My Prince From Hongkong

My Prince From Hongkong
"Extraordinary Love"


....


Mansion Fuutie li, Jepang.


"Tadaima.....!"


"Okaeri-... Kak Shiefa!"


Syaoran sangat terkejut sekaligus bahagia karena kedatangan sang kakak kedua nya Shiefa li dari Hongkong.


"Syaoran!!"


Shiefa pun memeluk sang adik dengan sangat erat.


"Uhukk"


"kak, Aku tak bisa bernafas! " Keluh Syaoran seraya berusaha melepaskan pelukan Shiefa dari tubuhnya.


"Haha... kamu masih lugu seperti biasanya ya Serigala kecil! ". Shiefa tertawa dan terus saja menggoda Syaoran. Tentu saja ia sangat merindukannya.


Lalu dilepasnya pelukan itu oleh Shiefa yang lantas merangkul Syaoran dengan lengan kanan nya dan kemudian memeriksa dahi dan pipi pemuda menawan itu dengan tangan kiri nya sambil berjalan menuju sofa ruang tamu mereka.


"Badanmu sudah tidak panas lagi? " tanya Shiefa.


"Sudah turun kok kak." Jawab Syaoran lugas dengan senyum samar.


"Ibu sampai khawatir sekali padamu, kau tahu itu!." Shiefa pun kembali menatap wajah sang adik yang menurutnya merupakan anak yang paling disayang oleh sang ibu tersebut.


"Tenanglah kak aku sudah besar, tak perlu sepanik itu." Ucapnya menenangkan sang kakak.


Shiefa pun masih meneliti wajah adiknya yang sedikit berbeda dari sebelum pindah ke Jepang itu lalu ia bertanya "Terakhir kudengar kau mengalami demam tinggi Syaoran, tapi ternyata kau baik-baik saja. Apakah firasat ibu salah? atau telah terjadi sebuah keajaiban? ."


Syaoran menjadi gugup dengan pertanyaan Shiefa yang bertubi-tubi. Dia hanya terdiam dan mengalihkan pandangan matanya seolah menyembuyikan sesuatu. Syaoran terlalu malu untuk mengakui bahwa dirinya tengah dekat dengan seorang gadis.


Pada saat yang sama Wey-san tiba-tiba datang memecah ketegangan mereka, sang Butler tuan muda itu bertanya dengan sopan pada Nona muda yang baru saja datang dari negeri seberang itu, "Nona Shiefa anda akan memakai kamar Nona Fuutie atau memakai kamar yang lain? "


"Oh Okay! Aku akan tidur di kamar Kak Fuutie saja Wey, di Hongkong kan kami juga sering tidur bersama-sama rasanya rindu dengan kak Fuutie. Oiya tolong siapkan kamar untuk yang lain juga ya. " Jawab Shiefa.


"Haikk baik Nona Shiefa."


Wey pun segera mempersilahkan Shiefa agar menuju kamar Fuutie untuk beristirahat.


Ting.. tong


Suara bell pintu rumah besar dan mewah itu berbunyi. Kemudian seorang pelayan pun segera membukakan pintu utama mansion itu.


"おやすみなさい


"Oyasuminasai"


(Selamat malam).


Nakuru dan Touya dipersilahkan masuk oleh seorang pelayan lalu mereka menyapa Wey-san yang kebetulan masih berdiri di belakang Shiefa li.


"Oyasumi.. " jawab Wey dan juga Shiefa.


"Maaf malam-malam begini kami berkunjung kesini". Ucap Nakuru sungkan sambil membungkuk sopan pada kedua orang di depannya.


"Kak Nakuru? Kak Touya... " Syaoran pun menghampiri mereka dengan wajah penasaran karena mereka tidak pernah datang ke kediaman Fuutie sebelumnnya.


"Li-san kau baik-baik saja?." Tanya Nakuru khawatir.


"Haikk.. saya sudah sembuh, terima kasih sudah Mengkhawatir kan saya. " Syaoran pun membungkuk pula sebagai tanda hormat.


"Syukurlah". Nakuru pun tersenyum lega, begitu pun Touya.


"Oiya Kak Shiefa! kenal kan ini Kak Nakuru Sekretaris kak Fuutie, dan yang datang bersama nya ini adalah kak Touya temannya. " Syaoran memperkenalkan Nakuru dan Touya pada Shiefa kakak keduanya.


Lalu Nakuru menyodorkan tangan kanan nya pada Shiefa dan dibalas pula oleh wanita pemilik rambut bergaya boyish pixie itu.


"Kenal kan Saya Shiefa li adik kedua Kak Fuutie."


"Haikk.. Saya Nakuru Akizuki, senang berkenalan dengan anda. "


Shiefa pun mengarahkan perhatiannya pada sosok di belakang Nakuru yaitu Touya. Untuk beberapa detik Irish brown Shiefa terperangkap di dalam Irish legam itu.


"Saya Touya Kinomoto." Ucap Touya sopan sambil membungkuk. Dan dibalas pula oleh Shiefa dengan membungkuk "Saya Shiefa Li. "


"Baiklah, seperti nya kalian ada urusan dengan adik ku, silahkan. Saya pamit ke kamar dulu. "


"Haikk, sebenarnya Saya kemari untuk memberitahukan tentang kabar kurang mengenakkan ini..." Nakuru menjelaskan maksud kedatangannya ke kediaman Fuutie.


"Kabar apa kak Nakuru? " Syaoran pun memasang wajah seriusnya.


"Nona Fuutie mengalami kecelakaan Li-san. "


"Apa!? " Syaoran dan Shiefa shock mendengar informasi dari Nakuru.


Perkataan Nakuru terdengar bagaikan petir di siang bolong. Syaoran membeliakkan matanya merasa tak percaya atas apa yang dia dengar, lebih buruk lagi Shiefa malah terjatuh dan pingsan setelah mendengar berita buruk itu. Semua orang pun semakin terkejut.


"Tuan tolong bantu Nona Shiefa untuk di bawa kekamar."


Wey pun meminta Touya untuk menggendong Shiefa ke kamar Fuutie, tentu saja di ikuti oleh Nakuru dan Syaoran.


Lalu di dalam kamar Fuutie, Touya membaringkan tubuh Shiefa yang ramping di atas bed.


Syaoran memegangi tangan Shiefa dan menepuk-nepuk pelan pipi tirus sang kakak. " Kak Shiefa sadarlah... " Dibantu oleh Nakuru dan beberapa pelayan yang segera membawakan aromatherapy khusus untuk dihirup oleh Shiefa agar ia segera sadar.


"Terima kasih tuan atas bantuan anda. " Wey pun berterima kasih pada Touya.


"Haikk, sama-sama Pak. "


"Hari ini terhitung sudah sebanyak dua kali keluarga Kinomoto membantu keluarga Li." Kata Wey-san.


"Maksud anda? ". Touya pun tak mengerti maksud perkataan Wey.


"Nona Sakura telah menjenguk Tuan muda dan merawatnya hingga cepat sembuh seperti ini, lalu sekarang anda juga datang, bukankah ini bukan sebuah kebetulan."


Pria tua itu kemudian menatap Wajah Touya yang menyimpan kemarahan entah untuk Sakura adiknya yang menurutnya telah melampaui batas ataupun terhadap Syaoran yang selalu mencoba mendekati sang Adik. Touya hanya terdiam sambil menatap Syaoran yang tengah panik melihat kakak nya pingsan, Dirinya tak mau memberikan tanggapan tentang hubungan adiknya Sakura dengan Syaoran. Lalu sebenarnya apa yang Touya pikirkan?.


............


Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapore.


Tut


Tut


Tut


(Bunyi Patient Monitor).


"Tubuh pasien mulai menunjukkan tanda-tanda pergerakan" Kata Dokter bedah.


" Pernapasan? " tanya kembali dokter bedah kepada dokter anestesi.


"Cepat dan dangkal." jawab dokter anestesi.


"Detak jantung? "


"Tidak stabil"


"Tekanan da*rah? "


"Suhu tubuh? "


"stabil"


"Ini kurang baik! " Ucap getir salah seorang dokter.


Mereka hampir selesai melakukan tindakan pembedahan pada organ kepala Fuutie.


Tiba-tiba,


"Hoeekk!! " Fuutie muntah (da*rah).


"Pasien mengalami hematemesis! segera lakukan transfusi da*rah lagi! Pasien kehilangan banyak da*rah kembali" Kata salah seorang dokter.


"Lakukan procedure endoskopi! periksa organ lambung pasien! . " perintah dokter bedah utama.


.


.


.


.


Flash back on,


.......


"Aku akan pulang ke Hongkong untuk mengambil program magister ku."


"Baiklah hubungi aku jika kau akan kembali ke Jepang Fuutie. "


Gadis berambut coklat gelap itu menatap sahabatnya lekat. "Jadi kau mau bekerjasama dengan ku untuk bersama-sama mendirikan restoran di Jepang? ."


"Tentu, setelah kita sama-sama menyelesaikan program magister profesi kita. "


Mereka pun berjabat tangan. Senyum Fuutie akhirnya mengembang, begitu pun Terada.


Mereka saling mengikat kontrak....


Kontrak yang melibatkan perasaan...


Perasaan yang tak terbalaskan...


Hingga saat ini...


.


.


.


Dua tahun berselang setelah Terada dan Fuutie sama-sama melanjutkan Program S2 mereka secara terpisah, Fuutie berada di Hongkong, dan Terada ber kuliah di Jepang, akhirnya mereka berjumpa kembali.


"Tokyo?"


"Restoran pertama kita akan berdiri di sini Terada". Ucap Fuutie.


"Mengesankan, lalu kau akan tinggal di mana? ". Terada pun menyetujui rencana Fuutie.


"Sementara aku akan menyewa Apartment yang murah saja di pinggiran Shinjuku." Fuutie pun menjelaskan.


"Baiklah ... Oiya Fuutie, sebelumnya aku ingin mengundangmu."


Terada tertunduk lemah sembari menyodorkan sebuah undangan, lalu Fuutie pun menerima nya.


"Kau boleh datang, boleh juga tidak. " Ucap Terada.


Fuutie membaca sekilas surat undangan dari Terada sahabatnya. Wajahnya amat tegar dan tidak nampak sedikitpun kesedihan ataupun kekecewaan.


"Abaikan saja surat itu, aku... tahu kau tidak mungkin datang." Terada pergi terlebih dahulu dari cafe tempat mereka mengobrol. Fuutie pun bangkit dari tempat duduk nya, kemudian dia berkata dengan yakin,


"Tentu saja, aku akan datang ke acara pernikahanmu Terada."


Terada membalikkan badan dan tersenyum getir,


"Maafkan aku yang tidak dapat memilih, Fuutie"


.........


Flash back off,


Tut


Tut


Tut,


"Detak jantung pasien melemah!" Teriak salah seorang dokter gugup.


" Pernapasan?"


"lambat, lebih dangkal" .


"Detak jantung? "


"Tidak stabil"


"Tekanan da*rah? "


"Menurun!."


"Suhu tubuh? "


"Menurun."


Dengan hasil monitor seperti itu nampak tubuh Fuutie menjadi dingin, lembab dan pucat.


"Cepat suster hubungi keluarga pasien kembali, apakah ada keluarga pasien yang telah datang dengan golongan da*rah yang sama? ." perintah dokter bedah pada perawat bedah.


Sementara di luar ruangan UGD, 3 AM.


Yue telah mengganti pakainnya, dia juga telah memerintahkan beberapa ajudan nya agar memeriksa rumah sakit lain untuk meminta stok da*rah yang sesuai dengan golongan da*rah Fuutie, Namun hasilnya nihil. Stok da*rah dengan golongan O Rhesus negatif amat susah ditemukan.


"Tuan... sebenarnya masa-masa kritis pasien telah berakhir, pasien telah selesai dengan tindakan pembedahan. Namun tiba-tiba pasien mengalami hematemesis sehingga banyak da*rah segar kembali keluar, adakah keluarga pasien dengan golongan da*rah yang sama yang telah datang?. "


"Apa maksudmu!" bentak Yue pada perawat itu dengan wajah tegang dan shock.


..."Saya memiliki golongan da*rah dengan Rhesus yang sama dengan pasien"....


Suara seorang laki-laki yang baru saja datang membuat Yue, perawat dan semua orang yang menunggu Fuutie di lorong ruang operasi pun terkejut.


...........


Bersambung,