
Alexa berjalan mendekati Jackson yang kini sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia lalu duduk di kursi samping Jackson.
"Tuan gak tidur siang tadi?" Tanya Alexa.
Jackson menggeleng.
"Kenapa?" Tanya Alexa lagi.
"Memangnya selama ini, lo pernah gitu lihat gue tidur siang di kantor?" Ucap Jackson balik bertanya.
"Gak sih."
"Nah itu, ngapain nanya lagi coba." Balas Jackson.
"Tinggal jawab nggak aja susah bener." Cibir Alexa.
Keduanya kembali terdiam.
Pandangan keduanya fokus pada para petani yang berjalan beriringan pulang ke rumah mereka karena waktu bekerja di sawah hari ini telah usai.
Pengabdian matahari saat waktu sore hari bagi seluruh kehidupan bumi akan usai. Dan berganti lah waktu senja. Telah tiba saatnya waktu menyapa seluruh kehidupan di bumi. Saatnya matahari menghantarkan pesan kepada semua kehidupan untuk waktunya beristirahat.
Saat senja kala menyapa pedesaan menjelang bergantinya menuju waktu malam. Setelah seharian sinar matahari terpancar sangat menyilaukan tatapan mata. Setelah seharian langit membiru bersih tanpa terluka oleh mendung yang mencabik-cabik langit.
Terhampar luas pohon-pohon rindang yang mengelilingi seluruh pedesaan. Menambah keasrian pedesaan dengan seluruh kehidupan penduduk desa yang sangat bersahaja. Tiada hiasan segenap kemewahan yang melekat pada seluruh kehidupan penduduk pedesaan.
Kala senja tiba langit-langit berubah menjadi jingga. Perlahan matahari mulai beristirahat setelah mengabdi bagi seluruh kehidupan bumi seharian lamanya. Dari ufuk barat nampak matahari melambaikan tangan menyampaikan ucapan selamat istirahat bagi seluruh kehidupan di bumi.
Esok pagi matahari akan bangun dari ufuk timur tuk menyapa seluruh kehidupan bumi. Dengan pancaran sinarnya sepanjang pagi hingga sore hari. Seluruh kehidupan bumi menyambut matahari dengan senang hati penuh bahagia.
Saat senja tiba suasana pedesaan menjadi sepi. Rumah-rumah sederhana yang sangat asri dipandang terbentang dimana-mana. Nampak pemandangan bukit-bukit terbentang luas yang dipeluk dalam pancaran langit berwarna jingga.
Nuansa pemandangan yang sangat langka begitu menambah rasa senang yang meledak-ledak di hati Alexa. Suasana pedesaan yang sangat terhindar dari polusi kehidupan kota yang begitu mematikan nyawa dan jiwa. Pedesaan yang penuh keramahtamahan penduduknya. Bertabur udara sejuk di pedesaan yang begitu merangkul raga dalam hidup.
"Tuan gak mandi dulu?" Tanya Alexa pada akhirnya saat keduanya diam beberapa saat memandangi suasana senja.
"Mandi." Balas Jackson. "Bisa siapin air hangat gak? Kayaknya gue gak tahan kalau mandi air dingin."
"Manja banget." Protes Alexa. "Disini gak ada bath up atau shower. Kalau mau mandi air anget, airnya harus di rebus dulu terus di tuangin dalam bak. Nah, terus Tuan mandinya pakai gayung." Ujar Alexa.
Jackson menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah deh gak apa-apa. Daripada harus mandi air dingin." Balasnya.
Meski terus mengoceh karena malas, namun Alexa tetap berjalan masuk ke dalam rumah guna mempersiapkan air hangat yang diminta Jackson.
*************
Malam pun tiba....
Setelah selesai mandi, Jackson bergegas bergabung dengan Alexa beserta Kakek Parman dan Nek Aminah untuk makan malam. Kali ini Alexa yang menyiapkan menu makan malam dan tentu saja dibantu Nek Aminah.
Menu makan malam yang tersedia di meja sangat sederhana. Ada sayur sup, tahu goreng dan ikan nila yang dibakar dengan racikan bumbu khas dari Nek Aminah.
"Dimakan ya." Ucap Nek Aminah pada Jackson. "Maaf makannya mungkin tidak sesuai dengan selera kamu. Tapi cuma ini yang ada di desa."
"Ah tidak apa-apa. Saya tidak pilih makanan kok. Lagipula, sepertinya semua makanan yang tersedia terlihat enak." Balas Jackson.
Mereka semua lalu mulai menyantap makan malam dalam suasana kekeluargaan. Bagi Jackson, makan bersama dengan para orang tua adalah hal yang sangat langka dan jarang untuk dilakukannya. Selama ini, Jackson hidup mandiri. Ia sudah tidak tinggal dengan kedua orang tuanya sejak lulus SMA.
Jackson merupakan sosok pria yang suka melakukan apa-apa sendiri termasuk dalam urusan makan. Namun, setelah bertemu Alexa semuanya berubah. Hal yang tidak pernah dilakukan Jackson, seperti saling menyuapi dengan lawan jenis, malah ia lakukan dengan Alexa.
Selesai makan, Alexa dan Jackson memilih untuk kembali duduk di luar rumah. Keduanya duduk di halaman dengan menggelar tikar dan menatap ke langit dimana bintang-bintang bertaburan dengan cantiknya.
Melihat pemandangan indah itu, Alexa termenung dalam kerinduan yang mendalam. Terhadap dua sosok yang luar biasa bagi dirinya. Tanpa sadar air mata menetes dari netra nya. Alexa teringat sebuah kenangan yang mendalam, yang luar biasa membekas di ingatan dan hatinya.
Malam hari di desa sangat dingin. Tak seperi malam-malam biasanya di kota. Alexa sadar ada yang berbeda atau mungkin hanya perasaannya saja. Entahlah, ia sendiri tak paham.
'Tetapi apakah mungkin malam ini ada yang berbeda. Angin di malam ini meniupkan rasa yang berbeda. Sungguh terasa berbeda, perasaan diriku malam ini berbeda.'
"Lo kenapa?" Tanya Jackson yang menyadari bahwa Alexa tengah menangis.
Alexa terisak, ia tak dapat berkata apa-apa. Jackson seperti ingin berusaha menenangkan Alexa, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Lalu Alexa tiba-tiba menggeser posisi duduknya dan menyandarkan kepalanya dibahu Jackson.
"Entah bagaimana jadinya, tiba-tiba rasa rindu terasa malam ini. Sekelebat bayangan membayang di kedua mata saya. Sosok yang selalu saya ingat. Mungkin tak pernah terlupa. Sepasang suami istri yang sangat saya sayangi. Sepasang suami istri yang menyayangi saya sepanjang hidup mereka. Ingin saya tuliskan suatu pesan untuk mereka. Entah akan sampai atau tidak." Ujar Alexa.
Jackson terdiam, ia membiarkan Alexa bersandar di bahunya.
Suasana jadi hening sesaat, hingga Jackson memulai bicaranya.
"Gue rasa gak ada salahnya lo ungkapkan semua isi hati lo, terlepas dari mereka dengar atau nggak. Setidaknya lo udah melepaskan semua rasa yang lo pendam buat mereka."
Alexa terdiam, ia melirik ke arah Jackson yang ternyata tengah melihat ke langit, dimana gemerlap bintang yang bertaburan tampak sangat begitu indah.
Alexa terdengar menghela napas panjang.
"Hai… Papa Mama. Apakah kalian senang di sana?" Ucap Alexa dengan terisak.
Jackson terdiam, ia dapat merasakan kesedihan Alexa.
"Pada burung-burung yang berterbangan, ku titipkan salam ku untuk kalian. Tentang rindu yang mendalam dalam hati, tentang cerita-ceritaku, yang mungkin tak bisa kalian dengar." Lanjut Alexa.
Jackson refleks mengelus kepala Alexa dengan lembut. Ia dapat merasakan pundaknya telah basah oleh air mata Alexa.
'Kasihan sekali kau Alexa.' ucap Jackson dalam hati.
"Tuhan… Biarkanlah burung-burung itu, hantarkan pesanku pada mereka. Yang sedang Engkau dekap dalam kedamaian. Dan kuharap, pesan ku kan sampai bersama rinduku yang mendalam." Ucap Alexa kemudian terdiam.
Malam semakin dingin, Alexa tak kunjung mengangkat kepalanya dari bahu Jackson. Ia seperti sedang menunggu, dan termenung dalam diam. Menunggu balasan pesannya. Balasan yang mungkin tak tahu akan terbalas atau tidak. Hanya angan dan harap saja yang bisa Alexa lakukan.
Alexa berjalan menyusuri jalanan malam dengan penuh rasa berkecamuk di dada. Mata memandang suasana malam yang entah, tak sanggup ia katakan. Suara itu, entah nyata atau tidak memanggil-manggil dirinya. Mungkin hanya ilusi atau mungkin fatamorgana. Tetapi suara itu terasa nyata, terus memanggil-manggil namanya.
“Hei Nak, menoleh lah…,” suara itu memanggil Alexa.
Alexa menoleh dengan perlahan.
“Kalian…?” Tanpa terasa air matanya menetes. “Apakah kalian nyata..?” Tanya Alexa.
“Tentu saja, Tuhan telah memberikan izin untuk mendengarkan pesan mu. Bukankah itu yang kau inginkan anakku?” Balas mereka.
'Yah, tentu saja, itu yang ku inginkan,' kata Alexa dalam hati.
“Apakah kalian baik-baik saja di sana?” Tanya Alexa kembali.
“Tentu saja, kami sangat bahagia di sini. Tuhan selalu menepati janji-Nya.” Balas mereka lagi.
“Janji apa?” Alexa hanya bisa terus bertanya. Seakan tak mengerti apa yang mereka katakan.
“Haha…, kau lucu sekali Nak, tentu saja janji kepada orang-orang beriman. Janji untuk memberikan kebahagiaan yang tak terkira kepada kami. Tuhan selalu menepati-Nya.” Jawab mereka lagi.
“Kalau begitu, berarti kalian tak pernah rindu padaku?” Balas Alexa dengan kecewa.
“Hei…, tentu saja kami rindu padamu. Kau puteri yang sangat kami sayangi sepanjang hidup kami. Tetapi bukankah rasa sayang dan rindu tak harus diumbar.” Kata mereka.
“Tetapi kita tak akan pernah bertemu lagi, bukankah kalian yang dihadapan ku hanyalah ilusi ku saja?” Kata Alexa.
“Puteri ku.., asal kau tahu, rasa sayang dan rindumu itu bukan ilusi. Kami ada bukan karena ilusi. Kami di sini ingin membalas pesan mu. Kami ingin sampaikan satu hal yang sangat penting padamu Nak. Janganlah rasa rindumu itu membutakan mu terhadap dunia. Ingat, selagi kau masih ada waktu. Taati lah perintah Tuhan. Bukankah kau ingin kami bahagia, kalau iya lakukanlah.” Kata mereka.
“Tetapi rasa sedih dan rindu ini datang tiap saat.” Jawab Alexa.
“Kau bisa titipkan salam rindumu bersama doa mu. Sekali lagi ingat, jangan buta kan dirimu dengan rasa rindumu pada kami. Kami ini juga ciptaan Tuhan dan memang harus kembali kepada Nya. Jadi kembalikanlah rasa rindumu kepada Tuhan yang telah mencipta dan mengembalikan kami. Sesungguhnya yang pantas kau rindukan adalah Tuhan yang sudah menciptakan kau dan kami.” Jelas mereka dengan penuh keyakinan.
Ucapan mereka membuat Alexa tertohok, kerinduannya yang membabi buta membuat Alexa benar-benar buta terhadap Tuhannya sendiri. Alexa sadar akan hal itu. Ia termenung membisu.
“Apa engkau sudah mengerti, anakku? Kalau sudah, kami akan pergi. Ingat, kau harus selalu taati perintah Tuhan dan rindukan lah Tuhan, karena Dialah yang pantas kau rindu.” Jelas mereka.
“Yah…, aku mengerti, terima kasih telah datang padaku.” Ucap Alexa pada mereka.
“Terima kasihlah pada Tuhan, bukan kami. Karena atas izin-Nya lah kami dapat membalas pesan mu dan berbincang denganmu.” Ucap mereka sembari menghilang dari hadapan Alexa.
Alexa kaget, ia mencari-cari mereka lagi. Tetapi segera ia ingat, akan pesan mereka.
Saat bangun, ia bertatap dengan Jackson dengan penuh canggung.
"Maaf." Ucap Alexa menunduk.
"Tak apa." Balas Jackson tenang. "Tadi... Mimpi ketemu orang tua lo ya?" Tanya Jackson.
Alexa mengangguk.
'Kenapa ia bisa tahu?' pikirnya.
"Karena lo mengigau." Ucap Jackson seolah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alexa dalam hatinya.
"Saya gak mengigau yang aneh-aneh kan?" Tanya Alexa.
"Gak sih." Balas Jackson. "Tapi....."
"Apa?" Tanya Alexa penasaran.
"Ada satu bagian dimana lo bilang kalau lo suka sama gue." Ucap Jackson yang sontak membuat Alexa menutup mulutnya karena tidak percaya.
'Apa aku benar-benar mengatakan hal itu? Bukankah aku bermimpi bertemu dengan Papa dan Mama?'
"Kenapa? Lo gak percaya sama gue?" Tanya Jackson.
Alexa masih terdiam, ia masih berusaha mengingat mimpinya tadi.
"Di bagian mana ya saya mengatakan hal itu? Padahal dalam mimpi saya bertemu dengan kedua orang tua saya." Ucap Alexa bingung.
"Ya mana gue tahu. Kan lo yang mimpi, bukan gue."
Jackson lalu mendongak ke atas dengan posisi kedua tangan yang bertumpu pada tikar.
"Lo percaya pada suatu kepercayaan orang yang bilang, kalau lihat bintang jatuh, terus memohon. Maka permohonan lo bisa dikabulkan." Ucap Jackson.
Alexa menggeleng lalu ikut menatap ke arah langit yang memang gemerlap bintang semakin terang.
"Gak, saya gak percaya yang begituan."
"Kenapa?" Tanya Jackson lagi.
"Ya berpikir rasional saja. Itu hanya dongeng untuk anak kecil saja. Dulu saya juga pernah meminta pada bintang jatuh saat masih kecil. Saya hanya ingin hidup bahagia bersama Papa setelah Mama tiada. Tapi kenyataannya...."
Jackson menoleh pada Alexa yang menghentikan ucapannya. Alexa kembali terlihat sedih.
'Seperti apa masa lalu mu sebenarnya?' tanya Jackson dalam hati.
"Saya berhenti berharap, apalagi setelah kepergian Papa, semuanya hancur. Namun, saya akhirnya kembali bangkit setelah tinggal disini bersama kedua pasangan yang sedang menikmati malam mereka di dalam rumah." Ucap Alexa tersenyum. "Mereka sangat berarti dalam hidup saya. Tanpa mereka mungkin saya sudah hilang arah, atau bahkan tak akan ada lagi di dunia ini dan tak bisa bertemu dan mengenal Tuan. Apalagi untuk duduk seperti ini berduaan di malam-malam yang gelap." Ujar Alexa kemudian tertawa.
'Sungguh, tawa dan senyuman mu itu indah sekali.' ucap Jackson dalam hati.
Jackson terus memandangi wajah Alexa yang tersenyum. Saat Alexa menoleh, pandangan keduanya bertemu.
"Kenapa Tuan memandang saya seperti itu?" Tanya Alexa. "Apa jangan-jangan Tuan lah yang menyukai saya." Lanjut Alexa. "Ayo mengaku saja." Alexa mencolek dagu Jackson.
"Heh, percaya diri sekali lo itu." Jackson langsung mengalihkan pandangannya.
"Hahaha mengaku saja. Anda selalu memandang saya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Selain itu Nek Aminah juga mengatakan kalau Anda kedapatan sedang mengelus pipi saya saat tertidur tadi siang di teras sambil tersenyum. Bukankah itu tanda bahwa Anda menyukai saya Tuan?" Goda Alexa.
"Tidak sama sekali. Gue sudah pernah bilang sama lo, kalau gue gak akan pernah suka sama lo." Ujar Jackson berkilah.
"Hahaha masih gak mau ngaku juga. Kalau suka bilang aja suka."
"Nggak!" Seru Jackson.
"Suka kan?" Alexa terus menggoda Jackson.
Jackson tetap tak mau mengakui rasa sukanya.
"Suka, suka, suka....." Goda Alexa hingga akhirnya Jackson menarik tangan Alexa dan memandangnya dengan tajam.
Alexa terdiam, sorot mata Jackson sedang dalam mode serius.
"Kalau emang gue suka sama lo, terus kenapa? Apa lo juga suka sama gue?" Tanya Jackson.
Alexa terdiam, tanpa aba-aba Jackson menarik kepala Alexa lalu menciumnya dengan kasar. Seperti sudah dirasuki, Alexa bukannya menolak malah membalas ciuman itu dengan liar. Keduanya seperti bergumul diatas tikar. Dari posisi duduk hingga berbaring, keduanya berciuman dengan liar. Seliar dinginnya malam yang semakin gelap di pedesaan.
Posisi Jackson kini sudah berada diatas Alexa, ia semakin mendalam kan ciumannya. Alexa sendiri tak bisa menampik bahwa ia menyukai semua yang terjadi. Ia membalas perlakuan Jackson dengan memeluknya dari bawah. Tangan Jackson mulai berani meraba tubuh Alexa, karena Alexa tak menunjukkan penolakan membuat Jackson semakin menggila.
Perlahan tangan Jackson mulai masuk ke dalam pakaian Alexa dan menari di gundukan milik wanita yang selama ini dilihatnya sangat seksi itu. Alexa menggeliat, membuat Jackson semakin melewati batas. Jackson dengan berani menyingkap pakaian Alexa. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya Jackson melihat hal itu. Tanpa pikir panjang, seperti seseorang yang sangat lapar Jackson langsung beralih pada area yang seharusnya tak ia sentuh itu.
Alexa semakin menggeliat, Jackson beralih mencium bibir Alexa sementara tangannya terus bermain pada gundukan itu.
"Eemmmmppphhh..." Alexa mendesah.
Malam yang semakin dingin membuat keduanya semakin lupa diri dan batasan. Suasana yang sepi semakin mendukung aksi yang mereka lakukan. Tiba-tiba posisi keduanya berbalik. Dengan pakaian yang terangkat dan memperlihatkan gundukan indah miliknya, Alexa duduk diatas tubuh Jackson yang berbaring.
Jackson tersenyum lalu menarik kembali tubuh Alexa dan bermain dengan gundukan itu. Alexa meremas rambut Jackson, ia dibuat seolah terbang. Keduanya sama-sama tak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
Hingga.....
Kreeettt......
Suara pintu depan rumah terbuka, Alexa langsung turun dari atas tubuh Jackson dan merapikan pakaiannya. Sementara Jackson sendiri sudah dalam posisi duduk, dengan rambutnya yang acak-acakan.
"Alexa...." Panggil Nek Aminah. "Ayo masuk, sudah mulai larut. Gak baik laki-laki dan perempuan lama-lama duduk berduaan apalagi dalam gelap begitu. Takutnya ada setan yang menggoda." Ucap Nek Aminah menggoda dengan terkekeh.
"I-iya Nek, ini sudah mau masuk." Balas Alexa.
"Ya sudah, ayo cepat. Nanti pintunya dikunci ya."
Nek Aminah kembali masuk ke dalam rumah. Alexa langsung berdiri dan menoleh sekilas pada Jackson yang pandangannya lurus ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu. Alexa langsung masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun.
Saat Alexa pergi, Jackson kembali merebahkan tubuhnya ke tikar. Ia membayangkan apa yang baru saja terjadi.
'Aku memang selalu tidak bisa menahan diri jika berhadapan dengan wanita itu.'
Jackson bangun lalu masuk ke dalam rumah. Tak lupa ia mengunci pintu, lalu masuk ke dalam sebuah kamar kecil yang memang sudah disiapkan Nek Aminah sebagai tempat ia untuk tidur.
Jackson berbaring, ia mengambil ponsel yang terdapat di dalam saku celananya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Benar-benar malam yang sangat panas." Ucapnya tersenyum membayangkan wajah Alexa.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, menandakan sebuah pesan yang ternyata dari Alexa. Jackson tersenyum, ia lalu membaca pesan itu.
[Apa yang baru saja terjadi seharusnya tidak pernah terjadi. Mengingat kita berdua tidak memiliki hubungan spesial apapun. Saya minta maaf jika sudah melewati batas, saya rasa Tuan juga sependapat dengan saya. Cuaca yang dingin dan suasana yang sepi membuat kita terbuai hingga melewati batas kewajaran. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti yang Tuan katakan, sampai kapanpun Anda tidak akan pernah menyukai saya. Jadi, anggap saja yang terjadi tadi suatu kesalahan yang sudah kita perbuat.] Tulis Alexa.
Jackson menjadi geram, ia dongkol karena Alexa menganggap semua yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan. Jackson tak bisa menerima point yang sebenarnya ingin disampaikan Alexa. Alexa hanya ingin sebuah pengakuan. Pengakuan rasa suka atau cinta yang keluar dari mulut Jackson itu sendiri. Maka yang baru saja terjadi tadi, murni karena keduanya saling mencintai. Namun, kembali lagi karena Jackson memiliki ego dan gengsi yang tinggi, ia tetap tak mau mengakui perasaannya itu.
[Lo benar, anggap saja semuanya kesalahan atau suatu kecelakaan yang terjadi pada dua orang dewasa. Toh sepertinya lo juga udah sering melakukan hal itu dengan pria lain. Mengingat lo kan suka menggoda. Sekarang fokus ke pekerjaan saja. Anggap semuanya gak pernah terjadi, dan mulai besok lo fokus jadi asisten gue. Jangan pernah mencoba untuk menggoda gue lagi.] Balas Jackson.
Alexa menghela napas panjang setelah membaca balasan dari Jackson. Ia pikir Jackson akan dengan mudah mengatakan rasa suka padanya, ternyata tidak. Jackson masih menjadi pria yang angkuh.
"Kalaupun aku yang lebih dulu menyatakan perasaanku. Pria dingin itu belum tentu membalasnya." Ucap Alexa. "Fokus Alexa, lupakan hal itu. Waktumu bekerja bersamanya tinggal beberapa hari lagi. Setelah itu kau bisa melanjutkan hidupmu dengan mengurus perusahaan mu sendiri." Alexa berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Sementara di kamar lain, Jackson menatap langit-langit kamar dan terus bertanya pada dirinya sendiri.
'Apa yang aku katakan tadi tidak terlalu kelewatan?'
"Aaahh, bodo amat." Ucapnya. "Mending tidur saja."
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiahnya juga ya... 🥰
Gimana-gimana? Makin greget gak sama hubungan Alexa dan Jackson? Keduanya emang sama-sama gengsian ya... 😁
Terlebih Jackson si cowok dingin yang sebenarnya sih sudah meleleh karena pesona yang ditunjukkan Alexa... 🤭
So pantengin terus ya, kisah dua orang ini akan bagaimana selanjutnya. Apakah akan lancar-lancar saja, justru atau ada drama baru lagi. Pokoknya tungguin aja yaa... 😘