
Malam hari pun tiba....
Alexa berjalan keluar apartemen dan segera masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya. Alexa berniat untuk pergi ke tempat karaoke dimana Robby mengajaknya untuk bertemu.
Alexa mengarahkan sopir ke alamat yang dikirimkan Robby. Setelah tiba di tempat, Alexa awalnya sedikit ragu, karena tempatnya terlalu ramai oleh para pria yang terlihat seperti pria hidung belang. Ia takut jika pertemuannya dengan Robby diketahui oleh Gea.
"Gak jadi turun Mbak?" Tanya sopir taxi.
"Emmm bentar Pak, saya lagi hubungin teman saya." Jawab Alexa berbohong.
Alexa sebenarnya tengah menimbang-nimbang apakah ia akan turun dari taxi atau tidak.
'Ayolah, jangan jadi pengecut begini.'
Alexa menyemangati dirinya sendiri. Dia lalu memberikan ongkos lebih pada sopir taxi lalu keluar dari dalam mobil. Dan benar saja, seperti dugaan Alexa sebelumnya, para pria yang berdiri di pintu masuk tempat karaoke berjalan mendekati Alexa.
Tak ingin ada hal-hal yang terjadi, Alexa dengan cepat masuk ke dalam tempat karaoke dan menelepon Robby. Alexa begitu terkejut saat Robby memeluknya dari belakang.
"Hai sayang..." Ucap Robby.
"Ya Tuhan Maass...." Pekik Alexa. "Yang benar aja dong. Masa ajak aku ketemuan di tempat seperti ini."
"Maaf sayang." Robby menarik Alexa masuk ke dalam ruangan yang sudah ia booking. "Gea dan antek-anteknya gak akan tau kalau kita ketemuannya disini."
Alexa hanya menghembuskan nafas kasar. Keduanya lalu duduk berdampingan. Tangan Robby tak lepas dari pinggang Alexa. Pelayan masuk membawakan minuman, tv layar datar di depan keduanya menyala, musik mulai berdentam-dentum, minuman mulai dituangkan ke gelas. Dua orang pemandu lagu masuk dan terlihat sangat cekatan saat menuangkan, memencet tombol pilihan lagu dan membuat suasana hangat.
"Mereka perlu ada disini gitu?" Tanya Alexa menunjuk dua orang wanita berpenampilan seksi yang menjadi pemandu lagu.
"Kamu cemburu ya sayang?" Balas Robby bertanya penuh percaya diri.
"Untuk apa cemburu." Balas Alexa santai.
"Uuuhh kenapa wajahmu terlihat cemburu sayang." Robby memegang dagu Alexa berusaha menciumnya, namun dengan cepat Alexa menepis tangan Robby.
Robby hanya bisa menggeleng lalu berteriak pada pemandu lagu.
"Kalian keluar." Teriaknya.
"Gak usah." Ucap Alexa. "Kalian boleh tetap disini. Aku mau kalian menghibur Mas Robby." Lanjutnya.
"Apa-apaan ini sayang?" Tanya Robby.
"Gak apa-apa kan Mas? Aku mau lihat apa Mas beneran bisa tahan godaan wanita lain."
Robby hanya bisa berusaha menahan dirinya agar tak tergoda. Alexa lalu mulai bernyanyi, bergantian dengan pemandu lagu. Setelah menghabiskan beberapa lagu, di dalam ruangan kian panas. Meski AC bertiup kencang, namun, kedua pemandu lagu berhasil menghibur Robby dengan cara mereka sendiri.
Robby sudah sangat mabuk, ia terus berusaha menahan diri agar tak menyentuh kedua pemandu lagu yang semakin panas itu. Alexa hanya bisa menahan tawa dan terus memperhatikan gelagat Robby.
Malam semakin larut, suasana bertambah panas. Salah seorang di antara kedua pemandu lagu itu memulai tarian erotis tanpa malu-malu dihadapan Alexa. Bahkan, ia nekat sampai membuka bajunya. Berbekal lingerie warna hitam yang sangat minim, gadis itu menari-nari dengan lincahnya. Sesekali meminta saweran pada Robby yang mulai memanas.
Alexa perlahan duduk menjauhi Robby dan mengobrol dengan salah seorang wanita pemandu lagu.
“Kalau di sini bebas, asal ladies nya mau dan pengunjungnya mau, bisa striptis gitu,” tutur seorang pemandu lagu itu pada Alexa.
Satu wanita menari dengan semangat dihadapan Robby. Mulai dari lantai, naik meja, naik salon, lalu turun lagi, gerakannya sangat lincah. Diiringi musik dangdut disko, Robby yang sudah tak tahan sontak menarik wanita itu duduk di pangkuannya. Dengan rakus Robby mencium dan menjamah tubuh wanita itu dihadapan Alexa.
Alexa hanya tersenyum lalu mulai merekam setiap kejadian yang ada dihadapannya itu.
"Mbak gak marah pacarnya begitu?"
"Dia bukan pacar saya. Cuma bos di tempat kerja yang kebetulan ngajak kesini." Balas Alexa.
Tak ingin melihat lebih jauh lagi, Alexa meminta seorang wanita lainnya untuk merekam adegan panas Robby dengan pemandu lagu. Alexa memberikan sejumlah uang pada wanita itu.
"Tolong kirimkan nanti ke nomor saya ya. Nanti saya kasih lebih kalau videonya bagus."
"Apa boleh wajah wanitanya tidak diekspos?"
"Tentu saja. Tapi pastikan wajah si pria terlihat." Titah Alexa lalu pergi.
Setelah keluar ruangan karaoke, seketika Alexa mendengar suara erangan. Dengan cepat Alexa menutup pintu. Ia lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke apartemennya.
"Sayang, maaf semalam Mas udah...."
"Sudahlah Mas. Gak perlu dibahas lagi, Mas emang gak bisa nahan diri. Ada aku aja Mas bisa begitu. Gimana kalau kita udah nikah terus Mas kayak gitu. Ah, lebih baik batalin aja deh." Ucap Alexa.
"Sayang jangan gitu dong. Kamu kan lihat sendiri, kalau semalam Mas itu mabuk sayang. Lagian kamu juga kenapa gak halangin Mas sih?"
"Males. Buat apa coba? Orang Mas nya kesenengan gitu. Aku gak mungkin dong ganggu orang lagi happy-happy. Udah ah, kita putus aja Mas."
"Jangan sayang please. Tolong kasih Mas kesempatan satu kaliii aja. Mas gak mau kita pisah sayang. Kamu mau apa? Mau Mas beliin tas, berlian, atau mobil? Mas beliin mobil ya? Tapi kita jangan putus dong sayang. Mas udah punya mimpi supaya kita bisa menikah sayang."
"Gak mau." Balas Alexa.
"Ayolah sayang, jangan gini dong. Mau Mas transferin uang buat belanja gak?" Tanya Robby lagi berusaha membuat Alexa agar mau kembali padanya.
"Uang aja. Aku mau mulai bisnis." Balas Alexa.
"Bisnis apa sayang?"
"Mas gak perlu tahu. Kalau beneran mau transfer, transfer aja sekarang."
"Iya udah, entar Mas transferin semua dan yang ada di m-banking Mas ya. Tunggu aja."
"Ya udah. Bye."
Setelah sambungan telepon terputus, Alexa terbahak.
"Bodoh sekali jadi lelaki. Tapi, baguslah dengan begini aku bisa menguras semua yang dia miliki. Toh itu semua juga sebenarnya milikku."
*********
Satu minggu berlalu....
Dengan uang yang kini dimiliki Alexa, ia dapat menggunakan sebuah identitas baru yang bersih, yaitu seorang mahasiswi Universitas ternama yang belum pernah pacaran, latarnya sebersih selembar kertas. Alexa membuat daftar riwayat hidup palsu agar bisa masuk bekerja di perusahaan milik Jackson. Dengan bantuan seorang teman pria, Alexa mendapat pekerjaan sebagai asisten dari Jackson.
"Kebetulan sekali, Jackson memang membutuhkan seorang asisten untuk menemaninya kemanapun ia pergi. Aku sudah memberikan resume mu kepadanya dan dia langsung setuju tanpa bertemu denganmu dulu." Ucap Dion, pria yang membantu Alexa. Keduanya berbicara melalui sambungan telepon.
"Terima kasih ya." Ucap Alexa.
"Jangan sungkan, bagaimanapun kau juga selau membantuku."
Dion adalah sahabat Alexa dimasa lalu. Selain Lika, Dion memang menjadi orang yang penting bagi Alexa.
Alexa lalu menelpon Jackson setelah mendapatkan nomor ponselnya dari Dion.
"Halo selamat siang Tuan, saya Alexandra. Saya adalah calon asisten yang direkomendasikan...."
"Tahu jalan pahlawan nomor 13 gak? Kalau tahu, langsung aja kesini." Jawab Jackson menyela ucapan Alexa.
"Baik Tuan, saya akan...."
Tuuutt...!
"Segera kesana." Ucap Alexa berbicara pada dirinya sendiri.
Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Jackson sama sekali tidak mendengar lebih lanjut apa yang dikatakan Alexa.
Setelah percakapan pertama kali, Alexa punya sedikit penilaian terhadap Jackson.
"Jakson ini sudah pasti tipe pria yang tegas, jutek, dingin. Ah, sudah pasti dia bukanlah mangsa yang mudah diatasi." Ucap Alexa.
Alexa lalu mengeluarkan lipstik mengenakan di bibirnya dan menghapusnya lagi. Alexa ragu untuk menggunakan lipstik tebal dan hanya meninggalkan sedikit bekas merah.
"Untuk membuat pria dingin dan cuek seperti Jackson menganggap kehadiranku adalah hal yang sulit, karena pria seperti itu tidak seperti pada kebanyakan pria." Lagi-lagi Alexa berbicara pada dirinya sendiri.
Bagi Alexa, tipe pria dingin biasanya mempunyai kepribadian yang acuh kepada sekitar. Jadi, Alexa berpikir bagaimana Jackson ingin menganggap kehadiran dirinya kalau karakter Jackson acuh.
"Aku tahu, caranya adalah aku harus tahu karakter pria itu, mulai dari apa yang dia sukai dan tidak. Dengan begitu, lama kelamaan ia akan secara tidak sadar menerima kehadiranku." Ucap Alexa lalu bergegas keluar apartemen menuju lokasi yang disebutkan Jackson.
Bersambung.....