Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 41: Di Kantor


Jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Alexa sudah bersiap-siap berangkat ke kantor Jackson. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Jackson, ia tak ingin ada kesalahpahaman diantara keduanya. Jarak dari rumahnya ke kantor Jackson yang jauh membuatnya memutuskan untuk berangkat lebih pagi karena tak ingin Jackson datang ke apartemen untuk menjemputnya sementara dirinya berada di rumah.


Mobil Alexa melaju di jalan dengan santai. Suasana mulai ramai karena para pekerja yang mulai lalu lalang pergi ke tempat kerja. Ponsel Alexa berdering, ia dengan cepat menjawab panggilan dari Jackson itu.


"Kamu dimana?" Ucap Jackson.


"Aku udah di jalan." Balas Alexa.


"Kamu gimana sih, kan aku udah bilang kalau aku bakal jemput kamu. Kenapa malah pergi sendiri."


"Sudahlah, aku sudah dekat dengan kantor. Segera kemari, ada yang ingin aku katakan padamu."


Sambungan telepon terputus, Alexa melanjutkan perjalanannya. Tiba di kantor Jackson, Alexa turun dari dalam mobil dan langsung dikagetkan oleh seseorang yang menepuk punggungnya dari belakang. Alexa berbalik...


"Hai....."


"Morgan!" Seru Alexa.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi." Balas Morgan. "Makan siang nanti aku jemput ya."


"Tapi....."


"Kenapa?"


"Memangnya kantor kamu gak jauh dari sini? Lagian waktu makan siang kan gak panjang."


"Bagaimana kalau makan malam?" Ucap Morgan lagi. "Oh ya, aku lupa sesuatu. Tunggu disini ya." Morgan berbalik dan bergegas berjalan ke arah mobilnya dan mengambil sesuatu.


Tak lama Morgan kembali dengan tangannya yang menyembunyikan sesuatu dibelakang punggungnya.


"Ta-da....." Morgan menyodorkan buket bungan dan sebuah kotak kado berwarna biru ke hadapan Alexa. "Ini buat kamu." Lanjut Morgan.


Alexa terdiam, ia tak ingin memberikan Morgan harapan palsu. Bagaimanapun, sekarang ia sudah berpacaran dengan Jackson. Jadi, Morgan berhak tahu semuanya.


"Morgan, aku...."


"Sayaang....." Teriak Jackson yang tiba-tiba ada dibelakang Alexa lalu langsung memeluknya.


"Aku mencintaimu...." Bisik Jackson ditelinga Alexa lalu mencium pipinya.


Morgan terdiam, ia hanya bisa melongo melihat sikap yang ditunjukkan Jackson pada Alexa. Morgan kembali menatap Alexa penuh tanya, sementara Jackson masih enggan melepaskan pelukannya pada pinggang Alexa.


Pandangan Jackson beralih pada Morgan, ia menatapnya dengan sinis.


"Apa yang sedang dilakukan Morgan William di kantor gue?" Tanya Jackson yang melepaskan pelukannya, namun tangannya beralih menggenggam erat jemari Alexa.


"Gue ingin bertemu Alexa." Ucap Morgan. "Bisa kita bicara berdua."


"Tidak bisa." Balas Jackson.


"Kenapa tidak bisa? Gue tidak perlu izin dari lo untuk bicara dengan Alexa."


"Tentu saja lo perlu izin dari gue, karena gue..."


"Bos nya Alexa?" Potong Morgan. "Sekarang belum jam masuk kerja, jadi Alexa bebas melakukan apapun, termasuk bicara dengan gue."


Jackson tersenyum sinis, ia beralih menatap Alexa. Lalu menarik Alexa dan memegang dagunya. Dihadapan Morgan ia tanpa malu menciumi Alexa.


Alexa berusaha mendorong Jackson karena malu. Namun, Jackson malah semakin menciumnya. Tak memperdulikan para karyawan yang juga berada di tempat parkir tampak terkejut melihat aksinya.


Jackson lalu melepaskan ciumannya dan merangkul Alexa.


"Alexa adalah pacar gue. Jadi gue berhak melarang lo untuk mendekati dia."


Morgan menatap Alexa penuh tanda tanya.


"Apakah kalian benar-benar berpacaran?" Tanya Morgan pada Alexa.


Alexa mengangguk pelan.


"Kita masih bisa bersahabat." Ucap Alexa canggung.


Morgan tersenyum, ia lalu berbalik dan pergi begitu saja. Alexa menjadi merasa bersalah, karena tak sempat memberitahu Morgan lebih cepat.


"Ayo, kita masuk." Jackson menarik tangan Alexa.


"Aku perlu bicara." Ucap Alexa.


"Kita bisa bicarakan nanti di dalam ruangan."


Jackson merangkul Alexa tanpa menghiraukan tatapan para karyawan yang terus melihat ke arah mereka.


"Apa kau tidak sadar bahwa semua orang melihat ke arah kita?" Ucap Alexa.


"Biarkan saja." Ucap Jackson santai. "Tidak semua orang melihat kita, lihat pria disana." Ucap Jackson menunjuk seorang OB yang tengah sibuk mengelap kaca. "Dia tidak menatap kita." Gelak Jackson. "Lagipula, aku sudah merusak semua peraturan kantor yang aku buat sendiri."


Alexa hanya bisa tersenyum, Jackson merangkulnya dengan begitu erat, seolah tak ingin Alexa sedikitpun jauh darinya. Keduanya masuk ke dalam lift, dengan tatapan mata semua karyawan yang tertuju pada mereka.


Jackson memang melanggar semua aturan yang dibuatnya sendiri. Aturan yang menyatakan tidak boleh berpacaran apalagi bermesraan di kantor, Jackson benar-benar melanggar aturan itu.


Di dalam lift, Jackson menatap Alexa dengan tatapan nakal. Perlahan ia menyudutkan tubuh Alexa ke dinding lift, dan mulai berusaha menciumnya.


"Ayolah, kita sedang di kantor. Bisakah...."


Alexa tak dapat melanjutkan bicaranya karena Jackson sudah menciumnya. Alexa mendorong Jackson.


"Disana ada CCTV, petugas bisa melihat semuanya."


"Aku tidak perduli." Balas Jackson seraya kembali mencium Alexa.


Saat lift tiba di lantai yang dituju, pintu lift hendak terbuka Jackson kembali menekan tombol agar lift kembali turun. Jackson terus mencium Alexa hingga membuat wanita yang mengenakan pakaian warna peach itu bereaksi. Alexa membalas ciuman Jackson.


Lift kembali ke lantai dasar, dan pintu terbuka. Keduanya asyik bermesraan tanpa menyadari bahwa banyak karyawan yang hendak masuk ke dalam lift. Mereka menganga menyaksikan pemandangan di hadapan mereka. Tangan Alexa memegangi kerah kemeja Jackson. Sementara Jackson memegangi menunduk memegangi dagu Alexa. Keduanya refleks melihat ke samping saat seseorang terdengar terbatuk.


Wajah Alexa memerah, sementara Jackson tak menunjukkan ekspresi apapun, ia malah kembali menekan tombol lift agar kembali naik lalu menatap Alexa yang tertunduk malu.


"Kenapa wajahmu memerah sayang?" Tanya Jackson.


"Bagaimana kau masih bisa bertanya seperti itu, setelah apa yang baru saja terjadi." Balas Alexa.


"Hahahaha, ayolah sayang. Untuk apa kau malu. Kau ini kekasih Bos perusahaan ini. Tidak akan ada yang berani membully dirimu sayang."


"Hmmmm...." Balas Alexa.


Jackson kembali hendak mencium Alexa karena gemas. Namun Alexa menghalanginya dengan menutup bibir Jackson dengan telapak tangannya.


"Aku ingin bicara." Ucap Alexa.


"Katakan saja." Balas Jackson.


"Ini semua....."


Pintu lift terbuka, Alexa tak dapat melanjutkan bicaranya karena Jackson segera menariknya keluar.


"Kita bicarakan di ruangan ku." Ujar Jackson dengan tangannya yang melingkar di pinggang Alexa.


Keduanya berjalan melewati meja Maya. Maya berdiri dan menyapa Jackson dengan sopan.


"Selamat pagi Tuan."


Jackson hanya mengangguk, sementara tangannya terus mengusap pipi Alexa.


'Dasar bucin.' ucap Maya dalam hati.


Jackson dan Alexa masuk ke dalam ruangan. Jackson yang gemas lantas menarik Alexa untuk duduk di pangkuannya.


"Serius lah ini kantor. Para karyawan lain akan menganggap kita mesum. Apalagi aku orang baru disini." Alexa berusaha bangun namun Jackson terus menahannya.


"Lepaskan aku."


"Tidak." Balas Jackson.


"Itu bisa jadi tugasnya Maya sebagai sekretaris ku."


"Lalu untuk apa aku masih bekerja disini?"


"Kau hanya perlu duduk disamping ku. Kau bertugas untuk memeluk, mencium ku dan bercumbu denganku."


"Pekerjaan macam apa itu? Bukankah itu lebih seperti aku adalah wanita yang menjajakan diriku."


"Sssttt.... Jangan pernah mengatakan hal seperti itu. Kau adalah wanitaku, jadi kau tidak perlu mengerjakan apapun. Aku akan memberikanmu gaji sama seperti karyawan lainnya. Tugasmu hanya untuk menemaniku bekerja. Itu saja."


Alexa tersenyum, dan memegangi pipi Jackson.


"Jack.... Mmmm bolehkah aku memanggilmu Jack?"


"Tentu saja. Aku milikmu, kau bisa melakukan apapun yang kau mau pada tubuhku ini." Jackson membentangkan tangannya.


"Gila." Alexa menepuk dada Jackson dan hendak bangun dari pangkuannya. Namun, dengan cepat Jackson kembali menariknya.


Alexa hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak akan pernah bisa menang melawan kekuatan Jackson.


"Aku ingin mengatakan semuanya tentang diriku."


"Apa yang tidak aku ketahui tentangmu? Identitas lengkap mu sudah pernah aku baca melalui resume mu, bagaimana keluargamu, dan kehidupanmu. Aku sudah mengetahui semuanya." Ujar Jackson.


"Belum semuanya Jack!" Seru Alexa.


"Ya sudah, katakan saja." Ucap Jackson.


"Jack aku....."


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu ruangan Jackson terdengar diketuk.


"Masuk!" Seru Jackson.


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Maya yang masuk ke dalam ruangan.


Raut wajahnya sedikit terkejut saat mendapati posisi Alexa yang sedang duduk dipangkuan Jackson. Ia langsung menunduk.


"Maafkan saya Tuan, jika sudah mengganggu. Tapi, rapat akan segera dimulai dalam waktu 5 menit lagi." Ujar Maya.


Jackson menepuk jidatnya, ia ternyata lupa jika hari ini ada agenda rapat yang akan dilakukannya. Ia menatap Alexa dengan sorot mata yang menggemaskan. Alexa tersenyum.


"Lepaskan aku." Ucap Alexa. "Pergilah ke ruang rapat. Kita bisa bicara nanti." Lanjut Alexa.


"Kau harus ikut denganku, duduk di sampingku. Temani aku melewati rapat yang membosankan."


Maya terdiam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat sosok Jackson yang berbeda. Sosok Jackson yang terkenal dingin, ternyata bisa bersikap manja seperti anak kecil kepada Alexa.


"Aku ada urusan lain. Ku mohon, biarkan aku pergi sekarang. Kita bisa bertemu saat makan siang nanti. Saat itu aku akan melanjutkan pembicaraan yang tadi." Ucap Alexa.


"Tapi sayang...."


Maya mendadak mual, ia merasa geli dengan sikap yang ditunjukkan Jackson pada Alexa.


"Ada apa denganmu?" Teriak Jackson pada Maya. "Apa kau mengejekku?"


"Ti-dak Tuan. Saya tidak akan pernah berani untuk melakukan itu." Balas Maya.


"Sudahlah, lebih baik kau segera ke ruang rapat. Waktu rapat sebentar lagi dimulai."


"Baiklah, jangan lupa untuk merindukan aku di manapun kau berada."


Maya menahan tawa, sontak membuat Jackson melotot ke arahnya.


"Aku mencintaimu." Ucap Jackson hendak mencium Alexa.


Alexa menolak dan melirik ke arah Maya. Jackson yang mengerti meminta Maya untuk segera keluar dari ruangan miliknya.


"Keluar." Teriak Jackson.


Maya langsung berbalik dan berjalan keluar ruangan Jackson dengan bibir yang terus menahan tawa. Saat Maya sudah keluar, Jackson langsung menarik Alexa dalam pelukannya dan menciumnya.


"Sampai ketemu saat makan siang nanti."


"Iya." Balas Alexa.


Jackson lalu keluar dan segera menuju ruang rapat di temani Maya. Sementara Alexa memilih untuk segera pergi dari gedung perusahaan Jackson menuju perusahaan miliknya sendiri.


Saat Alexa tiba, semua orang sudah menyambutnya. Alexa langsung mengadakan rapat untuk memperkenalkan dirinya sebagai CEO yang baru dari PT. Intan Jaya. Semua karyawan tampak takjub dengan publik speaking Alexa. Ia benar-benar menjadi sosok CEO yang sempurna dimata para karyawan.


"Jangan sungkan untuk mengingatkan saya jika saya melakukan kesalahan yang akan membuat perusahaan ini rugi." Ucap Alexa. "Jadi, mari bekerjasama untuk membangun perusahaan ini agar jauh lebih baik lagi."


Setelah rapat selesai, Alexa masuk ke dalam ruangan barunya. Ruangan yang ternyata sudah ditata dengan desain baru oleh Laura sejak sepeninggal Bu Susan yang sebagai CEO sebelumnya di perusahaan itu.


Alexa mendapat sebuah undangan makan siang dari dua orang klien. Laura memberitahunya bahwa kedua orang itu sudah sangat lama ingin bertemu dengan dirinya. Tapi Alexa yang beberapa hari yang lalu sibuk menemani Jackson, baru bisa datang dan memperkenalkan diri di kantor hari ini.


'Jackson pasti akan kecewa, jika aku tak bisa menemaninya makan siang.' pikir Alexa.


Alexa mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu mengirim pesan pada Jackson.


"Tapi, aku juga tidak boleh egois. Perusahaan ini harus terus berjalan. Jackson pasti mengerti."


Jackson yang tengah duduk di ruangannya menandatangani beberapa berkas langsung menunjukkan wajah masam saat membaca pesan yang dikirimkan Alexa.


[Sayang, maafkan aku. Siang ini aku tidak bisa menemanimu makan siang, aku sedang ada urusan penting. Tapi, aku janji malam nanti aku akan memasak untukmu. Kita bisa dinner di apartemen kamu.]


Wajah Jackson yang semula seperti benang kusut mendadak tersenyum bahagia. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


*************


Jam makan siang tiba, Jackson mendapatkan sebuah surat yang dikirimkan oleh Jennie dari dalam penjara. Seorang kurir tadi mengantarkannya pada Maya. Meski enggan, Jackson tetap membuka amplop tersebut dan membaca isi suratnya.


'Hai Jackson! Apa kabarmu? Aku tahu kau pasti sudah tidak akan menerimaku. Tapi, aku ingin memberitahumu mengenai wanita yang kau kencani itu.'


Dahi Jackson berkerut.


'Namanya Alexa bukan? Asal kau tahu, nama asli dari wanita itu adalah Dara. Dara Alexandra. Dia adalah kakak tiri ku. Dia datang kembali ke kehidupan kami setelah pergi jauh karena ingin membalas kami. Dulu dia pergi meninggalkan pernikahannya sendiri dengan Mas Robby karena tak ingin menikah. Kak Gea terpaksa menggantikan dirinya.


Sekarang ia kembali dengan identitas baru dan dengan sengaja merusak hubungan pernikahan Kak Gea dan Mas Robby. Sekarang kami di penjara karena dia membuat laporan palsu tentang kami yang berusaha membunuhnya di masa lalu. Padahal semua itu bohong.


Apa kau tahu, dia bahkan mendekatimu karena berusaha membalas dendam padaku dengan merusak hubungan kita. Semua yang dilakukan wanita itu padamu hanyalah tipu muslihat. Dia seorang pembohong besar. Berhati-hatilah Jackson.


Salam sayang, dari orang yang selalu mencintaimu. Jennie.'


Kepala Jackson mendadak pening. Ia tak tahu apakah harus mempercayai semua yang dikatakan Jennie atau tidak. Tapi ia ingat satu hal, bahwa kedua orang tuanya pernah membicarakan seorang wanita yang bernama Dara padanya.


'Apa cinta yang kau miliki juga palsu?' pikir Jackson.


Jackson, meremas rambutnya. Ponselnya tiba-tiba berdering. Menampilkan nama 'Mama' yang tengah menelepon. Dengan malas, Jackson menekan tombol hijau.


"Sayang, sekarang juga datang ke restoran biasa tempat Mama sering makan bareng sama Papa dan kamu. Mama mau memperkenalkan kamu dengan Dara."


'Dara.....!' ucap Jackson dalam hati.


Belum lagi Jackson menjawab ucapan sang Mama, Mama nya kembali berucap, "pokoknya Mama gak mau terima alasan apapun. Kamu harus datang sekarang juga. Mama tunggu."


Tuttt....


Sambungan telepon terputus, mata Jackson memerah. Ia lantas bangun dan meninggalkan ruangannya.


'Sampai bertemu disana Dara Alexandra.....'


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰