
Alexa dan Jackson saling memandang dengan sangat lekat. Jarak keduanya sangat dekat, Alexa bahkan dapat melihat sedikit rona merah karena mabuk dari dagu Jackson hingga keningnya, dan juga aroma alkohol dari nafasnya.
Menurut Alexa, pria dengan bibir tipis dan mata persik adalah orang yang ceroboh dan penyayang, namun Jackson adalah pengecualian. Meskipun mabuk, Jackson tetap menjaga ketenangan dirinya yang dapat membuat orang lain ketakutan.
Alexa berkata dengan suara serak dan penuh perasaan tersirat di ujung matanya, “Tuan Jackson tampan.”
Jackson menatap bibir merah Alexa yang terbuka pelan.
“Pakai lipstik?” tanyanya.
Belum sempat Alexa menjawab, Jackson kembali berkata, “Asistenku tidak butuh itu semua.”
Alexa tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Jackson merapikan kerah pakaiannya. Alexa melakukan tindakan paling intim pada Jackson tanpa beban.
“Kalau Tuan Jackson tidak suka saya berdandan, maka besok saya tidak akan pakai lagi.”
Jackson melirik sekilas jari Alexa yang berada di kerah kemejanya, lalu kembali bersandar ke kursi.
“Kalau gue nggak suka, lo nggak bakal lakuin?” tanya Jackson.
Alexa tahu kalau Jackson sedang memberitahunya untuk tidak berlebihan dalam berdandan.
“Hal yang dapat merugikan Tuan Jackson tidak akan saya lakukan. Sedangkan yang menguntungkan untuk Tuan Jackson, kalau Anda bilang tidak suka, mungkin saja itu berbeda dengan isi hati Anda.” Alexa tidak mundur, melainkan terus maju, ujung jarinya melewati arah hati Jackson, “Mulut pria terkenal pedas, tapi hatinya mudah luluh.”
"Oh ya? Lo bilang belum pernah pacaran. Tapi sepertinya lo tahu banyak tentang laki-laki." Jackson menatap tajam Alexa.
Jemari Alexa semakin lembut membelai kerah kemeja Jackson seolah memperbaikinya.
"Tidak pernah pacaran bukan berarti saya tidak mengetahui tentang laki-laki kan Tuan." Alexa semakin mendekatkan wajahnya pada pipi Jackson.
Jackson tak bergeming, ia terdiam dan membiarkan Alexa melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Alexa seperti meniup telinga dirinya. Hembusan napas Alexa sesaat membuat Jackson bergidik, namun ekspresinya masih tetap datar.
"Maaf Tuan, ada debu." Ucap Alexa lalu perlahan mundur dan memperbaiki posisi duduknya.
"Bisa jalan sekarang?" Tanya Jackson.
"Tentu saja Tuan." Balas Alexa tersenyum menggoda.
Saat akan menghidupkan mobil, Alexa tiba-tiba merogoh tasnya.
"Ada apa?" Tanya Jackson lagi.
"Bentar Tuan. Saya tiba-tiba haus." Jawabnya. "Maaf saya mau ambil minum." Lanjutnya.
Alexa lalu membungkukkan badannya ke arah kursi belakang yang otomatis membuat bok*ngnya berada tepat di samping wajah Jackson. Rok pendek yang dikenakan Alexa pun sedikit terangkat karena posisinya yang seperti itu. Wajah Jackson memerah, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Dapat." Ucap Alexa seraya kembali pada posisi duduknya dan mulai meminum air dari sebuah botol yang diambilnya dari jok belakang.
"Tuan mau minum?" Alexa menawarkan pada Jackson yang dibalas dengan gelengan kepala saja.
Alexa tersenyum lalu hendak memasang seat belt nya. Namun, melihat Jackson belum mengenakan seat belt, membuatnya semakin memiliki ide untuk menggoda Jackson.
Alexa kembali mendekatkan tubuhnya pada Jackson yang tengah bersandar pada kursi dengan mata yang terpejam. Tangan Alexa bergerak pelan berusaha mengaitkan seat belt. Posisi keduanya sangat dekat. Alexa kembali memandang wajah tampan Jackson dari jarak yang sangat dekat.
Jackson tiba-tiba membuka mata, membuat keduanya kembali saling menatap. Jarak keduanya sudah sangat dekat. Bahkan keduanya seperti tengah berpelukan dan akan berciuman. Saat Alexa berpikir bahwa Jackson sudah jatuh dalam godaannya, ternyata Jackson masih saja tak merespon godaan yang ia berikan.
"Sudah?" Tanya Jackson, yang membuat Alexa segera mengaitkan seat belt milik Jackson lalu kembali duduk.
Mobil lalu berjalan meninggalkan hotel menuju apartemen milik Jackson. Sepanjang perjalanan, Alexa berusaha untuk mengajak Jackson berbincang. Meski jawaban pria dingin itu hanya sekedar 'iya' dan 'hem' saja, tapi Alexa terus berusaha mengobrol dengannya.
"Hem." Jawab Jackson singkat.
"Pasti kekasih Tuan Jackson itu cantik, seksi dan...."
"Hem." Lagi-lagi Jackson hanya menimpali jawaban Alexa dengan singkat.
Alexa hanya tersenyum berusaha menutupi rasa dongkol diwajahnya. Sesaat konsentrasinya beralih pada seorang bapak-bapak yang tengah mengayuh sepeda bututnya yang terlihat banyak balon karakter terikat di jok sepedanya. Saat lampu hijau menyala, Alexa segera menyusul pria yang sudah berumur itu.
Mobil berhenti membuat wajah Jackson penuh tanya.
"Sebentar ya Tuan." Ucap Alexa seraya merogoh dompet dalam tasnya lalu segera turun.
Alexa memanggil bapak-bapak yang mengenakan baju warna hitam itu.
"Satunya berapaan Pak?" Tanya Alexa.
"Cuma sepuluh ribu Mbak." Jawab pria itu seraya mengusap keningnya yang terlihat berkeringat.
"Saya beli semua ya Pak." Ucap Alexa tersenyum.
Bapak itu sontak saja kaget, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sementara dari dalam mobil, Jackson hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan Alexa.
"Satu, dua, tiga, empat..." Alexa mulai menghitung jumlah balon yang dibawa pria tua itu. "Semuanya ada 15, Pak." Ucap Alexa seraya mengambil uang dalam dompetnya lalu memberikan pada pria tua itu. "Ini Pak."
Pria itu menerima lima lembar kertas berwarna merah.
"Ini kebanyakan Mbak." Ucapnya polos.
"Udah buat Bapak aja. Anggap rezeki Bapak." Balas Alexa lalu mulai mengambil semua balon yang terikat di sepeda pria itu.
Saat melihat pemotor yang lewat, Alexa sontak memberhentikan mereka satu persatu dan membagikan balon yang baru saja dibelinya.
"Terima kasih banyak Mbak. Semoga rezeki Mbak lebih banyak, dan Mbak selalu panjang umur." Ucap pria itu.
"Aamiin, terima kasih kembali Pak." Balas Alexa. "Ya sudah, Bapak hati-hati dijalan ya." Lanjutnya.
Pria tua itu mengangguk dan tersenyum lalu berpamitan. Di tangan Dona masih tersisa tujuh balon. Ia lalu mendekat ke arah mobil dan mengetuk kaca sisi sebelah kiri tempat Jackson duduk. Jackson lalu menurunkan kaca mobil.
"Maaf Tuan karena harus menunggu lama. Tapi tunggu bentar aja ya. Saya bagikan ini dulu, setelah itu kita jalan." Ucap Alexa tanpa menunggu tanggapan Jackson segera berlalu untuk memberhentikan para pemotor yang kebetulan membawa anak-anak.
Alexa tersenyum ramah saat membagikan beberapa balon yang tersisa. Dari dalam mobil, Jackson mendadak terpana pada gadis yang sedang fokus dilihatnya itu.
Senyuman tulus Alexa seolah menyihirnya untuk ikut tersenyum.
'Gadis seperti apa kau sebenarnya?'
Setelah selesai membagikan balon, Alexa lantas segera masuk ke dalam mobil. Entah mengapa Alexa malah merasa gerah saat membagikan balon, hingga saat masuk ke dalam mobil ia segera menghidupkan AC dengan kencang seraya membuka dua buah kancing atas kemeja yang dikenakannya tanpa memperdulikan seorang pria yang tengah duduk disampingnya.
"Maaf ya Tuan, kelamaan. Kita jalan sekarang." Ucap Alexa, lalu mobil kembali berjalan.
Alexa mengibas-ngibaskan tangan kirinya ke arah wajahnya. Ia lalu memegang tengkuknya yang memang sedikit berkeringat lalu menarik kerah kemejanya ke kiri hingga membuat pundaknya yang putih terlihat. Bahkan tali br* yang ia gunakan terlihat jelas.
Alexa melirik ke arah Jackson yang nyatanya tak sedikitpun memberi respon atas apa yang tengah dilakukannya.
'Jangan-jangan pria ini beneran belok seperti yang dibilang Lika.'
Bersambung.....