Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 25: Pantai


Waktu makan siang telah selesai....


Para karyawan mulai kembali ke ruangan mereka masing-masing. Tersisa Alexa yang masih terlihat melangkah malas menuju toilet. Tubuhnya sebenarnya masih lemas, tapi Alexa memaksakan dirinya untuk bertemu dengan Jackson. Alexa ingin menjelaskan pada Jackson bahwa ia sama sekali tak bermaksud untuk menggodanya. Yang terjadi di lift tadi murni karena dirinya memang tak bisa bernapas.


"Tapi, kenapa aku harus menjelaskan semuanya? Toh, sebenarnya tujuanku ada disini memang untuk menggodanya." Ucap Alexa pada dirinya sendiri saat menatap cermin.


Meski bimbang, Alexa tetap memutuskan untuk menemui Jackson.


Setelah selesai merapikan rambut dan makeup nya. Alexa berjalan santai menuju ruangan Jackson.


'Tok! Tok! Tok!'


Alexa mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan nama Jackson dengan jelas itu.


'Harry Jackson.' ucap Alexa dalam hati.


Alexa bertanya-tanya, kenapa nama panggilannya bukan Harry melainkan Jackson.


"Masuk." Teriak Jackson dari dalam ruangan.


Sebelum masuk, Alexa memastikan penampilannya rapi lalu menghembuskan napas perlahan. Ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam lalu mendapati Jackson tengah membaca buku.


"Tuan, saya...."


Jackson yang tengah fokus membaca buku, tak menyadari bahwa Alexa lah yang masuk ke dalam ruangannya. Namun, setelah mendengar suara Alexa ia lalu menaruh buku bacaannya diatas meja.


"Mau apa lo kesini?" Tanya Jackson dengan raut wajah masam.


"Saya kan memang bekerja untuk Tuan. Jadi saya harus....."


"Bukannya istirahat, malah tetap kerja. Lebih baik pulang sana, istirahat."


Alexa tersenyum lalu mendekati Jackson yang kembali membaca bukunya.


"Tuan ternyata perhatian sekali pada saya."


"Cih, perhatian apanya. Gue cuma gak mau direpotkan oleh asisten yang punya penyakit bengek kayak lo."


"Oh ya? Mmmmm Tuan pernah bilang gak suka baca buku yang kebarat-baratan. Kenapa sekarang malah...."


"Diam." Bentak Jackson menyela ucapan Alexa. "Udah sana pulang."


"Tuan gak usah khawatir. Saya baik-baik aja." Balas Alexa.


"Gue sama sekali gak khawatir sama lo. Yang gue khawatirkan itu justru kondisi gue yang nantinya bakal kerepotan ngurusin lo. Nah, lebih baik lo pulang sana. Kembali kerja besok."


"Saya mau disini aja." Ucap Alexa lalu berjalan menuju sofa yang tersedia di ruangan Jackson.


Jackson kelihatan marah dan menghempaskan buku bacaannya diatas meja dan menatap Alexa kesal.


"Gue bilang pulang." Ucapnya kesal.


"Tuan tidak menggaji saya untuk tiduran saja kan? Saya gak mau makan gaji buta. Lagian kondisi saya juga sudah baik-baik saja." Alexa tetap ngeyel.


"Sebenarnya mau lo apa sih?" Tanya Jackson. "Sejak awal lo mulai kerja disini, lo udah mulai berusaha buat godain gue. Kalau maksud lo kerja disini cuma buat berusaha godain gue, lebih baik lo angkat kaki dari sini. Karena sampai kapanpun gue gak akan pernah tergoda oleh wanita macam lo."


Meski sakit hati dengan ucapan Jackson, Alexa malah tersenyum.


"Apa itu artinya Tuan pecat saya?" Tanya Alexa. "Tuan, saya tidak pernah bermaksud untuk menggoda Anda. Justru Andalah yang menggoda saya dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan."


"Apa maksud lo?" Bentak Jackson.


"Ayolah Tuan. Semua orang di kantor sudah tahu kalau Anda mencium saya tadi di dalam lift."


"Tarik ucapan lo. Gue gak pernah berusaha buat nyium lo. Itu semua karena...."


"Hehehe sudahlah Tuan. Tetap saja dimata saya Anda itu mencuri-curi kesempatan ditengah kelemahan saya."


"Keluar." Teriak Jackson semakin kesal. "Gue bisa aja pecat lo sekarang." Ancamnya.


"Tuan gak akan bisa pecat saya, setidaknya dalam waktu satu bulan ini."


"Lo ngancam gue?"


"Siapa saya hingga berani mengancam Anda selaku Bos saya Tuan. Tapi, dalam surat perjanjian tertulis. Jika dalam jangka waktu 1 bulan saya tidak becus bekerja dengan Anda, maka bulan berikutnya Anda bisa memecat saya." Balas Alexa.


'Cih!'


Alexa tersenyum lalu keluar dari ruangan Jackson. Setelah Alexa pergi, Jackson malah terbahak.


Jackson duduk bersandar dan memutar-muter kursinya sambil terbahak. Tak pernah dalam hidupnya bertemu dengan wanita seperti Alexa. Menurutnya, Alexa itu wanita yang berbeda dengan wanita yang pernah ia temui sebelumnya. Baginya, Alexa memiliki pribadi yang kuat, tak mudah digertak dan pantang menyerah. Dan satu hal yang sangat membuatnya terpaku adalah kebaikan Alexa pada setiap orang kurang mampu yang ditemuinya di jalanan.


'Entah sikap seperti apalagi yang tidak aku ketahui tentang wanita itu.' ucap Jackson dalam hati.


*************


Pulang dari kantor, Alexa menyempatkan diri untuk mampir di makam Sang Papa yang sudah ditata jadi lebih baik dengan mengganti nisannya.


"Pah, aku datang lagi." Ucapnya. "Aku baik kok Pa, meski tadi sempat pingsan karena kehabisan napas."


Alexa kembali mengingat kejadian yang menimpanya di lift tadi. Saat pingsan ia seperti bertemu dengan kedua orang tuanya yang memintanya untuk tetap kuat dan segera bangun dari tidurnya.


"Pah, aku mau curhat sama Papa." Alexa mengusap nisan makam Sang Papa dengan lembut. "Aku gak tahu perasaan apa yang aku punya buat seorang laki-laki yang menjadi Bos tempat aku bekerja Pa." Alexa tersenyum mengingat wajah Jackson. "Jujur saja, dia pria yang paling dingin yang pernah aku temui. Dia itu ibaratnya salju abadi yang gak bisa meleleh Pa. Tapi, entah kenapa dia bisa melelehkan hatiku yang selama ini membeku terhadap pria lain." Lanjut Alexa. "Aku gak yakin dengan perasaan ini Pa. Tapi gak tahu kenapa, aku selalu merasa senang dan tenang saat melihat dia. Mmmm tapi Papa tenang saja, cinta pertama aku itu cuma Papa. Gak akan ada orang lain yang bisa mengambil posisi Papa di hati aku."


Sore harinya, Alexa menelepon Lika untuk mengajaknya pergi ke pantai. Entah apa yang ada di dalam benak Alexa hingga membuatnya tiba-tiba ingin ke pantai saat malam hari.


"Ngapain ke pantai malam-malam?" Tanya Lika via telepon.


"Aku penasaran aja. Udah deh, pokoknya kamu siap-siap aja. Sekarang aku jalan ke rumah kamu." Balas Alexa.


Alexa lalu bergegas menjemput Lika ke rumahnya. Dan, tak butuh waktu lama, keduanya akhirnya tiba di tepi pantai. Pemandangan matahari terbenam di pantai membuat keduanya tidak mau sedetikpun kehilangan momen. Pancaran sinar matahari yang mulai turun membuat mereka berdecak kagum. Tak lupa keduanya berfoto dengan latar matahari terbenam.


Malam semakin gelap, keduanya tak kunjung beranjak pergi dari pinggir pantai dan memutuskan untuk makan malam dengan menu nasi goreng yang memang mangkal disana. Setelah selesai makan malam, keduanya memutuskan untuk berjalan di sisian pantai.


Cahaya bulan yang memantul di dalam air, semakin membuat malam menjadi indah. Alexa dan Lika tak hentinya tertawa saat melihat beberapa pasangan tengah memadu kasih di pinggir pantai.


Melihat pemandangan di sekitar malam itu, membuat keduanya saling lirik, sikut, dan nabok setiap kali ada sesuatu yang terasa menusuk mata.


“Arah jam satu!” Pekik Lika tertahan sambil menunjuk dengan isyarat mata ke arah yang dia maksud.


Alexa hanya bisa tertawa saat melihat dua orang muda-mudi tanpa malu-malu berciuman meski keduanya berjalan.


"Dunia milik berdua ya Lex." Ucap Lika cekikikan.


"Makanya punya pacar." Ledek Alexa.


"Woh, kamu sendiri gak punya." Balas Lika.


Kini jarum jam menunjukkan angka 9. Alexa masih asyik melihat kembali foto-foto tadi sore sambil duduk bersama Lika di pasir.


"Ka, ayuk kita foto lagi. Aku mau motret suasana malamnya." Ajak Alexa.


Lika setuju.


Bayangan suasana lampu-lampu perahu nelayan membuat Alexa membayangkan hasil foto yang mungkin bisa ia dapatkan nanti.


Keduanya langsung memilih tempat dan memasang kamera. Dari apartemen tadi, Alexa memang sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari kamera hingga tripod. Alexa mengarahkan kamera ke lampu-lampu perahu nelayan dan suasana warung-warung yang mulai banyak tutup meski ada beberapa warung kopi yang masih buka. Kadang-kadang ia mengarahkan kamera ke arah pantai untuk menangkap ombak yang besar. Setelah mengambil beberapa foto, tiba-tiba matanya tertarik dengan sebuah cahaya kecil di pantai tidak jauh dari pinggir jalan.


'Sepertinya ada yang jualan di sana. Entah apa.' pikir Alexa.


Alexa mengajak Lika untuk mendekat. Ternyata seorang bapak menjual jagung bakar. Bapak itu melihat keduanya dan tersenyum. Keduanya juga semakin mendekat. Aroma jagung bakar menggugah selera keduanya.


"Wah kebetulan sekali!" Pekik Lika.


"Neng berdua kenapa masih disini malam-malam?" Tanya bapak itu sambil duduk tidak jauh dari keduanya. Alexa dan Lika duduk di pinggiran pembatas jalan.


"Iya Pak, lagi cari angin." Balas Alexa.


Alexa meminta bapak penjual jagung itu membungkus semua jagung bakar yang tersisa lalu memberinya uang lebih. Bapak itu sangat berterima kasih. Lika yang tak heran dengan apa yang dilakukan Alexa bersikap biasa saja.


"Neng berdua, jangan lama-lama di tepi pantai ini. Bahaya Neng. Takut ada orang jahat. Lebih baik pulang ya." Kata Bapak itu sebelum pamit.


Alexa mengangguk lalu beranjak pergi dengan menenteng jagung bersama Lika.


Saat keduanya berjalan ke arah mobil, sepanjang jalan Alexa dan Lika membagikan jagung bakar yang mereka beli kepada orang-orang yang mereka temui.


"Kamu tuh selalu aja nyempatin buat bantu orang. Sekali-kali bantuin aku kek."


"Kamu kan gak kekurangan Ka. Ngapain juga dibantu." Balas Alexa.


"Iya deh. Ganti aja deh nama kamu jadi Si Tukang Tolong." Ucap Lika sambil tertawa.


"Gak perlu diganti. Namaku udah bagus, Dara Alexandra yang artinya Gadis Penolong."


"Iya deh." Balas Lika sembari terus berjalan.


Saat keduanya tiba di samping mobil, tanpa mereka sadari dua orang pria mengikuti mereka.


"Neng cantik mau kemana?" Ucap seorang pria. "Jangan pulang dulu, temenin kita aja yuk." Lanjutnya.


Lika memegang erat lengan Alexa karena takut. Alexa berusaha tenang dan berbicara dengan para pria itu.


"Maaf ya Bang, kita permisi dulu. Mau pulang." Ucap Alexa.


Alexa lalu memberikan kunci mobil pada Lika.


"Masuk." Bisik nya pada Lika.


Perlahan Lika membuka kunci mobil dan secepat kilat masuk. Saat Alexa hendak masuk, kedua orang pria itu menariknya.


"Lex...." Teriak Lika hendak membuka pintu mobil lagi.


"Pergi...." Teriak Alexa.


"Enggak." Teriaknya saat hendak membuka mobil.


"Aku bilang pergi." Teriaknya lagi.


"Aduh Neng mau berkorban ya buat temannya. Lagipula Neng lebih bahenol." Ucap seorang pria hendak memegang dagu Alexa.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang pria yang amat sangat dikenal Alexa menendang salah seorang pria itu hingga tersungkur. Mata Alexa terbelalak melihat sosok itu.


'Jackson!'


Bersambung....