Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 10: Mulai Bekerja


Tiba di apartemen, Alexa langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Terbayang wajah bahagia Kakek yang baru saja dibantunya tadi. Air mata Alexa tiba-tiba mengalir di pipinya. Wajah papanya yang tengah tersenyum terlintas dalam bayangan.


Dahulu, Papa Alexa juga selalu melakukan hal yang sama, setiap kali bertemu dengan orang-orang yang tengah mengais rezeki hingga larut malam dengan menjajakan dagangan mereka. Papa Alexa tak akan segan untuk mengeluarkan uang untuk membayar dagangan mereka habis.


Alexa pernah bertanya, "kenapa Papa gak bantu orang itu juga?" Tanya Alexa menunjuk seorang pria berpakaian lusuh yang terlihat meminta-minta.


"Sayang, kalau mau bantu orang itu, cari yang benar-benar membutuhkan bantuan. Kamu lihat kakek disana." Papa Alexa menunjuk seorang Kakek yang tengah mendorong gerobak yang berisi dagangannya berupa kacang rebus. "Lihat, Kakek itu sudah renta tapi tetap semangat bekerja hingga larut malam. Bandingkan dengan pria yang meminta-minta itu. Menurut kamu yang mana yang pantas Papa bantu?"


Sejak saat itu, Alexa mulai mengikuti apa yang dilakukan sang Papa hingga saat ini ia sudah memiliki cukup banyak uang yang ia terima dari Robby.


Alexa menghela nafas panjang lalu menyeka air matanya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena berkeringat. Besok ia akan mulai bekerja di perusahaan Jackson. Jadi dia mulai bersiap dengan melakukan perawatan tubuh dan wajahnya.


Berendam dengan air mawar, melakukan perawatan kulit wajah agar terlihat lebih cerah saat bertemu dengan Jackson besok. Misi Alexa sejak awal adalah merebut kembali apa yang dimilikinya dan merusak kebahagiaan dari Bu Susan, Gea dan Jennifer termasuk juga Robby.


"Jalanku masih panjang, tapi aku sudah mulai berhasil merusak kebahagiaan Gea. Sekarang giliran Jennifer. Aku pastikan kalian semua akan merasakan bagaimana rasa sakit yang aku rasakan dulu." Ucap Alexa dengan menatap wajahnya di cermin.


Setelah selesai perawatan, Alexa lalu mengambil ponselnya dan segera menekan tombol memanggil pada nomor Kakek Parman. Setelah melihat Kakek penjual rambutan tadi, Alexa jadi teringat pada Kakek Parman dan Nek Aminah.


"Halo Kek." Ucap Alexa saat sambungan telepon dimulai.


"Aduuuhh Neng, ini Nek Minah. Kamu apa kabar Neng?" Ternyata Nek Aminah yang menjawab panggilan.


"Aku baik Nek. Nek Aminah dan Kakek Parman bagaimana?" Tanya Alexa balik.


"Kami baik. Terima kasih ya Neng buat semua kirimannya." Ucap Nek Aminah.


Alexa memang sudah mengirimkan sejumlah uang dan barang-barang elektronik untuk menunjang kehidupan Kakek Parman dan Nek Aminah di desa. Alexa bahkan mengirimkan dana yang cukup banyak, untuk membuatkan rumah yang lebih layak untuk ditinggali kedua pasang lansia yang telah menyelamatkan nyawanya itu.


Semua yang diberikan Alexa, tak akan bisa tergantikan dengan apa yang telah dilakukan mereka untuk menyelamatkan nyawanya. Untuk itulah Alexa selalu merasa berhutang budi pada mereka.


***************


Beberapa hari pertama bekerja, Alexa menghalalkan segala cara untuk mendekati Jackson, tapi Jackson selalu menjauhinya.


Pada hari pertama bekerja, Alexa dengan percaya diri masuk ke ruangan Jackson dengan membawakannya kopi.


"Selamat pagi Tuan. Ini saya bawakan...."


"Keluar." Belum sempat Alexa selesai berbicara, Jackson sudah mengusirnya keluar.


Setelah menaruh gelas kopi ke atas meja Jackson, Alexa langsung keluar. Alexa kesal sekali, karena Jackson sedikitpun tak menatapnya. Bahkan keberadaan Alexa seperti tidak dianggap.


Saat makan siang, Alexa mencoba untuk kembali masuk ke ruangan Jackson. Namun, lagi-lagi ia diusir keluar oleh Jackson sebelum ia sempat mengatakan apapun.


'Sabar Alexa.... Sabar....'


Alexa berusaha mendekati Maya agar bisa menggantikan tugasnya untuk mengantarkan apapun pada Jackson. Maya tentu saja setuju, karena ia merasa terbantu oleh kehadiran Alexa yang secara tidak langsung bisa meringankan pekerjaannya. Apalagi selama ini Jackson selalu memberikan banyak pekerjaan padanya.


"Ini ada dokumen yang harus diantar ke Tuan Jackson. Apa kamu mau?"


"Tentu saja. " Jawab Alexa girang tanpa menunggu Reno menyelesaikan kalimatnya.


Dokumen yang seharusnya diantarkan Maya untuk Jackson, justru malah akan diantar oleh Alexa. Akhirnya, setelah beberapa kali mengantar dokumen, Jackson mulai memperhatikan keberadaan Alexa.


“Kok elo lagi?” tanya Jackson.


Alexa mulai berbicara dengan lembut pada Jackson.


“Tuan, biasanya suka baca buku luar negeri ya? Saya paling suka baca Passionate Lover. Saya sangat terpesona dengan perasaan pria barat yang membara. Mereka tidak mempermasalahkan moralitas duniawi. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang. Mereka akan melakukan suatu hal sesuai dengan apa yang mereka mau, dan hidup menurut kemauan mereka.” ujar Alexa seraya berjalan mendekati deretan buku yang berjejer rapi.


Namun, Jackson hanya mengendorkan dasinya dengan satu tangan, dan menjawab Alexa dengan singkat


“Bukunya hanya dipajang, tapi tak pernah dibaca. Pandangan gue bertentangan dengan orang barat. Menurut gue menahan diri adalah yang terbaik.” Ucap Jackson tanpa menatap Alexa, lalu kembali bertanya dengan dingin, “Masih ada urusan lain?”


Alexa langsung paham, wanita yang perhatian sama sekali tidak bisa menaklukkan hari Jackson.


'Kalau begitu aku hanya bisa menggunakan jurus andalan ku selangkah demi selangkah.'


Alexa membungkukkan sedikit tubuhnya dan menatap kalender digital yang ada diatas meja Jackson. Kancing di kerah kemejanya secara kebetulan tergantung di ujung atas, dengan sedikit gerakan, kancingnya pun terlepas 2 biji, ada 1 yang menggelinding ke sisi tangan Jackson. Alexa pura-pura tidak tahu, dia menatap mata Jackson dengan penuh perasaan tersirat.


“Tuan Jackson, sebagai asisten pribadi Anda, saya perlu memahami apa yang Anda suka dan tidak. Misalnya, makanan apa yang harus Anda pantangi, bagaimana selera Anda. Apa Anda bisa memberitahu saya?”


Pinggul dan bokong Alexa membentuk lekuk yang seksi dengan berbagai macam gaya, seolah-olah melilit di tubuh Jackson.


“Saya harap kedepannya apapun yang saya lakukan bisa membuat Tuan Jackson sangat puas dengan kinerja saya, seperti......” ujung jari Alexa seolah-olah menyentuh tangan kanan Jackson, “Seperti tangan kanan Anda, membelai tangan kiri Anda sendiri, begitu mengerti isi hati Anda.”


Jackson akhirnya punya sedikit reaksi, meskipun pandangannya hanya berhenti sekilas di hadapan kedua belahan dada Alexa yang seputih salju. Tapi tidak ada gejolak sedikitpun di dalam matanya. Tidak seperti kebanyakan pria yang akan terus memandangi keindahan di depan mata.


Tidak banyak bagian tubuh Alexa yang sengaja ia ekspos. Keindahan yang sebatas hanya cukup untuk membuat orang tergila-gila.


Jackson memindahkan tangannya, “Gue nggak punya waktu buat ngurusin lo.”


Alexa tidak terima, tapi dia berakting seperti seorang aktris. Dimana penantian berubah menjadi kesedihan, kejutan menjadi kekecewaan, semuanya diekspresikan lewat kedua matanya yang berkabut secara detail dan langsung, membuat hati orang lain bergejolak melihatnya.


“Tuan, jika Anda butuh teman untuk bicara, saya bersedia mendengarkan kapan saja saat Anda punya waktu.” Ucap Alexa dengan tatapan menggoda.


Jackson menolaknya tanpa basa-basi, “Gue nggak punya waktu kapanpun, keluar.”


Bersambung....