Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 38: Bertemu Morgan


Daerah X memang mempunyai banyak pilihan destinasi wisata yang indah. Salah satunya adalah wisata air terjun. Tepatnya berada di lereng gunung, dengan ketinggian 81 meter.


Pagi ini Alexa dan Jackson sudah berada di lokasi proyek pembangunan yang memang sangat dekat dengan air terjun. Bahkan nantinya jika resort sudah selesai dibangun, dari lantai atas resort akan bisa melihat air terjun dengan sangat jelas.


Jackson mulai terlihat fokus berbicara dengan para pekerja. Sementara Alexa lebih banyak berdiri disampingnya dengan tugas memegang semua file dan barang bawaan Jackson, sambil sesekali memotret lokasi pembangunan.


Satu jam hanya mengikuti kemana Jackson pergi, membuat Alexa bosan. Ia ingin segera pergi ke air terjun.


"Tuan, apa saya boleh pergi ke air terjun?" Tanya Alexa dengan menarik kemeja yang dikenakan Jackson.


Jackson yang sedang bicara dengan pekerja menoleh ke arah Alexa dengan wajah kesal.


"Pergilah." Ucapnya.


Alexa tersenyum girang, ia lalu menyerahkan semua barang Jackson dengan kasar ke dadanya. Setelah itu Alexa beranjak pergi.


"Tuan, ada kabar bahwa pihak lain juga sedang meninjau lahan untuk membangun resort juga disini." Ucap seorang pria pada Jackson.


"Siapa?" Tanya Jackson.


"JW Group Tuan."


"Morgan!" Seru Jackson. "Pria itu selalu saja...."


Sementara itu Alexa sudah berjalan jauh, ia sangat senang akhir ya bisa lepas dari hiruk pikuk kebisingan pembangunan resort. Ia terus memotret pemandangan pepohonan besar yang ia lewati saat berjalan. Saat semakin mendekati lokasi air terjun, udara sejuk semakin terasa.


Ternyata semuanya sudah banyak berubah, para warga dengan swadaya sudah membuat gerbang dan lahan parkir untuk para wisatawan yang akan berwisata di air terjun itu.


Air terjun di daerah itu memiliki 2 air terjun. Air terjun pertama berada di dekat tangga akses gerbang masuk menuju air terjun. Banyak batu-batu besar di air terjun pertama namun akses untuk ke air terjun pertama mudah dan biasa digunakan untuk berenang.


Setelah melihat air terjun pertama Alexa berniat melihat air terjun kedua yang juga sangat indah untuk dijadikan background foto. Untuk menuju ke air terjun kedua ini, ia perlu menyebrangi aliran air terjun pertama, kemudian menaiki anak tangga yang sangat curam. Awalnya Alexa berpikir, apa ia sanggup untuk pergi kesana. Namun, tekatnya sudah bulat, Alexa pun berjalan.


Ada banyak sekali anak tangga yang harus ia lewati, bahkan setelah sampai puncak anak tangga ia harus menuruninya lagi dengan posisi anak tangga yang lebih curam, dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan mepet jurang yang banyak tumbuh pepohonan. Setelah sampai di anak tangga paling bawah, Alexa langsung berada dibawah pohon bambu dan pohon-pohon lain yang besar dan rindang. Kemudian ia harus melewati batu-batu besar juga untuk menuju ke air terjun ke dua. Batunya cukup licin untuk dipijak. Alexa hampir saja terjatuh, namun entah dari mana datangnya seorang pria dengan sigap menarik tangan Alexa.


"Jalannya cukup licin, makanya harus hati-hati ketika melewatinya." Ucap pria berlesung pipi itu.


"Terima kasih." Balas Alexa tersenyum.


"Sendirian?" Tanya pria itu lagi.


"Iya." Jawab Alexa. "Sebenarnya sama Bos sih, tapi Bos sibuk kerja diatas. Jadi aku jalan sendiri aja." Lanjut Alexa.


"Ohh. Ngomong-ngomong, aku Morgan. Kamu?" Pria bernama Morgan itu menjulurkan tangannya ke arah Alexa.


"Alexa." Balasnya seraya menjabat tangan Morgan.


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan bersama-sama menuju air terjun. Meski melelahkan dan penuh perjuangan, namun semua terbayar mantap ketika sampai di air terjun ke dua. Air terlihat sangat jernih, airnya terasa dingin menyegarkan. Alexa ingin sekali mandi, namun ia tidak berani berenang karena tidak membawa baju ganti.


Keindahan itu berpadu menjadi satu. Pemandangan air terjun yang luar biasa, suara deburan air terjun, pepohonan rindang, udara yang sejuk, ditambah suara burung bersiul saling bersautan semakin menenangkan badan. Morgan lalu mengajak Alexa untuk duduk di sebuah batu besar. Keduanya mengobrol panjang dan bahkan, berfoto bersama.


"Berdirilah disana, biar aku memotret mu." Ucap Morgan.


Alexa masuk ke dalam air di dekat air terjun. Namun tetap berada di aliran air yang aman, sebab debit air yang keras dapat membahayakan dirinya jika berada terlalu dekat.


"Senyum...." Teriak Morgan.


Alexa berpose dengan latar air terjun yang cantik. Morgan yang memotretnya terpana dengan kecantikan Alexa yang berpadu dengan indahnya air terjun.


"Dingiiin...." Ucap Alexa saat kembali mendekat ke arah Morgan.


"Mau kembali gak? Nanti aku buatkan kopi di mobil van aku." Ucap Morgan.


"Oh ya? Kamu kesini pakai van?" Tanya Alexa.


"Iya. Sebenarnya aku kesini buat lihat lokasi pembangunan resort, jadi sejak semalam aku udah nginap disini." Ujar Morgan.


'Apa dia saingannya Jackson?' pikir Alexa.


"Kamu kenapa?" Tanya Morgan yang melihat Alexa bengong.


"Gak kenapa-kenapa kok. Oh ya, ayo balik." Ajak Alexa.


Keduanya berjalan beriringan, Morgan bahkan tak canggung lagi memegang tangan Alexa untuk membantunya agar tak terjatuh karena jalanan yang licin. Sepanjang perjalanan keduanya terus mengobrol, terutama Morgan yang terus bertanya tentang diri Alexa. Ia bahkan bertanya dimana alamat Alexa dengan alasan suatu saat bisa berkunjung ke rumahnya.


Setelah beberapa lama berjalan, malang tak dapat dihindari. Alexa terpeleset dan Morgan tak sempat memegangi tangannya. Kaki Alexa berdarah karena tergores, ia kesakitan. Perjalanan kembali ke tempat parkir tinggal sedikit lagi namun menanjak.


"Aduuh aku ceroboh sekali." Ucap Alexa.


"Sepertinya kau tak akan bisa berjalan." Ucap Morgan. "Lihat selain tergores kakimu juga memar. Sepertinya kakimu terkilir."


"Udah, gak apa-apa kok. Aku bisa." Ucap Alexa berusaha melanjutkan perjalanan.


Baru saja melangkah, ia merasakan nyeri di kakinya.


"Aauu.... Auuu... Auuu..." Alexa merintih kesakitan.


Morgan menggeleng sambil tersenyum.


"Kan tadi aku sudah bilang. Kamu gak akan bisa jalan. Udah sini naik, biar aku gendong." Ucap Jackson seraya berjongkok.


"A-apa? Ge-gendong?"


"Iya gendong. Kenapa? Kamu gak mau?" Tanya Morgan. "Kalau gak gini, kita gak akan nyampe-nyampe."


Dengan terpaksa Alexa menyetujui saran Morgan. Ia sebenarnya tak enak hati. Pertama karena ia baru mengenal Morgan, kedua karena Morgan harus menggendongnya dengan posisi jalan yang menanjak.


"Maaf." Ucap Alexa tak enak hati. "Pasti berat ya?"


"Biasa aja." Balas Morgan tersenyum. "Badan kamu kan gak gendut, jadi gak berat lah."


Alexa tersenyum, ia membayangkan bagaimana jadinya jika tubuhnya masih seperti yang dulu. Dimana ia masih bertubuh gendut, pasti tidak akan ada yang mau menggendongnya.


'Jangankan menggendong, untuk kenalan saja Morgan pasti ogah.' pikir Alexa.


Keduanya lalu tiba di parkiran, Morgan dengan sigap membawa Alexa ke van miliknya. Seorang supir langsung menyambut keduanya.


"Sediakan kotak P3K." Titah Morgan.


Dengan cekatan pria itu membuka pintu van lalu mengambil kotak P3K dan memberikannya pada Morgan.


"Aku bisa sendiri." Ucap Alexa.


"Udah, gak apa-apa. Biar aku saja." Ucap Morgan. "Luka kamu ini harus segera dibersihkan biar gak infeksi." Lanjutnya.


Morgan dengan telaten mengelap luka di kaki Alexa menggunakan kapas yang sudah diberi cairan alkohol.


"Kalau sakit, pegang pundak ku." Ucap Morgan.


"Ssshhhh...." Alexa memejamkan matanya.


Melihat Alexa seperti itu malah membuat Morgan semakin terpesona. Ia tersenyum lalu melanjutkan mengobati kaki Alexa. Setelah selesai menutup luka di kaki Alexa, supir datang membawa dua cangkir kopi untuk mereka.


"Ayo diminum." Ucap Morgan.


"Terima kasih." Balas Alexa.


Keduanya kembali mengobrol panjang lebar.


Ditempat lain, Jackson gelisah menunggu Alexa yang belum kunjung kembali.


"Dimana sih wanita itu?" Ucapnya.


Jackson mulai berjalan ke arah parkiran mencoba mencari sosok Alexa. Saat ia hendak memutuskan untuk pergi ke air terjun, pandangan matanya tertuju pada dua orang yang duduk di depan sebuah van yang dilengkapi tenda tengah minum kopi sambil tertawa.


"Itu bukannya wanita itu? Dengan siapa dia?"


Jackson memicingkan matanya dan menyadari bahwa pria yang duduk bersama Alexa adalah Morgan William, musuh bebuyutannya.


Morgan William merupakan saingan bisnis Jackson. Ia CEO dari JW Group yang selalu ada di setiap proyek yang ditangani Jackson.


Jackson berjalan mendekati Alexa dan Morgan yang asyik mengobrol. Saat tiba dihadapan mereka, wajah Jackson terlihat marah. Morgan sontak berdiri melihat kedatangan Jackson. Sementara Alexa masih duduk, karena untuk berdiri saja kakinya masih terasa sangat sakit.


"Wah, wah, wah.... Harry Jackson ternyata ada disini juga." Ucap Morgan.


"Apa yang lo lakukan bersama asisten gue? Apa lo mencoba mencuri informasi tentang proyek yang sedang gue tangani lewat dia?"


"Tuan, saya bisa jelaskan." Ucap Alexa.


"Diam!" Teriak Jackson yang membuat Alexa kaget. "Gue dari tadi capek nungguin lo, gue pikir lo kenapa-kenapa. Lo malah asyik ketawa-ketiwi disini dengan lawan bisnis gue. Ini masih jam kerja, lo punya otak gak sih."


"Hei, jagalah bicara lo pada wanita. Lo gak seharusnya kasar sama dia. Lagian dia gak pernah ngomongin masalah pekerjaan sama gue."


"Gue gak ngomong sama lo. Lo gak usah ikut campur. Dia itu asisten gue, pesuruh gue." Balas Jackson dengan kasar. "Sini lo." Jackson menarik Alexa dengan kasar tanpa mengetahui kalau kakinya tengah sakit.


"Aaauuu sakit." Teriak Alexa menampik tangan Jackson.


"Ikut gue." Teriak Jackson berusaha menarik Alexa agar bangun dari duduknya.


Morgan yang melihat hal itu menjadi marah, ia mendorong Jackson dengan kasar.


"Lo pura-pura buta atau emang udah buta beneran? Gak lihat kaki dia terluka?" Teriak Morgan.


Morgan beralih melihat Alexa dan berjongkok dihadapannya.


"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Morgan dibalas gelengan kepala Alexa.


Jackson melihat ke arah kaki Alexa yang ternyata terdapat perban karena luka gores. Selain itu kaki Alexa juga terlihat memar. Jackson merasa bersalah.


"Ayo aku antar ke mobil Bos kamu ini." Ucap Morgan yang tanpa basa-basi mengangkat tubuh Alexa menggendongnya dengan posisi didepan.


Morgan berjalan melewati Jackson yang berdiri mematung. Melihat Morgan yang menggendong Alexa membuatnya merasa marah. Jackson berjalan cepat menyusul mereka dan memegang pundak Morgan.


"Turunkan dia. Dia tanggung jawab gue." Ucap Jackson penuh penekanan.


Alexa mengangguk ke arah Morgan memberikan isyarat agar Morgan mengikuti kata Jackson. Morgan lalu menurunkan Alexa, dengan cepat Jackson mengambil alih lalu menggendong Alexa pergi menjauh dari Morgan.


"Jangan dekat-dekat dengan dia. Gue gak suka." Ucap Jackson.


"Kenapa? Apa karena dia lawan bisnis Tuan? Tapi kan gak ada hubungannya dengan saya. Saya dan dia kan hanya kebetulan bertemu dan sepertinya dia orangnya menyenangkan dan bisa diajak berteman." Balas Alexa.


"Pokoknya gue bilang gak boleh, ya gak boleh."


Alexa memilih diam, tangannya melingkar erat di leher Jackson. Ada perasaan bahagia yang dirasakannya, begitu juga dengan Jackson. Namun, entah mengapa, saat memikirkan Alexa yang tersenyum pada Morgan membuatnya ingin marah.


'Apa aku cemburu?'


Bersambung......


Jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah juga ya... 🥰