Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
Berlanjut


"Sayang apakah kamu mendengarkan Mama? Sudah Mama bilang kamu akan punya tunangan. Pernikahanmu telah diatur." Ucap Mama di depanku.


"Iya Ma, aku tahu." Balas ku bosan.


"Kau dijodohkan. Pernikahanmu sudah diatur." Ucap Mama kemudian menangis lagi.


"Mama, bisakah Mama berhenti berteriak? Itu menjengkelkan." Ucapku dengan tenang.


"Sayangku, kenapa kau berteriak pada putri kita?" Ucap Papa bertanya pada Mama.


"Lihatlah putrimu ini Jackson Baldev. Dia akan dijodohkan dengan seseorang dan dia tidak melakukan apa-apa. Namun jawabannya hanya baik-baik saja. Aku tidak percaya ini." Ucap Mama terus menerus.


"Ma... Kenapa Mama bereaksi berlebihan, seolah-olah seperti Mama lah yang akan dijodohkan." Ucapku terkikik.


"Lihat Jackson! Dia malah tertawa bukannya protes." Ucap Mama dan Papaku hanya mengangkat bahunya.


"Sayangku, sebelum kau bereaksi, biarkan putrimu menjelaskan semuanya." Ucap Papa memegang pundak Mama.


Setelah itu Papa melihat ke arahku.


"Sayang, bisakah kau menjelaskan semuanya pada Mamamu?" Ucap Papa dengan lembut.


"Mama, aku menerima bahwa aku dijodohkan dan pernikahanku sudah diatur." Ucapku sambil tersenyum.


"Ya Tuhan! Mama pikir kau tidak akan setuju dengan semua hal ini. Tapi reaksi mu ini benar-benar tidak terduga." Ucap Mama.


"Itu sebabnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, karena aku tahu bahwa aku akan di jodohkan." Ucapku lagi.


"Benarkah? Bukankah karena kau terlalu sibuk belajar?" Ucap Papa menyeringai.


"Sssttt... Papa..."


Aku meletakkan telunjukku di mulutku memberi isyarat pada Papa untuk diam. Tapi Papaku hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Bisakah kalian berdua berhenti bercanda? Aku penasaran dengan apa yang kalian bicarakan. Aku selalu tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan." Ucap Mama memutar matanya.


"Ma... aku baik-baik saja. Aku setuju dengan keputusan Mama bahwa Mama akan menjodohkan ku dan menikah dengan putra rekan bisnis Mama." Ucapku langsung memberitahu Mama.


"Baiklah sayangku. Mama minta maaf. Tapi Mama tidak punya pilihan lain. Ini perintah kakek mu." Ucap Mama hampir menangis.


"Tidak apa-apa Mama. Mungkin hubunganku dan pria yang menjadi suamiku nanti bisa seperti hubungan Mama dengan Papa yang selalu harmonis." Ucapku kepada Mama dengan penuh keyakinan.


"Terima kasih kesayangan Papa. Kau selalu mengerti kami." Ucap Papa.


Kemudian kami semua berpelukan.


Setelah bicara dari hati ke hati dengan kedua orang tuaku, mereka pergi karena mereka ada pertemuan bisnis. Sementara aku di dalam kamar tengah berpikir.


'Bagaimana rupa dari calon suamiku itu? Apakah dia memiliki bentuk tubuh yang bagus? Lagi pula aku tidak peduli , apakah dia memiliki tubuh yang bagus atau tidak. Tapi yang penting adalah, apakah dia memiliki perilaku yang baik atau tidak. Bukankah dia memiliki kepribadian yang tidak menyenangkan?'


Aku memiliki banyak sekali pertanyaan di dalam benakku saat ini. Meskipun aku menerima dan aku sudah merasa damai dengan perjodohan ini, bukan berarti bahwa aku tidak mau tahu dengan bagaimana sosok pria yang menjadi tunangan ku itu.a


Aku tersadar dari lamunanku ketika ponselku tiba-tiba berdering. Itu adalah sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.


(Jadi, apakah kau senang dengan apa yang kau lakukan?) Tulis dari isi pesan itu.


'Siapa pengirim pesan ini?' pikirku.


(Siapa kau?) Balas ku.


Pesanku telah terkirim.


(Aku satu-satunya pria yang membuatmu putus asa sampai kau sangat ingin kau nikahi.) Balas pesan itu.


Apa-apaan dia itu? Berhasrat?


"Hahaha... kenapa aku harus putus asa?" Ucapku kesal.


Aku yakin bahwa aku sedang dipermainkan oleh seseorang yang aku kenal yang mengganti nomor teleponnya.


(Hahaha... Santai, ini aku leo hahaha.) Sebuah pesan kembali masuk ke ponselku.


"Sudah kuduga..."


Tak lama kemudian, sebuah nomor tak diketahui menelpon ku.


"Hei, apa kau pikir ini lucu?" Ucapku kesal.


"Hahaha.... santai saja. Jangan marah seperti itu. Aku hanya bercanda denganmu, hahaha..." Ucap Leo.


"Apa kau sudah selesai tertawa? Karena jika belum selesai, aku akan menutup sambungan teleponnya. Aku ada urusan penting yang harus aku lakukan." Ucapku.


"Ehem... Aku sudah selesai. Ngomong-ngomong apakah ada hal baru? Bagaimana kabarmu?" Ucapnya.


"Kau tidak boleh tahu apapun. Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu sebuah rahasia apapun, dasar brengsek." Ucapku masih kesal.


"Hahaha kau marah lagi. Aku hanya bercanda." Ucapnya.


"Baiklah Leo. Aku harus melakukan sesuatu lebih dulu, oke." Ucapku.


Aku lalu menutup sambungan telepon dan membuang ponselku di atas tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi untuk menyiram tubuhku.


'Benar-benar hari yang melelahkan!'


Namaku Jessica Jackson. Usiaku 22 tahun. Aku terlahir dari kedua orang tua yang sangat harmonis. Sejak kecil tak pernah ku dengar Papa dan Mama bertengkar atau saling berteriak di depanku. Mereka berdua selalu saling mengumbar senyum dan kata cinta setiap harinya.


Papaku, Jackson Baldev, seorang pria yang masih sangat tampan di usianya yang tak lagi muda. Teman-teman kuliahku bahkan sering mengatakan bahwa mereka rela menjadi Mama tiri ku. Dasar!


Mamaku, Dara Alexandra tak kalah pesonanya dari Papa. Di usianya yang hampir menginjak setengah abad, Mama masih seperti anak muda. Tubuhnya bak super model. Ku pikir, Mama sudah terlahir memiliki tubuh ideal. Ternyata Mama pernah menjadi wanita gemuk dan menyedihkan.


Aku tidak pernah membayangkan jika Mama pernah dibully oleh Ibu dan saudari tirinya. Mama yang aku lihat sejak aku kecil adalah wanita yang sangat kuat, mandiri dan begitu hebat.


Aku mengetahui semua kisah masa lalu Mama dari Papa.


Itulah kenapa aku sangat mengidolakan Mama. Jika seseorang bertanya padaku, siapa orang yang aku idolakan, maka aku akan menjawab seorang wanita hebat bernama Dara Alexandra, Mamaku.


'Aku sangat menyayangimu Ma.' ucapku dalam hati.


...****************...


Setelah selesai mandi, aku menuju ruang ganti. Memilih pakaian yang akan aku kenakan. Aku lalu memutuskan untuk berbaring diatas tempat tidur dan membuka ponselku.


Ku putuskan untuk membuka galeri dan melihat semua foto kebersamaan ku dengan Mama dan Papa.


Sebentar lagi aku akan menikah dan akan tinggal di rumah seorang pria yang akan menjadi suamiku. Tidak tahu apakah pria itu akan memperlakukan aku dengan baik atau tidak. Mengingat pernikahan kami ini sudah diatur.


Aku terbiasa hidup dengan kasih sayang Mama dan Papa. Tapi sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka.


Sejujurnya aku belum ingin menikah. Tapi, karena ini adalah keputusan yang sudah dibuat Mama dan Papa, aku pun setuju. Karena aku yakin, apapun yang mereka berdua putuskan adalah hal yang terbaik untukku.


Selama ini aku tidak pernah dekat dengan pria manapun karena aku terlalu sibuk dengan pendidikan ku. Aku juga tidak mau menghabiskan waktu dengan berhubungan dengan pria yang belum pasti menjadi suamiku. Aku memutuskan untuk membiarkan orang tuaku yang mengatur dengan siapa aku menikah, karena tentu saja mereka akan memastikan pria yang akan menikah denganku itu merupakan pria yang baik.


Bersambung...