
PoV Joshua
Setelah kencan bersama kekasihku Leony, sebelum aku pulang ke rumah, aku memeriksa apakah wanita itu sudah ada di rumahnya atau tidak. Aku bertanya kepada petugas polisi yang aku lihat pertama kali saat aku tiba di rumahnya.
"Dia masih belum kembali. Dia mungkin akan kembali ke sini besok." Ucap petugas polisi itu padaku.
"Apakah urusannya selama itu?" Jawabku balik bertanya.
"Ah iya." Ucap petugas itu.
Sepertinya dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
"Baiklah, besok aku akan kembali ke sini." Ucapku sambil menundukkan kepalaku sedikit.
Aku lalu pergi dari rumah wanita itu untuk bergegas pulang ke rumah. Aku merasa begitu lelah.
Aku sampai di rumah sekitar jam 01.00 pagi. Aku lalu mandi, menggosok gigiku dan kemudian tidur.
"Tuan Muda...."
Aku mendengar suara seorang pelayan memanggil dari depan kamarku.
'Cih mengganggu sekali.'
Rasanya aku baru saja tidur, kenapa aku sudah dibangunkan?
"Aku akan turun nanti. Ini masih pagi." Jawabku dengan malas.
"Tuan muda, ini sudah jam 10.00 pagi." Jawab pelayan itu.
"Apa?" Ucapku terkejut.
Aku buru-buru duduk dan melihat jam weker di atas meja yanga di samping tempat tidur. Aku melihat bahwa sekarang sudah jam 10.17 pagi. Aku sudah melewatkan dua alarm, yaitu jam 06.00 dan jam 06.30 pagi.
Aku ingat bahwa sebenarnya aku harus mengantar Leony ke perusahaan tempatnya bekerja hari ini.
"Sial! Bagaimana aku bisa melupakan hal itu." Bisik ku pada diriku sendiri.
Aku mengambil ponselku yang ada di meja samping dan mencari nomor Leony. Aku mencoba untuk menghubunginya. Aku merasa begitu bersalah karena sudah tidak bisa mengantarnya.
"Selamat pagi Leony. Maaf aku tidak menjemputmu tadi. Aku bangun terlambat." Ucapku gugup karena berpikir dia mungkin marah padaku.
"Tidak apa-apa Joshua. Aku mengerti. Jika kau mau, kau bisa menjemput ku saat makan siang nanti." Ucapnya.
Suara malaikatnya itu terdengar dari sambungan telepon.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu jam makan siang nanti, oke!" Ucapku.
"Sampai ketemu nanti Joshua." Ucap Leony.
Aku menutup sambungan telepon dan segera memeriksa jadwalku. Saat ini adalah waktu makan siang dan aku pikir bahwa aku tidak punya janji dengan siapapun hari ini. Aku lalu melihat jadwalku untuk hari ini dan rahang ku langsung terbuka lebar.
'Waktu makan siang pergi ke rumah Jessica untuk menjemputnya.'
Itulah jadwal yang dituliskan oleh Mama untukku via pesan singkat.
'Apa? Lalu siapa yang akan aku jemput?'
Bagaimana ini?
Aku sangat ingin pergi makan siang dengan kekasihku Leony. Tapi aku tidak akan mungkin bisa membantah perintah Mama yabg memintaku untuk menjemput wanita licik itu. Jika aku tidak melakukannya, maka semua fasilitas ku akan di cabut oleh Mama.
Aku tidak bisa tanpa mobil, kartu kredit dan ponselku. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Leony jika aku tidak memiliki semua itu.
'Hah! Benar-benar menjengkelkan.'
Kali ini aku harus membatalkan niatku untuk makan siang dengan kekasihku. Aku tahu bahwa dia pasti kecewa. Tapi ini semua aku lakukan demi hubungan kami juga.
...----------------...
"Halo Joshua, apakah kau akan menjemput ku?" Ucap Leony di sisi lain telepon.
"Maaf Leony, aku ada urusan mendadak dan aku tidak bisa membatalkannya. Ini sangat penting. Aku benar-benar minta maaf." Ucapku berusaha menjelaskan padanya.
"Tidak apa-apa Joshua. Aku mengerti dirimu. Aku tahu bahwa itu pasti penting." Jawab Leony dengan nada tenang.
Itulah sebabnya aku sangat mencintai gadis ini. Dia gadis yang baik dan benar-benar pengertian. Aku begitu beruntung memiliki dirinya.
"Joshua, jika ini menyangkut dirimu, aku tidak akan pernah punya waktu untuk marah padamu karena hal-hal kecil seperti ini." Ucapnya.
'Ah, gadis ini benar-benar sempurna.'
"Apa benar?" Balas ku menggodanya.
"Hmmm tentu saja." Balasnya.
Aku bisa membayangkan ekspresinya sekarang. Dia mungkin memutar matanya sambil tersenyum. Begitulah ekspresinya yang biasa dia lakukan saat aku menggodanya.
Aku lalu kembali melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11.30, dimana hampir jam makan siang tiba.
"Leony, aku benar-benar harus pergi sekarang. Aku mencintaimu, bye." Ucapku.
"Aku juga mencintaimu Joshua, bye." Balasnya.
Panggilan kami pun berakhir. Aku mengambil sepatuku di rak sepatu dan mengunci kamarku. Aku lalu turun dan segera mengganti sepatuku begitu aku duduk di sofa.
...****************...
PoV Jessica
Setelah melacak siapa orang yang sudah meretas sistem kami, aku menemukan bahwa itu adalah ulah Scorpio lagi.
'Scorpio itu benar-benar membuatku kesal.'
Aku pulang hampir jam 05.00 pagi dan saat tiba di rumah, aku langsung mandi.
Leo ternyata tidak pulang. Dia malah memutuskan untuk berjaga-jaga di rumahku jika terjadi sesuatu yang mencurigakan.
"Ini kopi untukmu." Ucapku sambil memberikannya secangkir kopi yang baru saja ku buat.
"Terima kasih Jess. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Leo tiba-tiba.
"Apa yang akan kukatakan padamu?" Jawabku bingung.
Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Leo.
"Mungkin sebuah rahasia." Ucapnya dengan mengangkat bahunya.
"Rahasia apa?" Ucapku bertanya padanya lagi.
Kali ini aku semakin bingung.
"Seorang pria datang ke sini kemarin. Dia bilang bahwa dia bertemu denganmu beberapa minggu sebelumnya. Dia juga bertanya di mana kau berada. Dia bahkan bertanya siapa yang ada di dalam kantong jenazah. Dia itu terlihat mencurigakan." Ucap Leo.
"Hah? Bagaimana ciri-cirinya?" Tanyaku kepada Leo.
"Dia pria yang tampan. Dia juga tampak seusia dengan kita. Dia pria yang terlihat kaya dan dia bicara dengan sopan padaku." Ucap Leo.
Aku memutar otak berpikir siapa sebenarnya pria yang dibicarakan oleh Leo ini.
"Dia memakai mobil. Tapi satu-satunya hal yang aku ingat tentang mobilnya adalah sebuah Ferrari dan pelatnya memiliki stempel VIP. Dia bilang bahwa dia akan kembali ke sini hari ini." Ucap Leo.
Aku sangat memikirkan apa yang baru saja Leo katakan padaku. Tapi menurut gambarannya, laki-laki itu berpenampilan tampan, sopan, tampak kaya, seumuran dengan kami dan mengenakan Ferrari dengan plat VIP.
Aku belum pernah bertemu orang yang ada cap VIP di nomor plat mobilnya.
'Ferrari?'
Aku baru saja melihat Ferrari di rumah keluarga Joshua dan aku tidak punya teman yang memiliki Ferrari kecuali Leo.
'Apa jangan-jangan itu Joshua?'
Aku langsung menggelengkan kepalaku. Suatu hal yang mustahil dia datang ke rumahku. Dia bahkan bukanlah pria yang tampan atau pria yang bersikap sopan.
Tapi jika itu benar dia, lalu apa yang dia lakukan di rumah kami? Apa dia mencari ku?
'Cih! Mustahil.'
Kemarahan yang aku lihat di matanya kemarin ketika dia menyeret ku dengan penuh kebencian, mana mungkin dia datang mencari ku. Dia terlihat sangat membenciku.
'Tapi, apakah itu benar-benar kau Joshua?'
Bersambung...