin"


"Maksudmu bagaimana Nakuru, Aku tidak mengerti". Touya mengerutkan alisnya.


Kau tau kan Li syaoran?" Tanya Nakuru.


"Oh bocah itu, lalu ada apa dengan nya?" Touya báerbalik bertanya.


"Awalnya aku bekerja di perusahaan Nona Fuutie dan pada saat itu aku mengenal Li-san, ternyata dia adalah adik bungsu nona Fuutie." Nakuru memandang lurus kedepannya, ke arah pemandangan kota Tokyo.


"Apa??" Touya pun terperanjat sampe berdiri dan mengepalkan tangannya.


"Tunggu dulu Touya" Namun Nakuru menarik tangan Touya dan mengajaknya duduk bersama lagi.


"Dengarkan dulu perkataanku!" Nakuru menatap mata Touya lekat bermaksud untuk membuatnya fokus dan mendengarkan penjelasannya.


"Baik, aku dengarkan" Touya pun mengalah pada Nakuru.


"Jadi kau ingat anak SMA Horikoshi yang menabrak Sakura pada saat Upacara penerimaan siswa baru?" Nakuru bertanya lagi pada Touya.


"Hmm iya aku ingat". Jawab Touya.


"Dia adalah Li Syaoran".


"Apa??!!!"


Touya menutup mata nya dengan sebelah tangannya dan membuka nya kembali hingga membuang nafas dengan paksa. "Jadi pada intinya? bocah itu berani membohongi adikku???" Touya terlihat sangat geram.


"Dengarkan aku dulu!! Li-san sangat tulus ingin berkenalan dengan Sakura , Touya!!" Ucap Nakuru sedikit bernada manja agar Touya tidak emosi.


"Apakah ingin berteman dengan seseorang itu sebuah kesalahan?" tanya Nakuru.


"Ya sebenarnya tidak salah, tapi aku masih tidak bisa membenarkan dia membohongi adikku bahkan keluargaku!" jawab Touya.


"Kau tahu dia bersusah payah melakukan itu semua penyebabnya karena kau Touya" Nakuru memasang wajah lembutnya.


"Karena aku?" Touya terheran.


"Sejak saat itu, Li-san bilang kau terlihat membenci sekolah Horikoshi, itu semua juga bukan kesalahanmu aku tau, dan menurutku keadaan tidak selalu sama Touya, tidak semua anak yang bersekolah di sana sama seperti teman-teman seangkatan kita dulu yang selalu berlaku kasar dan bertindak sesuka hatinya". Nakuru menjelaskan.


"Dan kau juga tahu aku juga bersekolah di Horikoshi namun aku tidak pernah membully siapapun, bahkan saat itu aku selalu ingin bersama-sama dengan mu... Touya-kun..."


Sebuah pelukan mendarat di tubuh Nakuru. Touya memeluk gadis itu bertaburkan gemerlap lampu malam Kota Tokyo. Suasana hening malam itu ikut mengiringi keindahan pelukan romantis mereka.


"Nakuru, aku senang bisa mengenalmu" bisik Touya lirih.


Nakuru pun meletakkan kedua tangannya di dada pria tinggi itu "Aku juga Touya".


"Ring ring rinng" ponsel Nakuru berdering.


"Maaf Touya" Nakuru menyesal karena lupa mematikan handphone saat bersama Touya.


"Tidak apa-apa angkat lah".


"Moshi- moshi.. Nakuru-desu"


"Sudah malam Nakuru, kau lembur ya?" Ucap Kakeru ayah gadis ini.


Lalu Nakuru menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam waktu Shinjuku.


"Ba-baik ayah, aku akan segera pulang.. Maaf ya tadi ada meeting penting karena besuk Nona Fuutie akan pergi Ke Singapura, jadi ada banyak hal yang aku harus pelajari" Pungkas Nakuru.


"Baiklah, ayah menunggumu di rumah" jawab sang ayah.


"Touya, aku harus segera pulang" Nakuru pun berdiri dan mnegajak sahabatnya itu untuk segera pulang.


"Ayo akan kuantar kau pulang" Kata Pria itu.


"Haikk, terima kasih Touya semoga tidak merepotkanmu"ucap Nakuru.


"Lain kali kita jalan lagi ya, kau mau?" Ajak Touya.


"Tidak mau" Jawab Nakuru.


"Ke-kenapa?" Sejenak Touya pun merasa kecewa mendengar jawaban Nakuru.


"Tidak mau nolak! Hihihi" Nakuru menggoda Touya sambil menyentuh dagu toya dengan jari telunjuknya yang ramping.


Touya pun tersenyum dan mencubit hidung Nakuru yang mancung "Dasar!" mereka pun menuruni bukit itu. Akhirnya Touya bisa mengantar Nakuru pulang ke kediamannya.


Keesokan harinya di kediaman Fuutie,


"Syaoran, jaga dirimu baik-baik nak"


Suara seseorang di seberang line telepon terdengar selalu dirindukan oleh pemuda yang sedang menyantap sarapannya tersebut.


"Ah(ya)" jawab Tuan muda itu.


"Kau akan di antar dan dijemput oleh Wey selama kak Fuutie berada di Singapura" ucap kembali Li Yelan sang ibu.


"Aku mengerti ibu" Jawaban singkat Syaoran pada sang ibu nampak sama seperti biasanya. Namun tak dapat dipungkiri irish berwarna amber itu menyimpan sebuah kesedihan.


Yelan sedikit khawatir pada putra satu-satunya itu. Kemudian dia berkata "Fokuslah belajar dan jangan memikirkan siapapun!" Ucap Yelan penuh penekanan.


Sesaat Syaoran terkesiap, matanya sedikit membulat. Fuutie yang sedang menyantap hidangan sarapan pun melirik ke arah sang adik. "Apa yang terjadi semalam ya? Apa adikku jadian sama gadis itu?" batinnya


"Baik ibu" Ucap Syaoran tegas.


Kemudian ponsel itu diserahkan kembali pada Fuutie. Fuutie mengamati gesture Syaoran yang sama sekali tidak bersemangat. "Sepertinya terjadi sesuatu.yang buruk?" Fuutie masih menerka nerka.


"Baik mom, love you". Tutup Fuutie dalam panggilan telepon itu.


"Syaoran, kau yakin kau baik-baik saja sayang?" Fuutie mengernyitkan dahinya dan mengkhawatirkan adiknya pagi ini. Dia pun melirik ke arah Wey karena tidak mendapat kan jawaban dari pangeran muda itu.


Wey pun hanya tersenyum.


"Senyum Wey terlihat mencurigakan, apa Syaoran ditolak oleh gadis itu??payah sekali adikku sudah diberi kesempatan emas malah dibuang sia-sia, fiuh..." Fuutie pun mengeluh dalam hati.


"Pokoknya kau harus tetap semangat walau apapun yang terjadi! Adik Fuutie tidak boleh lemah! Okey" Fuutie menyemangati sang adik.


"Sudahlah kak, aku berangkat duluan" Syaoran belum menyelesaikan sarapan pagi nya, namun segera berdiri dan hendak berangkat ke Sekolahnya diantar oleh wey-san buttlernya.


"Ayo Wey" Suruh Syaoran


"Haikk" Wey pun mengiyakan perintah sang majikan kecil itu.


"Tunggu dulu Syaoran...." Fuutie pun mengejar sang adik yang sudan berjalan sampai pintu depan.


"Hubungi kakak jika terjadi apa-apa mengerti? kepergian kakak bukan sebentar, kakak bisa berhari-hari berada di Singapura untuk urusan pekerjaan ini". Fuutie menasehati sang adik.


"Tenang lah kak, kau bisa mempercayaiku" Syaoran tersenyum tipis dan kembali mengajak Wey untuk pergi mengantarnya.


"Cepat Wey".


"Baik Syaoran-sama"


.......


SMA Horikoshi kelas 10 D1,


"Ohayou Li-kun"


Tomoyo menyapa pemuda berwajah kusut dipagi hari ini.


"Ohayou Daidouji"


Tomoyo membawa seorang gadis berwajah manis berambut Pink yang imut.


"Kenalkan Li ini temanku yang kemarin aku ceritakan padamu Rubymoon".


Syaoran terbangun dari tempat duduknya, dan terkejut mendengar nama gadis yang baru saja datang dengan Tomoyo itu. "Ruby Moon? Keluarga Moon?" batinnya.



...Ruby moon....


"Watashi no namae wa 'Ruby moon-desu"...


Gadis bermarga 'moon' tersebut memperkenalkan dirinya pada tuan muda bermarga 'Li'.


Sekali lagi Syaoran berhubungan dengan keluarga 'Moon', Lalu siapakah sebenarnya teman baru Syaoran kali ini?


Bersambung,