Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 34: Kekasih


Suasana perkantoran terlihat seperti hari-hari biasanya. Masih sama seperti biasa, dimana para karyawan terlihat begitu sibuk dengan deadline mereka. Ada yang sibuk menyiapkan berkas, ada yang sibuk mengetik dan ada pula yang tengah menggandakan lembaran-lembaran berkas menggunakan mesin fotocopy.


Diantara semua keriuhan yang terjadi di kantor PT. Samudera Raya, nyatanya sang CEO perusahaan tersebut tengah dilanda gusar. Sejak tiba di kantor pagi tadi, ia terus mondar mandir seperti tak tenang dan terus melihat ke arah pintu ruangannya. Ia seolah tengah menunggu kedatangan seseorang. Bahkan pekerjaan hari ini banyak yang terbengkalai karena dirinya yang tak fokus.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu di ruangan CEO terdengar. Mata sang CEO berbinar, berharap orang yang ditunggu-tunggunya yang muncul. Nyatanya yang masuk adalah Maya, sekretarisnya.


"Ada apa?" Tanya Jackson tanpa basa-basi.


"Maaf Tuan, tapi sekarang sudah waktunya makan siang. Apa Tuan ingin saya membawakan makanan Anda kemari atau....."


"Tidak perlu." Balas Jackson memotong ucapan Maya yang belum selesai ia utarakan. "Aku tidak lapar, kau lebih baik pergilah untuk makan siang."


"Tapi Tuan...."


"Maya, apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?" Ucap Jackson tegas.


"Baik Tuan, permisi." Balas Maya menunduk lalu keluar dari ruangan Jackson.


Lima menit setelah Maya keluar, pintu ruangan Jackson kembali diketuk. Lagi, Jackson mengira bahwa itu adalah orang yang ditunggu-tunggunya. Matanya berbinar, senyumnya mengembang membayangkan orang yang akan masuk ke dalam ruangannya adalah sosok itu. Dan ternyata.....


"Permisi Tuan." Ucap seorang pria yang mengenakan jas serba hitam.


Senyum di wajah Jackson langsung hilang, raut wajahnya kembali ke mode normal. Tatapannya dingin sedingin es.


"Cepat katakan, ada apa?" Ucapnya.


"Tuan, Nona Jennie dan juga Mama serta kakaknya ditangkap polisi."


Jackson terlihat kaget.


"Ada apa?" Tanya Jackson.


"Terlibat kasus percobaan pembunuhan Tuan." Jawab pria itu.


"Pembunuhan? Terhadap siapa?" Tanya Jackson semakin penasaran.


"Untuk itu saya tidak dapat menerima informasi yang lebih pasti Tuan. Tapi menurut info yang beredar ada desas-desus yang mengatakan bahwa terkait dengan peristiwa meninggalnya CEO PT Intan Jaya dan juga puteri nya yang menghilang."


Jackson hanya termenung, ia masih terlihat berpikir tentang semua masalah yang menimpa Jennie. Setahun lebih mengenal Jennie, ia tak pernah sedikitpun melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari wanita itu. Terlebih sampai terlibat kasus pembunuhan terhadap Papa dan saudara tirinya sendiri. Jackson sendiri pernah mendengar kabar tentang meninggalnya CEO Intan Jaya. Tapi dari kabar yang beredar dia meninggal karena serangan jantung. Sementara sang puteri dikabarkan kabur karena tak ingin menikah dengan Robby. Jadilah Gea yang terpaksa menggantikan dirinya sebagai isteri Robby.


"Benar-benar keluarga yang penuh misteri." Ucap Jackson.


"Apa Tuan ingin saya menyelidiki semua demi membersihkan nama Nona Jennie?" Tanya pria itu.


"Ah, tidak perlu. Biarkan Jennie mengurus dirinya sendiri. Kita tidak perlu terlibat apalagi sampai ikut masuk ke ranah mereka."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


Jackson hanya mengangguk, pria itu lalu keluar dari ruangan Jackson.


Jackson lalu bangun dari kursinya kemudian berdiri menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang tengah sibuk dengan kendaraan yang berlalu lalang di jam makan siang. Tiba-tiba ia merasakan perutnya keroncongan.


'Bagaimana ini?' pikir Jackson.


Ia lalu kembali mengingat momen semalam dimana Alexa menyiapkan berbagai makanan yang lezat untuk dirinya.


"Akan lebih baik jika dia yang membawakan makan siang untukku." Ucap Jackson tersenyum.


Jackson lalu bergegas mengambil ponselnya yang terletak diatas meja kerja lalu mulai menghubungi Alexa.


Tutt......


Cukup lama, namun belum juga dijawab.


'Sial....' rutuk Jackson dalam hati.


Saat ia hampir menutup panggilannya, tiba-tiba Alexa menerima panggilan itu.


"Halo...." Suara Alexa terdengar begitu lembut dari seberang telepon.


Jackson yang mendengar suara itu hanya bisa tersenyum tanpa menjawab.


"Halo.... Tuan...." Ucap Alexa lagi.


Jackson tersadar, wajahnya yang semula tersenyum mendadak jadi dingin.


"Hei, dimana lo?" Teriaknya yang sontak membuat Alexa kaget.


"Ya ampun Tuan, kenapa teriak-teriak sih." Protes Alexa.


"Gue bilang lo dimana? Kenapa gak ke kantor. Jadi asisten kok gak ada becus-becusnya. Lo pikir kantor ini punya nenek moyang lo bisa datang dan gak kerja semau-mau lo."


Alexa yang tengah duduk santai menghela nafas panjang dan memijit pelipisnya. Ia ingin mengatakan yang sejujurnya saat ini juga, bahwa ia tak ingin lagi bekerja dengan Jackson.


"Tuan Jackson yang terhormat, saya minta maaf. Mulai hari ini saya ingin berhenti bekerja sebagai asisten Anda." Ucap Alexa akhirnya.


"Apa lo bilang?" Teriak Jackson. "Eng-gak bisa gitu dong. Gue gak izinin. Pokoknya sekarang juga lo ke kantor, bawain gue makan siang yang lo masak sendiri."


"Tapi Tuan...."


"Gak ada tapi-tapi... Kalau sampai lo gak datang, lo yang bertanggung jawab kalau gue kenapa-kenapa karena sebagai asisten lo gak becus ngurus Bos lo."


'Apa-apaan sih dia.' pikir Alexa.


"Ingat, lo sendiri yang bilang gue gak bisa sembarangan pecat lo karena udah ada kontrak kerja selama sebulan. Dan waktu lo masih tinggal seminggu lagi." Tegas Jackson.


"Tuan dengerin saya dulu...."


"Gue gak mau denger. Pokoknya gue tunggu sekarang juga, awas aja kalau lo gak dateng. Gue obrak-abrik apartemen lo."


Tutttt......


Sambungan telepon terputus, dan Alexa hanya bisa menghela napas panjang. Sementara Jackson yang duduk di kursinya tersenyum puas.


Meski enggan, Alexa akhirnya beralih ke dapur rumahnya. Saat berjalan ke arah dapur, ternyata sudah banyak yang berubah. Dapur yang dulu tempat ia suka memasak kini berubah jadi lebih mewah. Lemari pendingin jadi jauh lebih besar dan modern. Alexa tersenyum, mengingat semua kejadian yang ia lewati saat bersama Papa nya. Namun, kenangan buruk juga ikut terlintas, dimana ia selalu dijadikan budak oleh Bu Susan dan kedua anaknya.


"Cukup Alexa. Jangan diingat-ingat lagi, semuanya sudah berlalu. Mari buka lembaran baru dan hidup lebih baik." Ucap Alexa menyemangati dirinya sendiri.


Alexa membuka lemari pendingin dan mulai mengambil bahan-bahan untuk dimasak. Saat akan memulai memasak, seorang pria paruh baya masuk ke dan mengucap salam padanya.


"Permisi Nona." Ucap pria itu.


Alexa berbalik dan menatap pria itu.


"Mang Adi?" Ucap Alexa ragu-ragu.


Pria itu mengangguk dan tersenyum.


"Mang Adi kan?" Tanya Alexa lagi seraya berjalan mendekat tak percaya.


"Ia Nona, ini saya." Jawabnya.


"Ya ampun Mang, apa kabar? Bi Lastri dimana?" Tanya Alexa.


"Saya baik Non. Bibi juga baik."


Mang Adi dan Bi Lastri adalah pekerja yang selalu membantu Alexa yang dalam kesusahan di masa lalu saat ia selalu dibully oleh Bu Susan dan kedua puteri nya.


"Dimana Bi Lastri?"


"Ada di rumah, sudah lama gak kerja disini. Sejak Non hilang, Bibi tidak mau bekerja disini lagi. Cuma saya saja yang betah dan tetap jadi tukang kebun."


"Ya ampun Mang." Alexa memegangi kedua lengan pria yang tampak sudah semakin menua itu. "Mang kalau bisa ajak Bi Lastri tinggal disini lagi ya. Saya sekarang cuma sendiri disini gak ada orang lain lagi."


"Tentu Non. Bibi pasti senang melihat Non sudah kembali." Ucap Mang Adi dengan wajah berbinar. "Selama ini saya dan Bi Lastri percaya kalau Non Dara masih hidup dan suatu saat pasti akan kembali kemari."


Alexa tersenyum dan kembali menggenggam tangan Mang Adi.


"Mang, mulai hari ini panggil saya Alexa ya. Nama Dara itu sudah menjadi masa lalu buat saya."


"Baik Non." Balas Mang Adi. "Kalau begitu saya mau balik ke rumah dulu Non, mau ajak Bibi kemari."


"Baik Mang." Balas Alexa.


Mang Adi lalu permisi meninggalkan Alexa yang kemudian kembali berjibaku dengan aktifitasnya memasak di dapur. Hanya dengan waktu setengah jam, Alexa sudah selesai memasak dan bergegas menuju kantor Jackson.


Untuk sampai ke kantor Jackson, kali ini Alexa membutuhkan waktu yang lebih lama karena jaraknya yang memang sedikit lebih jauh daripada apartemen miliknya.


Alexa tiba di kantor Jackson dengan membawa kantong berisi makan siang Jackson. Saat melewati beberapa karyawan yang sibuk bekerja, Alexa merasa bahwa dirinya menjadi pusat perhatian mereka semua.


"Apa badanku bau makanan?" Ucap Alexa.


'Atau jangan-jangan, ada noda kecap di pakaianku?'


Alexa bergegas menuju toilet dan melihat penampilannya di cermin. Tidak ada yang aneh dari penampilannya. Bahkan bau badannya pun tidak ada. Yang ada hanya wangi parfum yang dikenakannya.


'Lalu kenapa mereka menatapku seperti itu?' tanya Alexa dalam hati.


Saat Alexa keluar dari toilet, ia tak sengaja mendengar pembicaraan tiga orang karyawati yang sedang membicarakan dirinya.


"Enak banget ya jadi si Alexa itu, kerja semau-mau dia aja." Ucap seorang wanita yang mengenakan pakaian berwarna putih.


"Iya, mentang-mentang jadi asisten Bos seenaknya aja datang siang pulang duluan ikut si Bos lagi." Balas yang lainnya.


"Eh, jangan-jangan dia sudah ngasih bakpaonya ke si Bos lagi." Ucap wanita terakhir.


"Iya bener banget tuh. Dimana-mana cowok itu kalau sudah dikasih bakpao pasti lengket. Apalagi ceweknya modelan si Alexa yang sok cantik dan seksi itu." Balas wanita pertama.


"Hahahaha aku juga gak masalah kalau si Bos mau nyobain bakpao aku. Secara si Bos itu pria paling ganteng dan kaya di kota ini. Gak masalah deh pokoknya. Jadi simpanan juga gak masalah." Ucap wanita ketiga.


"Aku juga rela." Balas wanita kedua cekikikan.


"Hahaha semurah itu harga diri kalian. Aku mah ogah kalau gak dinikahin. Tapi, kalau diminta jadi isteri kedua sih gak masalah. Asal jangan disandingkan sama Alexa wanita sok cantik itu."


"Aaaauuuwwww apa-apaan ini?" Teriak wanita pertama.


"Ini hadiah buat kalian yang bicara sembarangan." Ucap Alexa.


"Sakiitt...." Teriak wanita kedua saat Alexa menjambak rambutnya.


"Sekali lagi aku denger kalian bicara yang nggak-nggak. Bukan cuma rambut kalian yang rontok. Gigi kalian juga akan rontok." Ucap Alexa seraya mentoyor kepala wanita ketiga.


Alexa pun berlalu meninggalkan ketiga wanita yang mengaduh kesakitan itu. Rambut mereka terlihat berantakan, para karyawan lain yang ikut menyaksikan kejadian itu mulai berbisik-bisik.


"Apa lihat-lihat. Bubaar." Teriak wanita pertama.


"Huuuuuu......" Sorak para karyawan yang menonton seraya kembali ke ruangan mereka masing-masing.


Dengan raut wajah yang masih marah, Alexa masuk ke dalam ruangan Jackson tanpa mengetuk pintu. Sementara di dalam ruangan Jackson ia sedang menerima seorang tamu penting.


Alexa berdiri mematung, merasa tak enak hati karena sudah masuk dengan membuka pintu secara kasar. Jackson dan kliennya menatap Alexa dengan heran.


"Ma-af Tuan." Ucap Alexa menundukkan kepalanya.


Jackson tak menjawab, pandangannya beralih pada pria yang duduk di depannya.


"Saya rasa pertemuan kita bisa kita lanjutkan besok Pak setelah semua berkas yang saya minta."


"Tentu saja Tuan Jackson. Saya akan mempersiapkan semuanya paling lambat besok semuanya sudah siap. Setelah itu kita bisa bertemu dan Tuan Jackson hanya tinggal menandatanganinya saja."


Jackson mengangguk lalu berdiri, disusul pria dihadapannya lalu bersalaman. Pria itu lantas berjalan keluar dan melewati Alexa dengan mengangguk. Alexa membalas anggukan pria itu, lalu pintu tertutup.


Jackson duduk bersandar di bangkunya sambil memutar kursinya ke kiri dan ke kanan. Ia memandangi Alexa dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Alexa.


Alexa berdecak kesal lalu menaruh kotak makan siang dihadapan Jackson dengan kesal.


"Lo kenapa?" Tanya Jackson.


"Gak ada apa-apa." Jawab Alexa masih dengan raut wajah kesal.


"Lo marah karena gue suruh masak?"


"Nggak."


"Terus kenapa masuk ruangan gue tanpa permisi? Buka pintu dengan kasar terus wajah lo kesal begitu."


"Nggak ada apa-apa." Balas Alexa lagi.


'Pasti telah terjadi sesuatu.' pikir Jackson.


"Kalau sudah tidak ada apa-apa, saya permisi." Ucap Alexa berbalik.


"Siapa bilang lo udah boleh balik?" Ucap Jackson penuh penekanan.


Alexa menghela napas kemudian kembali berbalik dan menampilkan senyumnya yang terpaksa.


"Lalu, Tuan Jackson yang paling ganteng, kaya, dan menjadi idola para wanita ini mau saya melakukan apalagi?" Tanya Alexa dengan nada mengejek.


Jackson tersenyum, lalu membuka kotak makanan yang diberikan Alexa. Aroma makanan yang dimasak Alexa menguar. Terdapat nasi merah dengan lauk oseng daging asam pedas dan udang tepung.


'Malah senyum.' Alexa makin kesal.


"Sepertinya enak." Ucap Jackson lalu mengambil sumpit yang terdapat di dalam kotak makanan.


Alexa kembali berbalik dan hendak keluar.


"Hei, siapa yang bilang lo boleh keluar. Kembali kemari." Teriak Jackson.


"Saya harus ngapain lagi Tuan?" Tanya Alexa. "Apa Tuan ingin saya cuma berdiri diam disini hanya untuk menatap Tuan yang sedang menikmati makan siang?"


Jackson terlihat berpikir.


"Lo benar juga." Ucapnya. "Kalau begitu, kemari lah. Gue memberikan lo sebuah kehormatan untuk menyuapi pria tampan seperti gue."


'What?' Mata Alexa membelalak.


"Kenapa? Gak mau? Bukannya lo pernah bilang apapun yang gue inginkan akan lo lakukan?"


Alexa berdecak kesal, dengan malas ia melangkah mendekati Jackson kemudian memindah kursi ke samping Jackson. Alexa lalu mengambil sumpit dari tangan Jackson kemudian mulai mengambil potongan daging lalu menyuapi Jackson.


Jackson tersenyum penuh kemenangan, ia mengunyah daging yang disuapi Alexa dengan perlahan.


"Mmmmmm enak. Cepat suapi gue lagi." Titahnya dengan mulut yang menganga.


Alexa yang kesal menyuapi Jackson dengan cepat membuat mulut Jackson penuh dengan makanan. Dengan cepat Jackson mengunyah makanan lalu menahan tangan Alexa yang hendak menyuapinya lagi.


"Lo mau buat gue mati." Teriak Jackson lalu meminum air mineral yang ada di mejanya itu.


"Maaf Tuan. Bukankah Tuan sendiri yang meminta saya untuk terus menyuapi Anda?"


"Ya gak gitu juga." Balas Jackson kesal.


Alexa berusaha menahan tawanya, saat ia hendak menyuapi Jackson lagi. Jackson merebut sumpit yang ada ditangan Alexa lalu beralih menyuapi Alexa.


Alexa terdiam, ia tak membuka mulutnya sedikitpun.


"Aaaa..... Ayo buka mulut lo." Ucap Jackson.


Alexa menggeleng.


"Buka gak, kalau gak gue cium." Ancam Jackson.


Alexa langsung membuka mulutnya dan meraih tangan Jackson lalu mengarahkan ke mulutnya.


"Nah gitu dong. Mau lagi gak?" Tanya Jackson.


Alexa kembali menggeleng.


"Saya sudah kenyang Tuan." Ucap Alexa.


"Gue gak mau tahu, pokoknya buka mulut."


Alexa menutup mulutnya dengan tangannya. Jackson memaksa untuk membuat tangan Alexa. Namun Alexa begitu kuat menutup mulutnya, Jackson secara tiba-tiba menggigit tangan Alexa hingga membuat Alexa mengibaskan tangannya karena kesakitan.


"Sakiiitt..." Ucap Alexa.


"Maaf." Balas Jackson seraya menarik tangan Alexa lalu meniupnya dengan perlahan.


Alexa memandang Jackson yang menunduk meniup tangannya, saat Jackson mendongak pandangan keduanya bertemu. Keduanya saling menatap satu sama lain, dan entah bagaimana kejadiannya hingga tanpa sadar jarak antara bibir keduanya sudah sangat dekat. Jackson mengecup bibir Alexa sekali. Alexa tak bereaksi, ia terdiam dan malah menutup mata seperti meminta Jackson untuk melakukannya lebih.


Awalnya Jackson mengira bahwa Alexa akan mendorongnya, tapi karena Alexa memberi respon seperti itu membuat Jackson kembali memberikan ciumannya kepada Alexa. Cukup lama keduanya berciuman hingga berhenti lalu mengambil napas. Dahi keduanya beradu, Alexa sendiri tidak menyadari apa yang tengah terjadi. Namun, ia sepertinya candu akan ciuman yang diberikan Jackson. Ia lalu menarik kepala Jackson lalu keduanya kembali berciuman.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan Maya yang berdiri mematung karena tak sengaja melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Sontak saja Maya berbalik dan mengucapkan kata maaf.


"Maaf Tuan." Ucapnya.


Alexa yang malu langsung berlari ke arah kamar mandi. Sementara Jackson berdeham dan memperbaiki rambutnya yang terasa sedikit berantakan.


"Kenapa tidak mengetuk pintu lebih dulu?" Ucap Jackson tenang.


"Saya sudah mengetuk berulang kali. Bahkan saya terus memanggil Tuan Jackson tapi tak ada jawaban. Maaf atas kelancangan saya." Ucap Maya menunduk.


Jackson memijit keningnya pelan. Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya telah terjadi. Kenapa ia bisa melewati batas, bahkan sampai tidak mendengar suara ketukan pintu dan Maya yang terus memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Jackson.


"Saya hanya ingin mengatakan bahwa tadi sempat ada keributan antara 3 orang karyawati dengan Alexa."


Kening Jackson berkerut.


"Katakan, apa yang terjadi?"


Maya menjelaskan semuanya pada Jackson. Raut wajah Jackson sontak berubah marah. Tanpa pikir panjang ia keluar dari ruangannya disusul Maya.


Sementara Alexa sejak tadi terus memandangi wajahnya di cermin. Ia kembali mengingat apa yang baru saja terjadi.


"Kenapa aku bisa selepas itu?" Tanya Alexa pada dirinya sendiri. "Apa yang harus aku katakan pada Maya? Lebih parah lagi, bagaimana harus bersikap di depan Jackson?"


Alexa menghembuskan napas kasar lalu keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai membasuh wajahnya. Saat keluar, Alexa tak mendapati Jackson di ruangannya.


'Kemana dia? Apa dia menyesali apa yang telah terjadi?'


Alexa bergegas keluar dari ruangan Jackson dan memutuskan untuk pulang. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara lantang Jackson berteriak.


'Ada apa ya?' pikir Alexa lalu melangkah menuju ruangan tempat asal suara Jackson.


Ternyata Jackson tengah memarahi ketiga wanita yang bermasalah dengan Alexa tadi.


"Aku tidak menggaji kalian untuk bergosip, apalagi mengenai masalah pribadiku. Tahu apa kalian tentang aku ha?" Teriak Jackson yang membuat nyali ketiga wanita itu ciut.


Ketiga wanita itu hanya bisa menunduk dan terus meminta maaf.


"Aku tidak butuh maaf dari kalian. Ingat satu hal, perusahaan ini tidak akan menerima orang-orang seperti kalian. Kemasi barang-barang kalian, mulai hari ini kalian di pecat." Ucap Jackson tegas.


Ketiga wanita itu sontak terduduk lemas. Mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka, karena sudah bisa dipastikan setelah keluar dari perusahaan milik Jackson, keduanya tidak akan bisa diterima di perusahaan manapun.


"Untuk yang lainnya, ingat satu hal. Kalian datang ke perusahaan ini untuk bekerja, bukan untuk bergosip. Dan mulai hari ini, jangan pernah bicara hal yang tidak-tidak tentang Alexa. Dia bukan lagi asistenku, dia kekasihku." Ucap Jackson.


Mata Alexa membelalak sempurna, ia menutup mulut dengan jemarinya. Ketiga wanita yang menyadari kehadiran Alexa bergegas meraih tangan Alexa meminta maaf dan memohon agar tidak di pecat.


Alexa menatap Jackson dengan penuh pertanyaan.


'Kekasih?'


Bersambung....


Ingat ya untuk selalu tinggalkan like, komen, vote dan hadiah juga ya.... 🥰